Semenjak kematian kedua orang tuanya. Sri yang memiliki nama lengkap Sri Wahyuni harus rmengorbankan untuk tidak bersekolah dan berjualan jamu untuk membiayai kehidupan sehari harinya bersama Cipto adik kandungnya.
Kehidupanya yang terbilang miskin dan kekurangan. Membuat tekadnya semakin kuat untuk meneruskan perjuangan almarhum ibunya berjualan jamu keliling.
David adalah seorang lelaki yang terlahir dari sebuah keluarga kaya raya. Namun kekayaaan yang melimpah tak seindah ekspektasinya.
David harus menelan pahitnya kehidupan ketika kedua orang tuanya resmi bercerai dan meninggalkanya bersama Sang Kakek yang selau menyayangi dan merawatnya hingga dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arby yingjun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIDAK CIPTO SANGKA
"Bhua ... ha ... ha." suara tawa dengan nada yang puas dan memojokan.
Amanda menoleh ternyata Oscar lah orang yang puas mentertawakanya.
"Manda ... manda." Oscar menggeleng dengan wajah tersenyum puas melihat kekecewaan Amanda.
"Apa maumu, hah?. Puas kau melihatku menderita seperti ini!" Bentak Amanda kepada oscar.
Oscard menunduk dan kini merubah mimik wajahnya menjadi dingin dan garang.
Oscar melangkah mendekati Amanda dan mencekal pipi Amanda dengan satu tanganya.
"Berhentilah berharap, karena semakin kau berharap kau makin akan menyakiti dirimu sendiri." kecam Oscar dengan tangan yang menghempas pipi Amanda.
"Sialan! kenapa tak ada sama sekali yang mendukungku." Amanda semakin marah pada keadaan yang tak berpihak padanya.
Oscar hanya tersenyum simpul sambil melangkah pergi meninggalkan Amanda yang bersungut sungut merutuki nasibnya.
Setelah Oscar menghilang. Erika langsung muncul dan berlari menghampiri mencoba menenangkan Amanda.
"Nona ... nona ... bersabarlah." ucap Erika dengan tangan mencoba memegang bahu Amanda, akan tetapi Amanda langsung menepisnya.
"Dasar pembantu tidak berguna! pergi kau dari sini!" bentak Amanda dengan emosi yang meluap luap.
"Ya elah, non. Jangan gitu ngapa? saya memang pembantu, Non. Tapi saya juga punya harga diri." ucap Erika sambil berpura pura bersedih di hadapan Amanda.
"Maaf, aku minta maaf. Kau datang di saat yang tidak tepat." ucap Erika.
Setelah beberapa saat. Amanda kini terlihat tenang dan tidak meluap luapkan emosinya lagi.
"Nona, saya punya rencana. Dan saya yakin rencana ini akan berhasil dan membuat nona senang." ucap Erika.
Amanda berkacak pinggang menatap serius pada pembantu informan nya.
"Cepat kau katakan padaku! apa rencanamu?" titah Amanda.
Sebelum memberitahu Amanda. Erika menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan melihat situasi. Dan kemudian dirinya membisikan sebuah rencana liciknya pada telinga Amanda.
"Hemmm ..." Amanda mengangguk dan kini mulai tersenyum dengan liciknya.
"Serahkan semuanya pada saya, nona." ucap Erika.
"Baiklah, cepat kau laksanakan rencanamu sekarang juga. Ingat! jangat sampai orang lain mengetahuinya." titah Amanda.
"Tapi nona ..." ucap Erika dengan tangan menadah meminta pulus.
"Kau ini! kerja saja belum sudah minta upah. Kerjakan dulu! Nanti akan ku transfer ke dalam rekeningmu." ucap Amanda.
"Baik, nona." Erika pergi meninggalkan Amanda untuk menjalankan misinya.
Beberapa jam kemudian. Waktu makan malam akan di laksanakan. Kakek Adolf menyuruh David agar mendandani Sri secantik mungkin.
Karena pada malam itu juga. Adolf ingin memamerkan Sri yang di gadang gadang akan menjadi calon menantu dan penerus pada beberapa kolega pentingnya.
"Mba ... bolehkah Cipto jalan jalan sebentar?" pinta Cipto yang tidak kerasan sepanjang hari berada di dalam kamar bersama Sri.
"Boleh, tapi Cipto harus minta izin dulu sama Mas David, ya." Sri mengelus kepala Adiknya.
"Iya, mba. Nanti kalau bang David datang, Cipto akan langsung meminta izin padanya." jawab Cipto.
David yang baru masuk tak sengaja mendengar pembicaraan mendengar obrolan antara Sri dan Cipto.
"Ehem ... ehem." David berdeham.
"Itu bang David, mba." Cipto turun dari tempat tidur dan berlari kecil menghampiri David.
"Ada apa lagi, bocah?" David tertawa sambil mengusap kepala calon adik iparnya.
Cipto mengayun ngayun tangan tangan kekar David layaknya anak kecil yang meminta jajan pada Bapaknya.
"Bang, bolehkah Cipto jalan jalan mengelilingi sekitaran rumah? Cipto bosan, seharian Cipto terkurung disini, laksana burung dalam sangkar." ucap Cipto dengan majas yang hiperbolanya.
David tertawa lepas dan mengusap kasar wajah Cipto yang menurut ia sangat menggemaskan.
"Boleh ... tapi Cipto harus janji dulu sama bang David!" pinta David.
