Ardian dan kebahagiaan nya.
Kembali berkumpul dengan putrinya serta menikah dengan wanita yang merubah dirinya menjadi pria dengan pribadi yang baik, membuatnya sangat bahagia walaupun cerita masalalu yang sedikit demi sedikit terbuka.
Jidan dan kisah cintanya.
Tidak sama seperti tuannya yang memilih berlabuh ke hati lain dan berdamai dengan masalalu nya. Jidan malah terjebak dengan perasaan nya yang belum benar-benar mencintai wanita lain. Seakan takdir berputar-putar ditempat nya, membuat Jidan selalu terjebak dengan perasaan sendiri, walaupun ada hati lain yang menariknya untuk beralih.
Bagaimana kisah selanjutnya? Simak yuk, biar nggak penasaran bagaimana kisah mereka selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Keesokan paginya. Yaya sudah rapi dengan pakaian formal nya. Gadis itu sejak pagi sudah siap-siap untuk pergi ke kota B bersama dengan asistennya.
Yaya melangkah ke ruangan makan, kedatangannya di sebut hangat oleh papi dan maminya.
"Pagi papi, mami." Sapa Yaya mencium pipi kedua orang tuanya secara bergantian.
"Pagi sayang." jawab Tuan Dirga dan nyonya Xia bersamaan.
"Maaf mami, papi, aku tidak bisa makan barang kalian. Aku sedang buru-buru dan diluar Ayu sudah menungguku." ucap Yaya.
"Yana, apakah kamu tidak pergi bersama Enzo? Kemarin mami sudah memberitahukan dia kalau kamu juga akan pergi ke kota B." tanya nyonya Xia melihat putrinya yang terlihat tergesa-gesa.
"Maaf mi, aku tidak bisa. Tadi malam aku sudah memberitahu Enzo kalau aku tidak bisa pergi bersama nya."
"Kenapa tidak bisa?" tanya nyonya Xia menatap Yaya dengan curiga.
"Aku ada sedikit urusan disini mami. Setelah itu barulah aku pergi ke kota B." jawab Yaya tidak sepenuhnya berbohong karena jujur dia harus ke kampus dulu barulah dia pergi ke kota B."Mami jangan salah paham dulu aku pergi ke kampus untuk mengerjakan beberapa hal barulah aku ke kota B." jelas Yaya lagi saat melihat tatapan tajam sang mami.
"Jangan menakuti nya Xia. Kamu memelototinya seperti itu membuatnya takut saja." Sambung tuan Dirga menengahi.
"Tapi mas, Enzo sudah berharap pergi bersama nya hari ini. Bagaimana hubungan mereka bisa semakin dekat kalau Yaya seperti seseorang yang menghindar. Ini bukan kali pertama, pi. Tapi ini yang kesekian kalinya aku lihat Yana menghindari Enzo untuk jalan bersama." jawab nyonya Xia.
Tuan dirga tersenyum mendengar ungkapan sang istri. Tangan nya terangkat memegang tangan itu dengan lembut."Kamu harus percaya dengan nya Xia. Dia tidak menghindar dari Enzo, hanya saja dia sibuk dengan kuliah nya."
"Mas selalu saja membelah nya." kesal Nyonya xia, tapi dengan penuh perhatian tuan dirga mencoba untuk menjelaskan lagi dan lagi.
Tidak ada perdebatan, selain kata-kata lembut yang Tuan Dirga ucapkan seperti uraian kata tanpa satu kesalahan. Dan Yaya banga memiliki ayah sebaik tuan dirga, yang tidak pernah menuntut nya seperti sang ibu.
"Hati-hati dijalan. Ingat sesampai nya kamu di kota B langsung kabari papi dan mami." Pada akhirnya tuan Dirga maupun nyonya Xia mengantarkan putrinya ke depan pintu. Mereka meninggalkan sarapan pagi hanya untuk melihat kepergian sang anak. Mungkin selama berapa hari rumah itu akan sepi tanpa kehadiran putri mereka.
"Iya pi." jawab Yaya menaiki mobil nya yang kini disetir oleh asistennya.
Mobil itu melaju keluar dari halaman rumah. Membuat nyonya xia yang tadi berniat masuk kedalam harus terhenti saat mendengar perkataan suami nya."Jangan terlalu menekan nya xia, dia masih terlalu mudah untuk mengerti semuanya. Apalagi bertunangan." ucap tuan dirga menatap manik itu."Jangan hanya karena dia sudah bertunangan kamu terus menekannya dekat dengan Enzo."
"Jadi kamu menyalahkan ku mas?"
"Tidak, aku tidak menyalahkanmu. Hanya saja aku kasihan pada putri kita yang terlihat tertekan jika kamu memaksanya untuk terus dekat dengan Enzo." Jelas tuan Dirga lagi.
"Tapi dia tidak terlihat tertekan. Dia baik baik saja."
"Kamu ibu nya Xia, tapi kamu tidak melihat ada yang berbeda dari nya atau tidak. Xia, binar matanya yang selalu terlihat kini seperti redup. Dia tidak bersemangat seperti sebelum nya karena yang dia pikirkan sekarang pekerjaan dan kuliahnya. Pekerjaan yang dia tidak sukai kini dia kerjakan, seperti hari ini." terang tuan dirga membuat nyonya Xia terdiam.
"Tapi mas dia hanya mengerjakan apa yang dia anggap tugas nya. Jadi stop mengatakan kalau putri kita merasa tertekan dengan pertunangan ini. Ingat baik-baik enzo dan keluarga nya adalah orang terpandang dan untuk bisa memiliki hubungan sedekat ini saja kita butuh bertahun-tahun. Aku tidak mau mas berkata seperti tadi." Sahut nyonya Xia, menepis rasa bersalah nya setelah mendengar perkataan sang suami.
"Tapi Xia."
"Stop mas! Lebih baik mas fokus sama kesehatan nya mas sendiri. Untuk hubungan enzo dan Yana biarkan aku yang selesaikan." sahut nyonya Xia lagi seraya melangkah masuk kedalam rumah. Tuan Dirga yang melihat itu menarik nafas nya lalu mengeluarkannya lagi. Pria paruh baya itu memegang dadanya yang terasa nyeri. Entah kenapa berdebat dengan sang istri akan membuat nya sakit apalagi Nyonya Xia seseorang yang tidak mau mengalah.
"Bagaimana aku menjelaskan padamu Xia, kalau putri kita menyukai pria lain tapi bukan Enzo. Bagaimana caranya kamu mengerti akan hal ini.”
Bersambung….