Di usia dua puluh lima tahun, Gurkha pergi meninggalkan keluarganya dan habitatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINTA DI TOLAK
Buah-buahan segar yang dibawa oleh Arima sangat menggiurkan, pasti nikmat sekali untuk di cicipi. Gurkha duduk dan mengajak Devi ikut menikmati buah itu.
"Duduklah sayank, malam ini kita akan habiskan untuk mencicipi buah langka ini. Setelah sekian lama, baru kali ini aku menemukan makanan yang bisa mengingatkan aku kepada kampung halamanku." kata Gurkha dengan wajah senang.
"Ngomong-ngomong kamu berasal dari mana?" tanya Devi antusias.
"Aku amnesia, dimana asalku dan siapa orang tuaku. Semua aku lupa. Tapi bagiku semua itu tidak ada gunanya, sekarang aku punya orang tua angkat yang baik dan istri yang cantik."
"Aku bukan istrimu, aku korban dari kekejamanmu." geram Devi.
"Setelah semuanya beres kita akan menikah, kau akan menjadi Ibu dari anak-anakku." Gurkha berkata lembut, matanya mesra menatap Devi.
"Hukk..hukk..huukk" Arima hampir tersedak, padahal dia cuma sebagai pendengar, tidak ikut makan buah yang berada di atas nampan. Hatinya tergelitik untuk menyahut, tentang ke inginan Tuan Gurkha yang sungguh membuatnya patah hati.
"Menurutku sebaiknya Tuan pulang ke kampung, mencari orang tua dan kakek, pulang ke tanah leluhur, serta mencari istri yang satu level." celetuk Amira rada kesal.
"Amira, pergi ke kamar, harusnya kau sudah tidur. Jangan suka begadang."
"Gurkha, apakah kalian saling kenal sebelumnya?" tanya Devi menatap Gurkha.
"Ti - ti-dak..." jawab Gurkha pendek.
Kegugupan Gurkha membuat Devi berasumsi, bahwa Gurkha pernah mengenal Arima. Tapi apa pedulinya, dia tidak marah dan cemburu, atau tergetar perasaannya mengetahui ini. Mungkin saja dia keliru, atau terlalu curiga, kepada Arima, yang sikapnya terlalu berani dan tidak tahu sopan santun.
"Jadi sebelumnya kalian tidak pernah bertemu, aku jadi kepo." selisik Devi.
Dibawah sinar lampu yang terang benderang, Gurkha dan Arima saling pandang. Sikap mereka membuat Devi mengangkat pantatnya dari sofa dan beranjak dari hadapan kedua orang itu. Dia cuma benci dengan ke bohongan mereka, sedikitpun dia tidak cemburu, ngapain cemburu orang dia tidak cinta dengan pria brengsek itu, dasar play boy tengik. Tidak tahu malu.... ngapain saling pandang di depannya. Awas bohong. gerutu Devi dalam hati.
"Sayank, mau kemana?" teriak Gurkha melihat Devi pergi, tapi dia tidak menahan kepergian Devi. Mana mungkin dia berhenti mengunyah buah-buahan yang berada di depan matanya, buah ini langka dan sangat enak.
"Gurkha, dibawah Bukit ini banyak sekali buah langka, tempatnya masih belum terjamah manusia, kita sangat beruntung, aku bisa mencari buah setiap hari untukmu."
"Hahaha...sungguh enak, tidak rugi aku pindah kesini, trimakasih Amira. Kita bisa berpesta setiap hari. Aku lebih senang jika kau membawa buah Naga yang merah."
"Gampang itu." sahut Arima lalu mematikan lampu.
"Kenapa lampu dimatiin Amira? nanti Devi berprasangka buruk pada kita."
"Bukankah biasanya begitu, aku ingin makan tanpa sinar lampu, rasanya lebih enak."
"Disini aku Tuanmu, jagalah sikapmu, jangan sampai membuat istriku marah, aku bisa membunuhmu kalau kau berulah."
"Aku bisa menjaga diri, walaupun aku terkadang ingin merobek tubuh Devi, tapi aku menahan diri dan berbuat bijak dengan cara mengalihkan amarah ku kepada binatang atau orang lain yang lewat di hutan."
"Sejujurnya aku katakan bahwa kau bukan type wanita idaman ku. Aku mencintai Devi dari pertama kali dan seterusnya."
"Tidak apa-apa, aku akan mengabdi kepada mu sebagai pelayan yang patuh, aku yakin suatu hari nanti kamu akan membuka hati dan mau menerimaku." ucap Arima dengan mata berkabut. Dia sedih di tolak oleh Gurkha.
"Tidurlah Arima, harus ada jarak di antara kita." ucap Gurkha seraya menatap tajam mata Arima di dalam ke gelapan.
"Kau tahu aku telah menyukaimu sejak pertama kali bertemu. Jika kau tak bisa menerima perasaanku kau bisa menerima tubuhku bukan?" sahut Arima tersenyum menggoda, Gurkha mulai jengah. Seakan Arima mengabaikan tatapan mata Gurkha yang mengancam, yang mampu menembus jantungnya.
