NovelToon NovelToon
Pendekar Naga

Pendekar Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: AMUKAN DI DESA BAMBU KUNING**

“Lepaskan aku!! Tolong!!”

Jeritan melengking seorang gadis memecah kesunyian pagi yang seharusnya damai. Suara itu bergetar hebat, membawa ketakutan yang mendalam menembus celah-celah rumpun bambu yang menguning di sekeliling desa.

Matahari baru saja menanjak di ufuk timur, menyebarkan rona jingga yang hangat.

Namun di Desa Bambu Kuning—

Pagi itu berubah menjadi neraka yang dingin dan mencekam. Aroma asap dari tungku dapur yang tenang berganti dengan bau anyir ketakutan dan debu yang beterbangan akibat langkah-langkah kaki yang kasar.

“Asal kau diam, kami tidak akan menyakitimu!”

Bentak seorang perampok dengan wajah bopeng, sambil menarik lengan gadis itu dengan kasar hingga kain bajunya sedikit terkoyak.

“Tidak! Tolong!!”

Gadis itu meronta sekuat tenaga, namun tenaganya tak sebanding dengan cengkeraman tangan yang kekar dan kotor itu. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang kotor oleh debu tanah.

Di tengah desa—

Puluhan penduduk desa yang tak berdaya telah dikumpulkan di pelataran terbuka.

Mereka duduk berlutut dengan kepala tertunduk.

Wajah mereka pucat pasi, mencerminkan kepasrahan yang menyakitkan di bawah ancaman ujung senjata musuh.

Beberapa pria tua yang mencoba melawan dipukul dengan gagang golok hingga tergeletak bersimbah darah di atas tanah.

Anak-anak kecil menangis ketakutan dalam pelukan ibu mereka, menciptakan orkestra kesedihan yang menyayat hati.

“Cepat keluarkan semua harta kalian!”

teriak seorang perampok lain yang berdiri di atas sebuah lesung kayu, matanya merah penuh kerakusan.

“Padi! Uang! Ternak!”

“Kalau tidak—”

Ia mengangkat goloknya yang kusam namun tajam, membiarkan pantulan sinar matahari berkilat di matanya.

“Kami habisi satu per satu!”

Seorang wanita tua merangkak di atas tanah yang dingin, mencoba meraih kaki sang perampok sambil terisak.

Menangis dengan suara yang parau.

“Jangan… itu satu-satunya persediaan kami untuk musim kemarau…”

“Diam!”

**DUAK!!!**

Sebuah tendangan keras menghantam bahu renta itu.

Wanita itu terpental, terguling beberapa depa dengan rintihan yang menyesakkan.

“Kurang ajar…” gumam seorang pemuda desa dengan mata membara penuh amarah, tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih.

Namun—

“Kalau kau berani bergerak…”

Seorang perampok lain yang lebih licik menempelkan mata pisau yang dingin ke leher seorang anak kecil yang gemetar.

“…anak ini mati duluan.”

Pemuda desa itu langsung terdiam, otot-ototnya menegang namun tak berdaya melihat ancaman maut di depan matanya.

Sementara itu—

Gadis yang tadi ditarik paksa—

Masih ditarik paksa menuju ke belakang deretan rumpun bambu.

“Lepaskan aku!!”

“Ha ha ha! Kau akan jadi hiburan kami yang paling manis hari ini!”

Tawa perampok itu terdengar begitu menjijikkan, berbaur dengan aroma arak murahan dari mulutnya yang busuk.

Ia menarik lebih kasar, menyeret tubuh gadis itu tanpa belas kasihan.

Namun—

Keadaan mendadak berubah.

Tiba-tiba—

**WUSSS!!!**

Sebuah bayangan putih melesat secepat kilat, membelah udara pagi yang pengap.

**BRAKK!!!**

“AAAAKHH!!!”

Perampok bopeng itu terlempar bagaikan boneka kain yang putus talinya!

Tubuhnya menghantam tanah dengan keras!

Berguling beberapa kali sebelum akhirnya terhenti di tumpukan sampah bambu.

Semua orang di pelataran itu terkejut! Gerakan itu terlalu cepat untuk ditangkap mata awam.

“Apa itu?!”

“Siapa?!”

Di tengah mereka, berdiri sesosok tubuh yang kokoh.

Seorang pemuda berdiri tegak dengan kuda-kuda yang mantap namun terlihat rileks.

