Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.
Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????
Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.
Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Wajah Lisa berubah bias mendengar lontaran kalimat Alena barusan. Emosinya meradang, bagaimana bisa wanita di depanya itu tak terpancing dan masih bersikap tenang. Semetara dirinya yang lebih dulu kenal Danu, tapi kenapa wanita lain yang harus mengeklaim kata -Calon Istri?!
"Kenapa? Nggak terima?" Titah Alena kembali. Wajahnya sangat santai, menatap tubuh Lisa tanpa gurat emosi.
Kedua tangan Lisa sudah terkepal. Sorot matanya berkobar api permusuhan. "Saya yang lebih dulu mengenal Danu! Jadi, buang asumsi gilamu itu, bahwa saya lah yang akan menjadi Nyonya Danu. Bukan kamu!"
Alena cukup tertawa miring. Meskipun wanita di depanya itu jauh lebih dewasa daripada dirinya, namun sikap angkuh dan percaya dirinya itu mampu membuat Alena cukup ingin tertawa kencang.
"Kok bisa ya... Ada wanita yang sampai begitunya segila itu sama Juragan Danu?! Padahal... Juragan sejatinya lebih menggilai saya. Rasanya saya ingin tertawa keras, karena caramu mencintai Juragan tidak pernah terlihat!" Kecam Alena sambil menghela napas kecil.
Lisa sudah meremat kedua tanganya. Ia mendekat dua langkah, lalu tiba-tiba mengangkat tanganya dengan rahang saling mengatup.
Srettt!
Tapi Alena lebih dulu mencengkal tangan Lisa. Alena mencengkramnya, lalu sedikit memutar, hingga wanita dewasa itu meringis kesakitan.
"Awh, lepaskan! Tangaku bisa patah!" pekik Lisa menggeram.
"Saya peringatkan sama kamu, wanita gila! Jika kamu sampai merusak hubungan saya dengan Juragan Danu... Maka tidak hanya tanganmu yang saya patahkan. Hidupmu juga ikut hancur!" Tekan Alena. Barulah setelah itu dirinya menghempaskan tangan Lisa dengan sangat kuat.
Lisa berdesis beberapa kali mengumpati Alena dalam hatinya. "Awas kamu! Urusan kita belum selesai," sebelum keluar, Lisa menunjuk wajah Alena sekilas.
Bik Risma terpukau dengan sikap cadas Majikannya barusan. Wanita tengah baya itu mendekat, sekedar bersimpati. "Mbak Alena nggak papa?"
"Nggak, Bik! Saya tidak akan diam lagi jika ada wanita yang berani mengusik hubungan saya," cetus Alena yang tanpa sadar sudah mengeklaim kalimat 'hubungan' dengan Juragan Danu.
"Ehem, maksud Non Lena hubungan? Sudah mengakui Juragan sebagai calon Papahnya Den Delan, nih... Hehe...." goda Bik Risma.
Alena tersadar. Matanya mendelik kecil, lalu merutuki mulutnya yang tanpa sadar berkata seperti itu. "Ma-maksud saya... Maksud saya nggak kaya gitu, Bik. Ihhh... Bik Risma suka banget godain Lena."
"Ya, emang gitu, Non! Non harus melawan Ani-ani itu! Bibi salut banget lihat kegarangan Non tadi. Hehe...."
Alena hanya mampu menghela napas lelah. Kembali duduk untuk melanjutkan pendataan Pabriknya.
Drttt!!!
Di tengah fokusnya, gawai Alena bergetar ringan. Setelah melihat nama yang tertera, Alena segera menggeser tombol hijau dalam layarnya.
"Ada apa, Dokter Fauzan?"
"Alena... Ibu tadi baru saja menelfon, Delan katanya sakit?" Suara Fauzan di sebrang sangatlah cemas.
"Benar, Mas! Delan di rawat inap, karena terdapar bakteri yang membuat daya tahan tubuhnya lemah. Dokter bilang karena pernah mengkonsumsi susu formula," jelas Alena.
Sementara di sebrang, tepatnya di Jakarta, Fauzan yang baru masuk ke dalam ruanganya, kini hanya mampu duduk dalam keadaan resah, batinya tengah menghawatirkan kesehatan sang keponakan.
