NovelToon NovelToon
Cerita Angga'S

Cerita Angga'S

Status: tamat
Genre:Romantis / Badboy / Tamat
Popularitas:4M
Nilai: 5
Nama Author: fitTri

Warning!! bijaklah dalam memilih bacaan.

Anggara hanya ingin terbebas dari belenggu keluarganya. Dia ingin menjalani hidupnya sesuka hati, tanpa aturan apalagi kekangan dari sang ayah yang sangat di bencinya.

Persahabatan dengan Andra membuatnya terjun pada pekerjaan yang yang tak pernah dia bayangkan.

Hingga suatu hari mereka bertemu dengan Maharani, dalam sebuah insiden yang membuat Angga terluka, yang tanpa sadar membuat mereka semakin dekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fikka

*

*

"Kamu dipanggil pak Abdul juga?" Angga yang menemukan Maharani sedang duduk di kursi didepan ruang dekan.

Maharani mengangguk.

Pintu ruangan terbuka. Tampak seorang pria berusia sekitar 50 tahunan berdiri diambang pintu dengan wajah cemberut.

"Masih pagi, pak. Yaelah, ... nggak enak banget mukanya ditekuk gitu?" Angga tanpa canggung.

"Kalian berdua, masuk!" ucap sang dekan dengan nada ketus.

Kedua mahasiswa ini segera memasuki ruangan itu yang kemudian duduk di kursi yang ditunjuk.

"Kamu tahu, Angga ... ini sudah kesekian kalinya kamu bolos. Hampir tidak ada toleransi lagi dari dosen. Mereka sudah tidak mau lagi memberi kamu kesempatan. Saya harus berusaha keras membujuk mereka." Abdul membuka pembicaraan.

"Ya udah kali pak, kalau udah nggak bisa ya jangan dipaksain." Angga dengan santainya, sambil merebahkan tubuh tingginya pada sandaran kursi.

"Saya, kalau nggak lihat ayah kamu, udah saya biarin pihak kampus DO kamu dari tahun kemarin." pak Abdul menjawab.

"Terus?" Angga terkeheh.

"Ditambah Sagara juga, dia yang paling sering menelfon saya, bertanya soal kamu. Minta tolong juga supaya kamu jadi pengecualian."

"Nggak usah dengerin mereka, pak. Nggak apa-apa kok. lagian saya udah males belajar mulu. Pusing kepala saya."

Abdul menghela napasnga pelan. Pemuda didepannya ini sudah tak peduli apapun.

"Saya kasian sama ayah dan kakak kamu. Mereka tuh peduli sama kamu. Tapi kamunya malah gini." Abdul mengeluh.

"Nggak usah kasian sama mereka, pak. Mereka banyak duit, usahanya dimana-mana. Yang mestinya bapak kasihanin itu saya, saya tersiksa mesti kuliah di jurusan yang saya nggak bisa." lagi-lagi Angga dengan santainya

Abdul kembali menghela napas pelan, "Nggak tahu lagi saya harus gimana sama kamu. Ini hampir satu tahun setengah lagi sampai kelulusan. Kalau kamu nyerah sekarang, sayang uang yang sudah mereka keluarkan."

"Lah, duit mereka banyak pak. ini mah bukan apa-apanya."

Abdul menggelengkan kepala.

"Dan kamu, Rani?" kini pria itu beralih kepada Maharani.

Gadis itu mendongak.

"Kemarin kamu kemana? kamu baru satu hari masuk, kok bisa bolos? ini bisa jadi masalah serius buat kamu."

"Saya, ...."

"Kemarin dia bareng saya pak." Angga menyela.

Abdul tertegun.

"Benar begitu, Maharani?" tanyanya kepada gadis yang duduk menunduk.

"Bener pak." Angga menyela lagi.

Lagi-lagi Abdul harus menghela napasnya dalam-dalam.

"Kamu kalau mau nakal, nakal aja sendiri. Jangan ngajak-ngajak orang lain."

Mereka terdiam.

"Sudah, sana kembali ke kelas. Ini peringatan terakhir buat kamu, Angga. Dan Rani, kamu jangan ikut-ikutan!"