Pakaiannya sederhana, hanya kain kasar yang sudah pudar warnanya.

Debu perjalanan yang jauh masih menempel di pundak dan sepatunya.

Namun—

Tatapannya…

Sepasang matanya yang tajam seolah mampu menembus sukma setiap orang yang ada di sana.

Dingin sedingin es di puncak gunung.

**Rangga Nata.**

Gadis yang tadi ditarik paksa itu tertegun, menatap punggung tegap yang kini melindunginya.

“Ka… kau…”

Rangga tidak menoleh sedikit pun, pandangannya tetap terkunci pada barisan perampok di depannya.

“Masuk ke dalam rumah.”

Suaranya terdengar sangat tenang, namun mengandung wibawa yang tak terbantahkan.

Gadis itu seolah terhipnotis oleh suara itu. Ia langsung mundur.

Berlari menjauh dari jangkauan tangan-tangan jahat.

“Kurang ajar!!!”

teriak seorang perampok berseragam kulit macan sambil menghunus pedangnya.

“Kau siapa berani ikut campur urusan kami?!”

Rangga melangkah maju satu tindak, debu halus terangkat dari bawah kakinya.

“Orang yang tidak suka melihat sampah hidup.”

Sunyi menyergap pelataran desa itu, hanya desau angin di sela bambu yang terdengar.

“APA KAU BILANG?!”

Lima perampok yang berada paling dekat langsung melesat maju dengan senjata terhunus!

“Bunuh dia!!!”

**WUSSS!!!**

Mereka menyerang bersamaan dari berbagai arah!

Golok dan pedang berkilat-kilat memburu nyawa.

Namun—

Rangga tidak mencabut pedang pusaka di punggungnya.

Ia hanya menghela napas panjang, tampak tenang menghadapi hujan senjata.

“Cepat sekali kalian ingin mati…”

**Sret!**

Tubuhnya seolah menghilang dari pandangan mata manusia biasa!

“Di mana dia?!”

Terlambat.

**BRAKK!!!**

Satu pukulan pendek namun mengandung tenaga dalam murni!

Menghantam rahang salah satu perampok dengan telak.

“AAAKHH!!!”

Perampok itu terlempar ke udara!

Giginya berhamburan ke tanah bersamaan dengan tubuhnya yang lunglai.

Belum selesai keterkejutan rekan-rekannya—

**Sret! Sret!**

Dua gerakan cepat yang luwes bagai tarian naga.

“ARGHH!!”

Dua orang lagi roboh dengan tulang bahu yang berderak patah.

“Cepat sekali!!!”

“Dia bukan orang biasa! Dia pendekar sakti!”

Sisa perampok mulai mundur sedikit, ketakutan mulai merayap di wajah-wajah garang mereka.

Pemimpin mereka akhirnya maju ke depan.

Tubuhnya besar dan dipenuhi tato hitam di lengannya.

Wajahnya kasar dengan bekas luka sayatan di pipi kiri.

“Hm… jadi ini yang membuat kalian panik seperti tikus kejepit?”

Ia menyeringai, mencoba menutupi kegelisahannya dengan kesombongan.

“Anak muda…”

“Namaku Gora Sang Penebas.”

Rangga menatapnya dengan pandangan datar, seolah melihat benda mati yang tak berharga.

“Nama tidak penting.”

“Yang penting…”

Ia melangkah maju dengan tenang namun setiap pijakannya terasa menekan batin lawan.

“…kau akan mati.”

Gora tertawa keras, suaranya parau mencoba membangkitkan keberanian anak buahnya.

“Ha ha ha!!!”

“Berani sekali bicaramu!”

Ia mengangkat golok besar yang beratnya mungkin setara dengan tiga pedang biasa.

“Lihat ini!!!”

**WUSSS!!!**

Golok itu berputar di atas kepalanya, menciptakan desing angin yang tajam.

Menghantam udara dengan pengerahan tenaga dalam kasar.

“TEBASAN ANGIN PEMBAWA MAUT!!!”

**DUARRR!!!**

Gelombang angin tajam melesat menyapu tanah ke arah Rangga!

Penduduk desa menjerit histeris karena ketakutan!

“AWAS!!!”

Namun—

Rangga tetap berdiri diam, jubah sederhananya berkibar terkena angin serangan lawan.

Matanya menyipit sedikit, menilai kekuatan serangan itu.

“Lemah…”

Ia melangkah satu langkah ke depan.

