Sebutan sebagai wanita perusak rumah tangga orang tersemat pada diri Hanindya Ayu, Hanin tak menyangka jika kisah cintanya dengan Senggala Bimantara akan serumit ini.
Kisah ini di mulai setelah kejadian malam itu dan berlanjut saat Gala resmi bercerai dengan mantan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShaNisha_icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duka di Solo.
Solo 2 Tahun Lalu
𝙎𝙀𝙉𝙂𝙂𝘼𝙇𝘼.
Menggunakan pesawat paling pagi aku tiba di solo pukul tujuh pagi, aku berangkat sendiri terpisah dari Anggun.
Tiba di rumah ibu suasana tenang, sepi dan asri menyambutku, rumah paling nyaman untuk melepas kepenatan.
Ibu terlihat terkejut menyambut kedatanganku, wanita yang melahirkan Anggun terlihat sehat meski masih duduk di kursi roda.
"Mas gak bilang mau ke sini, Ayah gimana?" Tanya ibu matanya mencari-cari sosok lain yang mungkin datang bersamaku.
"Anggun sama Aryo ikut kan mas?" Aku menggeleng dan bersimpuh di bawah kaki ibu.
"Maaf kan Galla bu, Galla gak bisa penuhi janji Galla, Galla kembalikan Anggun pada ibu," Aku merasakan tubuh ibu yang ku peluk menegang.
"Ke,, kenapa lagi mas,," tanya ibu terbata.
Aku mengambil ponsel ku dan memutar rekaman CCTV rumah yang menampilkan video Anggun tengah bergumul bersama selingkuhannya di ruang tengah, menggeser lagi video saat Anggun berciuman dan menarik selingkuhannya ke kamar dan rekaman di mana Anggun memperkenalkan selingkuhannya pada Aryo.
Ibu hanya diam menutup mulutnya, menggelengkan kepala, sambil terisak.
"Mana anak itu mas?" Tanya ibu suaranya tercekat.
Aku memeluk erat ibu yang menangis tersedu "Kenapa dia seperti bapaknya, kenapa?"
"Mas maafin anak ibu mas, ibu terima mas kembalikan dia pada ibu, maafin ibu juga mas karena,,," Aku mengurai pelukan menatap ibu,
menghapus air mata di pipinya yang sudah mulai keriput.
"Galla minta maaf bu, Galla yang gagal mendidik Anggun, Galla mengkhianati janji Galla pada ibu," Ujarku menggenggam tangan ibu.
"Ibu malu mas, sama kamu sama keluargamu,," ucapan ibu terhenti saat terdengar derap langkah mendekat.
"Ibu,,,,," Anggun mendekati ibu dan aku memilih mundur berdiri di belakang kursi roda ibu.
"Ibu maafin Ang,," Ibu memundurkan kursi rodanya.
"Minta maaf sama Allah dan suamimu bukan sama ibu," ujar ibu ketus.
"Ibu gak tahu lagi kenapa kamu sebejat bapakmu," teriak ibu di akhir kalimat.
Aku mendekat memeluk ibu dari belakang mengusap bahu wanita tua itu.
"Ibu gak habis pikir kamu,,," ibu mengelus dadanya nafasnya terlihat tersenggal sebelum akhirnya ibu tak sadarkan diri.
"Ibu,,,," teriak ku dan Anggun bersamaan.
Aku dengan cepat menggendong tubuh ibu dan memanggil kang Diman sementara Anggun mengikuti langkahku.
Aku membawa ibu menuju rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan.
Aku memilih menemani ibu masuk kedalam ruangan, menggenggam tamang ibu mengucap maaf berkali-kali dalam hati.
Sementara Anggun wanita itu terlihat menangis berdiri di ujung ranjang tak mau mendekati ibu, tanganya menutup mulut dan dia terlihat kacau hari ini.
Dokter terus berusaha membuat mama sadar keluar masuk ruangan untuk memberikan yang terbaik bagi mama hingga alat monitor yang terhubung dengan alat pacu jantung berdenting panjang… .
Dan "Maaf Pak kami sudah berusaha,, "
"Gak mungkin ibu,,," Anggun menangis histeris.
"Kami turut berduka cita pak," ujar dokter menepuk bahuku.
Aku berdiri kaku tak percaya, secepat itu ibu pergi.
Anggun meraung mengguncang tubuh ibu sampai para perawat harus menahannya, sementara aku terdiam tak percaya.
