Di Indonesia mendadak muncul sebuah gerbang yang ternyata di dalamnya terdapat banyak monster khayalan orang-orang, namun kini mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dan seorang remaja bernama Satriaji menjadi salah satu seorang yang mendapatkan kekuatan untuk melawan para monster yang ada, di sisi lain ia mendapatkan kenyataan yang pahit tentang sahabat masa kecilnya yang sudah dianggapnya seperti kakak kandung.. apa itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadly Abdul f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 : Manusia Setengah Naga
Satriaji menembak punggung kepiting dari kejauhan dengan sihir air, seusai melakukan berbagai percobaan dari sihir lain hanya serangan dari air yang mampu melukainya. Kini perlindungannya tidak terlalu kuat. Meskipun Satriaji dikalahkan oleh jumlah, mereka terus berdatangan mau sebanyak apapun ia membunuh, tetap datang.
"Apa sarang mereka di dekat sini ?" Gumam Satriaji melirik ke sebuah lubang seperti gua. Tempat kediaman mereka biasanya dekat air, sedangkan ini sebaliknya. Tidak heran lagi dengan sesuatu yang ada di dunia ini, tak jarang menemukan air yang terbang di udara, buat orang bumi tak habis pikir.
Melihat jumlah yang tidak main-main, Satriaji memutuskan untuk melakukan apa yang dibisa olehnya dan melepaskan sarung tangan yang membungkus kedua tangan. Dia mengangkat tangannya ke atas, setinggi yang dia bisa dan menatap langit.
Tak lama selepas itu hujan deras turun meskipun tidak ada awan, rintik hujan menghantam para kepiting seolah peluru. Dengan terengah-engah Satriaji bertekuk lutut setelah merasakan bagaimana menggunakan sihir semacam itu. Entah dari pengendalian, perhitungan, dan lain sebagainya.
"Bagaimana elf itu bisa menggunakannya berulangkali ?" Ucap Satriaji melirik ke belakang.
"Kupikir karena aku keturunan elf," balas orang yang dimaksud berjalan datang menghampirinya. Pengguna senjata tidak biasa menggunakan sihir takkan bisa mengontrol pengendalian sihir, mau bagaimanapun jikalau tidak berlatih, akan sia-sia. Umumnya setiap orang memilki kemampuan masing-masing, jarang ada yang bisa menggunakan pedang sekaligus sihir.
Akan tetapi semua yang datang dari dunia lain pasti bisa melakukannya, sebab di dunia ini menuntut sejak kecil agar bisa menguasai satu kemampuan dan tidak lebih. Misal seseorang dilahirkan dari keluarga yang sudah memilki kemampuan berpedang dari kakek, itu akan menurun pada cucunya dan seterusnya.
"Jadi jangan heran, misal ada negara Sord."
"Negara pedang ya ? Dari namanya saja.." gumam Satriaji semakin pelan. Saat Avily hendak membuka mulut pemimpin mereka datang. Seekor kepiting hitam dengan cangkang hitam datang, bahkan ia memiliki sihir pertahanan.
Anehnya bagi Satriaji yang selalu melihat para monster atau mahkluk yang diburunya, jika itu seekor mahkluk yang dianggap sebagai pemimpin, jarang untuk bergerak atau hanya melakukan serangan jarak jauh. Akan tetapi hutan seperti ini menguntungkannya untuk membunuhnya, jadi makan malam.
"Setidaknya dia bisa kujadikan makan malam," ucap Satriaji seraya berlari ke arahnya. Dia menarik pedang dengan bilah pedang biru bersinar, memotong dua kaki membuatnya kesulitan untuk bergerak. Seusai menebas, Satriaji melemparkan sesuatu yang meledak mengeluarkan asap pada bagian kepalanya.
"PercepatKecepatan!" Avily menunjuk tuannya. Satriaji langsung melompat ke belakang, kepiting itu tidak bergerak. Hanya diam seolah mati. Walaupun begitu Satriaji sempat melihat dan membaca cara penggunaan racun ini, dia melihat kalau pembuatan benda yang dapat menyebabkan kematian berserta sakit bisa di buat oleh sembarang orang. Bahkan memperjualbelikan tidaklah dilarang.
"Aku tak paham lagi dengan cara bagaimana pemimpin negara ini."
"Apa maksudmu ?" Seseorang muncul dari semak-semak. Dia memperlihatkan dirinya.
"Ingin agar kejahatan menurun tetapi membiarkan para penjahat bermain.." helaaan napas Satriaji begitu lama. Sesudah cukup lama. Kepiting itu membusuk, asap hitam keluar dari dalam tubuhnya, dan Satriaji meminta pada Avily membawa salah satu dari mereka yang tidak terkena racun.
"Kenapa kau meracuni tubuh pemimpinnya ? Bukannya itu enak."
"Aku malas bertarung lebih lama, bukannya nanti sore akan ada itu ? Lebih baik dia tidak memakan sesuatu yang berlebihan," kata Satriaji memperhatikan Avily kerepotan menguliti mereka. Dan kemudian Vlad membantunya, membutuhkan waktu dua Minggu agar ketiganya akur kembali walaupun masih ada rasa canggung diantaranya.