Dan—

**DUKK!!!**

Dengan tangan kosong yang dialiri hawa murni Naga Emas—

Ia memukul gelombang angin itu tepat di pusat energinya!

“APA?!”

Gelombang angin yang mematikan itu mendadak pecah berkeping-keping!

Seperti kaca yang dihantam palu godam!

“Tidak mungkin!!!”

Rangga tidak menyia-nyiakan waktu, ia langsung melesat maju!

**WUSSS!!!**

Dalam satu tarikan napas pendek—

Ia sudah berdiri tepat di depan Gora!

“Cepat…!!!”

Gora belum sempat bereaksi, bahkan untuk sekadar mengangkat goloknya pun tak bisa—

**Sret!!!**

Tangan Rangga bergerak dengan kecepatan kilat!

“Cakar Naga Membelah Batu.”

**DUARRR!!!**

Hantaman telak mendarat di dada Gora yang bidang!

“AAAAKHH!!!”

Tubuh raksasa Gora terlempar sejauh lima tombak!

Menghantam rumah penduduk dengan keras.

Dinding bambu itu hancur berantakan menimbun tubuhnya.

Ia jatuh di tanah.

Tak bergerak lagi, napasnya telah terputus seketika.

Sunyi senyap seketika menyelimuti desa.

Semua perampok yang masih tersisa—

Gemetar hebat, senjata di tangan mereka bergetar.

“Lu… lari!!! Kabur!!!”

Mereka panik dan berlarian kocar-kacir!

Namun—

**WUSSS!!!**

Rangga melesat memutar, bagaikan bayangan putih yang membabat rumput.

Satu demi satu—

Mereka dijatuhkan dengan totokan mematikan.

Tanpa ampun.

Tanpa belas kasihan bagi mereka yang telah menindas rakyat kecil.

Tak sampai beberapa saat kemudian—

Semua perampok—

Telah roboh dan tak bernyawa lagi di pelataran desa.

Sunyi kembali menyelimuti desa, hanya sisa tangis haru yang terdengar.

Penduduk masih terpaku, seolah tak percaya nyawa mereka baru saja diselamatkan.

Seorang pria tua, sesepuh desa, berdiri perlahan sambil menopang tubuhnya yang gemetar.

“Anak muda…”

“Si… siapa kau sebenarnya…?”

Rangga menoleh perlahan ke arah pria tua itu.

Tatapannya kini kembali tenang, sedamai air telaga di pagi hari.

“Orang yang lewat.”

“Dan tidak suka melihat ketidakadilan di depan mata.”

Gadis yang tadi diselamatkannya memberanikan diri mendekat.

“Terima kasih… terima kasih atas bantuanmu…”

Air matanya masih mengalir, namun kali ini adalah air mata syukur.

Rangga mengangguk pelan, memberikan isyarat penghormatan kecil.

“Jaga desa ini baik-baik.”

Ia berbalik, jubahnya berkibar ditiup angin pagi yang kini terasa segar.

“Karena lain kali…”

“…mungkin aku tidak datang lagi ke sini.”

Penduduk desa terdiam, menatap punggung tegap sang penyelamat.

“Ke mana kau akan pergi?” tanya pria tua itu dengan suara berat.

Rangga berhenti sejenak, menatap ke arah pegunungan di kejauhan.

“Ke tempat yang lebih kotor.”

Ia melangkah lagi, meninggalkan pelataran desa yang berdebu.

“Tempat asal mereka semua.”

Angin berhembus kencang, menerbangkan daun-daun bambu yang kering.

Debu berputar pelan di bawah sinar matahari yang kian terang.

Penduduk hanya bisa menatap dalam diam yang penuh haru.

Sosok itu berjalan menjauh, kian lama kian kecil di kejauhan.

Seperti bayangan yang ditelan oleh cahaya pagi.

Namun ia telah meninggalkan harapan baru di hati setiap orang.

Di desa kecil yang kini kembali tenang itu—

Nama Rangga Nata—

Mulai dikenal dan dibisikkan dalam doa.

Sebagai—

Pendekar yang datang tanpa nama yang diteriakkan.

Dan pergi tanpa pamit yang mengharap imbalan.

**Bersambung… 🔥**

1
Ilman Xd
cerita apa ini dawk
anggita
ada visualisasi gambar tokohnya👌. like iklan👍☝
angin kelana
lanjuuuuuttt mudah2n cerita selanjutnya makin seru...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!