"Ini salahmu mas,, ibu pergi ini salahmu," wanita itu berteriak memakiku perawat masih memegang Anggun dan menariknya keluar.
Seorang perawat memintaku untuk menandatangani pengurusan jenazah ibu, aku masih terdiam secepat ini ibu pergi. Perasaan bersalah menyelimuti ku benarkah aku penyebab ibu pergi selamanya?
𝘼𝙉𝙂𝙂𝙐𝙉.
Setelah kepergian mas Galla dua orang petugas keamanan datang meminta kami keluar dari rumah atas perintah mas Galla.
Aku di usir dari rumah ku,bukan rumah kami mas Galla benar-benar kelewatan.
Mba Linda membawa ku ke apartemennya sementara Richard laki-laki itu entah kemana karena kami berpisah di apartemen mbak Linda.
Pagi harinya aku memutuskan untuk kembali ke Solo aku mengabaikan mbak Linda yang terus mendesak agar berita ini tidak menjadi konsumsi publik demi nama baik artisnya dan meminta aku untuk membungkam mulut kedua petugas keamanan yang mengusir kami dari rumah.
Mba Linda takut jika mereka menyebarkan tentang berita kejadian semalam.
Sinting memang masih sempat dia memikirkan nama baik artisnya, apa dia gak mikir kalau nama baik ku juga hancur bukan hanya nama baik tapi rumah tangga ku juga.
Tiba di rumah Solo,aku disambut kang Diman yang tengah mencuci mobil ibu, Kang Diman mengatakan mas Galla baru sampai satu jam lalu.
Memasuki ruang tengah aku melihat ibu dan Mas Galla tengah berpelukan sambil menangis artinya mas Galla sudah menceritakan semuanya.
"Ibu,," aku mendekat bersimpuh di depan ibu dan mas Galla memilih bangkit berdiri di belakang ibu.
"Ibu maafin Ang,," Ibu memundurkan kursi rodanya.
"Minta maaf sama Allah dan suamimu bukan sama ibu," jawab ibu ketus.
"Ibu gak tahu lagi kenapa kamu sebejat bapakmu," suara ibu meninggi di akhir kalimat aku terperanjat dengan bentakan ibu selama ini tak pernah sekalipun ibu berbicara dengan nada tinggi.
"Ibu gak habis pikir kamu,," ucapan ibu terputus dan saat aku menegakan kepala ibu sudah tidak sadarkan diri,Mas Galla menggendong ibu menghambur berlari keluar memanggil Kang Diman aku ikut berlari di belakang mas Galla dan masuk kedalam mobil.
Sepanjang jalan Mas Galla terus berusaha berkomunikasi dengan ibu tapi nihil ibu masih tak sadarkan diri.
Tiba di UGD rumah sakit terdekat Mas Galla segera meminta perawat untuk memberikan pertolongan pertama pada ibu.
Aku hanya berdiri di ujung ranjang memperhatikan perawat dan dokter yang sibuk memasang berbagai alat ke tubuh ibu, Mas Galla berdiri di dekat ibu tanpa berpindah menggenggam tangan ibu.
Hingga suara monitor yang tersambung dengan alat pacu jantung terdengar nyaring dan..
"Maaf Pak kami sudah berusaha,," seorang dokter menepuk bahu mas Galla.
"Gak mungkin ibu,,," aku berteriak histeris gak mungkin ibu ninggalin aku.
"Kami turut berduka cita," aku menghambur memeluk tubuh ibu mengguncang membangunkan ibu,ibu gak boleh pergi aku meraung hingga dua orang perawat menarikku.
"Ini salahmu mas, ibu pergi ini salahmu," aku berteriak menyalahkan mas Galla aku tidak terima, harusnya mas Galla menunggu ku untuk mengatakan semuanya pada ibu.
Aku ditarik keluar oleh dua orang perawat wanita dan satu perawat pria. salah satu perawat wanita memeluk ku, mengusap punggungku menenangkan.
"Ibu,, jangan tinggalin Anggun ibu,," aku terus menangis dan terisak meraung memanggil ibu.
Aku masih tak percaya ibu pergi secepat ini dan semua ini salahku aku yang salah di sini.
"Maafkan Anggun bu,, maafkan Anggun,," ujarku menangis dalam pelukan perawat bertubuh tambun yang masih berusaha menenangkan ku hingga semuanya gelap dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi.
mmh icha tetap semangat