Dan setelah ceramah panjang lebar itu baru mereka berdua diperbolehkan untuk keluar.

Angga tertawa terbahak-bahak sepenjang perjalanan mereka kembali kedalam kelas.

"Angga!" suara melengking dari arah belakang membuat dua orang ini berpaling.

Fikka datang setengah berlari menghampiri.

"Telfon gue nggak lu jawab!" ucapnya setibanya dia didepan pemuda itu.

"Oh, ...?" Angga melongo.

"Lu dipanggil pak Abdul lagi? kenapa?" tanya Fikka.

"Itu, .. biasa lah." jawabnya, agak malas.

Keadaan ini terasa canggung. Mengapa ini rasanya seperti sedang dipergoki tengah berselingkuh?

"Lu katanya magang?" Angga kini bertanya.

Fikka mengangguk, "Belum. Paling mulai bulan depan." gadis itu menjawab.

"Oh, ..."

Fikka tak melepaskan pandangannya dari gadis yang berada disampingnya Angga. Menatapnya penuh curiga.

"Aku duluan." Maharani yang sudah merasa tak nyaman memutuskan untuk pergi.

"Kita bareng." Angga meraih tangan Maharani, menghentikan langkah gadis itu.

"Bentar, Ga. Gue mau ngomong." Fikka menyela kemudian.

"Apa?"

"Ada sesuatu, ..." Fikka menggigit bibirnya kuat-kuat.

"Apa?" Angga bertanya lagi, dengan tangannya yang semakin erat menahan Maharani yang memaksa untuk pergi.

"Bisa kita ngomongnya ditempat lain?" pinta gadis itu, sesekali melirik ke arah Maharani.

"Ngomong aja."

"Gue mau kita ngomongnya berdua. Nggak disini." dia melirik lagi ke arah Maharani.

Angga tertegun. "Penting?" tanyanya kemudian.

Fikka mengangguk.

"Nanti deh, pulang kuliah. Sekarang gue harus masuk dulu."

"Tapi ini, ..."

"Mata kuliahnya bu Tiwi, nih. Tar dia ngomel lagi kalau gue nggak masuk." ucap pemuda itu, lalu pergi meninggalkan Fikka yang tertegun disana, menatap adik kelas tampannya yang berjalan menggandeng tangan seorang gadis lain.

****

"Kamu nanti pulang jam berapa?" Angga membantu melepaskan helm dari kepala Maharani. Mereka tiba di depan swalayan tempat gadis itu bekerja sepulang kuliah.

"Jam sembilan." jawab Maharani, menatap wajah kekasihnya yang terlihat agak serius.

"Nanti aku jemput, ya? maaf hari ini aku nggak bisa bantuin di gudang." ucap Angga, merapikan rambut Maharani yang agak terburai, menyelipkan kebelakang telinganya.

Maharani menggeleng. "Nggak apa-apa. Hari ini nggak datang barang. Aku paling cuma ngecek stok doang."

Angga manggut-manggut.

"Kamu mau ketemu kak Fikka?" Maharani tiba-tiba merasa ingin tahu.

Angga terdiam.

"Nggak apa-apa. Jujur aja. Aku cuma tanya." Maharani menatap dengan mata beningnya.

"Iya. Kayaknya ada yang penting." Angga menjawab.

"Apa?"

"Aku belum tahu. Kan ini baru mau ketemuan." Angga meraih jemari gadis itu yang terasa hangat, merematnya dengan lembut.

"Kamu ada hubungan sama kak Fikka? kalian pacaran?" Maharani bertanya lagi. Dia baru menyadari hal ini. Padahal sebelumnya dirinya sering melihat kekasihnya ini bersama dengan kakak kelasnya.

"Nggak." Angga menggeleng.

"Beneran?"

Angga menganggukkan kepala.

Lalu keduanya terdiam, saling pandang.

"Kamu nggak bohong?" Maharani semakin ingin tahu.

"Nggak. Aku emang nggak pacaran sama Fikka. Biasa aja." Angga menjengit.