***
Dua hari yang lalu, tepat sebuah sekelompok utusan atau para prajurit yang ditugasi untuk menyampaikan suatu pesan dari raja datang ke SerikatPemburu menyampaikan akan ada lomba penyihir. Sebuah lomba yang diadakan bertujuan untuk memperingati hari, dimana penyihir kerajaan mempertaruhkan nyawa untuk melindungi negara.
Untuk menghormatinya raja memutuskan mengadakan lomba penyihir, dimana mereka yang ikut dituntut untuk memperlihatkan setiap sihir mereka. Dan siapa yang paling kuat pemenangnya. Tak jarang pula ada yang menang, dikarenakan sihir yang dilakukannya sebuah sihir kuno.
"Hari penyihir ?"
"Tampaknya itu sebuah hari untuk memperingati pahlawan, seperti di negara kita juga ada.." Vlad melirik Satriaji sambil berkata. Keduanya membicarakan soal hal tersebut. Namun, Avily terlihat mengepalkan tangan berusaha untuk membuka mulut walaupun tidak bisa.
Satriaji yang menyadari tingkah anehnya bicara, "ada apa ? Mengapa kau seperti ingin mengatakan sesuatu."
Begitu tuannya bicara Avily segera menggelengkan kepala. Akan tetapi kali ini Satriaji paham dan mengangguk, ia memperbolehkannya ikut. Sontak gadis elf ini kaget saat mendengar perizinan darinya, seolah Satriaji tahu apa yang dipikirkannya.
***
"Lalu bagaimana, apa kau akan membiarkannya pergi sendirian ?" Tanya Vlad melirik temannya. Temannya ini terdiam sejenak, hendak menggelengkan kepala. Dia teringat status apa yang ada pada Avily, pasti hanya akan membawa hal buruk dan akan ada sesuatu yang dicemaskan kalaupun bisa ia harus bersamanya.
"Yah.. kurasa karena aku menjadi tuannya, dia pasti seperti dipenjara.. setidaknya sampai perasaannya menghilang.."
"Satriaji.. aku sekarang bisa melupakan perasaanku, tetapi bisakah kau hargai perasaannya ?"
"Sudah kubilang aku menolaknya," ucap Satriaji terlihat seperti ingin mengeluh.
"Dan aku tak ingin memiliki pasangan yang beda ras!" Tolak Satriaji dengan tegas. Sedangkan laki-laki ini malah mendesaknya untuk membalas perasaanya, meskipun itu akan melukai hatinya. Mendengar perkataan puitis masuk ke dalam gendang telinganya. Satriaji sama sekali tidak menganggap, hanya pura-pura mendengarkan.
"Anu.. aku sudah selesai," ucap seseorang datang ke pembicaraan mereka. Dengan pakaian penuh darah Avily membawa sekarung daging, memilih apa saja yang bisa dimakan, cukup untuk mereka bertiga karena dua orang lagi tidak datang beralasan bahwa punya urusan lain yang perlu segera dikerjakan.
Karena hal merepotkan. Mereka tidak membawa bangkai ataupun cangkang monster buruan, harganya memang cukup besar, tetapi tidak dengan cukup besar dengan keinginan mereka terhadap uang dan tidak ada seorang pun di kelompok Satriaji yang terlalu menginginkan harta benda.
Malam pun tiba. Mereka tengah makan malam di depan pemukiman dekat hutan, kampung yang seringkali dijadikan sebagai tempat bermalam para pemburu menjadikannya sebagai tempat yang bagus untuk mendirikan penginapan. Setiap harinya pasti ada orang yang datang untuk menginap, meski hanya satu hari.
"Apa sudah matang ?" Vlad bertanya melihatnya sedang mengaduk. Gadis ini menghela napas lalu menggelengkan kepala. Sementara itu, Satriaji melihat ke dalam hutan seperti ada yang memperhatikannya dari kejauhan sampai ia baru menyadari kalau sejak awal ada yang sering memata-matainya. Dan pasti itu bukan orang biasa.
Pupil mata Satriaji mengecil seperti menerima sinyal bahaya dan tidak mengalihkan pandangan dari orang itu kemudian berkata, "padamkan api lalu siapkan senjata kalian berdua.. cepatlah lari, abaikan penduduk kampung. Aku akan mengalihkan perhatiannya, itu.. mayat manusia setengah naga."
"..!!" Keduanya kaget. Tanggapan mereka terhadap kata-kata Satriaji tidak terduga.
tapi, yang aku tahu disini sepertinya monster di dalam gerbang tidak bersalah kan? mungkin hanya zombie yang menyerang saja
yang mulai menyerang duluan juga manusia dari bumi, apakah ada kesalahan dalam mengartikan TULISAN DI PINTU itu?
lalu, kata "Sebaiknya jangan terlalu memikirkan mengapa aku tak mau satu kelompok denganmu"
apakah ia akan meminum darah dari hewan yang ia buru?