Tentang Shaqueena Azzaella Georgie kerap disapa Queen ini, mencari tahu kebenaran yang tersimpan selama ini.
Teka-teki dan teror sudah biasa menghiasi kehidupan Queen. Namun dia harus mencari tau dalang dari kekacauan yang terjadi selama ini.
Pertemunya dengan cowok bernama Arshaka Davendra Bratadikta yang ternyata seorang ketua Ravenska geng yang memiliki sejuta rahasia membuat dirinya dalam masalah yang besar.
Satu persatu masalah datang kedalam hidupnya. Teror demi teror semakin bertambah, dan juga dendam seseorang yang semakin mendarah daging.
***
"Lo itu cuman orang baru yang gak tau apa-apa! Lo juga gak tau kan, siapa dia sebenarnya? Jadi jangan sok tau lo!" ucap Queen.
Gue tau siapa dia sebenarnya Queen! batin Arshaka lagi.
"Kalau Lo tau siapa dia! Gak usah dibela g*blok!" ucap Queen sangat emosi.
***
Mampukah Queen bertahan dan dapat menyelesaikan semua teror serta teka-teki dihidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PINNKYBUBBLE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 26. RUMAH SAKIT
...Hallo guys?...
...Kembali lagi dengan Pinnky disini....
...Gimana kabar kalian?...
...Semoga baik-baik saja ya....
...Dari pada banyak basa-basi mending cus langsung baca aja....
...Jangan lupa like, komen, share, favorit and vote....
...Gak suka skip! No plagiat!...
...Happy reading dan semoga suka....
...*...
...*...
...*...
...Bangun Ga! Kita main kejar-kejaran lagi yuk sampai lo kelaperan! Nanti gue beliin apapun yang lo mau! Asalkan lo bangun Ga! – Rayyan Putra Alfarizqi....
...Ga? Bangun! Lo gak denger tuh Bang Ray bilang mau beliin apapun buat lo! Gih bangun terus minta PS 5 sama Abang lo biar kita bisa nge-game bareng lagi! – Roni Firmansyah....
...Gak usah makasih gitu, lagi pula itu belum seberapa atas apa yang Gaga lakuin ke gue. Kalau tadi gak ada dia mungkin gue yang di dalem sana. – Arshaka Davendra Bratadikta....
...***...
Arshaka dan anggota lainnya segera memarkirkan motor mereka dan berlari menuju ruang IGD tempat dimana Gaga berada. Sampai-sampai Arshaka tak menyadari jika dia berpapasan dengan Queen di koridor tadi.
Arshaka? Batin Queen.
“Ngapain dia kesini? Keknya dia lagi buru-buru. Ada apa ya?” tanya Queen.
Queen ingin mengejar Arshaka namun sang Papa memanggilnya untuk segera memasuki mobil.
“Ayo, Queen,” panggil Papanya.
“Iya, Pa sebentar,” ucap Queen.
Queen menengok ke belakang tempat ia melihat Arshaka tadi untuk mencari keberadaan Arshaka namun nihil. Dirinya tak dapat menemukan Arshaka.
Apa tadi gue salah lihat? Batin Queen.
“Ada apa Queen?” tanya Sang Papa yang melihat gerak-gerik Queen yang seperti mencari seseorang Papanya pun mengikuti arah pandang Queen namun yang ada hanya perawat yang lewat.
“Enggak ada apa-apa kok Pa,” jawab Queen lalu memasuki mobil dan pulang ke rumah Papanya.
BRUK!
Saat Arshaka berjalan di koridor rumah sakit Arshaka tak sengaja menabrak seorang gadis yang tengah berjalan seraya membaca bukunya sehingga gadis itu terjatuh.
“Sorry-sorry, gue gak sengaja,” ucap Arshaka seraya membantu gadis itu berdiri. Gadis itu pun menerima bantuan Arshaka dan berdiri.
“Iya, gapapa kok. Lagian aku juga salah. Gak lihat-lihat kalau jalan,” ucap gadis itu.
“Oh, ya, ini buku lo,” ucap Arshaka memberikan buku gadis itu.
Gadis itu mendongak, menerima bukunya. Dan betapa kagetnya Arshaka jika itu dia gadis yang selama ini ia cari.
Setelah selesai urusannya dengan gadis itu Arshaka segera pergi menyusul teman-temannya keruang IGD.
