NovelToon NovelToon
Moonlight Over The Mafia Empire

Moonlight Over The Mafia Empire

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Konflik etika
Popularitas:70.2k
Nilai: 5
Nama Author: Alistia Haka

Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.

Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.

Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.

Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 26

Saat pintu besar menjulang itu dibuka oleh Hank, suasana ruangan langsung terasa menyesakkan. Di balik meja kerja yang luas, Aragon sedang duduk di kursi kebesarannya. Kursi kulit berwarna cokelat gelap itu mengilap di bawah cahaya lampu, tampak begitu mahal dan berwibawa, sama seperti pemiliknya.

Aurora sudah berdiri di tengah ruangan sejak beberapa menit lalu. Kedua tangannya saling menggenggam erat, sementara tatapannya tertuju pada Aragon yang masih sibuk menandatangani beberapa dokumen.

Pria itu akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. Dengan tenang, ia menutup pena mahal di tangannya, lalu mengangkat pandangan.

Tatapan mereka bertemu, membuat Aurora seketika menelan ludah. Tatapan itu begitu kuat dan mengintimidasi. Aura yang benar-benar terbentuk sempurna.

Aragon perlahan bangkit dari kursinya. Jas yang biasa ia kenakan sudah dilepas, menyisakan kemeja hitam dan dasinya yang berwarna senada, dengan lengan yang digulung hingga siku. Otot lengannya yang tegas terlihat jelas, menambah kesan intimidatif yang memang sudah melekat pada dirinya.

Tanpa terburu-buru, Aragon berjalan mengitari meja lalu duduk santai di tepiannya. Kedua lengannya menyilang di dada, sementara kaki jenjangnya terjulur ke depan menyilang.

Namun, justru sikap santai itulah yang terasa jauh lebih menakutkan.

“Jadi…” suara Aragon terdengar rendah, “apa keputusanmu?”

Aurora menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. “Saya…” Ia mengepalkan tangan. “Saya akan membayar ganti ruginya.”

Keheningan langsung mencekam ruangan. Lalu, sebuah senyum tipis, senyum mengejek, terbit di bibir Aragon. Seolah-olah ia baru saja mendengar sesuatu yang sangat lucu.

Di dekat pintu, Hank sampai mengangkat alisnya. Jujur saja, ia sudah yakin Aurora akan menerima kontrak itu.

“Kenapa?” tanya Aragon.

“Saya tidak akan bisa hidup jika kebebasan saya diambil secara sepihak.”

Senyuman Aragon perlahan memudar. “Meski itu berarti harus mengorbankan anak-anak panti?”

Rahang Aurora mengeras. Tatapannya lurus menantang netra Aragon. “Saya tidak mengorbankan mereka. Saya akan membayar semua kerugian yang Anda sebutkan. Saya berterima kasih atas bantuan Anda. Sejak awal, saya memang membutuhkan bantuan itu agar panti asuhan terbebas dari Bulldog.” Aurora menarik napas sejenak. “Setelah itu, urusan kita selesai. Saya akan melunasi utang tersebut secara bertahap. Saya akan bekerja sekeras apa pun, jika perlua saya akan belerja bagai kuda, sampai melunasi semua hutangnya.”

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekik. Lalu….

“Hahaha…”

Tawa Aragon tiba-tiba menggema di seluruh ruangan, membuat Aurora membeku. Hank bahkan terlihat terkejut; sudah lama sekali ia tidak mendengar tuan mudanya tertawa selepas itu.

Aragon berhenti tertawa lalu senyuman sini mengembang di sudut bibirnya, suaranya pelan sambil menatap Aurora, senyuman sinis di wajahnya perlahan lenyap, digantikan oleh kilat mata yang jauh lebih mengerikan.

”Aku bahkan tidak bisa menahan tawa. Jadi, menurutmu sampai sejauh mana ‘kuda’ ini bisa berlari?”

Aurora terdiam.

“Kau tahu nominalnya,” suara Aragon berubah sedingin es. “Bahkan jika kau menjual seluruh orgam tubuhmu saja tidak akan bisa, apalagi hanya sekedar bekerja seumur hidup, atau mengorbankan seluruh waktumu, kau tetap tidak akan mampu melunasinya.”

Aurora menelan ludahnya yang terasa kering.

“Kau pikir aku bercanda? Atau kau sedang meremehkanku?!” Bentakannya mengguncang ruangan, membuat Aurora refleks mundur selangkah.

Aragon berdiri dari tepian meja dengan gerakan perlahan. Namun, justru ritme lambat itu yang membuatnya semakin menakutkan. “Sepertinya aku terlalu lunak.”

Ia mulai berjalan mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Aurora merasakan lututnya melemah.

“Tapi bagaimana ini? Kau sudah melihat terlalu banyak. Sudah mendengar terlalu banyak,” suara Aragon terdengar rendah. “Sekarang aku bahkan sedang memikirkan apa yang harus kulakukan padamu. Apa aku harus membiarkanmu pergi? Atau…” Pria itu berhenti tepat di depan Aurora, lalu berbisik, “…menghilangkanmu?”

Aurora merasa seluruh darah di tubuhnya membeku. Kakinya gemetar hebat hingga ia tidak yakin masih mampu berdiri.

“Anda memang sengaja! Anda sengaja membagikan rahasia anda kepada saya! Ini memang jebakan yang anda buat!”

