Kak.. ih dipeluk kek adeknya!"
"Enggak!"
"Kakak nyebelin!"
"Bodo!"
Apa yang sering kali diharapkan seorang adik perempuan terhadap kakak laki-lakinya?
Rasa ingin dilindungi, disayang bahkan dimanja. Itu sangat wajar bagi seorang adik perempuan terhadap kakak laki-lakinya.
Sama halnya dengan Binar yang selalu ingin dekat dan dimanja oleh Surya. Layaknya seorang adik kakak pada umumnya.
Namun Surya justru terkesan cuek dan enggan berdekatan dengan Binar, sampai-sampai Surya memilih untuk tinggal di apartemen dengan alasan ingin belajar mandiri.
Ingin belajar mandiri atau justru ingin menjauh dari Binar?
Sampai hari dimana Binar mulai dekat dengan seorang laki-laki, Surya yang awalnya cuek justru berubah posesive.
Hingga sampai pada hari dimana Binar mengetahui sebuah rahasia besar, benang kusut pun perlahan mulai terurai.
Bahkan tanpa disadari oleh keduanya, ada sebuah rasa yang seharusnya tidak pernah ada.
Lantas bagaimana, apakah keduanya akan bersama? Atau justru sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom alfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Jam kantor telah usai dari satu jam yang lalu. Binar sedang duduk di ruang tunggu di loby.
Hujan masih deras di luar sana, beberapa menit yang lalu Surya meminta Binar untuk menunggu sebentar lagi, hujan lebat ternyata menyebabkan banjir di beberapa titik, dan berimbas pada kemacetan.
Siang tadi Surya keluar kantor untuk menemui salah satu rekan bisnis demi membahas kerja sama yang akan datang.
Sudah lebih dari tiga puluh menit menunggu namun Surya belum mengirm kabar lagi, pesan dari Binar pun tidak ia baca. Demi membunuh bosan, Binar membuka aplikasi novel online dan mulai melanjugkan bacaanya yang belum selesai.
"Hai.." Binar mendongak saat mendengar suara pria yang cukup ia hafal.
"Hai Kak." jawab Binar.
"Belum pulang?" lanjut pria itu.
Binar menggeleng pelan, manik matanya menatap singkat pria yang berdiri di depanya, wajahnya terlihat lesu tidak seeperti biasanya.
"Kakak juga kok belum pulang?" Bukan sekedar basa-basi, namun Binar benar-benar bertanya penyebab pria itu belum pulang hingga jam hampir menjelang petang.
"Di luar hujan lebat, aku bawa motor." ujarnya seraya mengambil posisi duduk di sova depan Binar.
"Selamat atas pernikahanmu." ucapnya dengan wajah sendu.
Binar mengangguk, "Terimakasih.. semoga pernikahan kakak juga diberi kelancaran."
Pria itu hanya diam tidak menjawab, bahkan tidak pula mengaminkan. Pandanganya kosong menatap meja yang ada di hadapanya. Tidak terlihat sedih namun raut mukanya sulit diartikan.
"Dia menolak perjodohan itu." lirihnya kemudian.
"Kok bisa ditolak? ckckckck.. padahal Kak Dylan ini sudah paket komplit yang wajib untuk dipertimbangkan lo."
"Oh ya?" Dylan tersenyum lebar. "Kalo aku uda paket komplit tapi kok masih kamu tolak juga?"
Binar meringis sambil menggaruk telinganya yang tidak gatal.
"Syukurlah kalau dia menolak perjodohan ini. Daripada kita dipaksa menikah tanpa saling mencintai." lanjut Dylan menceritakan. Binar diam menyimak cerita Dylan.
Waktu magrib telah tiba, obrolan keduanya terhenti sampai adzan selesai berkumandang. Dylan dan Binar pun bergegas menuju masjid untuk menunaikan kewajibanya.
"Kamu belum dijemput juga?" tanya Dyla kepada Binar. Wanita itu sedang duduk di teras masjid setelah usai melaksanakan sholat maghrib.
Binar membalas dengan senyuman tipis, agar tetap terlihat baik-baik saja. Namun wajah wanita itu terlihat gusar.
Beberapa kali Binar mengecek ponselnya namun tidak ada notifikasi apapun dari Surya.
"Coba aku telepon dulu, kakak pulang saja tidak apa-apa." ucap Binar.
