NovelToon NovelToon
PECUNIA ABSOLUTE: The True Heiress Buys Her Destiny

PECUNIA ABSOLUTE: The True Heiress Buys Her Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Di kehidupan pertamanya, Valerie Vespera mati sebagai pecundang. Sebagai putri kandung konglomerat Elrod yang tertukar sejak bayi, dia malah dibuang ke gudang pengap demi menjaga perasaan si anak angkat palsu yang manipulatif. Tiga tahun dia habiskan mengemis kasih sayang, hingga akhirnya mati dikhianati.
Kini, takdir memutar kembali jarum jam. Valerie terbangun di hari penjemputannya di usia 18 tahun. Namun, Valerie yang naif telah mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: MEMOTONG JALUR LOGISTIK

Bab 12: Memotong Jalur Logistik

Gedung menara Elrod Corp yang berdiri angkuh di kawasan Segitiga Emas Jakarta Pusat tampak berkilau di bawah siraman matahari pagi. Di lantai tiga puluh, tepat di dalam ruang rapat utama berbahan kaca kedap suara, atmosfer terasa begitu menekan. Gilbert Elrod duduk di kursi kebesaran kulitnya, menatap tajam ke arah jajaran direksi dan manajer lapangan yang tertunduk lesu. Di atas meja marmer panjang, sebuah proyektor menampilkan peta digital proyek pembangunan jalan tol trans-Jawa seksi empat—proyek infrastruktur senilai ratusan miliar yang menjadi pertaruhan reputasi Elrod Corp tahun ini.

"Kenapa kurva pengerjaan minggu ini melambat tiga persen?!" suara berat Gilbert menggelegar, memukul keheningan ruangan. Dia melempar berkas laporan fisik ke tengah meja. "Nicholas! Kamu yang memegang kendali pengawasan lapangan. Apa yang sebenarnya terjadi dengan tenggat waktu pengecoran jembatan layang utama?"

Nicholas Elrod, sang anak sulung sekaligus putra mahkota dinasti Elrod, bergegas memperbaiki posisi duduknya. Wajahnya tampak sedikit tegang, namun dia mencoba menjaga nada suaranya agar tetap terdengar penuh keyakinan di depan ayahnya.

"Semuanya masih dalam batas aman, Papa," jawab Nicholas taktis. "Penundaan pembayaran termin kedua untuk para vendor semen kemarin sengaja saya lakukan untuk memperkuat posisi kas tunai korporasi kita sebelum laporan keuangan kuartal dirilis ke bursa saham minggu depan. Itu trik biasa. Mereka adalah vendor-vendor kecil; mereka tidak akan berani macam-macam atau menghentikan pasokan material karena mereka butuh nama besar Elrod Corp untuk portofolio mereka."

Gilbert menyandarkan punggungnya, mengangguk pelan mendengar penjelasan putra sulungnya. Bagi Gilbert, menindas dan memeras likuiditas para pelaku usaha kelas menengah di bawah kakinya adalah hukum alam yang sah dalam dunia bisnis konglomerasi. "Pastikan saja mereka tidak mogok kerja. Pengeringan fondasi jembatan itu harus selesai sebelum akhir bulan, atau kita akan terkena penalti dari kementerian."

"Tenang saja, Papa. Truk-truk molen mereka saat ini sudah mengantre di gerbang masuk proyek. Pengecoran massal dijadwalkan mulai tepat pukul sembilan pagi ini," ucap Nicholas dengan senyuman jemawa yang teramat yakin.

Namun, tepat ketika jarum jam dinding bergeser menunjukkan angka 09.00, pintu ruang rapat besar itu mendadak terbuka tanpa ketukan. Sekretaris pribadi Gilbert melangkah masuk dengan wajah yang pucat pasi, napasnya memburu bagai dikejar setan, memegang sebuah ponsel korporat yang masih terhubung dalam panggilan darurat.

