NovelToon NovelToon
Kembaranku Penggantiku

Kembaranku Penggantiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 — Anak yang Dibawa ke Sarang Monster

Mobil hitam itu melaju membelah malam.

Hujan masih turun.

Lampu jalan sesekali menyinari kaca jendela yang gelap.

Di kursi belakang, Raka duduk membeku.

Tangannya terikat.

Tubuhnya masih gemetar sejak ledakan tadi.

Air mata belum berhenti mengalir.

Dan di sampingnya...

Mahendra Pratama duduk santai.

Seolah mereka hanya sedang pergi jalan-jalan.

Bukan penculikan.

Bukan pelarian.

Bukan awal dari mimpi buruk baru.

"Jangan nangis."

Suara Mahendra terdengar tenang.

Raka justru makin menjauh ke sudut kursi.

Meski ruang geraknya nyaris tidak ada.

"Aku mau Kak Nadira..."

bisiknya.

Mahendra menatap anak itu beberapa detik.

Lalu tersenyum kecil.

"Dia masih hidup."

Deg.

Raka langsung mengangkat kepala.

Benar.

Masih hidup.

Setidaknya itu yang ia dengar.

Namun entah kenapa...

Kalimat itu tidak membuatnya tenang.

Karena cara Mahendra mengatakannya...

Terdengar seperti ancaman.

Bukan kabar baik.

"Kenapa Om jahat?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Polos.

Jujur.

Dan membuat salah satu pria bersenjata di depan hampir menoleh.

Namun Mahendra justru tertawa kecil.

"Jahat?"

Ia menyandarkan tubuhnya.

"Menurut siapa?"

"Menurut semua orang."

jawab Raka lirih.

Sunyi.

Mahendra tidak langsung menjawab.

Ia hanya melihat jalanan di depan.

Lalu mengembuskan napas pelan.

"Kadang..."

Tatapannya kosong.

"...orang jahat cuma orang yang menang terlalu lama."

Deg.

Raka tidak mengerti.

Namun entah kenapa...

Kalimat itu terdengar menyeramkan.

Di sisi lain kota—

Nadira hampir gila.

"RAKA!"

Suaranya serak karena terlalu banyak berteriak.

Namun tetap tidak ada jawaban.

Asap masih mengepul dari gedung yang hancur.

Polisi dan petugas medis berlarian ke sana kemari.

Lampu ambulans memenuhi area.

Namun semua terasa kabur.

Karena hanya satu hal yang ada di pikirannya.

Raka.

"Tenang."

Arsen memegang bahunya.

Meski dirinya sendiri terlihat kacau.

"Dia masih hidup."

"Apa kamu lihat dia?!"

teriak Nadira.

Air matanya jatuh lagi.

"Apa kamu lihat dia hidup?!"

Deg.

Arsen langsung diam.

Karena ia tidak bisa berbohong.

"Tadi ada mobil keluar."

Suara Rey muncul dari belakang.

Wajahnya penuh luka kecil akibat ledakan.

Namun tatapannya tetap tajam.

"Aku lihat."

Semua langsung menoleh.

"Siapa yang bawa?"

tanya Damar cepat.

Rey menggeleng.

"Jaraknya terlalu jauh."

"Tapi..."

Tatapannya berubah dingin.

"...aku yakin itu Mahendra."

Deg.

Nadira langsung mengepalkan tangan.

Begitu kuat sampai kukunya menusuk kulit sendiri.

"Kalau dia nyakitin Raka..."

Suaranya bergetar.

"...aku bakal bunuh dia."

Sunyi.

Tidak ada yang menertawakan ancaman itu.

Karena semua tahu...

Nadira serius.

Beberapa jam kemudian.

Matahari mulai muncul.

Namun tidak ada satu orang pun yang tidur.

Mereka berkumpul di ruang darurat yang dipinjamkan polisi.

Ruangan kecil.

Penuh peta.

Laptop.

Dan tumpukan berkas.

Namun suasananya terasa lebih seperti ruang perang.

Karena memang itulah yang sedang terjadi.

"Kita punya masalah."

kata Rey.

Semua langsung fokus.

"Mahendra nggak bakal sembunyi lama."

Tatapannya menyapu semua orang.

"Dia sengaja ambil Raka."

"Kenapa?"

tanya Nayla.

"Karena dia mau sesuatu."

jawab Rey.

"Lalu kenapa nggak langsung bunuh Raka?"

tanya Damar.

Deg.

Ruangan langsung sunyi.

Karena pertanyaan itu memang masuk akal.

Rey menghela napas.

"Lantaran Raka lebih berharga hidup-hidup."

"Apa maksudnya?"

tanya Nadira cepat.

Rey membuka laptop.

Lalu memunculkan beberapa dokumen lama.

Foto-foto.

Data transaksi.

Nama-nama.

Dan sebuah diagram yang rumit.

"Raka bukan cuma saksi."

katanya pelan.

Deg.

Semua langsung menegang.

"Lalu?"

Suara Arsen terdengar rendah.

Rey menatap foto Raka di layar.

Kemudian berkata,

"Dia kunci."

Deg.

"Kunci apa?"

tanya Nadira.

"Kunci rekening."

Sunyi.

Tidak ada yang langsung mengerti.

Termasuk Nadira.

