Seraphine merupakan anak adopsi dari keluarga besar Vane. Sera mendapatkan perlindungan total dan kemewahan, tetapi ia mungkin kehilangan kebebasannya. Sang kakak, Alaric Vane telah merencanakan segalanya agar Sera tidak pernah lepas darinya, protective yang mengubahnya menjadi obsesi. Perasaanya bukan hanya sebatas kakak pada ‘adik’ namun lebih dari itu. Demi keluar dari sangkar emas keluarga Vane, Sera memilih bersekolah di imperial royal, Veridion Academy. Tidak main-main, ia enggan merepotkan keluarga Vane. Sera membuktikan mampu mengambil jalur beasiswa penuhnya. Tanpa disadari ini menjadi hal pembullyan disekolahnya. Demi dapat sekolah dengan nyaman hingga kelulusan, Seraphine bertemu dengan Yunkai Shenzar. Bangsawan berdarah biru murni, seorang Pangeran yang sedang bertaruh akan tahtanya setelah kelulusan sekolah. Dari musuh menjadi kekasih. Mereka menjalin aliansi, kerja sama saling memanfaatkan. Seraphine enggan bernaung pada keluarga Vane memilih memanfaatkan kekuatan mutlak sang Pangeran. Yunkai sendiri tahu siapa jati diri Sera sebelum diadopsi, dan memanfaat Sera untuk membuat tuan besar Vane menyokong dirinya menaiki tahta kerajaan. Sera tidak tahu siasat itu justru membawanya terjerumus terlalu dalam membentuk hubungan yang lebih serius dan kekacauan besar antara Tuan besar Vane dengan anaknya, Alaric Vane. Kini, Sera terjebak di antara dua kekuatan besar: obsesi Alaric yang menyesakkan atau cinta sang pangeran yang menawarkan kebebasan namun penuh risiko politik. Di antara bayang-bayang masa lalu keluarga Vane dan kemilau mahkota kerajaan, siapakah yang akhirnya akan dipilih oleh Sera?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Sera
Tak lama kemudian, pintu kaca bergeser terbuka. Udara dingin pegunungan kembali menyusup masuk sebelum Yunkai menutupnya rapat.
Yunkai melangkah masuk, memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Ekspresi wajahnya sudah kembali tenang dan terkendali, tipe wajah topeng yang biasa ia gunakan di depan publik. Namun, begitu manik mata gelapnya bersitatap dengan Sera, kilatan intensitas itu kembali hadir.
"Apa ada hal penting?" tanya Sera membuka suara dengan memainkan handphonenya, berusaha terdengar acuh dan profesional.
Yunkai tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di sofa yang sama dengan Sera—namun kali ini, ia sengaja mengambil posisi di ujung sofa yang berlawanan, menjaga jarak sekitar satu meter seperti yang pernah diminta Sera.
"Hanya laporan rutin,” jawab Yunkai santai, meski matanya tetap mengunci wajah Sera, memperhatikan pipi gadis itu yang masih menyisakan rona kemerahan. "Kau matikan kompornya?"
"Aku tidak mau pondok ini kebakaran karena kecerobohanmu meninggalkan masakan," ketus Sera masih fokus pada handphonenya, sukses mengembalikan dinding pertahanannya.
Yunkai terkekeh rendah. Suara tawa baritonnya terdengar lega, seolah ia bersyukur Sera sudah bisa kembali "menyerangnya" dengan kata-kata tajam.
“Kenapa handphone ku tidak ada sinyal? Dan kenapa kau bisa—“
“Sudah kukatakan, ini wilayah ku. Segala bentuk kontak luar akan terputus. Hanya aku yang dapat terkoneksi dengan dunia luar.”
Sera terdiam menatap layar ponselnya yang mulai redup. Bukan karena takut berada ditempat itu berdua ‘terkunci’ bersama seorang pria. Yang ia khawatirkan justru sosok pria diluar sana yang menunggu kabar dirinya.
“Tenanglah. Alaric sedang disibukkan dengan masalah yang lebih berat. Perbuatan mu menggunakan nama Mourn untuk membantu keluarga Gilly, membuat kakak mu harus bekerja mati-matian menutup akses agar tidak tersebar luas.” Jelas Yunkai seakan tahu isi pikiran gadis dihadapannya.
“Berhentilah memikirkan hal lain saat disini Sera, kau mengacaukan peraturan hari ini.” Kesal Yunkai beranjak berdiri, “taruh lagi handphone mu, kita akan pergi.”
Lanjutnya mengulurkan tangan kanannya di depan Sera.
Sera terdiam sesaat menatap tangan besar itu. Ada keraguan yang menggelitik benaknya. Menyerahkan tangannya pada Yunkai berarti membiarkan pria itu menuntunnya masuk lebih dalam ke dalam dunianya.