"Pak... Pak Gilbert! Mohon maaf saya harus menyela rapat ini," suara sekretaris itu bergetar hebat karena panik, mengundang tatapan murka dari seluruh jajaran direksi. "Ini... ini laporan darurat dari kepala pengawas lapangan di lokasi proyek seksi empat. Situasinya kritis!"

Gilbert menggebrak meja dengan telapak tangannya. "Bicara yang jelas! Jangan gagap seperti orang bodoh!"

"Seluruh truk molen penyuplai beton dari tiga vendor utama... mendadak mematikan mesin mereka tepat di depan pintu gerbang masuk proyek, Pak! Mereka menolak melakukan bongkar muatan!" lapor sang sekretaris dengan suara meninggi, hampir menangis karena tekanan. "Lebih dari lima puluh armada truk semen sekarang berbalik arah meninggalkan lokasi konstruksi secara massal!"

"Apa?!" Nicholas seketika berdiri dari kursinya hingga kursinya terdorong ke belakang dengan bunyi berdecit keras. "Konyol! Hubungi pemilik PT Garuda Beton sekarang juga! Katakan pada mereka, kalau mereka berani memainkan drama ini, Elrod Corp akan menuntut mereka hingga bangkrut!"

"Sudah, Pak Nicholas... kami sudah mencoba menghubungi pemilik ketiga vendor tersebut," jawab sekretaris itu, tubuhnya gemetar. "Tapi... tapi jawaban mereka sama. Mereka mengatakan bahwa hak tagih utang dan seluruh keputusan operasional logistik mereka telah dialihkan secara hukum sejak semalam ke tangan sebuah entitas finansial baru."

Sekretaris itu menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan kalimatnya. "Nama perusahaan yang memegang kendali atas mereka sekarang adalah... Pecunia Corp."

Mendengar nama asing itu disebut, jantung Gilbert Elrod mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Ingatannya langsung melayang pada laporan kegagalan pembelian gedung perkantoran di SCBD beberapa hari lalu yang juga jatuh ke tangan entitas misterius dengan nama yang sama.

"Pecunia Corp lagi?!" Gilbert berdiri, matanya memerah karena amarah yang bercampur dengan rasa tidak percaya. "Bagaimana bisa perusahaan asing dari Cayman Islands tiba-tiba mencampuri urusan logistik semen domestik kita di lapangan?! Nicholas! Periksa draf kontrak hukum kita sekarang juga!"

Pada saat yang sama, di lantai sepuluh Gedung Griya Cakrawala yang sunyi dan sejuk, Valerie Vespera sedang duduk dengan keanggunan seorang kaisar sejati di balik meja mahoni hitamnya. Kemeja putihnya yang longgar bergoyang sedikit ditiup angin pendingin ruangan. Di hadapannya, Julian Prakasa sedang memantau umpan video langsung dari kamera pengawas di gerbang lokasi proyek Elrod Corp yang disiarkan oleh informan lapangan mereka.

Di layar monitor raksasa, tampak puluhan truk semen raksasa bergerak mundur teratur, meninggalkan area pengecoran yang kini kosong melompong. Para pekerja konstruksi di lapangan terlihat berlarian panik, menyadari bahwa tanpa pasokan beton segar dalam satu jam ke depan, struktur besi jembatan layang senilai puluhan miliar yang sudah terpasang akan mulai berkarat dan mengalami cacat struktural akibat terpapar udara luar secara prematur.

"Lihat ini, Nona V," ucap Julian dengan tawa kepuasan yang tertahan. "Gilbert Elrod saat ini pasti sedang mengamuk di menara kantornya seperti binatang yang terkurung. Mereka meremehkan kekuatan arus kas jangka pendek."

Valerie tidak tersenyum. Sepasang mata hitam pekatnya menatap monitor tersebut dengan kedataran yang teramat hambar—sebuah tatapan yang menganggap kehancuran Elrod Corp hari ini barulah sebuah goresan kecil di atas kertas draf perang panjangnya.