"Aku menghargaimu sebagai bangsa yang sama. Jadi cepat menyingkir atau jangan pernah kembali lagi kesini," Gurkha berusaha menahan emosi. Alisnya mengkerut, pertanda dia gusar.
Tanpa di duga, Arima mengabaikan perintah Gurkha. Dia menatap pria itu dengan lembut, lalu duduk di pangkuan Gurkha.
Kesabaran Gurkha sudah diambang batas, dengan kasar dia mendorong tubuh Arima, sehingga Arima hampir terjungkal.
"Jangan memancing amarahku, jika kau tak ingin menjadi mayat, pergi dari hadapanku!!" ujar Gurkha dengan suara meninggi, wajah nya sudah memerah.
Ini adalah usaha terakhirnya untuk menarik perhatian Gurkha, jika tidak juga berhasil, baru dia mau pergi ke belakang. Gurkha tak pernah dapat diraihnya, baik saat di Bukit Tidar, hingga sekarang. Tanpa sadar air mata Arima tumpah dan membasahi pipinya. Dia hanya bisa menangis, setelah kejadian ini, Gurkha pasti akan semakin menghindarinya.
Gurkha mengurungkan niatnya untuk menghabisi buahnya, dia melangkah kesal menuju kamar. Sungguh hina perbuatan Arima yang memaksakan kehendak nya, dengan mantap Gurkha meninggalkan wanita yang selalu mengejarnya. Seharusnya ia tak pernah menerima wanita itu menjadi bagian dari petualangannya. Namun kebutuhan buah dan rasa hormatnya pada Naga emas Caligula membuatnya mengesampingkan masalah pribadi di antara mereka.
Sampai di kamar, Gurkha melihat Devi tidur miring menghadap ke tembok.
"Sayank, kau sudah tidur?" tanya Gurkha duduk di pinggir tempat tidur.
"Sudah!!" ketus suara Devi.
"Pantas menyahut...." ujar Gurkha pendek sambil tersenyum simpul.
Gurkha naik ketempat tidur dan membalikan tubuh Devi dengan mudah.
"Jangan mengusikku, aku sudah ngantuk. Kalau merasa sepi cari Arima, pembantu genit yang tidak tahu sopan santun." sahut Devi dengan bibir cemberut.
"Kamu cemburu dengan Arima?"
"Amit-amit cabang bayi, ngapain harus cemburu dengan Arima?, tidak
mungkinlah. Kecuali aku mencintai kamu, baru bisa cemburu."
"Syukurlah, aku tidak mungkin sama Arima. Cintaku hanya untukmu." rayu Gurkha memeluk Devi.
"Jangan bohong, dasar buaya!!" bentak Devi, berusaha melepaskan diri dari pelukan Gurkha. Mendengar dirinya di katakan buaya, Gurkha marah. Matanya memerah, dia Naga bukan buaya. Serta merta tangannya melepaskan tubuh Devi.
"Apa kau berpikir aku sehina itu? apa wajahku mirip buaya. Kata-kata mu sangat menyakiti hatiku." getir suara Gurkha, wanita yang dia cintai ini selalu menghinanya dengan kata yang membuat hatinya pedih
"Ya...kamu memang buaya darat!!" bentak Devi lagi.
Rahangnya mengeras, dia bangun dari tempat tidur, lalu pergi ke kamar mandi. Tidak lupa pintu kamar mandi dia tutup dengan keras, terdengar suara berdebam. Apakah semua manusia suka menghina? sungguh dia merasa kecewa. Sekalipun tidak terbayang dalam pikirannya untuk menghina Devi, tapi Devi selalu marah dan menghinanya. Padahal dia selalu memuja dan merayu Devi.
Hatinya sangat terluka, Gurkha memenuhi air bathtub dan berendam disana. Tidak ada perubahan kalau dia menjadi buaya. Dia tetap seorang manusia tampan yang sempurna.
Sekitar satu jam Gurkha berendam untuk menenangkan hatinya. Ketika dia keluar dari kamar mandi, dia melihat Devi sudah tidur pulas. Gadis itu meringkuk menghadap tembok, ia sangat mengerti kalau Devi sangat membencinya.
Gurkha menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Dia bersyukur Devi tidur, dengan begitu dia tidak akan berdebat dengan wanita itu. Dia tidak ingin menodai cintanya dengan perkataan kasar, atau perbuatan yang sadis. Cintanya terlalu dalam kepada Devi, tidak mungkin dia mau menyakiti hati wanitanya.
Gurkha membaringkan tubuhnya di samping Devi, matanya menatap punggung Devi. Bau amber dari tubuh wanitanya membawa sensasi sembriwing dan sangat menggoda. Namun dia membalikan badannya dan mengenyahkan pikiran mesum dari otak Naganya.
*****
penasaran sama lanjutannya
KARYA NYA BAGUS SAYA SUKA😍👌👌👌
SEMOGA MAKIN SUKSES KARYA NYA
GOOD JOB👍👍👍
aku merasa blm puas thooooor ceritanya gantung bgm si gukha
ktnya mau menikahi Devi
terus Devi kerja apa dan pd akhirnya mereka bs bersatu apa gk