IG. Suliani_Cucu
Seasen 1
Aksara Pramudiya adalah seorang pria muda yang kaya raya, dia menyukai seorang perempuan yang terlihat cantik dan sederhana.
Dilihat dari sisi manapun perempuan itu terlihat sangat cantik dan masih terlihat berusia dua puluh tahunan.
Sayangnya dia berbeda keyakinan dengan nya, bahkan ternyata dia sangat kaget jika perempuan yang dia sukai ternyata lebih tua lima tahun dari nya.
Lebih parah nya, perempuan itu ternyata adalah seorang janda beranak satu.
Season 2
Banyak anak membuat hidup Aksa dan juga Najma penuh warna, bahkan kisah anak-anak mereka pun begitu beragam.
Pastinya, diantara salah satu anak Aksa dqn Najma ada yang kecantol sama Janda.
Siapa ya?
Yuk kita kepoin kisah nya.
Mohon dukungan nya buat si aku penulis yang masih amatiran ini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Bertanya
Aksa terkekeh geli melihat wajah Najma, dia juga merasa lucu melihat reaksi dari wanita itu. Menurutnya, reaksi dari Najma terlalu berlebihan. Seharusnya wanita itu tidak bereaksi seperti itu.
"Hey! Tak perlu kaget seperti itu. Aku kangen sama Icha, bukan sama bunda-nya. Pengen banget apa kamu dikangenin sama aku?"
Wajah Najma langsung berubah memerah, dia merasa malu karena sudah salah menyangka. Padahal, tadinya dia mengira kalau Aksa merindukan dirinya.
Namun, nyatanya pria itu merindukan putrinya. Karena memang putrinya dan juga Aksa sangatlah dekat, mereka sudah seperti ayah dan juga anak.
Ah! Lagi pula mereka tidak sedekat Itu, kenapa juga Najma bisa baper seperti itu. Apa karena saat ini dia sedang sensitif, pikirnya.
"Maaf, aku kira kamu mau ngerjain aku tadi. Kamu kan' orangnya suka iseng," ujar Najma.
Aksa tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh Najma, dia memang iseng dan rasanya puas melihat wajah Najma seperti tadi karena ulahnya.
"Mana dia?Aku ingin mengantarnya untuk pergi mengaji." Aksa mengedarkan pandangannya, dia mencari sosok gadis kecil yang sangat dia rindukan.
Najma memperhatikan penampilan Aksa dari atas sampai bawah, rasanya penampilan pria itu tidak pantas untuk mengantar putrinya pergi mengaji.
"Mau nganterin Icha ngaji dengan pakaian kantoran seperti ini?" tanya Najma dengan mata memicing.
"Memangnya nggak boleh, ya?" tanya Aksa.
"Kurang pantes aja, kamu ganti kaos panjang aja biar lebih santai. Kalau pake baju kaya gitu, bukan kaya orang mau ngantar ngaji. Ya, pokoknya nggak pantes aja kalau pakai baju kaya gitu."
"Tapi, aku nggak bawa baju ganti. Gimana dong?"
Najma terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Aksa, hingga tidak lama kemudian dia teringat akan baju-baju Bastian yang masih tersusun rapi di dalam lemari.
"Pake baju mas Bas aja, tunggu sebentar. Aku akan mengambilkannya untuk kamu," ujar Najma.
Aksa mengangguk paham, Najma segera masuk ke dalam kamarnya. Dia mengambil kaos panjang berwarna biru laut, setelahnya dia langsung keluar dari kamar dan kembali menemui Aksa.
"Nih bajunya, kayaknya cocok deh kalau dipakai sama kamu. Badan kamu sama mas Bas juga sama," ucap Najma seraya memberikan kaos kepada Aksa.
Jika melihat bentuk tubuh Aksa, Najma selalu teringat akan Bastian. Pria yang dia cintai dan demi pria itu dia rela meninggalkan keluarganya, lebih tepatnya terusir dari keluarga besarnya.
"Oke!" ujar Aksa.
Aksa langsung menerimanya dan meletakan kaosnya di atas meja. Aksa segera membuka jasnya, setelah itu dia pun mulai membuka kancing kemejanya. Najma yang melihat akan hal itu langsung menutup matanya, lalu dia menegur Aksa.
"Mas Aksa nggak sopan banget sih, kita itu bukan mahram. Cepat pergi ke kamar mandi, ganti bajunya di sana." Najma melayangkan protesnya dengan tangan yang masih menutupi wajahnya.
Aksa langsung mendengkus kesal, tapi dia juga sadar kalau mereka memang tak ada hubungan apa pun. Jadi sudah seharusnya Aksa tak membuka bajunya di depan Najma, apa lagi Najma sudah lama menjanda, bisa bahaya pikirnya.