"Alena... Sudah ya, mulai sekarang kamu nggak usah mikirin apapun lagi. Fokus saja sama Delan. O ya, akhir pekan aku akan pulang. Ibu siang nanti kesana," putus Dewan mengakhiri sambungan telfonnya.
Akhir pekan?
Maya mematung di depan pintu setelah mendengar penuturan kekasihnya -Fauzan kepada Alena. Maya tengah berperang dengan asumsinya, meyakinkan hati kecilnya: mungkinkah Fauzan lupa dengan janjinya.
"Padahal akhir pekan nanti Fauzan sudah bilang akan menemani aku wisuda dan melakukan sumpah Dokter? Tapi... Tapi apa dia lupa?"
Belum sampai Maya masuk, Fauzan lebih dulu menarik handle pintu itu dari dalam. Fauzan sedikit terkejut melihat Maya sudah berdiri di depan pintu.
"Maya? Kamu sejak kapan berdiri di sini? Kenapa nggak masuk?" tegur Fauzan.
Masih memaksakan senyumnya. Tanganya masih memegang paperbag yang berisikan juice dan sedikit cemilan sehat. "O, em... Ini, ini juga tadi mau masuk, tapi kamu sudah buka lebih dulu. Oh ya, Zan... Aku tadi buat juice kesukaanmu sama cemilan. Nih...."
Fauzan agak ragu dengan jawab kekasihnya itu. Tapi tanganya tetap menerima, bermaksud sekedar menghargai usaha Maya. "Makasih ya, May!"
"Fauzan... Kamu nggak lupa 'kan?" Maya sedikit cemas ketika bertanya.
"Lupa? Lupa apa, May?" Rupanya Fauzan sama sekali tak ingat dengan ucapanya beberapa hari yang lalu.
Maya mengapai satu lengan Fauzan. Tatapanya sangat dalam, dan tak lama itu bibirnya kembali bergetar. "Kamu bisa 'kan temani wisuda aku akhir pekan nanti?"
Fauzan tersadar. Bukan karena ucapanya yang ingin menemani sang pujaan hati. Tapi Fauzan lebih ke tersadar jika keponakannya sakit, dan ia harus memanfaatkan cuti itu untuk pulang.
"Aku hampir lupa kasih tahu kamu, May... Kalau keponakanku sakit, dan aku harus pulang untuk melihat keadaannya."
Keputusan itu membuat hati Maya teremat hemat. Rasanya perih, seolah ribuan jarum itu tiada yang enggan terlepas. Dengan suara rendah, Maya mencoba mengekspresikan rasa kecewanya.
"Zan, bukannya kamu sudah janji sama aku? Kenapa malah kamu lebih milih pulang?"
Fauzan melepaskan tangan Maya, namun kini ia lebih berganti memegangnya. "Maya... Mas Dewan sudah pergi ikut Istri sirinya. Jadi, Delan saat ini membutuhkan aku sebagai ganti Ayahnya. Jadi aku harap kamu dapat mengerti."
Maya menarik kuat tanganya. Guratan wajahnya sama sekali menunjukan begapa kecewanya ia terhadap keputusan sang kekasih. "Kenapa sih, harus Alena? Apa-apa serba Alena. Di rumah masih banyak orang, Fauzan! Alena bisa kok menghandle anaknya sendiri. Aku selama ini udah tahan-tahan soal Alena, Fauzan! Aku capek jika dalam hubungan kita kamu lebih mentingin Alena daripada kekasihmu sendiri!"
Fauzan hanya mampu membuang napas berat. Ia memalingkan wajah sekilas, bingung harus menjelaskan seperti apa lagi.
"May... Udah ya, aku nggak mau debat sama kamu lagi." Fauzan kembali menarik tubuh Maya agar masuk ke dalam pelukannya.
Fauzan mengusap kepala kekasihnya dengan lembut, namun tanpa sepatah kata cinta yang menenangkan. Sementara Maya, air matanya luruh, isakannya hanya mampu tertahan dalam dada.
"Aku harus bicara dengan Alena. Hanya dia yang mampu bersikap lebih dengan Fauzan. Dan semoga saja dengan ini Fauzan tak lagi mengharapkan cinta Alena." Gunam batin Maya.
ceritanya bagus alen audah kuat ituuuu,
tapi gpp belum rejeki
👍👍👍👍
semoga bisa baca kelanjutan cerita ini di lain waktu.
semangaat thor