NovelToon NovelToon
Cinta Diusia Senja

Cinta Diusia Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cintapertama
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: riena

"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14. Ternyata tidak bertepuk sebelah tangan

Deg.

Suara deru mesin mobil yang familier memotong keheningan malam yang pekat, menembus dinding ruang tengah di sela-sela suara sisa air hujan. Sorot lampu mobil dari luar seketika menyapu kaca jendela, menciptakan bayangan siluet yang bergerak di dinding rumah kontrakan.

Itu mobil Rayhan. Anak-anak sudah pulang.

Kepanikan luar biasa seketika menyengat kesadaran Imam dan Habibah. Waktu seolah berputar cepat, merenggut mereka kembali ke dunia nyata.

"Mas, anak-anak..." bisik Habibah dengan suara yang tertahan di tenggorokan, matanya melebar panik. Ia buru-buru menghapus air mata di pipinya dengan kedua telapak tangan yang gemetar hebat, berusaha menghilangkan jejak tangisnya dalam hitungan detik.

Imam yang tadinya masih berlutut di lantai segera bangkit berdiri dengan sigap, meskipun lutut paruh bayanya terasa lemas akibat guncangan emosi yang baru saja dilewatinya. Ia merapikan kaos polo dan sarungnya, menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan suaranya yang serak.

Klek.

Suara pintu kasa depan dibuka dari luar, disusul suara tawa kecil Ameera yang terdengar kelelahan.

"Duh, basah sedikit, Yang. Untung tadi langsung lari dari mobil," terdengar suara Rayhan dari arah pintu depan, sedang menutup payung yang basah.

Hanya dalam hitungan tiga detik sebelum anak-anak melangkah masuk ke ruang tengah, Imam dengan cepat mundur beberapa langkah dari posisi Habibah. Ia berjalan menuju meja kopi, meraih cangkir tehnya yang sudah mendingin, lalu berpura-pura berdiri membelakangi dapur seolah-olah baru saja hendak membawa cangkir itu ke belakang.

Habibah sendiri langsung memutar tubuhnya menghadap ke arah meja makan, mengambil selembar tisu baru dan berpura-pura sibuk mengelap permukaan meja yang sebenarnya sudah bersih. Jantung mereka berdua berdegup begitu kencang, rasanya seperti mau melompat keluar. Tensi di ruangan itu mendadak penuh dengan kepalsuan yang dipaksakan.

"Lho, Papa sama Tante Bibah belum tidur?"

Ameera melangkah masuk ke ruang tengah sambil menjinjing tasnya. Rambutnya agak basah terkena cipratan air hujan. Di belakangnya, Rayhan menyusul sambil membawa satu kresek besar berisi sisa makanan ringan.

"Belum, Meer," jawab Imam. Suaranya terdengar luar biasa tenang dan datar, sebuah kemampuan mengontrol emosi yang ia pelajari dari puluhan tahun memimpin rapat-rapat di proyek. "Ini Papa tadi sekalian nunggu hujan agak reda, sambil minum teh bersama Jeng Habibah."

Rayhan berjalan mendekati ibunya di dekat meja makan. "Ibu kok belum tidur? Ini sudah jam sepuluh lewat, lho. Muka Ibu juga kelihatan pucat sekali." Rayhan menyentuh pundak Habibah dengan cemas.

Habibah memaksakan segaris senyum keibuan, meskipun matanya masih terasa panas dan sedikit sembab. "Nggak apa-apa, Ray. Ibu cuma agak kedinginan karena hujan deras di luar tadi. Ini Ibu baru mau masuk kamar."

Ameera yang tidak menyadari ketegangan hebat yang baru saja terjadi di antara kedua orang tua mereka, langsung menggelayut manja di lengan Imam. "Maaf ya, Pa, Tante... kami pulangnya telat banget. Tadi urusan layout gedung pernikahan ternyata agak ribet, jadi diskusinya lama."

"Iya, tidak apa-apa. Yang penting urusan kalian lancar," sahut Imam pendek, matanya sempat melirik sekilas ke arah Habibah dari sudut pandangnya.

Habibah segera mengambil botol air minumnya yang ada di meja. "Kalau begitu, Ibu masuk kamar duluan ya. Kalian kalau mau istirahat langsung bersih-bersih dulu." Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Habibah berjalan setengah terburu-buru menuju kamarnya di sebelah kanan.

Klek. Cklek.

Pintu kamar Habibah tertutup rapat, dan suara kunci yang diputar dari dalam terdengar jelas.

Imam menghembuskan napas yang sejak tadi tertahan di dadanya. Ia menaruh cangkir tehnya kembali ke meja. "Papa juga mau istirahat, Meer, Ray. Jangan lupa kunci pintu depan."

Saat Imam melangkah masuk ke kamarnya sendiri di sebelah kiri, ia sempat berhenti satu detik di ambang pintu, menatap pintu kamar Habibah yang tertutup rapat di hadapannya.

Malam itu, di bawah atap rumah kontrakan yang sama, sandiwara besar mereka kembali dilanjutkan di depan anak-anak.

*

*

Di dalam kamar masing-masing, keheningan malam terasa begitu mencekam. Detak jarum jam dinding beradu dengan suara sisa rintik hujan di luar, menciptakan irama yang kian menyiksa batin dua manusia paruh baya ini.