Namun, mengingat bagaimana Yunkai menghormati batasannya semalam dan bagaimana pria itu mengontrol dirinya di dapur tadi, Sera memutuskan untuk memberi sedikit kelonggaran. Lagipula benar kata Yunkai, Sera butuh waktu menyegarkan pikirannya dari segala bentuk tekanan yang akan ia hadapi kembali nanti.
Sera tidak menyambut uluran tangan itu secara dramatis. Ia hanya berdiri, mengabaikan tangan Yunkai, lalu berjalan mendahuluinya menuju pintu keluar. "Jangan banyak bicara. Cepat tunjukkan jalannya."
Yunkai menarik kembali tangannya tanpa rasa kecewa. Ia justru tersenyum tipis, sangat mengenali tabiat gadis itu yang gengsi setengah mati.
Mereka berjalan keluar menuju bagian belakang pondok kayu. Di sana, sebuah jalan setapak yang terbuat dari susunan batu alam mengarah turun ke sebuah area lembah tersembunyi. Begitu sampai di ujung jalan, mata Sera membelalak takjub.
Di hadapannya membentang sebuah danau kecil yang airnya begitu jernih hingga memantulkan warna langit biru dan hijau pohon pinus di sekelilingnya. Kabut tipis masih mengapung di atas permukaan air, menciptakan pemandangan yang luar biasa sinematik dan sunyi. Di tepi danau, sebuah dermaga kayu kecil tampak sepi, dengan sebuah perahu dayung tua yang tertambat di sana.
"Indah, bukan?" suara Yunkai memecah keheningan dari samping Sera. Pria itu menatap lurus ke danau, membiarkan angin gunung menerpa rambutnya. "Tempat ini milik mendiang ibuku. Tidak ada satu pun orang istana yang tahu keberadaan tempat ini, selain aku. Dan sekarang, kau."
Sera tertegun. Ia menoleh menatap profil samping Yunkai. Ada gurat kesedihan yang samar di mata pria itu saat menyebut ibunya. Fakta bahwa Yunkai membawanya ke tempat wisata emosional ini membuat benteng di hati Sera bergetar hebat.
"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Sera lirih, kali ini kehilangan nada dinginnya.
Yunkai memalingkan wajahnya, menatap Sera dengan tatapan yang begitu lembut hingga membuat napas Sera kembali tercekat. Pria itu mengambil satu langkah maju, mengikis jarak di antara mereka hingga ujung sepatu mereka bersentuhan.
"Karena di sini, aku bukan seorang Pangeran yang sedang memburu sekutu," bisik Yunkai parau. Tangan besarnya bergerak pelan, menyentuh pipi Sera dengan punggung jarinya, begitu hati-hati seolah Sera adalah barang pecah belah yang berharga. "Dan di sini, kau bukan bayang-bayang yang harus bersembunyi, Seraphine. Aku ingin kau melihatku... yang sesungguhnya."
Sera terpaku di tempatnya. Sentuhan di pipinya terasa begitu hangat di tengah udara dingin pegunungan. Kali ini, tidak ada telepon yang berbunyi, tidak ada distraksi dari apapun. Hanya ada kejujuran yang telanjang di antara mereka, menuntut Sera untuk membuat pilihan: terus menarik ulur, atau membiarkan dirinya jatuh ke dalam dekapan Sang Pangeran.
"Tempat ini indah, Yunkai. Sungguh," ucap Sera, suaranya terdengar tenang namun ada jarak yang kembali terbentang di sana. "Dan aku menghargai kau membawaku ke tempat ibumu. Tapi... melihatmu yang sesungguhnya tidak akan mengubah kenyataan tentang siapa kita di luar tempat ini. Terlebih kau, seorang Pangeran agung, pewaris utama.”
Yunkai tidak melepaskan tatapannya. Ada kilat kekecewaan yang melintas cepat di matanya, namun ia tidak terkejut. "Kau selalu tahu cara merusak suasana, Seraphine."
"Aku hanya realistis," sahut Sera, memalingkan wajahnya ke arah danau untuk menghindari tatapan mengintimidasi pria itu. "Jika aku terlalu terbiasa dengan kelembutanmu di sini, aku takut aku akan lengah saat kita kembali ke dunia nyata. Dan kau tahu sendiri, lengah di sekitarmu adalah hal yang berbahaya."
Yunkai terdiam, memandangi profil samping Sera yang tampak begitu rapuh namun keras kepala di saat yang bersamaan. Gadis ini terlalu sering terluka oleh pengawasan dan ekspektasi orang-orang di sekitarnya, hingga ketulusan pun dianggapnya sebagai ancaman.
Bukannya menjauh, Yunkai justru terkekeh rendah. Ia melangkah ke samping Sera, ikut menatap hamparan air danau yang tenang.
