Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.
Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Di Balik Ketenangan yang Terjaga
Sejak kepergian Arkan sore itu, bayang-bayang ancaman itu tak sepenuhnya hilang dari benak Grey. Meski malam itu ia tertidur lelap dalam pelukan Davian, rasa gelisah masih sesekali menyelinap di sela-sela mimpinya. Davian pun menyadarinya; ia bisa merasakan bagaimana tubuh istrinya sesekali bergerak gelisah, atau bagaimana tangan kecil itu mencengkeram erat bajunya seolah takut dirinya akan direnggut paksa di tengah malam.
Setiap kali itu terjadi, Davian hanya akan mengusap punggung Grey perlahan, berbisik lembut menenangkan, melepaskan rasa takut itu satu per satu dengan kehadirannya yang kokoh. Bagi Grey, Davian adalah dinding pelindung yang tak bisa ditembus siapa pun. Selama ini, ia mengenal suaminya sebagai sosok tenang, penyayang, dan bijaksana—seorang pengusaha yang bekerja keras demi kenyamanan keluarga, namun tak pernah terlihat sombong atau memamerkan kekuasaannya.
Namun, di balik ketenangan yang selalu ia tunjukkan, ada sesuatu yang berubah dalam diri Davian sejak kedatangan Arkan.
Pagi hari setelah pertemuan itu, Grey bangun dan mendapati sisi tempat tidur di sampingnya sudah kosong. Ia bangkit perlahan, tangan kanannya otomatis bergerak menyentuh perutnya yang mulai sedikit menonjol—tanda kehidupan baru yang sedang tumbuh di sana, anugerah terindah dari pernikahan mereka. Ia melangkah keluar kamar, mengikuti samar suara percakapan rendah yang terdengar dari arah ruang kerja Davian.
Pintu ruang kerja itu sedikit terbuka. Grey berniat lewat begitu saja, namun langkahnya terhenti saat mendengar nada bicara suaminya. Bukan nada lembut yang biasa ia dengar saat berbicara padanya. Nada ini datar, dingin, dan penuh ketegasan—seolah setiap kata yang terucap memiliki bobot yang berat dan mutlak, tak terbantahkan sedikit pun.
“...pastikan pantauan ketat dilakukan di setiap gerak-geriknya. Jangan biarkan dia bergerak leluasa, tapi jangan sentuh dia dulu. Aku ingin tahu seberapa jauh keberanian dan ambisinya setelah dia berani menginjakkan kaki di sini dan mengancam keluargaku.”
Suara Davian terdengar jelas, membuat bulu kuduk Grey meremang. Ada getaran kekuasaan yang kuat melaluinya, sesuatu yang asing namun sekaligus membuatnya merasa semakin terlindungi.
“Baik, Tuan. Segala pergerakan Tuan Arkan akan kami catat dan laporkan setiap jam. Seluruh akses dan jejak langkahnya sudah kami simpan dalam pengawasan penuh,” jawab suara lain dari balik pintu—suara yang terdengar sangat hormat, namun juga tegas dan patuh, seolah orang yang berbicara itu siap melakukan apa saja atas perintah Davian.
“Dan satu hal lagi,” tambah Davian, nada bicaranya menurun namun semakin tajam. “Kumpulkan semua data. Dari mana asal modalnya, siapa saja yang mendukungnya, hingga segala hal kotor yang mungkin dia sembunyikan. Ingat, dia berani mengganggu ketenangan istriku dan anak yang sedang dikandungnya. Itu bukan sekadar urusan pribadi. Itu adalah kesalahan fatal yang akan dia sesali seumur hidupnya jika tidak tahu diri.”
“Dimengerti, Tuan. Kami akan bersiap.”
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar menjauh. Grey buru-buru mundur sedikit, berpura-pura baru saja berjalan melewati ruang kerja itu saat pintu terbuka. Davian muncul di ambang pintu, dan seketika itu juga, aura dingin dan tajam yang tadi menyelimutinya lenyap begitu saja, berganti kembali menjadi senyum hangat yang selalu membuat hati Grey damai.
“Sudah bangun, Sayang? Maaf ya, tadi aku harus mengurus sedikit urusan kantor yang mendadak,” ucap Davian lembut, berjalan menghampiri lalu mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang. Tangannya beralih menyentuh perut Grey dengan lembut, menatap wanita itu dengan tatapan penuh cinta.
Grey tersenyum, meski hatinya masih sedikit bergemuruh mendengar percakapan barusan. Ia menatap wajah suaminya lekat-lekat. “Davian… apa Arkan benar-benar akan berani melakukan hal buruk lagi? Aku jadi takut kalau kehadiranku malah membahayakanmu, atau membahayakan kita berdua.”