Namun, satu kata yang membuat dirinya bingung. 'Mahram', dia tidak tahu apa arti dari kata itu. Namun, mau bertanya juga malu. Seakan dia itu terlalu bodoh, karena tidak tahu arti dari mahram.
'Apa sih mahram? Mau nanya gengsi, entar deh aku cari tahu apa artinya,' ujar Aksa yang hanya mampu dia katakan di dalam hati saja.
Saat Aksa bangun, Aksa melihat Callista yang baru keluar dari kamarnya. Dia sudah terlihat sangat cantik dengan hijab berwarna biru dongker senada dengan baju yang dia kenakan, saat melihat Aksa dia langsung menghampirinya.
"Assalamualaikum, Om ganteng. Kok Om tumben ada di sini," sapa Callista seraya mencium punggung tangan Aksa.
Senang sekali disapa oleh gadis kecil itu, terlebih lagi ketika gadis kecil itu mencium punggung tangannya. Dia merasa begitu dekat dengan anak itu, anak yang cantik dan selalu sukses mengambil perhatiannya.
"Waalaikumsalam, Cantik. Om datang karena mau ikut kamu ngaji. Tapi, Om numpang ganti baju dulu, bisa?"
"Sangat bisa, Om masuk ke kamar aku aja, aman kok. Nggak bakalan ada yang ngintip," ucap Callista seraya mengedipkan sebelah matanya.
Aksa mengerutkan dahinya dengan mata yang memicing, karena bisa-bisanya Callista berkata seperti itu kepada dirinya.
"Kecil kecil udah genit, nanti om cium tahu rasa kamu." Aksa berkata seraya melangkahkan kakinya menuju kamar Callista.
Najma dan Callista pun langsung tertawa kecil mendengar ucapan Aksa, mereka merasa jika Aksa terkadang seperti masih belum bisa bersikap dewasa.
Selsai berganti baju, Aksa dan Callista pun langsung berangkat menuju mushola tempat biasa Callista mengaji. Sedangkan pengasuhnya, memilih membantu Najma melayani pembeli yang datang.
Aksa dan Callista nampak berjalan beriringan, saat Aksa hendak memegang tangan Callista. Dengan tegas Callista menolaknya, Aksa sampai mengerutkan keningnya.
"Tidak boleh pegang pegang tangan aku, Om. Nanti bisa batal wudhu aku-nya," ujar Callista menolak.
Hanya pegang tangan saja, kenapa bisa batal? Apakah anak itu jijik saat dia memegang tangannya? Atau apa?
"Batal apa?" tanya Aksa.
"Aku itu mau ngaji, Om. Yang pastinya aku sudah punya wudhu, jadi... karena kita tidak ada ikatan darah, kita tidak boleh bersentuhan agar aku tidak batal wudhunya."
Callista nampak menjelaskan dengan wajah imutnya, tetapi tetap saja Aksa merasa belum paham dengan apa yang dijelaskan oleh anak kecil itu.
"Kalau tidak ada ikatan darah, memangnya nggak boleh pegang pegang, ya?" tanya Aksa.
"Yes! Kalau Om nggak ngerti, Om bisa tanyakan pada pak ustadz nanti."
"Oke! Nanti Om bakal tanya," ujar Aksa yang langsung menjaga jarak dengan gadis kecil itu.
Sampai di mushola, Callista langsung duduk di barisan perempuan. Aksa memperhatikan letaknya, yang berjenis kelamin laki laki duduk di sebelah kanan pak ustadz, sedangkan yang berjenis kelamin perempuan berada di samping kiri pak ustadz.
Tak lama Aksa mendengar pak ustadz mengucapkan salam dan mulai membaca do'a, semua anak terlihat sangat khusyuk. Apalagi saat pak ustadz sudah membacakan ayat suci Al Qur'an, semua anak nampak serius memperhatikan.
Pak ustadz juga menjelaskan tentang mahroj huruf, Aksa yang tak paham hanya diam mendengarkan. Hingga dua puluh menit menunggu, pak ustadz memberikan intruksi pada anak anak untuk menghapalkan surat al ikhlas dalam waktu setengah jam.
Anak anak dengan semangat langsung menghapalkannya, sedangkan pak ustadz nampak menghampiri Aksa yang tengah duduk sendiri di dekat pintu.
"Assalamualaikum, Nak. Boleh saya duduk di sini?" tanya Pak ustadz.
Sungguh dia merasa penasaran dengan pria yang sejak tadi memperhatikan dirinya, memperhatikan dia mengajar mengaji. Alhasil dengan cepat dia menghampiri Aksa karena ingin bertanya.
