Di kehidupan pertamanya, Valerie Vespera mati sebagai pecundang. Sebagai putri kandung konglomerat Elrod yang tertukar sejak bayi, dia malah dibuang ke gudang pengap demi menjaga perasaan si anak angkat palsu yang manipulatif. Tiga tahun dia habiskan mengemis kasih sayang, hingga akhirnya mati dikhianati.
Kini, takdir memutar kembali jarum jam. Valerie terbangun di hari penjemputannya di usia 18 tahun. Namun, Valerie yang naif telah mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: MENTAL SANG KONGLOMERAT RUNTUH
Bab 24: Mental Sang Konglomerat Runtuh
Keheningan yang mencekam menyelimuti Grand Ballroom Hotel Mulia, sebuah kontras yang sangat tajam dengan dentuman musik orkestra yang masih menggema di sudut-sudut ruangan, seolah-olah irama klasik itu kini berubah menjadi alunan lagu pengiring pemakaman bagi sebuah dinasti yang baru saja sekarat. Di atas panggung utama, di bawah sorotan lampu kristal yang tadinya dirancang untuk menonjolkan kemegahan, Gilbert Elrod tidak lagi terlihat seperti seorang konglomerat yang ditakuti oleh para rival bisnisnya. Ia tampak seperti kerangka manusia yang kehilangan jiwanya. Nafasnya mulai memburu, pendek dan tidak teratur—suara wheezing yang kasar terdengar melalui mikrofon yang masih menyala, memenuhi seluruh penjuru ruangan dengan suara kepanikan yang paling murni, suara kejatuhan yang tak terelakkan.
"Tidak mungkin... ini tidak mungkin terjadi. Ini skenario yang salah," gumam Gilbert, suaranya pecah, tidak lagi memiliki wibawa yang biasanya mampu membungkam ruang rapat mana pun. Matanya liar menatap layar ponselnya yang kini mati total, seolah mencari jawaban di balik kaca hitam yang sudah tidak memberikan kehidupan bagi bisnisnya.
Tiba-tiba, ia mencengkeram dadanya sendiri dengan kedua tangan yang gemetar hebat, seolah ingin merobek tulang rusuknya sendiri untuk memberikan ruang bagi paru-parunya yang seakan mendadak kaku. Wajahnya yang tadi pucat kini berubah menjadi keunguan karena kesulitan bernapas. Sebuah serangan kecemasan hebat—panic attack yang dipicu oleh akumulasi stres, ketakutan akan kebangkrutan, dan rasa malu yang tak terkira—telah menghantam sarafnya. Ia tersungkur ke lantai panggung yang berlapis karpet sutra mahal, tubuhnya berguncang hebat, sebuah pemandangan yang sangat memalukan bagi seseorang yang selama ini mendaku sebagai penguasa pasar properti ibu kota. Pria yang tadi berjanji akan memberikan masa depan cerah, kini tergeletak seperti rongsokan di depan tamu-tamu terhormatnya.
"Papa!" Alethea berteriak histeris, suaranya melengking menembus batas kesadaran para tamu. Gaun mewahnya tersangkut di kaki meja saat ia berlari menuju panggung, diikuti oleh Victoria yang wajahnya pucat pasi, kehilangan seluruh keanggunannya. Victoria tidak lagi terlihat seperti nyonya besar yang angkuh, melainkan seorang wanita yang dunianya sedang runtuh di depan mata. "Medis! Panggil tim medis sekarang juga! Apa kalian semua bodoh? Lakukan sesuatu!" teriaknya kepada para staf hotel yang mematung.
Namun, tidak ada yang bergerak. Para tamu undangan, yang dulunya memperebutkan perhatian keluarga Elrod, kini justru menjauh secara perlahan, menciptakan lingkaran kosong di sekeliling panggung. Mereka tidak ingin dikaitkan dengan pria yang sebentar lagi akan menjadi subjek berita kriminal nasional. Mereka tidak ingin terseret dalam pusaran kehancuran yang sudah sangat nyata. Reputasi adalah mata uang yang paling berharga di dunia ini, dan bagi para elit yang hadir, keluarga Elrod baru saja mengalami devaluasi total hingga ke titik nol.
Valerie Vespera, di sisi lain, berdiri dengan tenang di sudut ruangan yang paling remang. Ia baru saja meminta pelayan yang lewat untuk memberinya segelas air putih dingin. Ia menyesapnya dengan sangat anggun, menikmati setiap detak jantung yang berpacu di ruangan itu seolah itu adalah alunan musik klasik yang paling ia nikmati. Di matanya, pemandangan Gilbert yang merintih di lantai panggung bukanlah tragedi, melainkan sebuah bentuk keadilan yang sangat puitis dan memuaskan.
