NovelToon NovelToon
KISAH CINTA DAN DUSTA DI JALAN

KISAH CINTA DAN DUSTA DI JALAN

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: Caesarius A Enda

- Hamid: Sopir travel, usia 38 tahun, sudah beristri dan punya dua anak, terlihat ramah dan sopan tapi pandai menyembunyikan sifat aslinya.

- Nova: Guru SD, usia 28 tahun, cantik, bertubuh mungil, sudah bersuami tapi rumah tangganya terasa hambar.

- Ain: Guru SMP, usia 30 tahun, wajah biasa saja, giginya agak tonggos, belum menikah, pendiam dan mudah percaya orang, sangat membutuhkan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: PERJALANAN KE SARANG MAUT

Suasana menjadi kacau dan penuh kepanikan. Semua orang menolak membiarkan Rian pergi sendirian ke tempat yang tidak dikenal dan penuh bahaya itu.

“TIDAK! KAMU JANGAN PERGI! ITU JEBALAN! DIA PASTI MAU BUNUH KAMU JUGA!” teriak Lira sambil memegang kaki suaminya erat-erat, matanya sembab habis menangis. “KITA LAPORKAN POLISI, KITA MINTA BANTUAN, KITA TIDAK BOLEH PERGI SENDIRI KE SARANG SETAN ITU!”

“KALAU SAYA TIDAK PERGI, DIA AKAN BUNUH HAMZAH! KAU MAU ANAK KITA MATI?! SAYA TIDAK BISA BIARKAN ITU TERJADI!” bentak Rian balik, wajahnya penuh tekad yang tidak bisa digoyahkan. “HAMZAH NYAWA SAYA, SAYA AKAN SELAMATKAN DIA APA PUN YANG TERJADI, BAHKAN HARUS MENUKAR NYAWA SAYA SENDIRI SEKALIPUN!”

“Kalau kamu pergi sendirian, kamu dan anakmu pasti mati berdua!” kata Dimas tegas, matanya tajam penuh rencana. “Kita tidak bawa polisi supaya dia tidak curiga, tapi kita pergi bertiga: aku, kamu, dan beberapa orang kepercayaan yang terlatih. Kita selamatkan Hamzah dan tangkap penjahat itu hidup atau mati, kita selesaikan masalah ini sekali untuk selamanya malam ini juga!”

Ain, Nova, dan Sari menangis memeluk kedua anak muda itu, hati mereka terasa tercabik-cabik karena takut kehilangan satu lagi orang yang paling mereka sayangi.

“Hati-hati nak… hati-hati ya. Kalian adalah harapan kami satu-satunya. Jangan lakukan hal bodoh, utamakan keselamatan kalian sendiri,” pesan Ain dengan suara parau, tangannya gemetar membelai wajah Rian dan Dimas.

Malam itu jam sebelas lebih sedikit, mereka berangkat diam-diam menggunakan dua mobil kecil yang tidak mencolok. Perjalanan ke arah utara semakin jauh semakin sepi dan gelap, jalanan rusak penuh lubang, kedua sisi jalan penuh semak belukar dan pohon-pohon besar yang rimbun, membuat suasana makin seram dan menakutkan. Angin bertiup kencang membawa suara aneh, seakan ada yang selalu mengikuti mereka dari kegelapan.

Tepat jam dua belas malam, mereka sampai di depan rumah tua yang sudah rusak parah, berdiri sendirian di tengah hutan yang lebat. Rumahnya terlihat sangat tua, temboknya retak, atapnya bolong-bolong, jendelanya pecah semua, tertutup tanaman liar yang menjalar ke mana-mana. Cahaya lilin redup terlihat dari salah satu jendela, menciptakan bayangan aneh yang bergerak-gerak di balik kaca.

“Saya masuk duluan,” bisik Rian pelan, tangannya memegang sebilah pisau tajam yang ia bawa dari rumah. “Kalian tunggu di luar, awasi semua jalan keluar. Kalau saya beri isyarat, kalian masuk segera bantu saya.”

“Jangan nekat Kak,” bisik Dimas khawatir. “Ingat, kita harus pulang bersama-sama membawa Hamzah. Tidak ada yang boleh tertinggal di sini.”

Rian mengangguk pelan, lalu perlahan mendekati pintu rumah tua itu. Pintu tidak dikunci, terbuka sedikit saja, mengeluarkan bau apek dan darah yang menyengat hidung. Ia masuk perlahan dengan langkah hati-hati, matanya berusaha menembus kegelapan di dalam.

