NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Di ujung taman itu, langkah Gilang perlahan melambat.

Matanya langsung tertuju pada sosok wanita yang duduk di kursi roda.

Valeria.

Infus masih terpasang di tangannya, sementara perban putih membalut sebagian kepalanya.

Tubuhnya terlihat jauh lebih pucat dibanding terakhir kali Gilang melihatnya.

Saat mendengar langkah kaki mendekat, Valeria perlahan memutar kursi rodanya.

“Romeo… akhirnya kamu datang juga.”

Suaranya tenang.

Tapi sejak tadi wanita itu hanya menatap lurus ke depan, tidak benar-benar melihat mata Gilang.

Jantung Gilang mulai terasa tidak nyaman.

Lalu Valeria kembali bicara pelan.

“Saya hamil.”

Kalimat itu membuat Gilang langsung diam.

Udara di sekitarnya terasa mendadak berat.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Kemudian Valeria mengeluarkan sebuah amplop berisi cek dari tas kecil di pangkuannya lalu mengulurkannya ke arah Gilang.

“Tugas kamu sudah selesai,” katanya lirih. “Dan ini bayaran kamu sesuai kesepakatan kita.”

Gilang menerima amplop itu pelan lalu membukanya dengan bingung.

Matanya langsung tertuju pada angka di lembar cek tersebut.

Dan napasnya seketika tertahan.

Dua miliar.

Gilang langsung mengangkat kepalanya cepat menatap Valeria.

“Bu… ini salah.”

Suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.

“Harusnya nggak sebanyak ini.”

Tangannya sedikit menegang memegang cek itu.

Sesuai perjanjian awal, ia hanya menerima lima ratus juta.

Dan sebelumnya Gilang juga sudah mengambil dua ratus juta sebagai uang muka.

Berarti sisa pembayaran seharusnya hanya tiga ratus juta saja.

Valeria tetap menatap lurus ke depan.

Namun mata wanita itu perlahan mulai memerah.

“Itu bonus untuk kamu,” katanya pelan. “Karena kamu bekerja melebihi target.”

Gilang terdiam.

Target mereka seharusnya tiga bulan.

Tapi semuanya selesai bahkan sebelum waktunya setengah berjalan.

Dan itu justru membuat suasana terasa makin aneh.

“Bukan cuma itu,” lanjut Valeria lirih.

Wanita itu kemudian mengeluarkan sebuah kunci dari tasnya lalu menyerahkannya ke arah Gilang.

“Anggap saja hadiah kecil.”

Gilang masih diam menatap benda itu.

Valeria akhirnya menoleh pelan ke arahnya.

“Kalau kamu mau berhenti dari pekerjaanmu sekarang juga.”

Gilang menatap kunci itu beberapa detik sebelum akhirnya bertanya pelan, “Kunci apa ini?”

Valeria menjawab tanpa banyak ekspresi. “Kunci café baru.”

Gilang mengernyit bingung.

“Nanti kamu yang kelola,” lanjut Valeria tenang. “Karyawannya sudah saya siapkan, chef profesional juga sudah ada.”

Wanita itu menatap lurus ke depan lagi.

“Kamu tinggal mengembangkan café itu. Dan saya harap jangan cepat bangkrut.”

Gilang makin tidak mengerti.

Ia langsung menyerahkan kembali kunci itu pelan. “Maaf… saya nggak bisa.”

Valeria akhirnya menoleh kecil.

“Ini terlalu banyak,” lanjut Gilang pelan. “Lagi pula anak itu…”

Kalimatnya terhenti sendiri.

Nap asnya terasa berat mendadak.

“Belum tentu itu anak sa—” ucapannya terbata sebelum akhirnya berhenti lagi.

Valeria terdiam beberapa detik setelah mendengar ucapan itu.

Angin taman berhembus pelan, menggerakkan sedikit rambutnya yang jatuh di dekat wajah.

Lalu wanita itu berkata lirih,

“Saya tidak peduli siapa ayahnya.”

Gilang langsung menatapnya.

Valeria menurunkan pandangannya ke arah perutnya sendiri.

“Yang penting…” suaranya melemah sedikit, “akhirnya saya bisa hamil.”

Gilang tetap menggeleng pelan lalu mencoba menyerahkan kembali kunci dan cek itu.

“Maaf, Bu… saya nggak bisa nerima.”

