bagi orang lain, cinta pertama seorang anak perempuan adalah seorang ayah tapi tidak Resty, karena baginya ayah adalah neraka baginya
inilah kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
Bu RT baru mau menyapu depan warung. Pas lihat Awi, dia senyum tipis. "Alhamdulillah Mas Awi sudah kerja ya..."
Belum selesai ngomong, dari dalam warung udah nyaut suara melengking.
"Kerja? Kerja mabuk-mabukan."Lastri keluar. Bibinya Resty. Dandan menor, alisnya seperti digambar pakai spidol. Tangannya berkacak pinggang. Matanya menyapu Awi dari ujung sandal jepit sampai rambut acak-acakan.
Awi langsung menunduk. Bungkusan beras dipeluknya makin kencang. seperti mau ngumpetin dari mata Lastri.
"Wah, Wah..! Tidak nyangka ya, seorang pemabuk bisa juga berubah." sinisnya sambil memandang Awi seperti lumpur."Sudah tobat ne ceritanya."
Awi tidak menjawab. Kepalanya makin menunduk. Bungkusan beras di dadanya seperti jadi perisai terakhir. padahal mereka saudara, tapi Lastri memandang ia seperti orang lain. Hanya karena dia miskin, makanya dia jauhi sama saudaranya sendiri.
Bu RT ngelirik tidak enak. Mau membela, tapi takut kena semprot juga. Awi tetap diam. Tapi di dalam dadanya terasa panas. Bukan karena malu. karena dia tidak ingin ribut dengan perempuan, apalagi mereka masih saudara kami dan tidak ingin jadi tontonan warga.
Lastri melihat Awi diam aja. Dia kira Awi takut. Makin jadi-jadi suaranya."Tuh kan, tidak bisa ngomong. sama seperti anaknya, sama-sama bisu."
Setelah mengatakan itu, Lastri langsung masuk kerumah setelah menghina Awi.Pintu rumah Lastri dibanting. "Drak!" Suaranya nyaring, tapi malah jadi bukti dia yang kalah telak. Bu RT mulai mendekat dan memandang Awi dengan prihatin, dia bersyukur Awi sudah mulai berubah. Tidak mabuk-mabukan lagi.
Jalan jadi hening. Cuma ada Bu RT sama Awi.
Bu RT menarik napas panjang. Sapunya disandarkan ke tiang. Dia jalan pelan ke Awi, matanya sayu. "Mas Awi..." suaranya lembut, tidak seperti Lastri. "Sudah, jangan dimasukin ke hati. Orang kalau hatinya kotor, bicaranya juga kotor."
Awi masih menunduk. Tapi kali ini dia manggut pelan. Bukan karena setuju dihina tapi Karena capek. Awi mengangkat muka dikit. Tenggorokannya sakit. "Makasih, Bu..."
Cuma itu yang keluar. Dia tidak pintar merangkai kata. Tapi Bu RT mengerti.
"Sudah...pulang sana! Masak buat anak. Jangan dengarin orang yang mulutnya lebih tajam dari pisau. yang penting maz sudah mulai berubah. Itu berkah paling mahal."
Awi mengangguk. Pas ngelewatin rumah Lastri, dari dalam terdengar suara dia ngomel ke TV. Tapi Awi sudah jalan lurus aja.
Langkah Awi jadi lebih ringan pas ninggalin warung Bu RT. Rumah Lastri udah di belakang. Tinggal suara TV sama omelan yang makin tidak jelas.
Sampai di rumah bambu, pintunya masih di terbuka dikit. Di dalam cuma ada tikar tipis, panci item bekas, sama tungku tanah liat yang sudah dingin. Awi melihat Resty duduk meringkuk di ujung tikar. Lututnya dipeluk, dagunya di sandari situ. Matanya tidak lepas dari pintu. Pas pintu kayu bunyi “krek” dan Awi masuk, dia langsung melek lebar.
“Bapak!”
Dia tidak lari, cuma senyum. Senyum seperti sudah nungguin seharian. Awi mengangkat bungkusan berasnya pelan.“Bapak tepati..nak!
Resty langsung nyamperin. Awi jongkok di depan tungku. Tangan kasarnya nyalain api pakai kertas sama ranting kering. Tidak semudah yang di TV. Api mati, nyala lagi lalu mati. Resty ketawa kecil saat melihat usaha bapaknya hidupin api. “Bapak kipas-kipasnya lucu,” bisiknya.
Awi malu. Tapi dia tetap kipas pakai tutup panci. Air dimasukin, Beras dituang. Cuma segenggam. Awi ngaduk pelan pakai sendok kayu yang gagangnya sudah retak.
Resty duduk sambil nyandar ke tiang bambu. Badannya sudah lebih tinggi dari tahun lalu. bajunya yang pudar yang diberikan tetangga dekat rumah. tidak menjadikan dia anak yang suka menuntut. Dia sekarang malah bersyukur, bapaknya sudah mulai berubah.
"Pak...! Ibu pasti diatas sana, bangga melihat bapak yang sudah mulai berubah".
Sendok kayu di tangan Awi berhenti ngaduk. Suara “krek” dari kayu retak itu jadi satu-satunya yang kedengeran. Dia tidak langsung menoleh. Punggungnya kaku. Asap tungku naik ke mata, bikin perih.
Resty tidak ngulang. Dia cuma duduk di situ, nyandar ke tiang bambu, baju bekas tetangga yang pudar warnanya. Tapi punggungnya tegak. Matanya bening. Tidak ada tuntutan, Sekarang cuma ada sayang.“Maaf ya....Pak.” bisik Resty pelan. “Resty tidak sengaja nyebut Ibu.”
Awi masih nunduk ke panci, tenggorokannya tercekat. Susah mau ngeluarin kata. Akhirnya dia manggut pelan. Dia masih ingat, selama Aminah hidup, yang sering dia lakukan hanya mabuk-mabukan, memukul dan suka membanting barang. sungguh dia menyesal telah melakukan itu dan penyesalan itu baru datang setelah 8 tahun Aminah pergi untuk selamanya.
“Aminah..” suaranya serak. Seperti sudah lama tidak dipakai buat nyebut nama itu.
“ibumu emang paling jago ngajarin Bapak. Sabar. Tidak pernah nyerah walau Bapak dulu bebal.”Dia mengangkat muka dikit. Ngelap mata pakai punggung tangan yang hitam jelaga. “Iya...Nak!. Mungkin Ibu lihat dari atas sana. Mungkin dia senyum.”
Dia tidak nyaut. Cuma makin ngerapetin sandaran kepalanya ke lengan Awi. dia tidak ingin bapaknya mengingat masa lalu lagi yang menyebabkan ibunya sakit-sakitan karena tekanan batin dari bapaknya. dia ingin membuka masa depan, tampa ada bayang-bayang masa lalu.
"Dulu setiap Bapak pulang mabuk, yang nyambut cuma dia. Tidak pernah ngomel, cuma ngambil air putih, terus bilang ‘Mas, besok jangan lagi ya’.”
Awi terdiam. Ngaduk bubur yang sudah tidak perlu diaduk lagi. “Bapak bebal...Nak!. Dikasih tau seribu kali juga bandel. Tapi dia sabar. Sampe akhir, dia tetap manggil Bapak ‘Mas’.”
Resty hanya diam, dia masih ingat masa lalu. Bagaimana bapaknya pulang dalam keadaan mabuk, pernah juga melemparkan dia mangkok yang isinya kerang. dulu kalau dekat bapaknya pasti akan takut dan gemetar. tapi sekarang dia yang ada hanya kehangatan yang tidak pernah dia dapatkan selama ini.