Arjuna. Dia menikahi seseorang lalu mengabaikannya, tanpa peduli dengan perasaan wanita itu karena hatinya masih tertinggal pada masa lalunya.
_____
“Kenapa, kenapa lama sekali aku menunggu kamu untuk melihat ke arahku, Mas?”
Arjuna seakan tertampar mendengar ucapan Danita.
_____________
Cover by Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NIZAP02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTD 26
...***...
“Apa enggak kebanyakan, Mas? Dua saja sudah cukup.” Ujar Danita saat melihat Arjuna memasukkan tiga kotak susu ke dalam troli belanja.
“Enggak apa-apa, buat stok di rumah. Lagi pula rasanya beda, biar kamu enggak bosan.”
Setelah itu keduanya berjalan ke arah tempat buah-buahan dan sayuran berada. Arjuna memasukkan beberapa buah-buahan dan sayuran segar.
“Mas mau itu,” tunjuk Danita ke arah etalase cake tak jauh dari tempat mereka berada.
Arjuna kemudian berjalan ke arah etalase kaca yang penuh dengan berbagai jenis cake.
“Sudah, atau masih ada lagi?”
“Sudah semua.”
“Kalau gitu kamu duduk dulu di sana,” tunjuk Arjuna ke arah kursi besi tak jauh dari meja kasir berada, “biar mas saja yang ke kasir, jalannya hati-hati.”
Danita mengangguk, kemudian berjalan ke bangku besi tak jauh dari meja kasir. Setelah membayar belanjaan Arjuna melajukan mobilnya menuju rumah mereka.
Sesampainya di rumah Danita langsung membersihkan dirinya, tubuhnya sudah cukup lelah. Kehamilannya sudah memasuki usia tujuh bulan begitu menguras tenaga. Sedangkan Arjuna mandi di kamar lain.
Dan semenjak kehamilannya memasuki trimester kedua, Arjuna memindahkan kamar mereka di lantai satu. Dan Arjuna juga memperkerjakan beberapa asisten rumah tangga di sana.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka, Arjuna membawa segelas susu hangat untuk Danita yang sudah setengah berbaring di atas tempat tidur.
“Minum susunya dulu.”
Menyodorkan segelas susu pada Danita. Segera dia menghabiskan susu buatan suaminya.
“Mas pijitin kakinya ya, pasti lelah habis belanja tadi”
“Terima kasih, Mas.”
“Maaf ya,” ujar Arjuna lirih.
“Maaf kenapa?”
“Kemarin mas enggak bisa temani kamu ke dokter, karena rapatnya enggak bisa ditunda.”
Danita tersenyum ke arah suaminya.
“Enggak apa-apa kok, mas. Lagian aku dan bayi kita juga tahu kalau kamu beneran sibuk, lain kali kita ke sana ditemani sama kamu.”
“Tapi enggak ada yang serius, kan? Semuanya baik-baik saja, kan?”
Danita menganggukkan kepalanya.
“Iya,” dustanya.
Arjuna mengelusi perut Danita yang tampak membesar.
“Hai sayang, sebentar lagi Papa sama Mama bisa lihat kamu. Sehat terus ya, sayang.” Kemudian mencium perut Danita.
Danita tersenyum bahagia mendengar ucapan Arjuna.
“Sudah malam, sebaiknya kita tidur.”
Danita merebahkan tubuhnya, Arjuna pun tidur di sisinya. Tangannya memeluk tubuh Danita, meletakkan tangannya di atas perut dan mengelusi perut Danita.
Danita merasa nyaman di dalam dekapan Arjuna perlahan memejamkan matanya.
“Selamat malam, sayang” Arjuna mengecup kening istrinya.
...***...
“Sayang, kan, sudah mas bilang. Enggak perlu masak, itu biar Bi Wati aja yang kerjakan. Kamu nanti kecapean.”
“Enggak apa-apa, cuma masak nasi goreng.”
Arjuna tak bisa menghalangi Danita yang kekeuh tetap ingin memasak sarapan pagi untuknya.
“Semuanya siap, sini mas.”
Danita begitu antusias menyiapkan masakannya.
“Kamu juga makan.”
“Iya.”