Valeria akhirnya mendongak menatapnya.

Tatapan wanita itu terlihat lelah.

“Saya menawarkan ini bukan semata-mata untuk kamu,” katanya pelan. “Tapi juga untuk masa depan keluarga kamu.”

Gilang langsung diam.

Valeria menggenggam pelan selimut di pangkuannya sebelum melanjutkan,

“Cepat atau lambat… pekerjaan kamu pasti akan diketahui mereka.”

Kalimat itu membuat rahang Gilang perlahan menegang.

“Jadi sebelum mereka kecewa,” lanjut Valeria lirih, “buatlah mereka bahagia dulu.”

Sementara itu, beberapa langkah dari sana, Zoya berdiri diam dengan wajah sulit dipercaya.

Sejak tadi ia mendengar seluruh percakapan mereka.

Dan semakin lama kepalanya terasa makin penuh.

Valeria.

Wanita yang selama ini dikenal dingin, perfeksionis, dan sangat menjaga reputasinya—

ternyata melakukan semua ini diam-diam.

Menyewa seorang lelaki yang bahkan masih terlihat terlalu muda untuk terlibat dalam urusan sebesar itu.

Hanya demi bisa hamil.

Zoya sampai menatap 'Romeo' beberapa detik lebih lama.

Sulit baginya membayangkan semua ini benar-benar terjadi.

Valeria kembali menatap lurus ke depan.

“Kerja keraslah di jalan yang benar, Romeo,” katanya pelan. “Karena hidupmu bukan cuma tentang kamu.”

Gilang terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengernyit.

“Bagaimana Anda bisa tahu soal keluarga saya?”

Valeria terkekeh kecil.

Tawa yang terdengar lelah.

Lalu wanita itu menoleh pelan ke arah Gilang.

“Bahkan saya tahu siapa ayahmu.”

Valeria menatap Gilang cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan,

“Putus rantai karma dari ayahmu.”

Gilang langsung diam.

“Jangan ikuti jejak hidupnya,” lanjut Valeria lirih.

Kalimat itu membuat ekspresi Gilang langsung berubah.

“Jangan samain saya sama bapak,” balasnya cepat dengan rahang mengeras.

Valeria tetap diam mendengarkan.

“Saya ngelakuin semua ini buat cari uang,” lanjut Gilang pelan tapi penuh emosi. “Sementara dia… dia ngelakuin semuanya cuma buat kesenangan dia sendiri.”

Valeria tertawa kecil.

Bukan tawa mengejek.

Lebih seperti tawa lelah yang bercampur pahit.

Lalu wanita itu menatap Gilang pelan.

“Lihat adikmu, Romeo.”

Gilang langsung diam.

“Dia harus merasakan sakit… yang bahkan bukan ulahnya sendiri.”

Gilang langsung mendengus pelan sambil memalingkan wajah.

“Anda terlalu jauh nilai saya,” katanya dingin.

Valeria tetap diam.

“Anda sok tahu.”

Valeria memegang pelan kepalanya yang masih terasa berat.

“Kamu membuang banyak waktu saya, Romeo,” katanya lirih. “Apa pun keputusanmu… saya hanya menawarkan.”

Wanita itu lalu menarik tangan Gilang pelan dan memaksa menyerahkan kembali kunci tersebut ke tangannya.

Beberapa detik Gilang diam.

Lalu dengan tangan sedikit gemetar, ia akhirnya menerima kunci itu.

Valeria menatapnya sebentar.

“Jangan jadi lelaki munafik lagi,” katanya tenang. “Dan berjalanlah dengan benar.”

Setelah itu Valeria perlahan memutar kursi rodanya menjauh dari Gilang.

Beberapa langkah kemudian, Zoya segera mendekat lalu membantu mendorong kursi roda itu pergi meninggalkan taman.

Gilang masih berdiri diam di tempatnya.

Tangannya menggenggam kunci dan amplop itu erat sementara pikirannya terasa kacau.

Di kejauhan, punggung Valeria semakin menjauh bersama Zoya.

Lalu tiba-tiba—

ponsel Valeria berdering.

Suara itu terdengar samar di tengah taman yang sepi.

Valeria melihat layar ponselnya sebentar sebelum mengangkat panggilan itu.

“Velly, kamu di mana?” suara seorang pria terdengar cukup jelas dari sana.

Dimas.

“Kamu belum pulih.”

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!