"Iya, Cipto janji akan melakukan apa saja." jawabnya.
"Cipto tidak boleh mendekati kamar Nona Amanda yang berada di pojokan tingkat dua sana ya." pinta David.
"Iya, bang." Cipto mencium punggung tangan David dan meninggalkan ruang kamarnya.
Sri hanya bisa mengelus dada dan berharap Cipto tidak membuat ulah yang nantinya akan membuat malu David dan dirinya.
Tujuan Cipto kali ini adalah kolam kecil yang berada di samping rumah David. Sebuah kolam yang berisi ikan ikan kecil, yang di gunakan keluarga Morata untuk terapi kakinya.
Cipto duduk di tepi kolam dan menenggelamkan Kaki sebatas betisnya. Tak henti hentinya ia tertawa senang melihat ikan ikan kecil yang mulai mendekati dan mulai memakan kapalan(kulit mati) di telapak kaki Cipto.
"Ha ... ha ... ha geli." Cipto kembali tertawa merasakan terapi ikan kecilnya.
Namun sejenak Cipto terdiam, teringat dengan apa yang sudah di peringatkan David padanya.
"Kenapa bang David melarangku mendekati kamar pojok di lantai dua sana?" tanya Cipto padanya dirinya sendiri.
Di rasa sudah puas. Kini Cipto bangkit dan melangkah kembali menyusuri indahnya taman yang selalu memanjakan mata bagi siapa saja yang memandanginya.
Pandangan Cipto harus berpindah pada Erika yang baru saja masuk dan tak sengaja lewat samping taman rumah David.
Cipto melihat bungkusan kantong plastik hitam, yang di pegang oleh Erika dengan sangat hati hati sekali.
Wajah Erika yang mencurigakan, membuat Cipto kepo dan mendadak ingin mengikutinya.
Dengan pelan dan perlahan, Cipto melangkah mengikuti Erika dari belakang dengan mengendap ngendap.
Namun tak pernah Cipto sangka. Ternyata tujuan Erika adalah kamar pojok di lantai dua. Kamar yang pernah di sebutkan David padanya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Erika mengetuk pintu kamar Amanda. Dan tak berselang lama, Amanda kini muncul membukakan pintunya.
Cipto yang kaget langsung menyembunyikan tubuhnya yang masih kecil di balik tiang penyangga langit lantai tiganya.
"Nona ... ini obat yang kita butuhkan untuk si gadis kampungan itu." ucap Erika dengan nada pelan namun masih bisa terdengar jelas di telinga Cipto.
Siapa gadis kampungan yang mereka maksudkan.
Erika mengedarkan pandangan. Berharap tak ada seorangpun yang mendengar pembicaraan rahasianya bersama Amanda.
"Bagus. Cepat kau campurkan obat itu pada makanan si gadis kampung sialan itu." titah Amanda.
"Siap nona. Pokoknya Sri si gadis kampung itu akan merasakan pembalasan kita." ucap Erika.
Dibalik tiang penyangga lantai tiganya Cipto terlihat meneteskan air mata kesedihanya. Dia tak menyangka bahwa akan adanya orang yang jahat dan membenci Sri, hingga tega sampai akan meracuninya.
Setelah selesai dengan perbincanganya. Erika kini melangkah kembali ke dapur membantu asisten rumah tangga lainya menyiapkan makan malam yang nantinya akan di sajikan pada Sri dan beberapa kolega Adolf.
Namun bukan Cipto namanya kalau tidak penasaran. Karena Cipto bercita cita ingin menjadi Seorang detective Conan yang sering di siarkan di chanel Tv negara sebelah pada setiap minggu pagi.
Dari kejauhan Cipto menajamkan pandanganya melihat aksi Erika yang mencampur obatnya pada makan malam yang nanti akan di berikan pada Kakanya.
Tak hanya itu. Cipto juga mendapati dan menyaksikan dengan mata dan kepalanya sendiri, Erika mencampur obat itu kedalam minumanya.
Ini *ti*dak bisa di biarkan! Aku harus melindungi Mbak Sri dari rencana jahat mereka.
Cipto mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mengambil gambar Erika yang sedang mencampur racunnya.
Setelah mendapatkan gambarnya. Cipto segera berbalik dan berlari menuju kamarnya.
Bug ...
Cipto terjatuh karena menabrak perut gendut seorang asisten rumah tangga yang tak melihat Cipto berlari ke arahnya.
"Aduhhh ..." Cipto memegangi keningnya yang serasa menabrak kerbau.
"Maaf, maaf Tuan. Maafkan saya." ucap Si pembantu gembrot itu pad Cipto.
Cipto bangkit dari jatuh dan tertawa kecil pada si gembrot.
"Tidak apa apa, seharusnya sayalah yang meminta maaf, karena tidak seharusnya saya berlari di dalam rumah." ucap Cipto dan kemudian dia melangkah pergi meninggalka pembantu gembrot itu.
yaelah Thor kok nanggung sehhh....
up dunk.
Rahwana
rohani
Dan terakhir Dorna(sampe salah baca aku Thor bacanya dorra, karena begadang Ampe jam 1 mlm bacanya, mo dlanjutin besok kok sayang😁😁)
motor mionk...🤣🤣🤣🤣
aimakjang, bacanya aja dah bikin pipiku sakit gak bisa brnti ketawa..🤣🤣🤣
penggal aja bg David si rohhalus tu...