NovelToon NovelToon
Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang

Status: tamat
Genre:Naik ranjang/turun ranjang / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:102.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.

Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.

Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Mobil melaju membelah jalanan malam yang lengang. Lampu-lampu kota berpendar di sepanjang jalan, memantul di kaca depan mobil. Suasana di dalam mobil terasa sunyi namun bukan sunyi yang nyaman.

Harsa duduk di kursi penumpang.

Tubuhnya bersandar, satu tangannya bertumpu di pelipis, mencoba menahan pusing yang berdenyut. Napasnya sedikit berat, namun matanya masih terbuka setengah sadar, setengah lelah.

Di kursi pengemudi, Rina menyetir dengan tenang. Sesekali ia melirik ke arah Harsa.

“Bapak biasanya memang tidak minum, ya?” tanya Rina pelan, membuka percakapan.

Harsa tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia bersuara, “Tidak.”

Rina tersenyum kecil. “Pantas saja … baru sedikit sudah seperti ini.”

Harsa tidak menanggapi. Ia hanya memejamkan mata sejenak. Namun kesadarannya belum benar-benar hilang.

Rina sedikit memperlambat laju mobil, lalu kembali berbicara dengan nada yang lebih lembut.

“Pak Harsa…”

Harsa membuka matanya perlahan. “Apa?”

“Bapak capek, ya?” tanya Rina.

“Biasa,” jawabnya.

Rina tersenyum samar. “Bapak selalu bilang begitu.”

Ia melirik sekilas, lalu berkata lagi,

“Padahal … kelihatan sekali kalau Bapak sedang banyak pikiran.”

Harsa diam.

Rina melanjutkan, kali ini lebih hati-hati,

“Sejak menikah lagi … pasti tidak mudah.”

Kalimat itu membuat Harsa membuka matanya sepenuhnya. Ia menoleh sedikit ke arah Rina.

“Jangan mulai,” ucapnya pelan.

Rina tertawa kecil. “Saya tidak mulai apa-apa.” Namun nada suaranya tetap halus terlalu halus.

“Kalau dipikir-pikir,” lanjutnya, “Bapak memang terlalu kuat.”

Harsa mengerutkan kening. “Maksudmu?”

Rina menarik napas pelan.

“Menghadapi kehilangan … lalu harus menjalani sesuatu yang tidak diinginkan,” katanya. “Tidak semua orang bisa seperti itu.”

Harsa menatap ke depan lagi.

Mobil terus melaju dan perlahan jarak di antara mereka terasa semakin dekat.

Rina sedikit menggeser tangannya dari setir, lalu dengan pelan menyentuh punggung tangan Harsa.

“Bapak tidak sendirian,” ucapnya lembut.

Harsa langsung menegang. Matanya terbuka penuh dan dia menoleh cepat ke arah Rina.

Tangannya langsung ditarik.

“Rina,” ucapnya tegas. Nada suaranya berubah.

Rina sedikit terkejut, namun tetap tersenyum tipis. “Saya hanya—”

“Fokus menyetir,” potong Harsa.

Rina kembali memegang setir dengan kedua tangan.

Beberapa saat kemudian, Rina kembali mencoba.

Kali ini dengan kata-kata.

“Pak Harsa…” panggilnya pelan.

Harsa tidak menoleh. “Apa lagi?”

“Kalau boleh jujur…” ujar Rina, “saya sebenarnya sudah lama ingin berada di posisi ini.”

Harsa mengerutkan kening. “Maksudmu?”

Rina tersenyum samar, matanya tetap ke jalan.

“Di samping Bapak,” jawabnya pelan.

Rahangnya mengeras.

“Jangan lanjutkan,” ucapnya dingin.

Rina menarik napas pelan. Namun bukannya berhenti, ia justru berkata lebih dalam,

“Dulu saya mundur … karena Bapak sudah memilih orang lain.”

Harsa menutup matanya sejenak.

“Sekarang?” tanyanya pelan, tanpa benar-benar ingin tahu.

Rina tersenyum kecil.

“Sekarang situasinya berbeda.”

“Saya sudah menikah.”

Rina mengangguk kecil. “Saya tahu.”

“Dan itu tidak akan berubah,” lanjut Harsa.

Rina terdiam. Namun, beberapa detik kemudian, ia tetap berkata pelan,

“Pernikahan tanpa cinta … biasanya tidak bertahan lama, Pak.” Kalimat itu langsung membuat Harsa menoleh. Lalu Harsa mengalihkan pandangannya kembali ke depan.

“Cukup, Rina!” Suara itu meledak di dalam mobil.