"Tapi kemarin-kemarin aku sering lihat kalian barengan?"

"Iya. itu ... mm ..." Angga mengulum bibirnya kuat-kuat.

Masa iya gue harus jujur bilang kalau gue sering tidur sama Fikka?

"Ya udah, aku harus kerja." Maharani melihat layar ponselnya yang menunjukkan pukul dua siang. Berniat masuk kedalam swalayan tersebut sebelum akhirnya Angga kembali meraih lengannya.

"Ya?" Maharani menoleh.

Angga mengerutkan dahi, merasakan kulit lengan gadis itu yang terasa agak kasar, lalu mengalihkan pandangannya kearah lengan yang di genggamnya, yang tertutup kain lengan panjangnya.

Pemuda itu menaikkan kain yang menutupi lengan Maharani, dan matanya membulat seketika dengan apa yang dilihatnya.

Lengan gadis itu penuh dengan bekas luka yang menghitam, dengan garis-garis yang diduga bekas sayatan benda tajam yang sudah mengering.

"Kamu kenapa?" Angga menaikkan kain dilengannya gadis itu. Lalu menatap wajahnya yang kini memucat. Keningnya semakin berkerut.

"Nggak kenapa-kenapa." Maharani mencoba menurunkan lengan panjangnya, kembali menutupi bagian tubuh itu yang selama ini dia sembunyikan. Menarik tangannya dari genggaman Angga.

"Kenapa?" ulang Angga, menarik lengan sebelahnya, dan melakukan hal yang sama, menyingkap kain yang menutupi lengan gadis itu. Dan hal yang sama pun dia temukan. Banyak bekas sayatan, yang ini bahkan terlihat masih baru.

"Kamu kenapa?" Angga bertanya lagi.

"Nggak kenapa-kenapa." Maharani mundur, lalu memutar tubuhnya "Aku mau kerja dulu." buru-buru meninggalkan pemuda itu.

"Ran?" Angga memanggil, namun tak dia hiraukan. Maharani terus saja berlari hingga dia menghilang dibalik pintu gudang swalayan.

Angga tertegun. Dia tak berniat melakukan apapun. Karena dipastikan Maharani takan mau berbicara tentang apapun kepadanya saat ini. Gadis itu benar-benar tertutup.

Lalu dia memutuskan untuk pergi.

*

*

*

"Apa yang mau lu omongin, Fik?" kini mereka duduk berdua di sebuah kafe.

Fikka menatap wajah pemuda dihadapannya dengan pikiran yang kalut.

"Lu bilang tadi mau ngomong, pas udah ketemu malah diem?" Angga kembali berbicara.

"Gue, ..." Fikka merasa tenggorokannya tercekat.

"Apa?"

"Gue, ..." gadis itu menelan ludahnya kasar, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering.

"Lu biasanya kalau ngomong langsung ngomong aja. Kenapa sekarang tiba-tiba ...

"Gue hamil." akhirnya kata itu meluncur dari mulut Fikka.

Angga membeku. Matanya mengerjap dengan lambat.

"What?"

"Gue hamil." ulang Fikka, seraya menyerahkan sebuah alat tes kehamilan kepada Angga, terlihat dua garis merah yang begitu jelas.

"Maksud lu?"

"Gue hamil, Ga. Udah dua bulan." fikka memperjelas kalimatnya.

"Maksud gue, kenapa lu bilang ini sama gue?"

Bibir Fikka bergetar.

"Lu mau gue yang tanggung jawab?"

Fikka menatap wajah pemuda itu dengan mata berkaca-kaca.

"Gue selalu pakai pengaman kalau main sama lu. Jadi nggak mungkin itu punya gue kan?"

"Tapi, Ga, bisa aja kan pengamannya bocor?" Fikka berkilah.

"Nggak mungkin," Angga terkekeh. "Emangnya itu kantong kresek bisa bocor?" ucap pemuda itu.

"Tapi terakhir kita ngelakuinnya lu nggak pake pengaman, Ga." Fikka mengingatkan ketika terakhir kali mereka bergumul.

