Andika seorang bayi berumur satu bulan yang ditinggal oleh ibunya untuk selama-lamanya. Besar bersama ayahnya yang benama Adam membuatnya berubah menjadi nakal dan banyak tingkah.
Banyak wanita yang dijodohkan dengan ayahnya berakhir gagal karena ulahnya. Akankah Andika berhasil menemukan ibu sambung yang sesuai dengan pilihannya?
Simak kisah mereka di karya kedua aku ini!!!
sebelumnya, mampir juga dikarya pertamaku
ABANG TENTARA, TEMBAK AKU!!!
Happy Reading...😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zur Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Ibu Macan Pergi...
"Hallo Bi." Adam menjawab panggilan telpon dari Bi Inah.
"Anu Den, Buk Yuni mau pergi dari rumah, Bibi udah cegah tapi Buk Yuni tetap kekeh mau pergi dari sini."
"Ya sudah, Adam pulang sekarang, Adam tutup y." Dengan cepat Adam melesat keluar dari restoran. Dia tidak menyangka Yuni akan keluar dari rumahnya.
Adam sangat tau watak Yuni yang keras kepala. Dia juga sangat mempertahankan prinsip hidupnya. Makanya dia terlihat tegas dan mandiri walau sudah janda.
"Ma, apa gak tunggu Om Adam pulang dulu?" Tanya Rara yang menatap ibunya sibuk membereskan pakaian mereka.
"Tidak perlu, Ayah dan anak itu sudah membuat Mama kecewa. Entah apa yang dipikir ayah dan anak itu. Sudah cukup kita tinggal di sini, cepat kamu masukin barang-barang kamu!"
Rara menghela nafasnya, bukannya tidak mau mengikuti mamanya, tapi ada hal yang dilupakan oleh mamanya saat ini. "Ra, kamu kenapa diam aja? Cepat beresin pakaian kamu!"
Sementara di meja makan Dika masih diam tidak bergeming. "Den, minta maaf aja ke Buk Yuni, minta Ibu jangan keluar dari sini. Den Dika gak senang mereka di sini?"
Suara mobil masuk ke rumah. Dengan cepat Adam masuk langsung menuju kamar Yuni tampa menemui Dika. "Yun, kamu beneran mau keluar?" Tanya Adam dengan nafas naik turun.
"Kamu juga, semua ini gara-gara kamu. Aku lebih baik keluar dari rumah kamu, tempat aku bukan di sini."
"Yun, maafin aku. Tolong pikirkan lagi, kita bisa bicara baik-baik jangan seperti ini. Tolonglah, kita udah temenan lama masak cuma gara-gara sepele kita harus putus perteman gini."
"Apa kamu bilang, sepele? 2 minggu anakmu mendiamkan aku hanya karena termakan omongan gak jelas dari kamu. Maaf Dam, tapi aku gak bisa berteman dengan orang egois seperti kamu."
Adam menahan tangan Yuni, sementara Rara hanya menggelengkan kepala kemudian memilih turun ke bawah. Dengan santainya Rara duduk di depan Dika dengan segelas air minum serta cemilan.
"Neng Rara baik-baik aja?" Bi Inah merasa heran melihat Rara yang terlihat santai. Sementara Dika menatap Dika penuh penekanan.
"Sekarang saatnya jika Kakak mau mamaku jadi mama Kakak beneran." Ucap Rara masih menatap tajam Dika di depannya.
Dika mengangkat kepalanya menatap Rara. "Maksudnya?"
"Sekarang saatnya Kakak melamar Mamaku untuk jadi Mama Kakak, itupun kalo Kakak mau."
"Caranya?" Dika terlihat antusias dengan saran dari calon adik tirinya.
Bi Inah yang mendengar juga ikut tersenyum senang.
Sementara di kamar, sepasang anak manusia yang sudah tidak muda lagi masih tetap dengan pikiran masing-masing tapi kali ini keduanya hanya berperang dalam pikiran masing-masing tampa mengeluarkan sepatah katapun.
"Ayo, kita menikah!" Beberapa saat mereka terdiam sampai akhirnya Adam memberanikan diri untuk mengucapkan kata-kata ajaib tersebut.
Yuni tertawa sinis ke arah Adam, "Apa yang kau harapkan Adam? Keputusanku tidak akan berubah." Adam sudah memprediksikan jika ajakannya memang tidak akan dijawab oleh Yuni. Jangankan menjawab, memikirnya saja tidak.
