Pria itu benar-benar tidak menyangka jika satu malam itu berhasil membuat Vior mengandung anaknya.
Pernikahan yang didasari atas kesalahan apakah akan bertahan lama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ding-dong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan nyeri yang tiba-tiba!
Mereka kembali ke ruang tamu menghampiri istri Revan yang terlihat kelelahan pasti karena perjalanan jauh pikir Vior.
Asisten rumah tangga membawakan minuman dan cemilan menyambut kedatangan Revan dan keluarga kecilnya dengan ramah.
"Maaf ya nggak bisa datang pas kamu sama Prince menikah, heran banget aku sama Prince, dia nikah dadakan mana aku baru sempat sampai di Denmark tiba-tiba dapat telepon kalau dia mau nikah, tahu kalau dia bakalan nikah beberapa hari setelah Windi, aku pasti nggak akan langsung ke Denmark," ucap Revan sedikit menggerutu.
"Ya nggak apa-apa, tapi ini kak Sila kalau capek istirahat aja, perjalanan dari Denmark ke Indonesia pasti jauh banget," Vior menatap istri Revan, wanita itu membuka mata sedikit dan memang terlihat lelah, jadi tidak ingin berbicara.
"Kamu tidur sama Liam di kamar, kamu pasti capek," Revan mengusap lengan istrinya pelan, istri Revan pun beranjak menuju ke kamar dimana putranya berada tanpa penolakan.
Revan meneguk minuman yang disuguhkan oleh asisten rumah tangga di rumah tersebut, sebelum Revan menyadari kalau Vior sedang hamil, Revan pun tersenyum samar, meletakkan kembali gelas minuman ke atas meja.
"Sebentar lagi kayaknya Prince bakalan jadi ayah juga," katanya.
"Oh ya sampai lupa selamat yah atas pernikahan kalian, ini ada sedikit oleh-oleh semoga kamu suka," Revan memberikan paper bag yang di bawa istrinya masuk ke rumah tersebut.
"Terima kasih, Kak. Eh?"
Revan tertawa rendah.
"Iya panggil apa saja yang penting nggak bikin kamu canggung, tapi Tante Rara biasanya pulang jam berapa yah?" tanya Revan.
"Aku nggak tahu Mama pulangnya nggak menentu biasanya malam, biasanya sore, kadang cuma dua jam udah pulang," ucap Vior.
Revan mengangguk, melihat jam tangannya sekilas.
"Prince di Jakarta?" tanyanya dan Vior mengangguk. Revan menghela nafas.
"Aku nyusul anak aku istirahat boleh yah? sekalian sama nunggu Tanta Rara pulang," ucap Revan.
"Oh iya Kak, silahkan mama mungkin pulangnya juga masih lama," ucap Vior.
"Maaf ya aku datang-datang cuma numpang tidur," Revan tertawa tidak enak.
"Santai aja kak, lagian Kak Revan kan ponakannya Mama perjalanan dari Denmark juga jauh banget, kalau kak Revan capek istirahat aja tidak apa-apa," ucap Vior.
Revan tersenyum.
"Prince kayaknya beruntung banget dia bisa dapetin kamu sebagai istrinya," ucap Revan pelan tapi Vior tidak begitu jelas mendengar ucapan Revan barusan, hingga lelaki itu masuk ke dalam kamar di mana istri dan putranya juga sedang istirahat di sana.
Vior pendiri dari duduknya, kembali berjalan menuju kamarnya dengan menaiki tangga satu persatu, terasa sangat melelahkan naik turun tangga dengan kondisi perut yang sudah mulai membesar.
Dengan susah payah akhirnya Vior bisa kembali duduk di sofa yang ada di kamarnya, sekarang pukul setengah sebelas siang, lebih baik istirahat sebentar sampai tiba waktunya makan siang.
Tapi Vior justru tidur terlalu lama, dia terbangun saat pukul dua siang, segera Vior memperbaiki kondisinya yang acak-acakan karena baru bangun tidur, dia berniat untuk turun ke lantai satu tapi Mbak yang bekerja di rumah Prince menghampiri Vior.
"Non mau turun ke lantai satu?" tanyanya dan Vior mengangguk.
"Lift nya udah selesai di service, sekarang Non bisa naik lift jadi nggak perlu susah payah naik tangga lagi, ayo Non biar saya bantu, biar Non nggak bingung," Mbak yang belum Vior kenal namanya itu menekan tombol lift yang hanya ada tiga digit angka.
Vior merasa lega, dia jadi tidak perlu naik turun tangga lagi mulai sekarang, dengan cepat kini Vior sudah tiba di lantai dasar melihat ke kanan dan ke kiri.
"Mbak ponakannya Mama sudah keluar dari kamarnya atau belum?" tanya Vior.
"Oh sudah Non, tadi Ibu udah pulang dan mereka pergi bareng-bareng, saya nggak tahu mereka pergi ke mana," jawab si Mbak.
Vior mengangguk pelan, sepertinya dia terlalu lama tidur sampai tidak sempat melihat keluarga Revan lagi, padahal Vior ingin menyapa anak Revan dan kalau tidak salah tadi namanya Liam.
"Non mau makan apa? saya akan siapkan,"
"Apa aja Mbak, saya bukan pemilih makanan," jawab Vior, si Mbak pun menyiapkan makanan secepat mungkin untuk Vior, sepertinya setelah berhasil melewati tiga bulan pertama, nafsu makan Vior semakin meningkat, dia tidak bisa berbohong ketika tubuhnya saja sudah menjadi bukti nyata.
Selesai makan siang yang terlambat, Vior pergi ke ruang baca, dia sangat ingin pergi ke ruang baca sejak pertama kali tahu ada ruangan yang banyak buku di rumah Prince, tapi Vior ragu untuk masuk ke dalam sana, tapi sekarang akhirnya dia bisa memberanikan diri.
Aroma buku menyeruak memenuhi indra penciuman Vior, langkah kakinya berjalan ke arah rak buku dan mengambil buku secara acak dari sana hampir sembilan puluh persen buku yang ada di tempat itu sepertinya tentang bisnis, Vior yang tidak suka membaca buku tentang bisnis kembali meletakkan buku yang diambil ke tempat semula.
Duduk di sofa abu-abu menatap banyaknya buku di ruangan tersebut, sampai matanya tanpa sengaja melihat benda seperti undangan di bawah meja sepertinya terselip sehingga terlewat saat dibersihkan.
Merasa penasaran Vior pun menarik benda itu dari bawah meja perlahan, tadinya perasaannya masih baik-baik saja tapi saat membaca tulisan di muka undangan membuat hati Vior rasanya kedatangan nyeri yang tiba-tiba.
makan tuu cinta, mamposss sekalian sorry thor aq kesel sama si prince
next Thor,,,