"Iya, gue inget. Tapi kan itu nggak jadi, gue langsung cabut." tukas Angga. Dia ingat betul bagaimana kejadiannya.

Fikka terdiam.

"Lu mau jebak gue, maksudnya?" Angga mencondongkan tubuhnya ke arah Fikka.

Gadis itu terdiam.

"Lu bilang umurnya udah dua bulan. Sedangkan kita terakhir kali ketemu dan hampir main itu belum sebulan lamanya? nggak mungkin itu anak gue."

"Terus gue mesti gimana?" Fikka kini terisak.

"Ya lu minta tanggung jawab sama cowok yang nidurin lu tanpa pakai pengaman lah. Siapa lagi? masa gue?"

"Tapi, Ga ..."

"Bukan cuma gue yang sering main sama lu kan? Gue juga tahu."

Fikka semakin terisak.

"Siapa yang nidurin lu selain gue?"

Fikka tak membuka mulutnya.

"Kehamilan lu bukan karena gue kan?"

Fikka masih terdiam.

"Jawab!" Angga membentak.

"Bu-bukan." akhirnya gadis itu menjawab.

"Nah, kan?" Angga bersandar pada kepala kursi.

"Terus gue harus gimana?" Fikka mendongak, terlihat matanya yang sembab masih mengalirkan titik-titik air bening.

"Masih tanya harus gimana? ya minta tanggung jawab sama cowok yang hamilin lu lah. Nggak mungkin lu nggak inget siapa orangnya yang nidurin lu tanpa pengaman."

"Gue nggak bisa, Ga."

"Kenapa?"

"Pokoknya gue nggak bisa minta dia tanggung jawab."

"Iya kenapa?"

"Karena ... dia orang di kampus. Udah punya istri."

"What? gila lu?"

Fikka kembali terisak.

"Gue mesti gimana, Ga!" Fikka menutup wajah dengan kedua tangannya.

"Siapa orangnya?" Angga bangkit, membenahi posisi duduknya.

Fikka tak menjawab.

"Gue tanya, siapa orangnya?"

Fikka masih bungkam.

"Dia tahu lu hamil? Lu udah bilang?"

Fikka mengangguk.

"Terus gimana reaksinya?"

"Dia nyuruh gue gugurin."

"Setan!" pemuda itu mengumpat. "Siapa orangnya Fik?" dia kembali bertanya.

Fikka masih terisak, "Pak Irwan."

*

*

*

Astaga!!!

Udahlah, like koment sama vote nya aja dulu... tar emak lanjutin.

1
Ruwi Yah
penasaran tapi menyakitkan setelah tau pekerjaan Angga
Ruwi Yah
luar biasa
Retno Desy (Ning)
Angga disuruh puasa 3 bln sama Rani,,kasian amat 🤣
Retno Desy (Ning)
udah tamat aja
Retno Desy (Ning)
dari hamil sampai lahir begitu berat bgt buat Angga jg Rani..mangkanya setelah Rania lahir JD anak kesayangan papa angga
Retno Desy (Ning)
wong guendeng
Retno Desy (Ning)
kasian si andra🤣
Retno Desy (Ning)
aaaa akhirnya bisa liat jg dan jg berwarna pilih sedia kala😍😍😍😍
Retno Desy (Ning)
😭😭😭
Retno Desy (Ning)
oh tidaaaakkkkk
Retno Desy (Ning)
ya ampun bisa habis itu samponya disuruh mandi berkali²🤣
Retno Desy (Ning)
hadeh kang modus ada aja 🤣🤣
Retno Desy (Ning)
angga posesif bgt sm rani
Retno Desy (Ning)
Angga entar JD besan ya pi😄
Retno Desy (Ning)
aih kangen papi😍
Retno Desy (Ning)
aye..aye..buka puasa jg ya ga🙈😍😄
Retno Desy (Ning)
buset ketemu mantan partner 🤣🤣,
Retno Desy (Ning)
puasa dulu ga,
Retno Desy (Ning)
dasar otak mesum🤣🙈
Retno Desy (Ning)
😭😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!