Terlahir kembali sebagai Lyra Clarissa Wijaya, cucu tunggal dari keluarga terkaya di dunia, Lyra tidak tumbuh sebagai gadis manja yang lemah. Di balik kecantikannya yang tenang dan elegan, tersimpan jiwa seorang putri bangsawan Vampir dan kekuatan insting Alpha Serigala yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya.
Xavier adalah pria paling berbahaya yang ditakuti dunia. Dia dingin, kejam, dan dikenal tidak punya perasaan, tiba-tiba hidupnya yang gelap mendadak jungkir balik. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun ini, justru rela menyerahkan segalanya untuk gadis kecil nya.
"Mintalah nyawaku, Lyra. Mintalah seluruh dunia ku, asal jangan pernah palingkan matamu dariku, karena tanpamu, duniaku kembali menjadi gelap," bisik Xavier, berlutut di hadapan gadis itu tanpa memedulikan tatapan ngeri para bodyguard nya.
Lyra hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membawa sisa-sisa keagungan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERDEBATAN
Keputusan Tuan Thomas untuk menyetujui permintaan Xavier bagaikan menjatuhkan bom di tengah ruang pertemuan keluarga Wijaya malam itu.
Suasana ruang kerja yang luas itu mendadak terasa sempit dan panas.
BRAK
"Apa kau sudah hilang akal, Thomas?!" bentak Tuan Bastian menggelegar.
"Cucu perempuanku bukan barang dagangan yang bisa kau serahkan pada pria asing hanya karena dia punya pengaruh di Eropa!" bentak Tuan Bastian, menatap tajam pada Tuan Thomas.
"Pa, ini bukan soal harta atau saham, tapi Valerius punya kekuatan untuk menghancurkan seluruh bisnis kita dalam semalam jika dia mau, aku hanya mencoba melindungi keluarga kita, melindungi Lyra..." ucap Tuan Thomas lirih dengan wajah tertunduk.
"Melindungi Lyra dengan cara menjualnya?" ucap Eros yang baru saja sampai, masih dengan jaket kulitnya dan aura dingin yang menusuk.
Eros berdiri tegak di tengah ruangan, menatap Tuan Thomas dengan tatapan tak percaya.
"Aku pulang bukan untuk mendengar kabar bahwa adik sepupuku akan dinikahkan dengan pria yang bahkan tidak berani menunjukkan wajahnya di rumah ini secara sopan," ucap Eros, dingin.
"Aku setuju dengan Eros. Thomas, kita ini keluarga Wijaya! Kita punya ribuan anak buah, kita punya senjata, kita punya harga diri. Kalau Valerius itu mau perang, kita beri dia perang! Kenapa harus mengorbankan Lyra?" ucap Tuan Steven ikut berdiri, wajah garangnya memerah.
"Karena perang dengan Valerius adalah bunuh diri, Steven!" jawab Tuan Thomas dengan nada frustrasi.
"Kalian tidak mengerti seberapa besar pengaruhnya! Dia bisa menutup semua akses perbankan kita, dia bisa membekukan aset kita di luar negeri hanya dengan satu telepon. Lyra akan tetap hidup mewah bersamanya, dia tidak akan kekurangan apa pun!" lanjut Tuan Thomas, masih berusaha mempertahankan kewarasan nya.
"Tapi dia akan kekurangan kebebasannya!" ucap Arkan yang sejak tadi diam.
"Dad, Lyra itu cerdas, dia punya masa depan. Menikahkannya secara paksa dengan orang seperti Xavier adalah penghinaan bagi otaknya. Apa Daddy pikir Lyra akan diam saja?" lanjut Arkan.
Hah...
Tuan Jerome menghela napas panjang, menepuk bahu Thomas yang tampak sangat tertekan.
"Thomas, aku tidak tahu apa yang sedang kamu sembunyikan dari kita semua, tapi Papa benar, Lyra adalah permata keluarga ini, aku dan semua keluarga Wijaya tidak akan pernah membiarkan Lyra, jatuh ke tangan Xavier Valerius!" ucap Tuan Jerome tegas.
"Selama aku masih bernapas, tidak akan ada yang membawa Lyra keluar dari rumah ini tanpa persetujuanku! Berpengaruh atau tidak, Xavier Valerius harus melangkahi mayatku dulu!" ucap Tuan Bastian berdiri dengan bantuan tongkatnya, matanya menatap tajam putra-putranya satu per satu.
"Pa, tolong... Xavier bukan pria brengsek. Aku melihatnya sendiri di dermaga, dia melindungi Lyra," ucap Tuan Thomas mencoba membela keputusannya meski suaranya bergetar.
"Melindungi dan memiliki itu dua hal berbeda, Dad" ucap Eros dingin.
"Kalau dia memang pria terhormat, dia tidak akan menggunakan ancaman untuk meminang seorang gadis! Aku akan menyiapkan pengamanan tambahan. Tidak ada pernikahan dalam tiga hari! Tidak akan pernah!" lanjut Eros, penuh penakanan.