Rina tersentak, tangannya sedikit gemetar di atas setir.

Ia menoleh cepat. “Pak—”

“Hentikan mobilnya.”vNada Harsa dingin.

Tidak memberi ruang untuk dibantah.vRina terdiam beberapa detik.

“Pak, kita sudah hampir sampai—”

“Saya bilang … hentikan mobilnya.”

Rina menelan ludahnya pelan. Akhirnya ia menepi dan mobil berhenti di pinggir jalan. Udara malam langsung menyambutnya, dingin dan menusuk. Ia berdiri beberapa detik, mencoba menyeimbangkan dirinya.vNamun kemarahannya jauh lebih kuat dari rasa pusing itu.

Menatap ke arah Rina.

“Keluar.” Satu kata.

Rina menggeleng cepat. “Pak, jangan seperti ini. Saya hanya—”

“Keluar, Rina.”

Rina menggenggam setir lebih erat. “Saya tidak bisa membiarkan Bapak menyetir dalam kondisi seperti ini.”

Harsa melangkah mendekat, tatapannya menajam.

“Jangan paksa saya.”

Rina menatapnya, matanya mulai berkaca-kaca.

“Kenapa Bapak marah seperti ini?” suaranya melemah. “Saya hanya peduli…”

“Peduli?” potong Harsa.

Ia tertawa kecil. Namun tawanya dingin.

“Jangan bungkus semuanya dengan kata peduli.”

Rina terdiam.

Harsa melanjutkan, suaranya lebih rendah tapi jauh lebih dalam.

“Meskipun pernikahan ini tanpa cinta…” ucapnya perlahan, “saya tidak akan bermain-main dengan orang lain … saat saya sudah menikah.”

Rina membeku. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Pak…” suaranya bergetar.

Namun Harsa tidak memberinya kesempatan. Ia membuka pintu mobil di sisi pengemudi. Menarik tangan Rina.

“Keluar.”

“Pak, tunggu—” Rina mencoba menahan.

Namun genggaman Harsa kuat. Dalam kondisi tidak sepenuhnya sadar pun tekadnya tidak goyah. Ia menarik Rina keluar dari kursi kemudi. Rina hampir kehilangan keseimbangan saat turun.

“Pak Harsa!” serunya. Namun Harsa tidak berhenti. Ia langsung masuk ke kursi pengemudi.

Menutup pintu.

Sebelum mesin kembali dinyalakan, ia menatap Rina dari balik kaca.

“Kamu pulang sendiri.”

Rina menggeleng cepat. “Tidak bisa, Pak! Ini sudah malam—”

“Kalau kamu masih bertingkah seperti tadi…” potong Harsa, “besok kamu bisa ambil surat pengunduran diri di kantor.”

Rina benar-benar terdiam.

1
tris tanto
kabar ortunya gimn,gk baean kah?
Teh Euis Tea
sudah tamat ternyata thor ga nunggu sampai arsy lahiran tp terima kasih thor atas ceritamu, sehat selalu untuk othor
Teh Euis Tea
si rina udah gila x ya
Angga Gati
bagus ceritanya lope sakebon💖💖💖💖💖💖💖💖💝💝💝💝💝💝💝
Angga Gati
baru bahagia kok udh tamat kak😍
Aditya hp/ bunda Lia
eeeh, ... ternyata tamat kirain masih lanjut tapi makasih 🙏
Ita rahmawati
Weh tamat benerankan 😅
Ita rahmawati
kalo gtu bikin mati ajalah si rinanya Thor soalnya nti kalo udh bebas dendam dia Pasti lebih bahaya 🤣
Ita rahmawati
beneran kn ini si Rina udh KO 🤣
Aditya hp/ bunda Lia
untunglah selamat dan semoga si Rina lama dipenjara
Teti Hayati
Makasih karya luar biasanya ka...
Rieya Yanie
kok cepet tamatnya
Ikaaa1605
Yaaaahhh uda tamat ajaa
Naufal Affiq
terkejut aku bacanya kak,tiba-tiba sidah tamat
Naufal Affiq
kok ada ya model orang seperti si rina ini
Marini Suhendar
Yach....
Marini Suhendar
good job harsa
Naufal Affiq
mampus kau rina,sudah ketahuan belang mu yang sebenarnya
Aditya hp/ bunda Lia
mampus kau .... tamat sudah kamu Rina
Ass Yfa
dan rterjawab sudah...siapa yg menemui Nadin sebelum mnggl dia Rina..sengaja buat shock Nadin dan akhirnya jatuh dari tangga..karna pikirannya nggk fokus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!