"Santai saja.. biar aku tunggu sampai kau dijemput."
Beberapa kali Binar mencoba untuk menghubungi Surya, panggilanya terhubung namun tidak juga diangkat oleh Surya, membuat wanita itu mulai khawatir.
"Gimana? aku antar pulang pakai mobil kantor aja ya? ini sudah malam." tawar Dylan mencoba untuk memberi solusi.
"Tidak Kak, tadi Mas Surya bilang mau jemput aku kok. Katanya masih terjebak macet tadi, tidak apa biar aku tunggu saja."
Dylan menghela nafas panjang. Wanita disampingnya itu memang keras kepala. Bahkan ia masih tetap menunggu meski sudah hampir tiga jam lamanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan di tempat lain, Seorang pria terlihat begitu panik setelah menerima panggilan telephon dari seseorang.
"Langsung ke rumah sakit Pak." ucapnya memerintah sang supir.
Surya berlarian di sepanjang koridor rumah sakit, tidak membutuhkan waktu lama bagi pria itu untuk sampai disana, karena kebetulan ia sedang berasa di jalan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah sakit.
Di balik kaca pintu ruang ICU seorang gadis berjilbab sedang terbaring tidak sadarkan diri. Beberapa alat penyambung hidup terpasang di tubuhnya.
Wanita paruh baya yang berpakaian syar'i serta mengenakan jilban lebar sejak tadi menangis di kursi tunggu. Wanita itu pun perlahan bangkit dan berdiri saat melihat Surya telah berada disana.
"Kamu sudah datang Nak?" ucapnya seraya berjalan menghampiri Surya.
"Assalamualaikum Umi.." ucap Surya menyapa wanita itu.
"waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." ucap wanita itu kemudian. Wanita itu terus berjalan hingga berhenti dan memandang lurus dari jendela kaca. Disana putrinya sedang terbaring lemah bertarung nyawa.
"Dia kenapa Umi?.." tanya Surya.
"Mungkin ini sudah takdir yang Allah gariskan untuknya Nak." lagi wanita itu tidak kuasa menahan tangis.
"Belakangan ini Naura diam-diam meminum obat tidur dalam jumlah yang sangat banyak. Dan puncaknya hari ini."
"Tapi kenapa sampai bisa seperti iti Umi..? saya tau betul Naura adalah gadis yang sangat paham agama. Mustahil ia bisa sampai melakukan hal seperti ini."
Umi mundur satu langkah, berbalik lalu kembali duduk di kursi tunggu, Surya pun mengikuti dan duduk berjarak dua kursi dari Umi.
"Dia mencintaimu Nak, Umi baru tau jika kau ternyata sudah menikah. Sedangkan Naura dituntut abinya untuk segera menikah. Abi mengatakan akan menjodohkan Naura dengan laki-laki pilihanya. Namun Naura menolak keras. Abinya cukup keras kepala, begitupun dengan Naura." tutur wanita itu bercerita kepada Surya.
Surya menghela nafas panjang. Tidak pernah terpikir olehnya jika semua akan berahir serumit ini.
"Lalu sekarang Abi dimana Mi?" tanya Surya karena tidak sama sekali menemukan keberadaan pria paruh baya yang juga cukup dikenalnya dengan baik.
"Abi ada di rumah sakit ini juga, beliau terkena serangan jantung saat mengetahui semua ini." Wanita itu kembali menjelaskan sambil sesekali menghapus air matanya yang tidak mau berhenti menetes.
"Ya Allah.. apa lagi ini .." batin Surya sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
"Lalu Abi sama siapa Mi?"
"Abi sendiri, sedari tadi Umi belum melihat kondisinya. Umi tidak tega meninggalkan Naura sendiri. Setiap detik sangat berharga bagi Umi, Dokter mengatakan jika kondisi Naura semakin kritis. Kemungkinan terburuk sekalipun bisa terjadi kapan saja."
"Jika kamu tidak keberatan, Umi mau nitip Naura sebentar. Umi mau melihat keadaan Abi." ucap Umi ragu-ragu.
Surya mengangguk. "Baik Umi..Surya akan menunggu disini."
karya nya bgs bgt sukses trs buat KK ny buat hasil karya yg lebih menarik dan semangat buat KK ny, pasti semua nya gemar cerita nya 👍👍