Tuan Thomas rasanya ingin berteriak dan mengatakan pada mereka semua, kalau Lyra tidak menikah dengan Xavier, besar kemungkinan mereka semua akan kehilangan Lyra selama nya.
Di tengah perdebatan panas para pria Wijaya itu, tak satu pun dari mereka menyadari bahwa di balik pintu ruang kerja yang sedikit terbuka, Lyra berdiri diam.
Wajahnya tetap datar, tak ada air mata, tak ada ekspresi terkejut yang berlebihan, dia mendengar semuanya, kepasrahan Daddy-nya, kemarahan Kakek-nya, dan perlindungan dari kakak-kakak sepupunya.
"Menikah karena pengaruh? Begitu rendahnya kau menilai ku, Xavier Valerius?" batin Lyra dingin.
Lyra tidak masuk ke ruangan itu untuk ikut berdebat, karena baginya, adu mulut adalah pemborosan energi. Lyra berbalik dan berjalan menuju kamarnya dengan langkah tanpa suara.
Di ruang kerja, perdebatan masih berlanjut, mereka semua sangat menyayangi Lyra, namun mereka tidak tahu bahwa gadis kecil yang sangat mereka sayangi itu, jiwa nya bisa saja kembali kapan pun ke asal nya, dan meninggalkan mereka semua dalam kehampaan.
Tuan Thomas hanya bisa memejamkan mata, dia tahu badai yang sebenarnya bukan datang dari Xavier, melainkan dari reaksi putrinya sendiri saat kebenaran tentang jiwa masa lalu itu terungkap nanti.
🥂🥂🥂🥂🥂🥂🥂🥂🥂
Di area VIP Colosseum Club, suasana mendadak mencekam.
Musik yang memekakkan telinga di lantai bawah seolah tidak mampu menembus dinginnya aura di meja tempat Xavier Valerius berada.
Xavier hanya duduk diam, menatap gelas wiski nya dengan pandangan kosong, namun pikirannya tertuju pada satu orang, gadis yang dengan lancang nya mengobrak abrik hati dingin nya.
"Xavier... Sayang, kamu kok di sini sendirian saja?"
Seorang wanita dengan gaun sutra merah yang sangat terbuka mendekat.
Marissa model sekaligus putri dari pengusaha properti yang sejak lama mencoba mendekati Xavier.
Xavier tidak menyahut, bahkan Xavier tidak melirik saat Marissa duduk di sampingnya, menebarkan aroma parfum menyengat yang membuat Xavier muak.
"Aku dengar dari Papa, kamu menolak kontrak kerja sama minggu depan karena ada urusan pribadi yang sangat penting," ucap Clarissa sambil mencoba menyentuh lengan Xavier.
"Urusan apa sih yang lebih penting dari bisnis kita? Atau jangan-jangan ada wanita simpanan baru yang bikin kamu lupa sama aku?" tanya Marissa tertawa manja, namun matanya berkilat penuh selidik.
HAP
Seorang Xavier Valerius, tidak pernah mengijinkan siapapun untuk menyentuh nya, Xavier mencengkeram pergelangan tangan wanita itu dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang.
"Jangan lancang, menyentuhku," desis Xavier. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman monster.
"Aw! Xavier, sakit!"
Ucap Marissa merintih, wajahnya yang penuh riasan kini memucat.
"Aku cuma bercanda! Siapa pun wanita yang kamu urusi itu, dia pasti nggak selevel sama aku, kan?" ucap Marissa, lagi.
KRAKKKK
BHUK
Xavier memutar tangan Clarissa hingga wanita itu jatuh berlutut di lantai.
"Aaaakkkkkkhhhh... Xavier, kau jahat sekali," teriak Marissa, meringis dengan wajah memerah.
Xavier tidak perduli, dia mencondongkan tubuhnya, menatap Marissa dengan mata kelabu yang sangat dingin.
"Satu kali lagi mulutmu menyebut soal urusan pribadiku atau berani berasumsi tentang wanita yang ada di pikiranku..." ucap Xavier menjeda kalimatnya, tekanannya pada tangan Marissa semakin kuat. "
"Aku akan memastikan keluargamu menjadi gelandangan di kota ini sebelum fajar menyingsing," lanjut Xavier, dingin.
Deg
Marissa langsung menegang, dia tahu Xavier tidak pernah main-main dengan ucapan nya, bahkan satu Minggu yang lalu dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, dimana Xavier menembak mati seorang wanita, karena berani duduk di pangkuan pria itu.
"X-xavier, aku... aku minta maaf!" tangis Marissa pecah.
Sungguh, Marissa ketakutan setengah mati melihat tatapan Xavier yang seolah ingin mencabut nyawanya.
apa muncul di cerita yg lain kak ,,
dtggu yx kak😁😁😁😁