Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.
Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.
Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.
Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.
Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11
Matahari Los Angeles mulai tergelincir ke arah barat, membiaskan cahaya jingga yang menembus kaca-kaca gedung tinggi. Knox Lambert Riccardo melangkah masuk ke dalam apartemennya dengan bahu yang terasa pegal. Seharian di lab teknik, berdebat dengan Zack dan Liam tentang teori mesin, dan menahan panas telinga karena godaan "malam pertama" yang fiktif benar-benar menguras energinya.
Namun, begitu pintu jati besar itu tertutup di belakangnya, aroma tumisan bawang putih dan daging panggang yang gurih menyambut indra penciumannya. Knox melepaskan tas ranselnya ke lantai, lalu berjalan menuju dapur.
Langkah kakinya terhenti seketika. Jantungnya seolah melompat ke tenggorokan.
Di depan kompor, Nyx Morrigan sedang berdiri membelakanginya. Gadis itu mengenakan salah satu kaos jersey hitam milik Knox yang berukuran XL. Karena tubuh Nyx yang mungil, kaos itu jatuh hingga ke pertengahan pahanya, menyembunyikan segala sesuatu di baliknya. Masalahnya adalah, Nyx tidak mengenakan bawahan apa pun. Kaki jenjangnya yang putih bersih terpapar jelas di bawah lampu dapur yang terang.
Knox menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa kering.
"Kenapa tidak pakai celana, Nyx?" suara Knox terdengar sedikit lebih serak dari biasanya.
Nyx menoleh sekilas, tangannya masih sibuk mengaduk sup di dalam panci. Wajahnya tampak segar, seolah tidur siangnya telah menghapus semua lelah. "Celanamu besar semua, Knox. Aku sudah mencoba memakainya tapi selalu melorot. Jadi aku meminjam kaos ini saja. Lagipula, ini cukup panjang, kan?"
Knox tidak menjawab. Matanya tidak sengaja menangkap gerakan Nyx saat ia menjinjit untuk mengambil mangkuk di rak atas. Kaos itu terangkat naik, dan Knox baru menyadari satu hal yang lebih gila: Nyx tidak memakai dalaman. Di balik kain katun tipis yang melekat pada punggungnya, tidak ada garis bra yang terlihat.
Knox segera membuang muka, berpura-pura sangat tertarik pada jam dinding di ruang tamu. Bayangan tentang "gundukan" yang pernah ia rasakan Malam itu di kamar mandi mendadak terputar kembali di otaknya seperti film dokumenter beresolusi tinggi.
"Oh shit... Nyx, kau sedang menggodaku, ya?" gumam Knox, suaranya tertahan antara frustrasi dan geli.
Nyx menghentikan kegiatannya, menatap Knox dengan kerutan di dahi yang tampak polos. "Menggodamu? Aku sedang menata makan siang—atau mungkin sudah jadi makan sore—untuk kita. Kau mandilah dulu, bersihkan bau oli itu dari tubuhmu, baru kita akan makan bersama."
Knox mengusap tengkuknya yang panas. Ia berjalan melewati Nyx menuju arah kamarnya, mencoba menjaga jarak setidaknya dua meter agar tangannya tidak melakukan hal-hal yang akan ia sesali nanti.
"Oh, jadi begini rasanya menikah?" celetuk Knox saat ia sampai di ambang pintu kamarnya. Ia menoleh ke belakang, menatap Nyx yang kembali sibuk dengan piring-piring. "Pantas saja teman-temanku di teknik banyak yang memilih nikah muda. Disambut masakan enak dan pemandangan... 'tanpa celana'. Benar-benar gila."
Nyx hanya tersenyum tipis, menggelengkan kepala melihat tingkah pria itu. Di matanya, Knox memang menyebalkan dan mulutnya terkadang melampaui batas kewajaran pria normal, tapi Knox adalah orang baik. Di balik semua kata-kata mesumnya, pria itu tidak pernah benar-benar melangkah maju untuk menyakitinya. Knox memberinya ruang, memberinya perlindungan, dan yang paling penting: Knox memberinya rasa memiliki yang tidak pernah ia dapatkan dari David Beckham.
Beberapa menit kemudian, suara air shower tidak lagi terdengar dari kamar mandi utama. Nyx sedang meletakkan nasi hangat di atas meja saat suara teriakan Knox memecah keheningan.
"NYX! Di mana kau menyimpan celana dalamku?!"
Nyx berteriak balik dari ruang makan tanpa menghentikan aktivitasnya. "Aku menyimpannya di laci paling atas lemarimu! Aku sudah mengelompokkannya sesuai warna!"
Hening sejenak. Lalu suara Knox kembali terdengar, kali ini diikuti suara tawa tertahan yang terdengar sangat dekat di telinga Nyx karena sistem akustik apartemen itu yang luar biasa.
"Kenapa kau menyimpannya di sini, Sayang? Sempit sekali!" teriak Knox dari dalam. "Kasihan 'mereka' akan merasa sesak jika disimpan berdesakan seperti ini. Benar-benar tidak berperasaan."
Nyx terpaku sejenak, mencerna kata-kata itu. Begitu ia menyadari apa yang dimaksud Knox—tentang 'mereka' yang sesak—wajahnya langsung memerah padam hingga ke ujung telinga. Ia menyambar sebuah serbet bersih dan meremasnya kuat-kuat.
"DASAR MESUM, KNOX! PAKAI SAJA BAJUMU DAN CEPAT KELUAR!" teriak Nyx dengan nada tinggi, namun ia tidak bisa menahan tawa kecil yang lolos dari bibirnya.
Kehadiran Knox di hidupnya seperti sebuah anomali. Pria itu kasar tapi jujur, mesum tapi menjaga, dan entah bagaimana, celetukan-celetukan gilanya mulai menjadi hal yang Nyx tunggu-tunggu setiap hari. Di apartemen ini, di bawah godaan dan tawa yang aneh, Nyx merasa ia bukan lagi Nyx sang "anak haram" atau Nyx "si penyamar laki-laki".
Di sini, ia hanya Nyx. Gadis yang sedang menunggu pria mesumnya keluar untuk makan bersama.
Tak lama kemudian, Knox keluar dari kamar hanya dengan mengenakan celana training longgar, rambutnya basah kuyup dan berantakan. Ia duduk di depan Nyx, menatap meja makan yang penuh dengan hidangan lezat.
"Kau tahu, Nyx," ucap Knox sambil mengambil sendok. Matanya menatap Nyx dengan tatapan yang sedikit lebih lembut. "Kalau kau terus-menerus memasak seperti ini dan berjalan-jalan dengan kaosku tanpa bawahan... aku takut aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari sini."
Nyx membalas tatapan itu, jantungnya berdebar sedikit lebih lambat namun lebih kuat. "Makan saja makananmu, Knox. Atau aku akan benar-benar memakai celana dan berhenti memasak untukmu."
"Jangan," sahut Knox cepat, menyuapkan sesendok penuh makanan ke mulutnya. "Begini saja sudah sempurna."
Sore itu, di tengah gemerlap lampu Los Angeles, kedua orang asing itu duduk bersama, berbagi makanan dan tawa kecil yang mulai merajut ikatan yang jauh lebih dalam daripada sekadar perjanjian pelayan dan tuan rumah.
gasss baca sampai habis.... 🤭😁😂