"Ini baru permulaan, Julian," suara Valerie beralun begitu tenang, namun setiap suku katanya membawa berat otoritas yang mutlak. "Konstruksi beton memiliki draf waktu pengerasan yang sangat ketat. Begitu mereka melewatkan jendela waktu hari ini, struktur fondasi jembatan layang itu dinyatakan cacat oleh tim penguji nasional. Gilbert tidak hanya harus membayar denda keterlambatan, tapi dia harus membongkar ulang seluruh besi penyangga itu dengan biaya sendiri."

Valerie meraih cangkir teh teh hijau hangatnya, menyesapnya perlahan sebelum kembali menatap Julian. "Kirimkan draf surat tuntutan resmi dari tim hukum Pecunia Corp ke meja kerja Gilbert sekarang juga. Katakan padanya: lunasi seluruh utang tiga puluh dua miliar rupiah itu tunai dalam waktu dua puluh empat jam, atau kita akan memutus kontrak suplai material secara permanen dan menuntut Elrod Corp atas wanprestasi di pengadilan niaga."

Julian membungkuk hormat, matanya berbinar kagum melihat kalkulasi kekejaman finansial Valerie yang begitu bersih dan tanpa cela. "Surat tuntutan akan mendarat di meja Gilbert dalam waktu lima menit, Nona V."

Kembali ke ruang rapat Elrod Corp, suasana telah berubah menjadi neraka fungsional. Nicholas sibuk berteriak di telepon dengan tim hukum internal perusahaan, sementara Gilbert duduk dengan napas yang memburu, memegangi dadanya yang mendadak terasa sedikit sesak.

TING.

Sebuah notifikasi faks dan surel mendesak masuk secara bersamaan ke komputer utama ruang rapat. Sang sekretaris dengan gemetar membuka dokumen PDF berlogo emas minimalis dengan tulisan kapital tegas di atasnya: PECUNIA CORP.

Gilbert menyambar dokumen cetak tersebut dari tangan sekretarisnya. Matanya menyapu baris demi baris kalimat hukum yang tertulis di sana. Isinya adalah ultimatum mutlak tanpa ruang negosiasi: pembayaran tunai tiga puluh dua miliar rupiah dalam dua puluh empat jam, atau proyek tol mereka resmi mati di tempat.

"Kurang ajar!!" Gilbert meremas draf kertas itu hingga hancur dalam kepalan tangannya, lalu melemparkannya ke wajah Nicholas yang sedang panik. "Lihat apa yang sudah kamu lakukan, Nicholas!! Kamu bilang menunda pembayaran vendor itu trik biasa?! Sekarang lihat!! Leher perusahaan kita sedang dicekik oleh bayangan bernama Pecunia Corp ini karena kebodohanmu dalam mengelola arus kas lapangan!"

"Pa... Papa, maafkan saya. Saya beneran nggak tahu kalau ada investor luar negeri yang mau membeli utang sekecil itu dari vendor lokal—"

"Diam!!" bentak Gilbert, wajahnya memerah padam karena murka yang memuncak. "Cari tahu siapa orang di balik Pecunia Corp ini! Aku tidak peduli berapa biaya yang harus kita keluarkan, sewa firma hukum terbaik di Jakarta! Kita harus menghancurkan entitas ini sebelum mereka menyentuh lini bisnis kita yang lain!"

Gilbert tidak pernah tahu, bahkan dalam delusi paling liarnya sekalipun, bahwa musuh besar yang membuat seluruh direksi korporasinya gemetar ketakutan hari ini adalah anak perempuan kandungnya sendiri—gadis remaja yang saat ini sedang melangkah santai keluar dari gedung SCBD, bersiap kembali mengenakan seragam sekolah usangnya untuk pulang ke kamar gudang bawah tanah Menteng yang berdebu.

Bersambung....

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Moreno
draf dref draf dref 😑
Moreno
gimana caranya uang tunai tiba2 masuk menjadi saldo digital
masijacoke021205: Sudah diperbaiki ya, Kak! Terima kasih banyak bantuannya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!