"Kau benar-benar tidak mau rugi, ya?" ujar Yunkai, nadanya kembali santai, menyembunyikan gejolak frustrasi di dadanya. "Bisakah saat bersama ku kau tidak menghitung untung dan rugi, waktu kita hanya sebentar. Apa kau tidak bisa bersikap tenang dan menikmati.”
Sera meliriknya dari sudut mata, bibirnya berkedut menahan senyum. "Aku tidak bilang aku tidak menikmati hari ini.”
"Baguslah," Yunkai tiba-tiba meraih pergelangan tangan Sera—menghindari jarinya yang terluka—dan menariknya pelan menuju dermaga kayu. "Karena kita akan naik perahu itu. Jangan lagi merusak suasana dengan kekakuan mu itu.”
Sera terpaksa mengikuti langkah lebar Yunkai, merasakan kehangatan tangan pria itu yang menggenggamnya erat. "Kau bisa mendayung? Jangan sampai kita tenggelam, Pangeran."
"Kalau kita tenggelam, aku pastikan aku akan memelukmu erat agar kita mati bersama," balas Yunkai asal, melompat turun ke atas perahu dayung tua dengan gerakan yang sangat tangkas.
Sera mendengus, namun jantungnya kembali berdegup kencang mendengar kalimat frontal pria itu. Yunkai berbalik, berdiri di atas perahu yang sedikit bergoyang karena beban tubuhnya, lalu mengulurkan kedua tangannya ke atas, bersiap membantu Sera turun.
"Kemari, Sera. Pegang pundakku," titah Yunkai, matanya menatap Sera dengan binar menantang.
Sera menatap perahu yang bergoyang di atas air jernih itu dengan ragu. Mau tidak mau, ia melangkah ke tepi dermaga. Ia meletakkan kedua tangannya di atas bahu kokoh Yunkai, sementara tangan besar Yunkai langsung mencengkeram pinggangnya untuk menahan keseimbangan.
Begitu kaki Sera menapak di lantai perahu, goyangan air membuat tubuhnya limbung ke depan.
Grep.
Sera jatuh tepat di dalam dekapan Yunkai. Wajahnya menabrak dada bidang pria itu, menghirup aroma parfume yang kini terasa begitu familiar. Kedua tangan Yunkai mengunci pinggangnya erat, memastikan gadis itu tidak terjatuh.
Mereka kembali berada dalam posisi yang terlalu dekat. Dada mereka naik turun seirama, saling merasakan detak jantung satu sama lain yang berdegup liar. Sera mendongak, dan matanya langsung terkunci pada manik mata gelap Yunkai yang kini menatapnya dengan lapar—hasrat yang sempat tertahan di dapur tadi mendadak kembali meletup ke permukaan.
Bip. Bip. Bip.
Disaat bersamaan smartwatch yang melingkar di pergelangan tangan Sera, berbunyi cepat mendeteksi lonjakan aktivitas kardio yang tidak biasa. Di layarnya yang menyala terang, angka heart rate (detak jantung) Sera melesat naik, berkedip-kedip memperlihatkan angka yang tidak karuan.
Yunkai melirik sekilas ke arah pergelangan tangan Sera, lalu senyum jahil yang menawan terbit di bibirnya. Ia menunduk, menatap Sera yang kini mulai panik.
“Jantungmu berdetak sangat cepat, Sera. Kau gugup karena aku,” bisik Yunkai, nada suaranya terdengar sangat puas.
Wajah Sera langsung memanas. Ia berusaha mempertahankan harga dirinya yang setinggi langit. “Apa maksudmu? Aku tidak gugup!” sanggah Sera cepat, meski suaranya sedikit meninggi karena tertangkap basah. “Aku hanya kaget karena hampir jatuh tadi. Itu saja!”
Sera meletakkan kedua telapak tangannya di dada bidang Yunkai, mencoba mendorong pria itu menjauh. Namun, alih-alih melepaskannya, Yunkai justru mempererat pelukannya di pinggang Sera, mengunci tubuh gadis itu agar tetap menempel padanya. Perahu mereka kembali bergoyang pelan akibat penolakan Sera.
Yunkai terkekeh rendah. Ia sangat tahu sifat Sera yang keras kepala—gadis yang selalu menutupi perasaannya dan enggan mengakuinya terlebih dahulu.
"Perahunya goyang, Sera. Kalau kau bergerak sedikit saja, kita benar-benar akan jatuh ke air," bisik Yunkai, suaranya berat dan penuh intrik, sengaja mencari alasan untuk terus memeluknya.
Sera menahan napas, tangannya yang berada di bahu Yunkai perlahan meremas sweater pria itu. "Kalau begitu... jangan bergerak," tantang Sera lirih, matanya melirik turun ke bibir Yunkai yang berjarak sangat dekat.
Ketegangan di antara mereka kembali memuncak, siap meledak di atas danau yang sunyi itu.