Aturan dan sekat rumah kontrakan yang dibuat anak-anak mereka seolah menguap begitu saja. Meski terpisahkan oleh koridor sempit dan dua daun pintu yang tertutup rapat, pikiran Imam dan Habibah justru sedang mengembara di ruang yang sama. Yaitu masa lalu yang belum usai.

Habibah duduk bersandar di kepala ranjangnya yang asing. Kamar itu terasa terlampau dingin. Ia memeluk kedua lututnya erat-erat, menatap lurus ke arah pintu kayu di hadapannya. Di balik pintu itulah kamar Imam berada.

Pengakuan Imam di ruang tengah tadi masih terus terngiang-ngiang di telinganya, berputar seperti kaset rusak yang menyayat hati.

"Bagiku sama saja, Bah... Di sudut hatiku yang paling gelap, nama yang tertinggal di sana tetap nama kamu, Habibah."

Air mata Habibah kembali luruh membasahi pipinya yang mulai berkerut halus. Ada rasa sesak yang luar biasa menghimpit dadanya. Selama tiga puluh tahun ini, ia selalu merasa menjadi orang paling malang di dunia karena dipaksa menikah tanpa cinta, mengira bahwa Imam di luar sana hidup bahagia dengan wanita pilihan yang sempurna.

Namun kenyataan malam ini menamparnya dengan keras. Pria yang teramat dicintainya itu ternyata juga memikul luka yang sama besarnya, menjalani sisa hidupnya dalam kesepian batin yang akut sembari terus merapalkan namanya dalam sujud-sujud malam.

"Kenapa, Mas... Kenapa baru sekarang kamu katakan semuanya?" bisik Habibah lirih ke dalam pelukan lututnya, menyembunyikan suaranya agar tidak menembus dinding kamar.

Setengah hatinya merasa melambung karena tahu cinta sejatinya tidak bertepuk sebelah tangan, namun setengah hatinya yang lain diselimuti ketakutan yang teramat sangat. Dua bulan lagi, anak-anak mereka akan mengikat janji suci. Ego macam apa yang tega merusak kebahagiaan anak kandung sendiri? Habibah memejamkan mata erat-erat, mencoba mengusir rasa lemas dan debaran bersalah yang terus menggedor dadanya.

*

*

Sementara itu, di kamar sebelah kiri, Imam bahkan tidak menyentuh ranjangnya sama sekali. Pria paruh baya itu terus berjalan mondar-mandir di atas lantai tegel yang dingin dengan gelisah. Langkah kakinya sengaja dibuat sangat pelan agar tidak menimbulkan suara.

Sesekali ia berhenti di depan pintu, memegang handle kuningan dengan tangan yang gemetar. Ada dorongan gila di dalam dirinya untuk membuka pintu itu, melangkah dua tapak kedepan, mengetuk pintu kamar Habibah, dan memeluk wanita itu untuk menumpahkan seluruh rindu tiga puluh tahun yang malam ini terlanjur berontak keluar.

Namun setiap kali jemarinya menyentuh kunci pintu, bayangan wajah riang Ameera dan tatapan penuh hormat dari Rayhan seketika melintas di benaknya, bertindak sebagai rem darurat yang dipaksa untuk mengembalikan kewarasannya.

"Astagfirullahaladzim..." Imam berbisik parau, mengusap wajahnya dengan kasar.

Ia berjalan menuju jendela, menatap sisa-sisa air hujan yang mengalir di kaca. Pengakuannya tadi benar-benar di luar kendali. Imam tahu, ia telah meruntuhkan ketenangan yang selama ini coba Habibah bangun. Ia telah egois. Tapi di sisi lain, Imam juga merasa separuh bebannya terangkat. Setidaknya, Habibah kini tahu bahwa hatinya tidak pernah sedetik pun berpaling.

Imam mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih berpacu gila. Ia tahu, esok hari saat matahari terbit, mereka harus kembali mengenakan topeng sebagai "calon besan" yang bijaksana di depan anak-anak.

Namun malam ini, di bawah atap rumah kontrakan yang sepi, kedua manusia yang rambutnya mulai memutih itu sama-sama terjaga dalam keheningan yang menyiksa, terjebak di antara besarnya rasa cinta masa lalu dan tuntutan takdir yang memaksa mereka untuk tetap menjadi asing.

****

1
Safitri Agus
terimakasih kak Riena updatenya 🙏🥰🥰🥰
Afternoon Honey
tetap menyimak dan membaca cerita bersambung ini..m
Indriyani_ Indry
Alhamdulillah novel ini ada update nya ... terimakasih kk😍😍😍
Safitri Agus
TRIms kak Riena updatenya 🙏🥰
Safitri Agus
rumit ya,🤦
Safitri Agus
😭😭😭
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
ujian sebelum pernikahan, mereka pasti dilema....
Safitri Agus
terimakasih kak Riena sudah update 🙏🥰
Fitria Rastanti
gx lanjut kak riee ceritanya
Safitri Agus: lanjut dong kak biar tau endingnya 😊
total 3 replies
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
dari kmrn blm ada bab yg br ka ... libur yah ka?
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
sy sukaaa semua novel karya author ini ... novelnya kereeennn dan berkls ...
Safitri Agus
seandainya kalian mengetahui apa yg sedang terjadi dan tentang masalalu mereka.....
Safitri Agus
jeng nya dihilangkan 🤭
yuli mamah
😬😬😬😬😬
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!