Luna, seorang mahasiswi cantik, rajin dan energik memiliki masalah dengan dosen yang memberinya nilai D pada semester lalu, Edric.
Demi menolong bapaknya yang kurang biaya rumah sakit, Luna terpaksa menuruti keinginan seorang nyonya besar pemilik rumah sakit.
Nyonya besar tersebut memintanya untuk menikah dengan suaminya.
Saat Luna tahu, suami dari nyonya besar itu adalah, Edric Aderald, sang dosen kejam yang ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Ulsyah Musyarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkunci
"Kalau bukan kamu, lalu siapa?" sambung Edric yang masih meragukan Luna.
"Saya juga tidak tahu!" Luna mengedikkan kedua bahunya. "Bapak menuduh saya? Yang masuk akal aja dong ngomongnya!" Luna protes tak terima dengan apa dituduhkan Edric padanya. 'Apa maksudnya aku yang ngunci kita berdua. Yang ada aku malah seneng dia cepet pergi dari sini. Paling cuma akal-akalannya si dekil!' Luna menggerutu dalam hatinya.
Edric tak menanggapi Luna, dia terus berusaha memutar-mutar knop pintu dengan harapan pintu itu terbuka dengan sendirinya.
Edric melepas tuas tersebut, dia menggaruk kepalanya tak gatal, lalu kakinya menendang pintu itu kasar.
Luna bergidik melihat Edric yang seperti itu.
"Terus kita harus bagaimana ini, Pak?" tanya Luna.
Edric tak menjawab, ia masih bagaimana ini bisa terjadi. Pria itu berusaha mengingat-ingat di mana ia menyimpan kunci tadi.
"Pas awal, aku yang datang duluan, dan membuka pintu. Tapi Luna yang masuk duluan, jadi tidak mungkin dia mengambil kunci." Edric bergumam pelan.
"Waw, tempat tinggal apartemen yang mewah. Apakah ini tidak terlalu berlebihan, Pak?"
Ingatan perkataan Luna saat baru pertama kali masuk ke apartemen terulang kembali. 'Gadis itu memuji apartemen. Dan aku langsung masuk setelah menutup pintu. Kuncinya ...?' Edric mendadak panik setelah mengingat sesuatu.
"Ini gawat, Luna! Aku meninggalkan kunci itu di luar!" Edric mendadak panik setelah ingat jika kunci apartemennya masih menggantung di pintu bagian luar.
Apartemen ini masih menggunakan kunci manual, sehingga harus dibawa ke mana-mana tidak seperti apartemen zaman sekarang yang menggunakan pass code atau sidik jari yang praktis dan tidak perlu dibawa ke mana-mana.
"Masa' ada orang iseng yang ngunciin kita sih, Pak? Apa untungnya?" Luna mengernyit merasa aneh. Jika ada pencuri yang berniat jahat, mana mungkin orang tersebut mengunci mereka tersebut dari luar sebelum mendapatkan barang curiannya.
"Saya akan telpon tukang servis kunci sekarang." Edric mengeluarkan ponselnya.
"Hoooaahm. Pak, memangnya ada tukang servis yang buka jam segini. Saya ngantuk, Pak. Udah capek!" Luna memanyunkan bibirnya, entah ekspresi apa yang sedang ia buat.
Edric melihat Luna dengan tatapan kesal. "Tidur saja, sana!" Edric memutar bola matanya kesal. "Saya yang akan mengurus ini!" ujarnya ketus.
"Saya ke kamar kalau gitu ya, Pak! Maaf pak Edric saya tinggal." Luna mencoba sopan dengan membungkukkan badan terlebih dahulu sebelum meninggalkan Edric.
"Nggak usah sok imut! Pergi sana!" Edric membuang muka sambil tetap mengotak-atik hp-nya seperti sedang mengirim pesan.
'Udah untung dia aku sopanin. Malah dibilang sok imut, dasar dekil!' Luna menghentak-hentak kakinya sambil berjalan menuju ke kamarnya.
Luna hanya membereskan sedikit kamar tersebut, dia sholat isya' dan langsung tidur. Ini sudah sangat malam, dia cukup lelah. Luna pun sudah mengunci pintu kamarnya, untuk berjaga-jaga.
Keesokan paginya, Luna bangun agak terlambat.
"Aduh jam setengah enam, udah kelewat ini subuh!" Luna panik dan langsung bergegas ke kamar mandi.
"Hah?" Matanya membulat saat melihat seorang pria shirtless tertidur di sofa.
Luna meneguk-neguk ludahnya berkali-kali melihat otot sixpack yang terpampang jelas di hadapannya. Selama ini ia belum pernah melihat tubuh pria se-seksi ini selain dalam TV. Bahkan tubuh bapaknya yang sering ia lihat pun kerempeng dengan garis-garis tulang yang bermunculan, bukan otot-otot besar yang menonjol ke sana ke mari.
Pandangan Luna bergeser pada bagian bawah perut, di mana terdapat sebuah boxer putih dengan sesuatu yang menonjol yang di tengahnya.
"Oh tidak, mataku ternoda!"
***
Bersambung ...