Hola ...
Update setiap hari ... !!!
Warning :
Novel ini bisa membuat kalian tersenyum-senyum sendiri dan tertawa gemasss ...!!!
Novel ini juga mengandung banyak bawang ditengah!!! Selamat membaca ...
Karena ada yang minta sekuel anaknya Galas dan Gayung. Ini aku kasih sekuel mengenai anak kedua mereka, Jusuf Alexander.
Dalam perjalanan menuju kampung halaman untuk menengok kedua orang tuanya yang kini menetap dikota kelahiran mereka. Jusuf Alexander tersesat dijalan karena mengikuti Google Map. Padahal ibunya sudah mengingatkannya untuk tidak mengendarai mobil sendiri. Karena Alex lemah mengingat jalan.
Hingga akhirnya ia tersesat dijalanan terjal dalam kondisi mobil yang tiba-tiba mogok. Apesnya hujan mengguyur begitu deras malam itu. Hingga ia kebingungan untuk meminta bantuan. Sampai kemudian muncul seorang gadis yang menolongnya.
Dari sanalah perjalanan cintanya yang amazing bermula. Ikuti terus ya ...Ok say ...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Curly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 ( Bidadari )
"Assalamuallaikum! Pandannn!" Ucapan salam dan seruan Alex yang baru saja pulang begitu nyaring terdengar.
"Wallaikumsalam," jawab Pandan santai, entah Alex mendengarnya atau tidak. Ia heran, kenapa Alex hobi sekali berteriak-teriak seperti itu memanggilnya. Ia kini tengah sibuk didapur membuat bubur ayam spesial, yang tentunya resepnya ia lihat diinternet. Pandan memang pintar memasak dan dia belum pernah gagal mencoba berbagai resep meski baru pertama kali memasaknya.
"Kalau ada orang mengucap salam dijawab Pandaaann." Alex mendekati istrinya yang tengah menyiapkan wajan untuk menumis sepertinya.
"Aku selalu menjawab," jawab Pandan tanpa menoleh. Ia sibuk menuangkan minyak sayur diatas wajan.
"Tapi Aku tidak mendengarnya tuh ...." Alex sudah berdiri disamping istrinya yang begitu fokus dengan kegiatan memasaknya. Ia diabaikan. Mood Alex langsung memburuk hanya karena hal kecil itu. Ia ingin diperhatikan.
"Wallaikumsalam. Sudah dengar, kan?" ulang Pandan cuek. Alex memutar bola matanya malas, ia baru pulang. Tapi Pandan malah sibuk dengan aktivitas memasaknya dan tak menyambutnya sama sekali, bahkan menoleh padanya pun tidak semenjak tadi. Padahal ia sudah membayangkan hal yang indah-indah dalam perjalanan tadi. Mengingat semalam, Pandan begitu ekspresif, tersenyum manis bahkan tertawa. Namun nyatanya, kini ia masih saja disuguhkan wajah datarnya yang menyebalkan itu. Sabar Alex ... Pandan memang begitu ..., hibur suara hatinya.
"Pandan, suamimu baru pulang ...." Alex memberi kode-kode.
"Lalu?" Pandan memasang wajah masa bodohnya.
Alex manyun, memandang kesal istrinya. Ya ampun ... apa wajan itu lebih ganteng dari wajah suamimuuu inii,Pandannn??? Astaga ... sekarang kamu bahkan membuat suamimu sendiri cemburu dengan wajan jelek itu, kesal Alex dalam hati, karena Pandan tak kunjung menoleh padanya.
"Tidak ... tidak ada. Teruskan saja memasaknya, tidak usah pedulikan aku ...." Alex hampir saja pergi saking dongkolnya karena Pandan terus mengacuhkannya. Namun belum sempat ia melangkah, ia merasakan satu tangannya ditahan oleh seseorang.
Alex menoleh. Matanya tertuju pada tangan Pandan yang mengecilkan suhu temperatur kompor lalu beralih pada wajah tenang yang mendekat kepadanya itu. Detik berikutnya wajah cantik itu sudah mendekat kepadanya dan sebuah kecupan lembut mendarat dibibirnya untuk beberapa saat.
"Selamat datang dirumah, Suamiku." Sebuah senyuman indah terukir diwajah cantik itu. Memperlihatkan gigi kelinci yang membuat Pandan semakin terlihat begitu manis dan cantik. Alex rasanya bisa diabetes jika disuguhkan pemandangan ini setiap hari. Mungkin memang sudah benar sikap Pandan yang hanya memperlihatkan senyuman itu kepadanya disaat-saat tertentu saja. Demi kesehatannya, tentu saja.
Alex lemah. Benar-benar lemah jika menyangkut wanita satu ini. Seberapapun ia ingin mencoba membalas sikap Pandan yang seringkali membuatnya frustasi. Tapi begitu melihat sikap dan senyuman manis gadis itu, hatinya langsung luluh begitu saja. Kemarahan, rasa jengkel, semuanya begitu mudah menguap tergantikan oleh rasa bahagia yang tak bisa ia tutupi. Senyuman itu menyalur kepadanya tanpa bisa ia cegah lagi.
"Pandan ...."
"Hemmm?" Senyuman itu masih tercetak jelas dibibirnya. Astaga ... apa dia bidadari? Bisa jadi bukan ...? Rumah Pandan didesa dekat dengan sungai. Mungkin saja ia bidadari yang pakaiannya dicuri. Sehingga ia tidak bisa kembali ke khayangan dan diangkat anak oleh almarhum kedua orang tuanya itu. Rasanya ia terlalu cantik untuk ukuran gadis desa yang rumahnya bahkan terpencil, jauh dari pemukiman warga. Alex malah sibuk mengkhayal tentang asal-usul Pandan.
