6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25. RITUAL TERAKHIR
Pak Lurah tidak banyak bicara setelah kejadian sumur yang pindah ke halaman balai desa. Wajahnya terlihat jauh lebih tua dari usianya. Keriputnya semakin dalam, matanya cekung karena tidak tidur semalaman.
Dia hanya mengatakan satu kalimat sebelum pergi meninggalkan kami di balai desa pagi itu.
"Malam ini Jumat Kliwon. Kalau tidak ditutup malam ini, sumur itu akan ikut kalian sampai ke kota. Bahkan sampai kalian mati."
Kami bertiga tahu apa maksudnya. Tidak ada pilihan lain.
Jam 8 malam, Pak Lurah kembali ke balai desa dengan membawa sebuah kantong kain goni yang bau kemenyan. Di dalamnya ada kembang tujuh rupa, kemenyan batangan, ayam cemani yang kakinya diikat, dan sebuah kendi kecil berisi air yang katanya diambil dari tujuh sumber mata air berbeda.
"Ini ritual terakhir yang dulu gagal," kata Pak Lurah dengan suara pelan. "Dulu Mbah Kerto yang mau nutup sumur ini, tapi dia keburu mati dicekik Selvi sebelum selesai baca mantra. Sekarang Bapak yang harus lanjutin. Tapi Bapak butuh kalian. Terutama kamu, Selpi."
Aku menelan ludah. "Saya harus ngapain, Pak?"
"Kamu harus jadi pemanggil. Karena hanya kamu yang namanya sudah tertulis di kain. Darahmu sudah terikat sama dia. Kamu yang harus panggil Selvi keluar dari sumur, dan kamu juga yang harus suruh dia masuk lagi dan terkunci selamanya."
Sinta langsung memegang tanganku erat. "Itu bahaya, Pak! Kalau Selpi yang manggil, nanti Selvi ambil tubuh Selpi!"
Pak Lurah mengangguk berat. "Memang itu risikonya. Makanya Bapak bawa ini."
Dia mengeluarkan sebuah keris kecil yang berkarat dari dalam goni. Keris itu pendek, gagangnya dari kayu hitam yang sudah lapuk.
"Ini keris tumbal. Kalau Selvi sudah keluar, keris ini harus ditancapkan ke batu penutup sumur. Tapi yang nancepin harus orang yang namanya ada di kain. Darahnya harus netes ke keris itu biar mantranya aktif."
Aku melihat tulisan SELPI di telapak tanganku. Urat darah itu sekarang semakin jelas, warnanya semakin merah dan berdenyut seperti jantung.
Jam 11 malam, kami berjalan kembali ke rumah Mbok Darmi. Malam itu bulan purnama, tapi cahayanya merah, bukan putih. Angin tidak bertiup sama sekali. Hutan di sekeliling Desa Mati sunyi senyap, tidak ada suara jangkrik, tidak ada suara burung hantu. Seolah seluruh hutan menahan napas menunggu ritual ini.
Sumur tua itu sudah kembali ke tempat asalnya, di belakang rumah Mbok Darmi. Tapi keadaannya berbeda. Air hitam di dalamnya sekarang meluap sampai ke bibir sumur, tumpah ke tanah dan membentuk genangan lumpur hitam yang luas. Bau anyir dan melatinya menusuk hidung sampai membuat kepala pusing.
Di sekitar sumur, sudah ada lingkaran garam kasar dan kembang tujuh rupa yang ditabur Pak Lurah tadi sore.
Pak Lurah mulai membakar kemenyan. Asap putih tebal membumbung tinggi, membentuk pusaran di atas sumur. Dia mulai membaca mantra Jawa kuno dengan suara bergetar, bahasa yang tidak kami mengerti. Suaranya pelan, tapi menggema di seluruh halaman.
Bima dan Sinta disuruh Pak Lurah pegang obor di dua sisi sumur, menghadap ke dalam sumur.
Aku disuruh berdiri tepat di bibir sumur, menghadap ke air hitam itu.