Disisi lain anggota Ravenska geng sedang harap-harap cemas. Mereka semua sedang menunggu Dokter yang sedang menangani Gaga.
Sudah hampir setengah jam berlalu namun Dokter ataupun perawat tak ada tanda-tanda untuk keluar sekedar memberi tau kondisi Gaga sekarang.
“Ck. Lama banget sih!” ucap Ray yang sudah tak sabar lagi.
“Sabar. Dokter lagi periksa Gaga tuh!” ucap Byan mencoba menenangkan Ray.
“Gak bisa gue!” ucap Ray semakin tak sabaran.
Ray pun memilih berdiri namun di tahan oleh Arshaka yang tiba-tiba datang.
“Kalau lo gak sabar, lo aja sana yang obati Gaga sendiri!” ucap Arshaka.
“Ck!” decak Ray lalu duduk kembali.
“Dari mana lo?” tanya Byan.
Belum sempat dijawab Arshaka pintu ruang IGD terbuka dan terlihat Dokter keluar dengan muka yang tak begitu senang dan tak begitu sedih.
“Bagaimana keadaan sepupu saya Dok?” tanya Ray.
“Operasinya berjalan dengan lancar dan untung saja pasien segera dibawa kemari kalau tidak kita tidak tau yang akan terjadi selanjutnya. Lukanya juga tidak terlalu dalam,” ucap Dokter.
“Alhamdulillah.”
“Tapi…” detik selanjutnya Dokter menggantungkan kalimat yang akan ia ucapkan membuat semuanya menjadi tegang dan cemas.
“Tapi apa Dok?” tanya Ray sangat cemas.
“Pasien mengalami pendarahan yang hebat dan mengalami koma pasca operasi tadi,” ucap Dokter.
DEG!
“Lalu kapan sepupu saya akan sadar Dok?” tanya Ray.
“Kita berdoa saja semoga pasien segera sadar,” ucap Dokter.
Dunia Ray seperti piring yang jatuh, hancur berkeping-keping. Sepupu yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri sekarang harus menutup mata untuk waktu yang tak bisa ditentukan.
“Dok, kita boleh masuk?” tanya Roni.
“Silahkan. Tetapi jangan banyak orang terlebih dahulu,” ucap Dokter.
“Baik Dok, terima kasih,” ucap Roni.
“Sama-sama kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Dokter lalu pergi meninggalkan mereka.
“Gue masuk dulu,” ucap Ray dengan tatapan kosongnya memasuki ruang IGD.
“Gue juga masuk dulu ya Bang,” pamit Roni mengikuti Ray masuk ke dalam.
“Gue bayar administrasi dulu,” pamit Arshaka juga.
Setelah berganti pakai Ray menghampiri tubuh Gaga yang lebam-lebam akibat tonjokan tadi. Ray melihat wajah damai Gaga yang sangat pucat.
Alat-alat yang terpasang ditubuh Gaga membuat Ray ngeri sekaligus kasihan begitu juga dengan Roni, dia menatap Gaga kasian. Sudah ditinggal orang tuanya sejak kecil dan sekarang harus terbaring lemah di branka rumah sakit lagi.
“Ga? Kenapa lo yang harus kek gini sih? Harusnya gue Ga! Bukan lo!” ucap Ray menatap nanar tubuh Gaga.
“Kalau Papa tau lo kenapa-kenapa nanti gue yang dimarahi Papa Ga! Lo tega lihat Abang lo yang imut tiada tandingannya ini dimarahi?” tanya Ray.
“Bangun Ga! Kita main kejar-kejaran lagi yuk sampai lo kelaperan! Nanti gue beliin apapun yang lo mau! Asalkan lo bangun Ga!” pinta Ray yang terdengar sangat memilukan.
“Ga? Bangun! Lo gak denger tuh Bang Ray bilang mau beliin apapun buat lo! Gih bangun terus minta PS 5 sama Abang lo biar kita bisa nge-game bareng lagi!” pinta Roni yang tak kalah memilukan.
“Gue janji bakal beliin apapun asalkan jangan PS 5 juga! Kagak mampu gue Ga!” ucap Ray.
“Bang, lo kan kaya gak mungkin gak mampu beli PS 5!” ucap Roni.