"Aku nggak paham."

katanya.

Rey mengangguk kecil.

"Karena memang rumit."

Ia menunjuk salah satu dokumen.

"Mahendra punya aset yang nilainya triliunan."

"Dan sebagian besar disimpan pakai identitas palsu."

"Terus?"

tanya Damar.

"Terus..."

Tatapan Rey berubah serius.

"...salah satu identitas itu milik anak kecil."

Deg.

Semua membeku.

"Jangan bilang..."

Arsen langsung mengerti lebih dulu.

Rey mengangguk.

"Iya."

"Raka."

Deg.

Nadira merasa kepalanya

berdengung.

"Waktu kecil."

lanjut Rey.

"Nama Raka dipakai buat membuka jalur transaksi."

"Karena anak kecil nggak akan dicurigai."

"Brengsek."

gumam Damar.

"Jadi kalau Mahendra kehilangan Raka..."

kata Rey.

"...dia kehilangan akses ke banyak hal."

Deg.

Sekarang semuanya masuk akal.

Kenapa Raka diburu.

Kenapa dia disembunyikan.

Kenapa begitu banyak orang mati.

Karena Raka bukan sekadar saksi.

Ia adalah bagian dari kerajaan Mahendra.

Meski dirinya sendiri tidak pernah tahu.

Sementara itu...

Di tempat lain.

Mobil hitam akhirnya berhenti.

Raka menatap keluar jendela.

Dan jantungnya langsung berdebar lebih cepat.

Rumah besar.

Sangat besar.

Lebih mirip istana daripada rumah.

Dikelilingi pagar tinggi.

Petugas bersenjata.

Kamera di mana-mana.

"Turun."

kata salah satu pria.

Raka tidak bergerak.

"Aku mau pulang."

bisiknya.

Mahendra tersenyum tipis.

"Lama-lama juga terbiasa."

Deg.

Kalimat itu langsung mengingatkan Raka pada masa kecilnya.

Basement.

Kamar terkunci.

Kesepian.

Tubuhnya langsung gemetar lagi.

"Aku nggak mau."

Air matanya jatuh.

"Aku mau Kak Nadira."

Mahendra memandangnya beberapa detik.

Lalu berkata pelan,

"Itu masalahnya."

Deg.

"Apa?"

Mahendra tersenyum kecil.

Namun matanya dingin.

Sangat dingin.

"Dia bikin kamu berani."

Sunyi.

"Dulu kamu penakut."

"Lemah."

"Mudah dikendalikan."

Raka menunduk.

"Tapi sekarang..."

Mahendra menghela napas.

"...kamu mulai punya alasan buat melawan."

Deg.

Dan itulah yang paling ia benci.

Karena orang yang punya seseorang untuk diperjuangkan...

Jauh lebih sulit dihancurkan.

Sementara itu—

Di ruang darurat.

Seorang polisi tiba-tiba masuk terburu-buru.

"Pak!"

Semua langsung menoleh.

"Ada perkembangan."

Deg.

Nadira langsung berdiri.

"Apa?"

Polisi itu terlihat tegang.

"Kami menemukan satu kamera lalu lintas."

Jantung Nadira langsung berdebar.

"Dan?"

Polisi itu menyerahkan beberapa foto cetak.

Foto mobil hitam.

Nomor plat palsu.

Dan satu gambar yang diambil beberapa detik sebelum kendaraan itu masuk area pegunungan.

Rey langsung mengambil foto itu.

Tatapannya berubah.

"Ini..."

"Apa?"

tanya Arsen.

Rey menunjuk latar belakang gambar.

Sebuah gerbang batu tua.

Dengan lambang yang familiar.

Sangat familiar.

Deg.

"Lo kenal?"

tanya Damar.

Rey mengangguk pelan.

Wajahnya perlahan memucat.

"Ya."

"Di mana itu?"

Sunyi beberapa detik.

Lalu Rey menjawab dengan suara rendah.

"Itu tempat pertama kali semuanya dimulai."

Deg.

"Rumah lama Mahendra."

Ruangan langsung membeku.

Karena jika Rey benar...

Mereka akhirnya tahu di mana Raka berada.

Namun ada satu masalah.

Rey menatap foto itu cukup lama.

Lalu berkata pelan,

"Orang yang masuk ke sana..."

Tatapannya berubah gelap.

"...jarang keluar hidup-hidup."

1
Noorjamilah Sulaiman
rumit
Noorjamilah Sulaiman
mungkin mama nadira ini org kaya
Noorjamilah Sulaiman
aku jd binggung, Adrian ini jahat atau papa arsen yg paling licik
Noorjamilah Sulaiman
apa ug sebenarnya berlaku?
Noorjamilah Sulaiman
mantap
Noorjamilah Sulaiman
terlalu rumit,knpa semua itu ada d dlm penjara tmpt Rafael
Noorjamilah Sulaiman
kerena sblm tu ada lelaki yg melihat mereka masa nadira mkn mlm drumah keluarga arsen
Noorjamilah Sulaiman
ceritanya rumit,siapa sebenarnya musuh mereka adakh keluarga arsen sendiri?
Noorjamilah Sulaiman
cerita ini menarik tp mungkin blm djumpai ole pembaca atau sbb cerita ini blm tamat
Noorjamilah Sulaiman
teka teki btl
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!