TAHAP REVISI🙏
***
Berawal dari kata 'tidak suka' hubungan mereka kian dekat karena sebuah pertengkaran. Batu yang keras, akhirnya luluh oleh air yang tenang.
Seperti itulah Gia dan Riza, dua remaja yang menaiki tangga bersama dari tidak suka, menjadi suka, lalu ke nyaman, dan berakhir dengan saling menyayangi.
***
Sedikit kisah, dari jutaan kisah lain yang mungkin akan membuat kalian tak bisa melupakannya.
@dwisuci.mn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Decy.27126, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Kini, semuanya sudah masuk ke dalam kelas masing-masing. Masih sama dengan saat mereka kelas satu dulu, hanya beberapa anak mengubah partner duduk mereka dan memilih yang baru.
“Nel?” panggil Riza yang membuat Nela dan Gia menoleh ke arahnya.
“Kenapa?”
“Boleh gue duduk sama Gia lagi?” tanya Riza membuat Nela membolakan matanya terkejut.
“Ogah! Kali ini, gue sama Gia. Lo sama yang lain aja, sana!” usir Nela.
“Nel, lo bisa duduk di depan Gia. Jadi, lo bisa lebih gampang kalo mau ngobrol,” saran Riza.
“Kenapa lo pengen banget duduk sama Gia?” tanya Nela membuatnya terdiam.
Riza menatap Gia yang masih duduk santai sambil memperhatikannya dan Nela.
“Karena cuma dia yang tau keadaan gue,” ucap Riza pada akhirnya.
Bagas dan Dafa yang sedari tadi mendengar jadi berpandangan dengan tatapan terkejut, Nela pun sama, dia menoleh menatap Gia yang hanya mengedikkan bahunya dengan acuh.
“Kenapa gak sama temen-temen lo itu aja, sih? Ribet banget jadi orang,” decak Nela.
Namun, Nela menuruti permintaan Riza. Dia membawa tasnya ke bangku di depan meja Gia dan Riza.
“Bagas, minggir lo. Gue mau duduk di sini!” usir Nela.
Bagas menghela napas, dia mengalah dan menjauh dari gadis yang dianggapnya jin galak itu.
Perdebatan pagi usai dengan Nela yang mengalah untuk pindah tempat duduk, dan Riza yang berhasil duduk satu meja lagi bersama Gia. Posisi mereka ada di meja urutan nomor dua dengan Nela dan satu temannya di depan, dan Bagas serta Dafa yang memilih bangku nomor tiga di belakang mereka.
***
“Gi,” panggil Riza pelan.
“Ya?”
“Pinjem pulpen, dong.”
“Ambil sendiri.”
“Di mana?”
“Tas.”
Sesuai instruksi, Riza mencari pulpen milik Gia di tas gadis itu. Sebenarnya, dia tidak benar benar membutuhkan pulpel itu. Hanya saja, Gia sedang sulit diajak bicara.
Riza melihat Gia yang sedang fokus mencatat sesuatu di bukunya, dia ingin melihat, tetapi, tangan kiri Gia menghalanginya.
“Gi, ngapain, sih?” tanyanya, ingin mengakhiri rasa penasaran yang timbul.
“Kamu nggak lihat aku lagi ngapain?”
“Tinggal jawab aja, kok, susah banget, sih,” decak Riza kesal.
Gia terkekeh kecil, “Kamu punya mata, kenapa nggak dimanfaatin?”
Gia menyudahi acara menulisnya, lalu menutup buku dan menatap Riza yang sedang bermain dengan pulpen yang tadi ia pinjam.
“Calvin,” panggil Gia pada akhirnya.
Dengan cepat, Riza menoleh dan mengubah posisi duduk sepenuhnya menghadap Gia.
“Kamu mau ngomong sesuatu?” tanya Gia membuat Riza mengangguk.
“Aku mau tanya,” ucap Riza cepat.
“Tanya apa?”