“Yang kaya bokap gue bukan gue….hikss!” ucap Ray dibarengi dengan isak tangisnya yang tak kuat ia pendam lagi.
“Yang sabar ya Bang. Nanti lo juga kaya kok!” ucap Roni menenangkan Ray dengan merangkulnya.
“Makasih, Ron!” ucap Ray membalas rangkulan Roni.
“Sama-sama Bang. Kaya monyet maksud gue Bang,” ucap Roni membuat Ray menempeleng Roni yang bercandanya tak kenal tempat dan suasana.
“Lo tuh bisa gak sih prihatin dikit gitu loh! Gue lagi sedih nih! Lo malah ngatain gue kaya monyet!” ucap Ray semakin sedih.
“Lo juga harus prihatin Bang! Hikss…” ucap Roni tiba-tiba terisak yang membuat Ray binggung seketika.
“Prihatin kenapa dah?” tanya Ray.
“Kaki gue lo injek Bang! Sakit…hikss,” ucap Roni.
“Eh, iya sorry. Sengaja gue,” ucap Ray melepaskan pijakannya pada kaki Roni.
“Terserah lo deh! Gue mau keluar aja gak kuat gue!” ucap Roni.
“Gak kuat lihat Gaga kek gini ya? Sama gue juga!” ucap Ray.
“Kagak Bang. Gak kuat mau ke toilet gue Bang!” ucap Roni lalu keluar sebelum Ray menyumpah serapahinya.
“Kamvret lo!” umpat Ray.
“Permisi Mas,” ucap Perawat.
“Iya Sus, ada apa?” tanya Ray.
“Pasien harus dipindahkan keruang ICU segera,” ucap Perawat.
“Oh, oke Sus. Kalau gitu saya urus administrasinya dulu,” ucap Ray.
“Administrasinya sudah dibayarkan tadi sama temen Masnya,” ucap Perawat.
Pasti Arshaka nih! Batin Ray.
“Loh Bang kok ikut-ikut gue sih?!” tanya Roni.
“Gaga mau dipindahin keruang ICU sekarang,” ucap Ray.
“Oh.”
Tak lama terlihat Roni yang keluar dari ruang IGD bersama Ray juga. Yang membuat mereka menatap binggung akan ekspresi keduanya.
“Kok cepet?” tanya Zayden.
“Gak kuat gue Bang!” jawab Roni.
“Iya gue tau ini berat buat lo kok! Tapi gue yakin lo kuat Ron!” ucap Zayden merangkul Roni.
“Gue gak kuat Bang!” ucap Roni lagi.
“Lo tuh gak kuat apalagi?” tanya Zayden.
“Gak kuat mau ke toilet Bang,” ucap Roni lalu segera berlari ke toilet.
“Ye gue kira gak kuat lihat kondisi Gaga! Eh ternyata gak kuat mau ke toilet!” ucap Zayden menyesal telah menyemangati Roni.
“Lo juga kok keluar? Kebelet juga?” tanya Zayden.
“Enggak. Gaga mau dipindahin keruang ICU,” jawab Ray.
“Oh.”
“Arshaka mana?” tanya Ray.
“Tuh,” tunjuk Zayden kepada Arshaka yang tengah berjalan menuju arah mereka.
“Ada apa?” tanya Arshaka.
“Thanks, udah bayarin biaya rumah sakit Gaga,” ucap Ray.
“Gak usah makasih gitu, lagi pula itu belum seberapa atas apa yang Gaga lakuin ke gue. Kalau tadi gak ada dia mungkin gue yang di dalem sana,” ucap Arshaka.
“Awas aja mereka! Gue bakal bikin mereka ngerasain apa yang Gaga rasain juga nanti!” ucap Ray.
“Udahlah jangan mikir balas dendam dulu, yang penting Gaga selamet ya meskipun belum sadar sampai sekarang,” ucap Byan.
Tak lama para perawat keluar mendorong branka Gaga menuju ruang ICU dibantu mereka juga Gaga dipindahkan ke ruang ICU agar Dokter mudah memantau keadaan Gaga.
“Mohon yang lainnya agar diluar ya, supaya pasien bisa beristirahat dengan tenang,” ucap Perawat.
“Baik, Sus.” Lalu mereka keluar meninggalkan Gaga dan Ray di ruang ICU.