"Silahkan, Pak ustadz. Silakan duduk, masa gak boleh. Saya aja cuma numpang," ucap Aksa sopan.
"Saya perhatikan Ananda begitu tertarik saat melihat anak anak sedang mengaji, kenapa tidak masuk saja?" tanya Pak ustadz.
"Sebenarnya saya tak memiliki agama yang sama dengan Pak ustadz, tapi saya hanya penasaran dengan agama yang dianut oleh Pak ustadz. Tak apa bukan kalau saya hanya diam di sini untuk memperhatikan?"
Pak ustadz nampak mengangguk paham, ini awal yang bagus, pikirnya. Dari mulai penasaran, mulai mencari tahu dan akhirnya bisa memeluk islam. Semoga saja ini bisa terjadi pada anak muda di depannya itu.
"Tentu saja sangat boleh, langsung log in juga sangat boleh." Pak ustadz terkekeh setelah mengatakan hal itu, Aksa ikut terkekeh.
"Log in bagaimana maksudnya, Pak ustadz?"
"Langsung memeluk Islam dan belajar tentang Islam lebih dalam lagi."
"Ehm! Sepertinya tidak bisa, tapi kalau hanya untuk bertanya-tanya apa boleh?"
"Sangat boleh, apa yang ingin ditanyakan?"
"Sebenarnya sih banyak banget yang ingin saya tanyakan, tapi takut waktunya tidak cukup,"jawab Aksa cepat.
"Tanyakan saja satu persatau, selama saya bisa pasti akan saya jawab. Tentunya selama waktunya juga cukup," ucap Pak ustadz.
"Oke! Jadi begini Pak ustadz, mahram itu apa ya?" tanya Aksa.
Inilah hal yang ingin sekali Aksa ketahui, dia benar-benar penasaran dengan arti dari kata mahram itu.
"Mahram itu dua jenis manusia berbeda kelamin tapi terikat dalam satu kata pernikahan, jadi mereka bisa bebas saling menyentuh dan tentunya harus sesuai dengan syariat islam." Pak ustadz nampak menjelaskan.
Aksa nampak mengangguk paham. "Lalu arti dari syariat itu apa Pak ustadz?" tanya Aksa dengan wajah seriusnya.
Pak ustadz sampai merasa kagum dengan rasa penasaran pria itu, bukan beragama Islam tapi sangat ingin tahu. Karena nyatanya, banyak orang yang beragama Islam, tetapi begitu malas untuk mempelajari atau bahkan mendalami agama sendiri.
"Syariat adalah hukum atau aturan islam, apa ada lagi yang mau ditanyakan?"
"Begini Pak ustadz, tadi kan' saya mau pegang tangan Icha, tapi kata dia, saya tak boleh memegangnya. Karena dia punya wudhu dan nanti wudhunya bisa batal. Kenapa seperti itu ya?"
Pak ustadz ingin sekali tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Aksa, karena rasa penasaran dan rasa ingin tahu Aksa semakin besar saja.
"Karena kalian tidak ada ikatan darah, jadi jika kulit tangannya bersentuhan dengan kulit tangan kamu, maka wudunya dinyatakan batal," jelas Pak ustadz.
"Terus, kalau misalkan saya menyentuh tangan bundanya Icha saat punya wudhu, kira kira batal nggak Pak ustadz?" tanya Aksa.
"Tentu batal, karena kalian bukan mahram."
Aksa nampak puas dengan penjelasan dari pak ustadz, walaupun sebenarnya masih banyak yang ingin dia tanyakan, tetapi dia tahu kalau pak ustadz masih harus melakukan tugasnya dalam mengajar.
"Kalau begitu terima kasih, Pak ustadz. Saya sudah mendapatkan ilmu dari pak ustadz hari ini," ucap Aksa.
"Sama sama, kalau begitu saya masuk dulu."
"Silakan, Pak ustadz."
Aksa kembali memperhatikan pak ustadz yang sedang mengajarkan murid muridnya mengaji, Aksa juga mendengarkan lantunan surat al ikhlas dari setiap muridnya.
Kini Aksa juga sudah mendengarkan apa yang ingin dia tahu dari pak ustadz, sedikit demi sedikit rasa penasarannya sudah mulai terobati.
"Ternyata semua yang dilakukan oleh umat muslim ada aturannya, ini sangat keren. Banyak hal lagi yang ingin aku ketahui, mungkin nanti aku akan belajar lagi."
obrolan bunda sama ayah bilang kuliah 2 tahun udah belagak udah jadi dokter kalo ada yg sakit
menggoda 🤧
emezing kali 💃💃💃
he he he he