Davian menggeleng pelan, lalu mengusap pipi Grey dengan lembut. Matanya menatap lekat, penuh keyakinan yang tak tergoyahkan. “Dengar aku, Sayang. Tidak ada yang perlu kamu takutkan. Selama aku ada di sini, tidak ada siapa pun—termasuk Arkan—yang bisa menyakiti sehelai rambutmu pun. Kamu tidak membahayakan siapa-siapa. Justru, keberadaanmu dan anak kita adalah alasan terbesar bagiku untuk berdiri lebih tegak dan melindungi apa yang menjadi milikku.”
Ia menuntun Grey duduk di kursi makan, lalu menuangkan teh hangat ke cangkir di hadapan istrinya. “Arkan mengira dengan apa yang dia miliki sekarang, dia bisa melakukan apa saja. Dia mengira kekayaan dan pengaruh barunya membuatnya setara dengan siapa pun, bahkan mengira bisa merebutmu kembali dengan cara kasar seperti itu. Dia tidak mengerti satu hal dasar: kebahagiaanmu, cintamu, dan kesetiaanmu tidak bisa dibeli atau dirampas dengan kekuasaan semu.”
“Lalu… apa yang akan kamu lakukan kalau dia datang lagi?” tanya Grey pelan, masih menyimpan rasa khawatir.
Davian terdiam sejenak, menatap tangan istrinya yang digenggamnya erat. Senyum tipis terukir di bibirnya, namun ada kilatan tajam yang sekilas melintas di matanya—kilatan yang sama dengan yang Grey dengar saat suaminya berbicara lewat telepon tadi.
“Kalau dia cukup bodoh untuk datang lagi dan tidak mengerti batasan, maka aku akan mengajarinya arti sebenarnya dari kekuasaan. Dia pikir dia sudah berada di puncak? Dia belum melihat apa pun. Selama ini aku tidak pernah mau menampakkan sisi itu kepadamu, karena aku ingin kamu mencintaiku sebagai Davian suamimu, bukan sebagai sosok lain yang mungkin akan membuatmu takut.” Davian berhenti, lalu menatap Grey dengan lembut namun tegas. “Tapi percayalah, Sayang. Apa pun yang harus aku lakukan demi menjaga keamananmu dan anak kita, akan aku lakukan. Aku akan memastikan Arkan sadar, bahwa di hadapanku, dia hanyalah debu kecil yang bisa hilang kapan saja jika aku menghendakinya.”
Grey menelan ludah pelan. Ia mulai menyadari, ada lapisan lain dari diri Davian yang belum pernah ia ketahui sepenuhnya. Di balik sosok suami yang lembut dan penyayang ini, tersembunyi kekuatan dan pengaruh yang jauh lebih besar daripada yang bisa ia bayangkan. Davian bukan sekadar pengusaha sukses biasa. Ada wibawa, ada jaringan, ada kekuasaan besar yang tersembunyi rapat di balik senyum tenangnya.
Dan semua itu, ternyata hanya ia gunakan untuk satu tujuan: melindungi wanita yang dicintainya dan keluarga kecilnya.
“Kamu tidak perlu khawatir lagi,” bisik Davian, mendekatkan wajahnya lalu mengecup punggung tangan Grey. “Nikmati harimu, bahagiakan dirimu dan anak kita. Biarkan aku yang mengurus sisanya. Biarkan aku yang menghadapi segala ancaman yang datang. Arkan mungkin datang membawa masa lalu, tapi dia akan segera tahu bahwa masa lalu itu sudah tidak ada tempatnya di masa depan yang sedang kita bangun bersama. Dan jika dia berani mengganggu lagi… aku akan memastikan dia menyesal pernah lahir ke dunia ini.”
Suasana di ruang makan itu kembali tenang, namun ketenangan itu kini terasa berbeda. Grey merasa perlindungan yang ia miliki bukan lagi sekadar rasa aman biasa, melainkan benteng kokoh yang tak tertembus. Ia tahu, Davian sedang menyusun rencana, sedang bergerak di balik layar dengan cara yang mungkin tak akan pernah ia lihat secara langsung.
Arkan mungkin berpikir dia sedang memegang kendali, sedang mengancam dengan kekuasaannya. Namun tanpa dia sadari, langkah kakinya sudah mulai terperangkap dalam jaring yang jauh lebih besar, jaring yang dimiliki oleh pria yang kini sedang tersenyum hangat di hadapan Grey—sang pemegang kendali sejati yang selama ini bersembunyi di balik ketenangan.
Pertarungan itu belum dimulai sepenuhnya, tapi Grey tahu satu hal pasti: Arkan telah membuat keputusan terbesar dalam hidupnya, yaitu menantang orang yang salah. Dan malam nanti, sisi lain dari Davian—sisi yang penuh kekuasaan dan tak tergoyahkan itu—akhirnya akan terungkap sepenuhnya.
Bersambung...