Tak lama terdengar suara adzan subuh yang membuat mereka menuju mushola rumah sakit untuk menunaikan ibadah serta meminta kesembuhan untuk Gaga.
“Lo pada kagak balik?” tanya Ray yang kini masih duduk di emperan mushola setelah selesai sholat subuh.
“Kalau gue sih enggak. Gue mau disini aja temenin lo,” jawab Byan.
“Balik sana. Kasian bokap lo udah biayain mahal-mahal lo nya malah bolos,” ucap Arshaka.
“Bener yang dibilang Arshaka, mending lo semua pulang aja,” ucap Ray.
“Lo juga pulang. Sekolah. Biar gue yang jagain Gaga,” ucap Arshaka.
“Iya-iya gue balik keruangan Gaga dulu ya?” pamit Ray.
“Lah lo kagak sekolah?” tanya Byan.
“Gue kan masih di skor 3 hari,” jawab Arshaka.
“Lah, diskors kenapa?” tanya Zayden.
“Biasalah si Sasono cari masalah sama gue, pake bilang nyokap gue kagak becus urus gue,” jawab Arshaka malas.
“Pak Sasono!” ratal Haidar.
“Ya itu maksud gue! Bapak Sasono yang maha benar,” ucap Arshaka.
“Yang maha benar tuh cewek Bang,” ucap Roni yang tiba-tiba bangun dari tidurnya dan kembali terlelap lagi.
“A*jing! Bikin kaget aja lo!” ucap Byan tak sengaja berkata kasar didepan mushola.
“Parah lo Bang! Habis sholat tuh berkata yang baik-baik! Bukan yang kasar-kasar! Hilang dah tuh pahala lo!” ceramah Roni.
“Gak usah ceramah deh lo! Mending lo tidur aja sono!” ucap Byan.
“Gue kagak ceramah Bang. Gue cuma kasih tau aja,” ucap Roni.
“Udah diem lo!” ucap Byan yang sudah sangat mengantuk.
Tak lama semuanya hening, mereka semua terlelap didepan mushola karena saking mengantuknya dan sangat lelah.
Sinar matahari pagi membangunkan Arshaka dan ternyata Regan, Quelez dan Haidar sudah bangun lebih dahulu.
“Dah bangun juga lo. Tuh handphone dari tadi geter mulu!” ucap Quelez yang tengah menghisap rokok dengan Regan.
Membuat Arshaka langsung melihat handphonenya. Dan benar saja banyak sekali miss call dari sang Mama sejak tadi malam.
“Gue telepon Mama gue dulu,” pamit Arshaka lalu menjauh dari teman-temannya agar tak terganggu jika Mamanya mengomelinya.
DRTT! DRTT! DRTT!
Arshaka langsung mengangkat telepon dari sang Mama sebelum Mamanya tambah marah.
“Hallo Ma?”
“Hallo Shaka! Kenapa kamu baru angkat telepon Mama, hah?” tanya Mamanya yang terdengar sangat marah.
“Kemana aja kamu semalaman?”
“Jangan-jangan kamu mabuk-mabukan ya?!”
“Oh, atau kamu pergi check in hotel?!”
“Hallo Shaka kenapa cuma diem aja?! Jawab Mama Shaka!”
“Mama tenang dulu ya! Shaka bisa jelasin kok!” ucap Arshaka mencoba menenangkan Mamanya yang panik.
“Gimana Mama bisa tenang Shaka?! Dari semalem Mama telepon kamu tapi kamu gak angkat! Jangankan angkat telepon Mama, kamu Mama chat juga gak dibalas! Gimana Mama bisa tenang coba?!”
“Ma, maafin Shaka ya? Shaka lupa kabarin Mama kalau semalem Shaka nginep di rumah sakit, nun-”
“Rumah sakit? Kamu ngapain ke rumah sakit? Kamu sakit Shaka? Kenapa gak ngabarin Mama sih?!” potong Mamanya.
“Kamu sekarang ada dirumah sakit mana? Biar Mama kesana!"
“Ma, Mama tenang dulu ya! Shaka gak sakit Ma!”
“Terus?” potong Mamanya lagi.
“Yang sakit itu adik kelas Shaka Ma. Mama gak usah kesini ya? Nanti Shaka pulang kok,” ucap Arshaka menyakinkan Mamanya.