"Selpi, panggil namanya. Panggil Selvi tiga kali. Dengan hati, bukan dengan mulut. Panggil dia pulang," bisik Pak Lurah di sela-sela mantranya.
Aku menatap air hitam itu. Di dalam air itu, aku bisa melihat pantulanku sendiri. Wajahku pucat, mataku sembab. Dan di belakang pantulanku, ada pantulan lain. Pantulan Selvi yang tersenyum.
Aku menarik napas dalam-dalam. Tanganku gemetar.
"Selvi..."
Saat aku memanggil nama pertama, air di dalam sumur bergejolak. Blubuk... blubuk...
"Selvi..."
Panggilan kedua, gejolaknya semakin besar. Dari dalam air muncul tangan-tangan pucat yang tadi malam kami lihat. Enam tangan. Mereka meraih bibir sumur.
"SELVI!"
Panggilan ketiga, aku berteriak sekeras-kerasnya.
Saat itu juga, air sumur meledak ke atas seperti air mancur. Air hitam itu menyembur tinggi, membasahi kami semua. Dari dalam semburan itu, muncul sosok Selvi, melayang di atas sumur. Rambutnya panjang menjuntai, kebaya hitamnya berkibar-kibar padahal tidak ada angin. Wajahnya cantik, tapi matanya hitam penuh air mata darah.
Di belakangnya, muncul 6 sosok kain kafan. Rukiyah, Sarmi, Tohari, Lestari, Wagiman, Siti. Mereka semua melayang, mengelilingi Selvi.
Dan di pelukan Selvi, ada Mbok Darmi. Mbok Darmi terlihat pucat, matanya terpejam, tapi masih bernapas pelan. Dia digendong seperti bayi oleh Selvi.
"Mbok Darmi!" Aku berteriak.
Selvi menatapku. Senyumnya sedih.
"Kamu sudah panggil aku, Selpi. Sekarang giliran kamu tepati janji. Berikan tubuhmu. Biar aku bisa hidup lagi dan bawa ibu pulang."
Pak Lurah berteriak dari belakang, "Selpi! Kerisnya! Tancapkan kerisnya ke batu penutup sekarang!"
Aku baru sadar, di samping sumur ada sebuah batu besar pipih yang dari tadi tidak ada. Batu itu adalah penutup asli sumur ini yang sudah lama hilang. Batu itu sekarang muncul kembali, tergeletak di tanah berlumpur.
Aku mengambil keris berkarat itu dari tangan Pak Lurah. Beratnya bukan main, seperti memegang besi puluhan kilo. Urat darah bertuliskan SELPI di tanganku berdenyut kencang, sakit sekali, seperti mau pecah.
Selvi melihat keris itu dan menjerit marah. Jeritannya membuat obor yang dipegang Bima dan Sinta padam.
"JANGAN! JANGAN TUTUP AKU LAGI! AKU SUDAH 27 TAHUN DI DALAM SINI! DINGIN! GELAP! AKU KANGEN IBU!"
Dia mengulurkan tangannya ke arahku. Kuku panjangnya hampir menyentuh wajahku. Aku bisa merasakan hawa dingin yang menusuk dari tangannya.
Saat kukunya menyentuh keningku, kepalaku langsung dipenuhi bayangan-bayangan. Bayangan Selvi saat masih hidup, bayangan dia menangis di dalam sumur karena dibuang warga, bayangan dia melahirkan seorang diri di dalam sumur yang gelap dan dingin tanpa bantuan siapa pun, bayangan bayinya yang meninggal karena kedinginan, dan bayangan 6 teman KKN nya yang mencoba menolong tapi ikut dibunuh dan dibuang ke sumur yang sama.
Aku melihat semuanya. Rasa sakit Selvi, rasa dinginnya, rasa sepi 27 tahun di dalam sumur tanpa dasar itu.
Air mataku mengalir. Bukan karena takut, tapi karena kasihan.
"Selvi... maaf..." bisikku.
Aku tidak menancapkan keris itu ke batu. Aku malah menyayat telapak tanganku sendiri yang ada tulisan SELPI nya dengan ujung keris itu. Darah segar mengalir deras, menetes ke keris berkarat itu, dan menetes juga ke air hitam di dalam sumur.