“Dulu, waktu kamu tolak Adit, kamu bilang ... ehm. Kamu bilang, suka, cinta, dan sayang itu beda.”
“Boleh aku tau, apa bedanya?” tanya Riza penuh harap.
Gia mengernyit. “Kamu mau tau?”
Riza mengangguk. “Kalo kamu mau jelasin, ya, mau. Kalo nggak, ya, nggak apa-apa juga, sih.”
Gia mengangguk pelan. “Simpel aja, sih, kayak yang pernah aku bilang. Aku suka kamu, karena itu aku mau jadi temen kamu. Nggak mungkin, kan, kita temenan sama orang yang nggak kita suka.”
Riza mengangguk paham. “Itu aku paham, terus, cinta sama sayang?”
“In my opinion, sayang itu identik buat orang-orang yang udah punya ikatan. Baik itu keluarga, pasangan, atau lainnya,” pikir Gia.
“Jadi, sayang cuma buat orang yang punya ikatan tertentu, gitu?” Riza menatap Gia dengan bingung.
“Maybe, biasanya, orang bilang sayang setelah mereka bilang cinta. But, kebanyakan orang lebih dulu rasain sayang, daripada cinta.”
Riza mengernyit bingung. “Kamu belum jelasin cinta itu apa?”
Gia menatap Riza. “Vin, aku juga nggak tau cinta itu apa. Tapi, ini alesan aku nolak Adit. Aku nggak yakin remaja seumuran kita bisa ngerasain cinta.”
“Why?” tanya Riza bingung.
“Apa kamu nggak mikir? Kita masih terlalu kecil buat bahas soal cinta.”
Riza berdecak, “Aku, sih, bentar lagi udah punya katepe.”
“Jangan sombong dulu! Tumbuh besar itu pasti, tapi, dewasa, itu belum tentu,” ledek Gia pada Riza.
Riza berfikir sejenak, “Kamu bener! Dewasa itu sifat, dan nggak semua orang bisa jadi dewasa.”
Gia terkekeh, “Iya, iya. Yang udah bisa bikin kata-kata bijak. Jadi, pamer, nih?”
“Akibat terlalu sering ngobrol sama kamu juga ini, Gi.” Riza ikut terkekeh.
“Oh, ya. Ini tanggal tujuh belas, kan, yah?” tanya Riza.
Gia mengernyit. “Iya, emang kenapa?”
“Bulan tujuh, 'kan?”
“Iya.”
“Wow!” kagum Riza.
“Kenapa, sih?” tanya Gia heran.
“Tanggal cantik, nih.”
“So?”
“Bener, kan?”
“Iya.”
“Jadian, yuk.”
Gia merotasikan bola matanya dengan malas. “Never!”
Riza terkekeh, “Bisa fokus banget gitu, ya?”
“Iya, domh. Hebat, kan?”
“Tadi bilangnya jangan sombong, kenapa sekarang kamu yang nyombongin diri?” sindir Riza.
“Hei, Pak Tua. Aku nggak sombong. Itu fakta, dan emang benar adanya,” jawab Gia santai.
“Halo, kalian bisa diem, nggak? Dari tadi ribut terus, ganggu yang lain aja!” teriak seseorang di depan meja mereka.
Gia dan Riza langsung diam dan berpura-pura sibuk dengan buku mereka, tetapi, nyatanya mereka sama-sama terkekeh kecil dalam tunduk mereka.
Keduanya mengadu telapak tangan mereka di bwwah meja agar tidak ada yang menegur mereka lagi, kembali mereka tertawa bersama dan melupakan teguran dari Nela yang dari tadi masih mengeluhkan keduanya.
***
Bersambung..
See u next chapter.🖤
spnjang crita karakter gia msh konsisten msh terbaik dan kalau bs gia seharusnya dpt lbh baik lg dr karakter riza😁 dan riza sprti tdk ada lawannya buat dapetin gia kyk gmpang ajha buat riza
tp utk smwnya udh bagus karakternya kuat2👌
salken, kak....
Jd terkenang masa SMA ku😁😁