“Bener kamu gak sakit?” tanya Mama Lia masih belum percaya.
“Bener Ma!”
“Ya udah deh kalau gitu! Lain kali kalau ada apa-apa tuh kabarin Mama dulu! Jangan bikin Mama panik kayak gini!” nasehat Mamanya.
“Iya Ma, maafin Shaka ya?”
“Iya. Udah dulu ya? Mama lagi masak nih takut hangus.”
“Iya Ma,” ucap Arshaka lalu sang Mama mematikan teleponnya.
“Untung aja gue angkatnya disini!” guman Arshaka lalu berbalik ke mushola.
“Sejak kapan kalian disini?” tanya Arshaka pada Quelez, Regan dan Haidar yang tiba-tiba sudah ada dibelakangnya.
“Sejak Mama lo nuduh lo ke mabuk-mabukan,” jawab Quelez.
“Dan nuduh lo check in hotel,” tambah Regan.
“Sama ngomel-in lo,” tambah Haidar juga.
Sialan! Pake pada denger semuanya lagi! Mau ditaruh mana muka gue?! Batin Arshaka sangat malu.
“Soal ini kita berempat aja yang tau!” ucap Arshaka.
“Hmm."
“Makanya kabarin emak lo dulu semalem!” ucap Quelez.
“Gue lupa,” ucap Arshaka.
“Lo nanti mau balik dulu?” tanya Quelez.
“Iya sebentar sekalian cek orang itu,” jawab Arshaka.
“Cek orang itu apa cek si Queen?” tanya Regan membuat Arshaka semakin malu.
“Lo mata-mata-in gue ya?” tanya Arshaka.
“Gak!” jawab Regan.
“Queen siapa?” tanya Quelez penasaran.
“Shaqueena Azzaella Georgie. Iya kan?” tebak Regan.
Nih anak hafal lagi namanya! Batin Arshaka.
“Diem berarti iya,” ucap Quelez.
“Dia pacar lo?” tanya Quelez lagi.
“Partner yang belum menjadi partner,” ucap Regan.
“Belum jadian,” ucap Haidar.
“Gengsian sih,” ucap Regan.
Serasa di roasting gue! Batin Arshaka.
“Buruan tembak keburu diembat orang lain loh,” ucap Quelez.
“Iya nanti. Sekarang gue balik dulu,” pamit Arshaka.
“Hati-hati nanti kalau kenapa-kenapa di jalan gak bisa nembak Queen lagi!” ucap Quelez.
“Ck! Diem lo!” sewot Arshaka lalu kembali ke mushola dahulu untuk berpamitan dengan yang lain.
Setelah selesai berpamitan Arshaka mengemudikan motornya menuju rumahnya.
Quelez, Regan dan Zayden juga menyusul pulang ketika yang lainya sudah pulang.
“Lo duluan aja gue sama Zay masih ada urusan disini,” ucap Quelez saat di koridor.
“Urusan apa?” tanya Zayden.
“Nanti juga tau,” ucap Quelez.
“Oke. Gue balik dulu,” pamit Regan lalu pergi meninggalkan mereka.
“Ayo!” ajak Quelez menuju kamar VVIP.
“Ngapain kita keruang VVIP?” tanya Zayden.
“Lo lupa semalem Uncle kecelakaan! Dan dilarikan ke rumah sakit ini!” ucap Quelez.
“Oh iya gue lupa!” ucap Zayden lalu mereka masuk ke ruang VVIP itu.
...To be continued....
...Terima kasih telah membaca....
...Kira-kira siapa gadis yang ditabrak Arshaka itu? Kenapa Arshaka mencarinya? Apa jangan-jangan gadis itu masa lalu Arshaka?...
...Regan tau darimana kalau Arshaka sedang dekat dengan Queen ya? Apakah benar Regan memata-matai Arshaka? Atau hanya kebetulan tau saja?...
...Quelez dan Zayden jenguk Uncle-nya? Berarti mereka sepupu dong? Tapi kenapa marga mereka berbeda?...
...Benarkah sepupu atau hanya sekedar menyebut orang itu dengan sebutan Uncle saja?...
...Komen pendapat kalian tentang chapter hari ini....
...Jangan lupa untuk like, komen, share, favorit and vote ya?!...
...See you di next chapter....