Darahku yang menetes ke air sumur membuat air itu mendidih dan mengeluarkan asap putih.
Selvi terkejut melihat apa yang aku lakukan.
"Kamu... kamu kasih darahmu..."
Aku mengangguk sambil menahan perih. "Aku gak akan tutup kamu lagi seperti warga dulu. Aku kasih darahku biar kamu dan ibu dan teman-temanmu bisa tenang. Bukan jadi tumbal, tapi jadi penjaga. Biar sumur ini gak minta korban lagi."
Darahku terus menetes. Tetesan darah itu jatuh ke batu penutup sumur. Saat darahku menyentuh batu itu, batu itu bergetar dan mengeluarkan cahaya keemasan.
Pak Lurah yang melihat itu langsung melanjutkan mantranya dengan lebih keras. Dia mengambil alih keris dari tanganku yang sudah lemas dan menancapkannya tepat di tengah batu penutup sumur.
"ASMO JATI! TUTUPO LAWANG SANGA! KUNCENONO!"
Saat keris menancap, cahaya keemasan itu meledak terang, menyilaukan mata kami semua. Suara jeritan 7 sosok itu terdengar, tapi kali ini bukan jeritan marah. Jeritan lega, seperti orang yang akhirnya bisa bernapas setelah lama tenggelam.
Air hitam di dalam sumur perlahan-lahan menjadi jernih. Lumpur hitam di sekitar sumur hilang terserap tanah. Bau anyir dan melati hilang, digantikan bau tanah basah setelah hujan.
Selvi yang melayang di atas sumur, perlahan-lahan tubuhnya bercahaya. Wajahnya yang pucat menjadi cantik berseri. Luka-luka di tubuhnya hilang. 6 teman di belakangnya juga sama, kain kafan mereka berubah menjadi pakaian putih bersih.
Mbok Darmi yang ada di pelukannya membuka mata, tersenyum ke arahku.
"Terima kasih, Nduk Selpi... kamu sudah bebaskan kami..."
Selvi menatapku untuk terakhir kalinya. Dia tersenyum, senyum tulus pertama yang aku lihat darinya.
"Terima kasih, Selpi. Namamu akan aku jaga. Bukan di kain kafan, tapi di batu nisan. Biar kamu ingat kami bukan sebagai hantu, tapi sebagai penjaga desa ini."
Perlahan-lahan, ketujuh sosok itu turun kembali ke dalam sumur yang airnya sekarang sudah jernih dan bercahaya. Batu penutup sumur yang sudah tertancap keris itu bergerak sendiri dan menutup sumur dengan sempurna.
Ceklek.
Suara batu menutup sumur terdengar pelan, tapi mantap.
Ritual terakhir selesai.
Pak Lurah terduduk lemas di tanah, menangis. Bima dan Sinta memelukku yang juga sudah lemas karena banyak darah keluar.
Di batu penutup sumur yang baru saja tertutup, keris itu masih menancap. Dan di bawah keris itu, terukir tulisan baru yang muncul dengan sendirinya, berkilau keemasan.
Tulisan itu bukan lagi 7 nama di kain kafan.
Tapi 7 nama di batu nisan.
Dan nama ketujuh di batu itu bukan lagi namaku. Namaku hilang dari urat tanganku, bekas lukanya pun hilang.
Nama ketujuh di batu nisan itu tertulis: SELVI BINTI DARMI - PENJAGA SUMUR
Sumur itu akhirnya terkunci. Untuk selamanya.
Tapi saat kami berbalik ingin pergi meninggalkan sumur itu, kami melihat sesuatu yang membuat langkah kami terhenti.
Di halaman rumah Mbok Darmi, berdiri sesosok perempuan berambut panjang, mengenakan kebaya hitam, menatap kami dari jauh.
Bukan Selvi.
Sosok itu berbeda. Lebih tinggi, lebih kurus.
Dan dia memegang kain kafan baru di tangannya.
Kain kafan yang kosong, belum ada tulisannya.
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