Ia melihat Victoria yang kini berlutut di samping suaminya, mencoba menepuk-nepuk pipi Gilbert yang tidak merespons, sementara Alethea menangis tersedu-sedu sambil memanggil nama ayahnya dengan suara yang semakin sumbang. Valerie mengingat kembali momen sepuluh tahun lalu, saat ia menangis di lantai gudang yang sama, memohon sedikit perhatian dan kasih sayang setelah ia difitnah melakukan kesalahan yang tidak pernah ia perbuat. Saat itu, mereka tertawa. Saat itu, mereka menganggap penderitaan Valerie sebagai lelucon yang tidak penting. Malam ini, mereka yang menangis. Malam ini, mereka yang merintih. Dan yang paling menarik, malam ini, tidak ada yang peduli pada mereka.
"Lihatlah dirimu, Gilbert," bisik Valerie pelan, hanya untuk dirinya sendiri, suaranya tersembunyi di balik kekacauan. "Kau membangun gedung-gedung tinggi, kau mencakar langit dengan keserakahanmu, tapi kau tidak pernah membangun pondasi untuk kemanusiaanmu sendiri. Sekarang, bahkan beton di Sudirman tidak bisa menahanmu agar tidak jatuh ke jurang yang kau gali sendiri."
Kepanikan di dalam ruangan mencapai puncaknya ketika para jurnalis yang tadi sempat tertahan di luar lobi akhirnya berhasil menembus barikade keamanan. Mereka mencium aroma berita terbesar tahun ini, aroma darah finansial yang segar. Kilatan cahaya lampu kamera mulai menyambar-nyambar dari segala arah, mengabadikan setiap detik keruntuhan keluarga Elrod. Foto Gilbert yang tersungkur, Victoria yang kehilangan kendali, dan Alethea yang hancur berantakan—semua itu akan menjadi tajuk berita utama besok pagi di semua portal berita bisnis dan gosip nasional. Setiap jepretan kamera adalah paku terakhir yang menghantam peti mati reputasi mereka.
"Tolong, hentikan! Jangan memotret! Ini privasi keluarga!" teriak Victoria kepada para jurnalis, namun seruannya hanya dibalas dengan lebih banyak lagi kilatan cahaya yang kejam. Para jurnalis tidak datang untuk mencari privasi; mereka datang untuk mendokumentasikan sebuah sejarah keruntuhan.
Valerie meletakkan gelas air putihnya di atas meja kecil di dekatnya. Ia menatap ke arah panggung untuk terakhir kalinya. Perlawanan keluarga Elrod telah usai bahkan sebelum perang yang sesungguhnya dimulai. Malam ini, ia tidak hanya meruntuhkan bisnis mereka; ia meruntuhkan citra diri mereka, martabat mereka, dan masa depan mereka yang palsu. Ia memenangkan permainan ini dengan cara yang paling telak.
Ia berbalik, berjalan membelah kerumunan orang yang sedang panik. Tidak ada seorang pun yang menyadari keberadaannya. Ia bukan lagi ancaman bagi mereka, ia hanyalah sosok asing yang tak berarti di antara tamu-tamu elit yang sedang sibuk menyelamatkan kepentingan mereka masing-masing. Dan justru itulah kekuatannya. Mereka tidak tahu bahwa wanita yang baru saja mereka hina sebagai "gadis miskin dengan sweter biru" adalah orang yang baru saja melenyapkan seluruh dinasti Elrod dalam satu malam. Tidak ada yang akan percaya jika seseorang mengatakan bahwa dialah arsitek di balik kehancuran ini.
Di saat Victoria dan Alethea sibuk meratapi kondisi Gilbert yang akhirnya dilarikan keluar ruangan dengan tandu oleh tim medis hotel, Valerie sudah sampai di pintu keluar utama. Udara malam Jakarta menyambutnya, terasa begitu manis, segar, dan penuh dengan aroma kebebasan. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan kelegaan yang luar biasa, seolah beban yang menghimpit pundaknya selama sepuluh tahun terakhir baru saja diangkat dan dibuang ke tempat sampah. Bagian pertama dari dendamnya telah tuntas dengan hasil yang melampaui ekspektasinya.
Sekarang, tidak ada lagi penghalang. Ia bukan lagi Valerie Elrod, si anak angkat yang tidak diinginkan dan dipaksa tidur di gudang. Ia adalah Valerie Vespera, pemilik Pecunia Corp, sang kaisar bayangan yang siap mengambil alih sisa-sisa dunia yang pernah membuangnya. Langkah kakinya terdengar tegas di atas aspal parkiran hotel. Ia tidak perlu menoleh ke belakang, karena ia tahu, tidak ada lagi yang tersisa di sana selain abu dari masa lalunya yang terbakar habis. Ia melangkah menuju masa depan yang ia rancang sendiri, sebuah masa depan di mana ia tidak lagi harus meminta izin kepada siapa pun untuk bernapas.
Malam ini adalah malam yang panjang bagi keluarga Elrod, namun bagi Valerie, ini adalah malam di mana ia akhirnya benar-benar lahir kembali.
Bersambung......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...