Aragon membungkukkan tubuhnya sedikit. Jarak mereka kini begitu dekat, hingga tatapan tajam pria itu seakan mampu menembus seluruh keberanian yang tersisa di dalam diri Aurora.

“Pintar. Jadi tanda tangani.” Perintah Aragon.

”Anda monster gila!” Umpat Aurora dengan gemetar.

“Sepertinya aku memang terlalu lunak. Aku tidak suka dipermainkan,” desis Aragon, suaranya terasa seperti pisau yang menggores perlahan.

Aurora menggigit bibir bawahnya, menahan tangis sekaligus ketakutan. “Jadi benar… Anda memang tidak pernah memberi saya pilihan. Tetap saja saya harus menyetujui kontrak itu, bukan?”

Untuk sesaat, tidak ada yang menjawab.

Lalu, Aragon mengangkat tangannya. Jemari panjangnya meraih dagu Aurora dengan teramat mudah. Dagu mungil itu nyaris tenggelam sepenuhnya dalam genggaman tangan besar Aragon.

Aurora membeku saat pria itu memaksa wajah Aurora untuk mendongak, mengunci tatapan mereka agar tidak ada lagi tempat untuk menghindar.

Dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Aurora meremang, Aragon berkata, “Kalau kau sudah memahami situasinya… maka berhentilah melawan.”

Aragon kian mempersempit jarak di antara mereka, sebelum melontarkan kalimat yang membuat kedua mata Aurora membelalak sempurna.

“Tanda tangani kontraknya, lalu lahirkan seorang pewaris untukku.”

Aurora membeku. Beberapa detik berlalu, tetapi otaknya seolah menolak memproses kalimat yang baru saja didengarnya.

“Lahirkan… apa?”

“Pewaris,” jawab Aragon datar, seolah sedang membicarakan jadwal rapat kerja.

Aurora berkedip sekali. Dua kali. Lalu…

“PEWARIS?!” pekik Aurora frustrasi. “Waktu saya membaca kontraknya, tidak ada pasal tentang anak!”

“Itu karena aku belum menambahkannya.”

“ANDA MAU MENAMBAHKANNYA?!”

“Ya.”

Kedua mata Aurora membelalak tak percaya. Rahangnya mulai terasa sakit karena cengkeraman tangan Aragon yang masih menahan dagunya.

“S-sakit…” bisiknya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Aragon langsung melepaskan pegangannya. Pria itu menatap Aurora beberapa saat, lalu berkata dingin, “Aku bahkan tidak benar-benar menggunakan tenagaku. Dan tubuh serapuh ini yang kau bilang akan bekerja keras bagai kuda?”

Aurora menelan ludah. Tatapan pria itu terasa begitu menekan hingga membuat napasnya kian sulit teratur.

Aragon melangkah maju perlahan. Aurora refleks mundur satu langkah, dua langkah, hingga jarak di antara mereka semakin menyempit. Pria itu tampak persis seperti pemangsa yang sedang menyudutkan buruannya.

“Anda tidak bisa memaksa saya menjual kebebasan saya kepada Anda!” seru Aurora, dadanya naik-turun menahan emosi. “Anda bahkan meminta saya memiliki anak? Membayangkan hidup bersama Anda saja sudah membuat saya sulit bernapas!”

Untuk pertama kalinya, ekspresi Aragon berubah sedikit. Wajh itu nampak terkejut. Namun, Aurora tidak peduli. Ia segera berbalik dan berjalan cepat menuju pintu keluar.

Hank yang berdiri di dekat sana tetap tenang, tidak bergerak atau berniat menghalanginya sedikit pun.

Aurora meraih gagang pintu besar itu, lalu menariknya dengan paksa.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Namun, pintu itu tidak bergeming.

“Apa…?” Aurora menariknya lagi, tetapi tetap tidak terbuka. “Kenapa tidak bisa dibuka?!”

“Karena sistem penguncinya hanya bisa diakses oleh saya dan Tuan Aragon,” sahut Hank tenang.

Aurora langsung menoleh, menatap Hank dengan pandangan yang dipenuhi kemarahan dan frustrasi.

“Dasar si kaki tangan!” Umpat geram Aurora.

Bersambung

1
Rainn G.
Mainan hank ini 😂
Anggitadama
dyaarr!!! perang
Anggitadama
kak lanjut
Luna.aluna
ARAGON AKU SUDAH MEMBERIMU HATI SEBANYAK MUNGKIN TOLONG JANGAN KECEWAKAN AKU😂😍
Luna.aluna
Iya mas zaya tahu saya tahu
Luna.aluna
Tukeran dah Aurora aku jadi kamu ☺️☺️☺️
Rainn G.
Kenapa ga dari tadi kata si hank 😭
Lanjut kak jangan di gantung
Rainn G.
Habis bulldog terbitlah aragon 😭 tapi ya mending aragon sih kemana-mana 😂
Rainn G.
😭🤣
Rainn G.
Rese emang kaya tuannya 11 12🗿🏃‍♀️‍➡️
Rainn G.
Omagatttt
Arumi Hanza
Aragon kayak lagi di wawancara 😄
Arumi Hanza
Cepat thor bikin aurora setuju
bvdy13
upp
bvdy13
next
pasya2007
lnjut
ifran 024
next yg banyak thoorr
ifran 024
seruuu
Aswatadhi
lnjut
Aswatadhi
cm aurora yg brani mendellik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!