Yuni bangun melangkah kakinya sambil menyeret kopernya menuruni tangga. "Ra, ambil koper kamu! Mama akan pesankan taksi."
"Kita mau kemana Ma?" Tanya Rara yang membuat Yuni berhenti saat hendak keluar rumah.
Yuni tampak berpikir, karen mereka memang tidak punya tujuan saat ini. Rumah kontrakan dulu sudah lama tidak di sewa lagi, pasti sekarang sudah ada penyew baru.
"Tante, jadilah Mamaku yang sebenarnya." Ucap Dika yang berlutut di depan Yuni. Adam, Bi Inah dan juga Rara melihat aksi Dika yang berlebihan menurut Rara. Sementara Adam hanya bisa menghela nafasnya.
"Kalo Tante sayang sama aku, jadilah mama beneran untuk aku. Maaf karena sikap aku kemaren sama Tante. Aku cuma takut kecewa jika ternyata tante melakukan semua ini karen rasa kasihan sama aku yang tidak punya ibu." Dika menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa sedihnya. Tampa terasa air mata berhasil terjun bebas dari matanya.
"Apa tante terlihat mengasihani kamu? Apa sejahat itu tante di mata kamu? Apa sedikitpun kamu tidak melihat kesungguhan Tante? Apa selama ini Tante mengeluh melakukan semuanya? Tante sayang sama kamu tampa kamu tau, karena sayang itu tidak harus diucapkan cukup dilakukan dengan tindakan." Yuni ikut berlutut di depan Dika, memeluknya dengan penuh sayang layaknya anak sendiri.
"Tante mau jadi Mamaku?" Yuni menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Kamu sudah jadi anak Tante, kamu bisa memanggil tante dengan sebutan Mama sama seperti Rara."
"Berarti Tante harus tetap tinggal di sini." Yuni kembali menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tante tidak bisa tinggal di sini lagi. Tidak pantas untuk Tante dan Ayahmu tinggal seatap tampa hubungan."
"Tante tinggal menikah dengan Ayah kalo gitu." Yuni kembali tersenyum. "Tidak semudah itu, Sayang. Kami orang dewasa, tidak begitu saja memutuskan sesuatu yang besar seperti pernikahan. Tante harap kamu mengerti. Ayo Ra!"
"Kita tinggal dimana Ma?" Tanya Rara saat menurunkan kopernya.
"Kita nginap di hotel dulu sampai ketemu kontrakan yang cocok."
Yuni kembali memeluk Dika, "Nanti Tante kirim alamat, kamu bisa main ke sana." Yuni dan Rara juga berpamitan pada Bi Inah serta Adam. Taksi yang dipesan sudah sampai, mereka berjalan dengan kesedihan dari para pemilik rumah.
"Apa Mama masih lanjut kerja di tempat Om Adam?" Tanya Rara saat mereka di dalam taksi.
"Mama akan cari pekerjaan lain, Mama sudah tidak nyaman kerja di sana."
Mereka kembali terdiam sampai akhirnya tiba di hotel yang dituju.
Sementara di kediaman Adam, makan malam kali ini benar-benar berbeda. Hanya Adam sendiri yang makan, sementara Dika mengurung diri di kamar setelah kepergian Yuni. Dika bahkan tidak mau berbicara pada ayahnya.
Adam yang terlihat kacau akhirnya memilih pergi ke restoran. Sementara Bi Inah masih berusaha mengetok pintu kamar Dika, menyuruhnya makan tapi hasilnya selalu sama.
Semiggu lagi Dika akan memasuki sekolah baru, sementara semua urusan administrasi sekolah sudah siap hanya sang murid baru yang tampak tidak bersemangat. Tidak ada komunikasi lagi antara Adam dengan Yuni setelah sehari setelah keluar dari rumah Adam, Yuni menyerahkan surat pengunduran dirinya secara langsung.
Adam yang awalnya menolak surat tersebut, akhirnya harus menyerah dengan keputusan Yuni. "Tolong ya Ma, kalo mau pindah nanti setelah aku lulus SD, capek kalo harus pindah lagi sekarang." Ucap Rara saat merapikan barang di kontrakan barunya.
"Hehehe...maaf sayang, kali ini kita gak pindah-pindah lagi kok. Oy, kamu gak rindu sama Papa? Udah lama dia gak hubungin kamu? Kemana ya? Apa dia baik-baik aja?"
"Yang rindu Papa apa Mama?"
salam kenal dari pengisi suara novel ini 😊😊