Di ruang tengah yang luas dan rusak, ia melihat sosok pria tua kurus tinggi berdiri membelakangi pintu, sedang memegang tubuh kecil Hamzah yang terikat erat di kursi, mulutnya disumpal kain, matanya tertutup, tubuhnya gemetar ketakutan.

“Selamat datang Rian… aku sudah menunggu kamu lama sekali,” kata Zulkarnain sambil perlahan berbalik badan. Wajahnya penuh bekas luka parah, matanya merah menyala penuh dendam dan kejahatan, senyumnya menyeramkan seakan iblis yang keluar dari neraka. “Kamu datang tepat waktu, sesuai janji. Sekarang kita selesaikan semua hutang darah antara keluarga kita malam ini juga.”

“LEPASKAN ANAK SAYA SEKARANG! SAYA SUDAH DATANG SESUAI PERINTAHMU! APA YANG KAU MAU LAKUKAN KE SAYA, LAKUKAN SAJA! JANGAN SAKITI ANAK KECIL YANG TIDAK BERSALAH INI!” teriak Rian tegas, matanya tidak lepas dari tubuh anaknya yang malang.

“Lepaskan? Tentu saja aku akan lepaskan… tapi setelah kamu melihat dia menderita sama seperti ayah ibumu dulu menderita!” bentak Zulkarnain keras, lalu ia menarik pisau tajam dan menempelkannya ke leher Hamzah. “MULAI SEKARANG, SETIAP KALI KAMU MAJU SATU LANGKAH, SAYA AKAN POTONG SATU BAGIAN TUBUH ANAKMU! KAMU RASAKAN SAKITNYA KEHILANGAN ORANG YANG PALING KAMU CINTAI, SAMA SEPERTI SAYA DULU MERASAKANNYA!”

Jantung Rian serasa mau pecah, kakinya lemas, keringat dingin mengalir deras di sekujur tubuhnya. Ia tahu penjahat ini tidak bercanda, ia benar-benar mau membunuh anaknya dengan cara yang paling kejam dan menyakitkan. Dan di luar sana, Dimas dan yang lainnya sudah siap menyerang kapan saja, tapi mereka harus menunggu saat yang tepat supaya tidak membahayakan nyawa Hamzah.

Pertarungan hidup mati, dendam puluhan tahun, dan nasib keluarga besar mereka semua kini bergantung pada detik-detik yang paling menegangkan dan berbahaya ini…

Darah Rian mendidih melihat pisau tajam itu menempel erat di leher anaknya. Napasnya terasa sesak, matanya merah menyala campuran antara rasa takut dan amarah yang tak terbendung. Ia tahu Zulkarnain tidak bercanda sedikit pun — pria itu hidup hanya untuk membalas dendam, dan tidak ada yang bisa menghentikannya selain kematian.

“JANGAN! KAU MAU SAYA, AMBIL SAJA! TUKAR NYAWA SAYA DENGAN NYAWA ANAK SAYA! SAYA BERSEDIA MATI SEKARANG JUGA ASALKAN DIA SELAMAT!” teriak Rian dengan suara parau, tangannya terangkat ke depan seakan mau menahan pisau itu dengan tangannya sendiri.

Zulkarnain tertawa keras, suaranya bergema mengerikan di seluruh ruangan kosong itu. “Tukar nyawa? Itu terlalu mudah buat kamu! Aku mau kamu hidup lama-lama merasakan sakitnya kehilangan, merasakan hancurnya hati, sama persis seperti yang aku rasakan selama tiga puluh tahun ini! Ayahmu ambil segalanya dariku, sekarang aku ambil segalanya darimu — mulai dari yang paling kamu sayangi!”

Pria tua itu menekan sedikit bilah pisaunya, seketika tetesan darah merah segar keluar dari leher kecil Hamzah. Anak kecil itu menggeliat ketakutan, matanya terbuka lebar penuh air mata dan permohonan, menatap ayahnya dengan tatapan yang akan menghantui Rian seumur hidup.

“HAMZAH!” teriak Rian histeris, tidak bisa menahan diri lagi ia melompat maju secepat kilat ke arah penjahat itu.

“KAMU CARI MATI!” bentak Zulkarnain, ia langsung mendorong tubuh Hamzah ke depan sebagai tameng hidup, sambil mengayunkan pisau tajam ke arah dada Rian.