“Nanti Mama mau ke sini,”
“Jam berapa?”
“Sepertinya siang, soalnya paginya ada arisan dulu katanya.”
Danita mengangguk.
“Biar mas yang bereskan, kamu duduk saja.”
Arjuna mengambil piring milik Danita dan menaruhnya di wastafel.
Setelah itu dia membuatkan segelas susu dan mengeluarkan buah yang sudah diiris dari dalam lemari pendingin.
“Ini susu dan buahnya, Nyonya.” Gurau Arjuna.
Danita terkekeh mendengar gurauan suaminya.
“Terima kasih, tuan. Lalu, apa yang harus saya bayarkan untuk semua ini?”
“Cukup satu kecupan di sini,” jari Arjuna menunjuk ke arah bibirnya. “ Dan juga jangan lupa berikan kabar setiap dua jam sekali.”
Danita menggelengkan kepalanya. Arjuna memang lebih posesif semenjak Danita pernah dirawat inap di rumah sakit karena sempat jatuh pingsan. Dokter mengatakan hal itu terjadi, karena dirinya kelelahan dan sedikit dehidrasi. Mengingat saat memasuki trimester kedua dirinya mengalami mual dan muntah yang begitu parah, berbeda dengan saat kehamilan masih trimester pertama. Tak ada keluhan apapun.
“Siap, Tuan.”
“Mana ciumannya?”
Danita mendekatkan wajahnya pada Arjuna.
Cup.
Arjuna tersenyum mendapatkan ciuman dari Danita.
“Mas berangkat dulu, kalau ada apa-apa langsung hubungi Mas .”
“Iya, mas.”
Arjuna membungkukkan tubuhnya.
“Sayang, jagain Mama ya. Jangan nakal, nanti saat pulang Papa belikan hadiah, oke.” Ujarnya kemudian mengelus dan mengecup perut Danita.
...***...
“Halo menantu Mama yang cantik,”
Danita tersenyum mendengar sapaan Mama mertuanya. Keduanya kemudian berpelukan.
“Mama apa kabar?”
“Baik dong, soalnya sebentar lagi mau jadi Oma. Kamu sudah makan siang, Nit?”
“Sudah Ma, tadi sambil video call sama Mas Jun. Mama sudah makan?”
“Sudah, kebetulan arisan jam sepuluh di restoran enggak jauh dari sini. Jadi sekalian makan siang di sana, eh, gimana? Kamu sama cucu Mama sehat-sehat, kan? Enggak ada keluhan atau mual lagi?”
“Sudah enggak kok, Ma.”
“Tapi muka kamu kok agak pucat, Nit?”
“Biasa, soalnya tadi jalan sebentar di taman belakang. Tapi ternyata malah kecapean, cucunya Mama manja, nih.” Danita terkekeh menyembunyikan kebenaran.
“Enggak apa-apa manja kalau masih batas wajar, ya sudah. Lain kali jangan jalan-jalan lagi, kalau memang mau olahraga biar lahiran nanti lancar. Mama panggilkan pelatih yoga profesional khusus ibu hamil ya, nanti Mama suruh Juna yang panggil.”
“Enggak perlu, Ma. Nita rasa sudah cukup jalan-jalan saja, paling sekedar ambil minum atau ke kamar mandi.”
“Ya sudah, kalau begitu. Pokoknya jangan kerja berat-berat dulu, nanti suamimu ngomel lagi. ”
Danita terkikik mendengar Mama mertuanya membicarakan anaknya sendiri.
Keduanya kemudian mengobrol banyak hal. Mama mertuanya juga memberikan wejangan kepadanya, bagaimana setelah melahirkan dan menjadi ibu. Jika dirasa Danita kelelahan saat begadang, jangan sungkan untuk membangunkan Arjuna. Libatkan setiap hal yang Danita kerjakan ketika merawat anak mereka.
Begitu sore hari, Mama mertuanya berpamitan. Danita melambaikan tangannya ke arah mobil yang dinaiki Mama mertuanya. Setelah mobil itu hilang dari pandangannya, Danita masih bergeming di tempatnya.
“Semoga aku bisa melakukan apa yang Mama katakan tadi,” ujarnya lirih sembari mengelusi perutnya.
...****...