"Alex?" panggil Pandan, karena Alex terlihat melamun.
"Hah?" Alex tersadar dari lamunan.
"Kenapa melamun?"
"Tidak. Hanya .... " Alex menjeda kalimatnya, sebelum kemudian menarik tubuh Pandan dalam pelukannya.
"Hanya apa?" tanya Pandan penasaran. Tangannya melingkar membalas pelukan Alex kepadanya.
"Hanya ... memikirkan, kenapa kamu senang sekali mempermainkan emosiku, Pandan Arumi?" Alex menyalurkan rasa geregetannya dengan mengacak rambut panjang Pandan yang terurai sebatas pinggang itu.
"Alex, jangan ...." Pandan merajuk. Alex tertawa senang jika melihat Pandan mulai berekspresi seperti ini. Membuatnya semakin gemas saja.
"Aku harus memasak," ucap Pandan, kembali pada kegiatan memasaknya yang tertunda.
"Ada yang bisa ku bantu?" Alex menawarkan diri.
"Tidak ada. Sebentar lagi juga selesai," tolak Pandan halus. Ia ingin Alex beristirahat saja atau mandi, karena ia ingin menjadi istri yang baik dengan tidak merepotkan suaminya.
"Kalau begitu. Aku membantu menguncir rambutmu saja, bagaimana ...?" Alex terlalu dimabuk asmara kini. Hingga tak ingin berjauhan dari istrinya itu.
"Terserah saja." Pandan pasrah. Ia tak tega untuk menolak.
Alex melepas tali dari rambutnya. Lalu menggunakannya untuk menguncir rambut panjang Pandan dengan begitu cekatan dan rapi. Sementara Pandan sibuk menumis bawang putih juga daging cincang diatas wajan.
"Wahh ... cantiknya istriku." Alex memuji hasil karyanya yang membuat Pandan terlihat semakin cantik, menurutnya sendiri ( Hihi ). Bisa ditebak, Pandan sama sekali tak merespon pujian tulusnya. Wajahnya tetap tenang meski hatinya sejujurnya berbunga-bunga mendengar pujian suaminya.
"Pandan." Alex mengecup singkat pelipis istrinya yang masih saja sibuk itu.
"Hemm?"
"Apa kamu anak angkat?" tanya Alex tanpa maksud tertentu. Ia hanya ingin mengeluarkan gombalannya saja untuk sang istri.
Namun justru pertanyaannya itu membuat Pandan terlihat terkejut dan menghentikan gerakan tangannya yang tengah mengaduk masakan. Alex menyadari perubahan mimik wajah Pandan itu. Apa ia salah bicara? Alex tiba-tiba merasa bersalah sudah memberikan pertanyaan itu.
"Kenapa bertanya begitu?" tanya Pandan, menatap Alex penuh tanda tanya.
"Ah haha tidak ...." Alex berusaha menguasai diri. "Aku hanya berpikir, mungkin saja kamu bidadari yang tidak bisa naik ke khayangan dan diangkat anak oleh almarhum kedua orang tuamu ... aku rasa kamu terlalu cantik untuk ukuran ma-nu-sia ...." Alex memilih jujur saja.
Pandan tercengang.
Hening.
Detik berikutnya tawa Pandan pecah. Benar-benar pecah, lepas sampai membuat Alex termangu ditempatnya berdiri kini.
Ini untuk pertama kalinya. Ia melihat Pandan tertawa seperti itu. Gadis itu sampai memegangi perutnya karena terlalu geli mendengar pujian Alex kepadanya. Ia tak tahu, Alex bisa memikirkan hal manis seperti itu tentang dirinya.
"Alex ...." Pandan mengusap sudut matanya yang berair saking lamanya ia tertawa.
"Aku serius, Pandan." Konyol memang tapi memang jujur itulah yang ia pikirkan tentang istrinya itu tadi.
"Aku mencintaimu ...," ucap Pandan mulai serius. Ia maju dan menghadiahkan lagi sebuah kecupan dibibir suaminya yang nampak tak mempercayai pendengarannya sendiri, bahwa Pandan mengatakan kalimat cinta itu kepadanya.
Pandan tersenyum. Ia memilih jujur. Tak apa ia kalah. Karena mengungkapkan perasaannya lebih dulu. K jalau menunggu Alex ... sampai kapan? Nyatanya Alex bahkan tak berani menciumnya lebih dulu. Harus selalu ia yang memberi kode, baru laki-laki itu berani bertindak lebih.
"Aku rasa ... aku juga merasakan hal yang sama. Aku juga mencintaimu ...." Alex melirik pada masakan Pandan. Ia mengecilkan suhu kompor cepat. Sebelum akhirnya menarik istrinya, merapatkan tubuh mereka. Namun baru saja, ia ingin menyambar bibir istrinya ...
Suara bel berbunyi, menggagalkan aktivitas panas yang baru saja ingin ia mulai. ASTAGA ... SIAPA LAGI YANG BERTAMU SESORE INI??? Alex tertunduk lemas.
"Kalau Ibra lagi yang datang ... aku rasa aku bisa membunuhnya," geram Alex frustasi menahan gairahnya yang memuncak. Pandan hanya bisa tersenyum melihat ekspresi kesal suaminya itu.
Kira-kira siapa yang datang kali ini ya?
***
Gak berani baca ulang kalau adegan gini. Semoga gak aneh dan typo dah 😆😆😆
Yang mau LIKE KOMEN VOTE ...
Semoga rezekinya lancar tumpah ruahh kemana-mana ... 😆😆😆😆😗😗😗