Rian dengan sigap menghindar sedikit, tapi ujung pisau itu masih menggores lengan kanannya dalam-dalam. Darah segar langsung membasahi bajunya, rasa sakit yang tajam menjalar ke seluruh tubuh, tapi ia tidak merasa apa-apa selain ketakutan akan keselamatan anaknya.

Saat pertarungan sengit itu terjadi di dalam, Dimas yang sudah menunggu di luar mendengar suara teriakan dan bentakan, tahu waktunya sudah tiba. Ia memberi isyarat pada orang-orangnya, lalu mereka masuk secara diam-diam lewat pintu belakang yang rusak, membagi diri untuk mengunci semua jalan keluar supaya penjahat itu tidak bisa lari ke mana-mana.

Zulkarnain ternyata sangat lincah dan kuat, gerakannya cepat dan terlatih, hasil dari bertahun-tahun hidup dalam kegelapan dan pertarungan. Ia menyerang tanpa ampun, matanya penuh keinginan membunuh, setiap ayunannya bertujuan untuk membunuh. Rian yang awalnya hanya mau menangkis dan melindungi anaknya, lama-kelamaan terpaksa bertarung mati-matian demi mempertahankan nyawanya sendiri.

“Kamu sama saja seperti ayahmu! Sama-sama penipu, sama-sama pencuri kebahagiaan orang lain! Kalian semua harus mati!” teriak Zulkarnain sambil terus menyerang tanpa henti.

“KAU YANG SALAH! KAU YANG IRI HATI, KAU YANG JAHAT! AYAH SAYA TIDAK PERNAH AMBIL APA PUN DARIMU! KAU SENDIRI YANG MERUSAK HIDUPMU SENDIRI DENGAN KEBURUKAN HATIMU!” bentak Rian balik, berusaha membuka mata penjahat itu meski ia tahu percuma.

Tiba-tiba Dimas masuk dari samping, melompat dan menendang tangan Zulkarnain dengan keras, membuat pisau tajam itu terlempar jauh dan menancap ke dinding.

“PERMAINANMU SUDAH SELESAI! KAMU TIDAK AKAN MENYAKITI SIAPA PUN LAGI!” teriak Dimas sambil langsung menerjang pria tua itu, mereka berguling di lantai yang penuh debu dan pecahan kayu, saling memukul sekuat tenaga.

Kesempatan itu tidak disia-siakan Rian, ia langsung berlari memeluk Hamzah yang masih terikat dan ketakutan, melepaskan semua ikatan dan sumbalan mulutnya. Hamzah langsung memeluk leher ayahnya erat-erat, menangis sejadi-jadinya.

“Ayah… Ayah… Hamzah takut… Hamzah pikir tidak akan bertemu Ayah lagi…” isak anak kecil itu, tubuhnya masih gemetar hebat.

“Tidak nak, Ayah di sini, Ayah tidak akan biarkan siapa pun sakiti kamu lagi. Kita pulang sekarang, kita pulang,” kata Rian sambil mencium kepala anaknya berulang-ulang, air matanya bercampur dengan darah di lengannya, rasa lega dan bahagia yang luar biasa memenuhi seluruh hatinya.

Sementara itu, pertarungan antara Dimas dan Zulkarnain semakin sengit. Meskipun Zulkarnain sudah tua, kekuatannya luar biasa besar karena didorong oleh dendam yang membakar habis hatinya. Ia berhasil menjatuhkan Dimas ke lantai, menekan lehernya dengan kuat, dan dengan tangan kosongnya mulai mencekik semakin erat. Wajahnya penuh kengerian dan kemenangan.

“Kalian semua harus mati! Tidak ada yang bisa hentikan aku!” teriaknya liar.

Saat napas Dimas mulai sesak dan matanya mulai kabur, tiba-tiba terdengar suara tembakan satu kali yang meledak keras di udara, diikuti suara teriakan nyaring. Zulkarnain langsung terlempar ke samping, tubuhnya terguncang hebat, darah segar keluar dari bahu kanannya.

Semua mata tertuju ke arah pintu masuk — berdiri di sana adalah Fatimah, tangan gemetar memegang sebuah senjata api tua yang sudah lama ia simpan sebagai perlindungan diri, wajahnya pucat tapi matanya tajam penuh tekad.

“Saya sudah diam terlalu lama… saya tidak akan biarkan kamu sakiti satu orang lagi dari keluarga saya!” teriak Fatimah dengan suara yang tidak pernah terdengar sebelumnya, penuh keberanian dan kemarahan yang tertahan selama puluhan tahun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!