Karin seorang wanita karir, dia mendoktrin dirinya sendiri agar harus berkerja keras, tidak perlu memikirkan yang namanya pernikahan.
Dan ya, di umurnya yang sudah 30 tahun, dia masih jomblo alias belum menikah. Sedangkan teman-temannya yang seumuran sudah memiliki anak dua.
Karin merasa, menikah dan punya anak akan mengganggu pekerjaannya. Sehingga dihari cutinya, dia hanya tinggal di dalam kamar membaca novel.
"Ck. Makanya jangan menikah jika belum siap mengurus anak!" tegur Karin sambil melempar Tabnya ke atas kasur.
Dia sedang membaca novel online, yang berjudul ( Pembalasan Tiga Penjahat )
Karin tertidur setelah mambaca novel itu sampai tamat. Tapi saat membuka mata, dia sudah berada di tempat yang berbeda.
"Sial!"
Penasaran kan? Ayo ikuti perjalanan Karin yang menjelajahi dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Membeli Kuda
"Aku dengar, beberapa hari yang lalu, kamu mencari alamat kediaman keluarga Jiang!" ucap Tuan Bai dengan penasaran.
"Ya. Aku mencari seorang Guru untuk anak-anakku!" balas Nan Wei dengan santai.
Tapi ucapan santai itu membuat Tuan Bai terkejut, dia menatap Nan Wei dengan tatapan tak percaya, tapi setelah mengingat Nan Wei berasal dari Desa Wusu, dia akhirnya mengerti.
"Kenapa?" tanya Nan Wei melihat reaksi Tuan Bai yang sedikit berlebihan.
"Oh tidak, aku hanya tidak menyangka Tuan Jiang masih menerima Murid! Jika anak-anak bersungguh-sungguh, mereka pasti bisa menjadi Sarjana!" ujarnya.
"Hmm, kenapa Tuan Bai begitu yakin?" tanya Nan Wei merasa tertarik.
"Dulu, Beliau adalah seorang Guru. Karena terjadi masalah, dia dipecat. Namun, dia masih diperbolehkan menerima Murid, tapi karena masalah itu, tidak ada yang berani untuk mendaftarkan anak-anak mereka!" jelas Tuan Bai dengan wajah serius.
Melihat Nan Wei terdiam dia melanjutkan "Beliau memutuskan hanya mengajari Anak dan cucunya sampai mereka lulus ujian kekaisaran! Makanya aku sedikit terkejut, karena dia masih Mau menerima Murid!"
Nan Wei mengangguk, dia makin yakin status keluarga Jiang dan Tabib Rong pasti sangat berpengaruh.
"Aku tidak memaksa mereka untuk jadi Sarjana! Yang penting mereka mau berusaha, dan apapun hasilnya itulah yang terbaik!"
Tuan Bai mengangguk setuju, karena jalan dan kecerdasan orang berbeda-beda, tidak bisa dipaksakan untuk menjadi apa yang orang tua inginkan.
Nan Wei tiba-tiba meminta Tuan Bai, untuk mengatur satu pelayan untuk mengantar makan siang untuk anak-anaknya.
Karena jika menunggu pulang, mereka baru tiba di rumah sekitar pukul 2 siang, waktu makan siang sudah lewat.
Tuan Bai langsung setuju, Itu bukan hal yang sulit. Dan dia akhirnya memilih orang yang sering mengambil pesanan, karena Nan Wei juga sudah mengenalnya.
"Suruh catat saja! Aku akan membayarnya per minggu dengan jasa pengantaran! Dan makanan diantar mulai besok" pinta Nan Wei.
"Tidak perlu. Makan siang untuk 4 orang tidak membuat Restoran rugi!" Tuan Bai menolak.
Tapi Nan Wei juga tetap kekeh, dia tidak ingin memanfaatkan kerja sama mereka untuk persoalan pribadi.
Pada Akhirnya Tuan Bai mengalah, tapi dia hanya meminta biaya makanan saja, tidak perlu sampai ada biaya pengantaran, jarak ke kediaman Keluarga Jiang hanya 10 menit saja.
"Bagaimana dengan pesanan 1000 kg?" tanya Tuan Bai dengan tidak sabar.
"Sudah selesai. Kapan Tuan Bai berangkat?" Nan Wei baru ingin membuat stempel, untuk memberi semua tanda pada bungkusannya.
Karena di Ibu Kota lah yang paling banyak orang melakukan segala cara untuk mendapat keuntungan.
"Kami berangkat besok pagi!"
"Hmm, kalau begitu aku akan mengantar pesanannya nanti malam.!"
"Tidak perlu, biarkan aku yang mengurusnya!" Tuan Bai menolak, karena kasus penculikan belum selesai diberantas, dan pemerintah saat ini disibukkan dengan laporan kehilangan anak.
"Baik! Kami akan menunggu!" Nan Wei juga tidak menolak.
Setelah urusan dengan Tuan Bai selesai, Nan Wei berpamitan menuju toko buku untuk membuat stempel.
***
Di toko buku, Nan Wei meminta dibuatkan stempel berbentuk kotak dengan Kustom [ Peringatan > Silahkan cek riwayat alergi sebelum di konsumsi ]
"Nyonya Anda harus menunggu!"
Nan Wei tidak keberatan, karena dia juga masih ada urusan. Dia akan kembali nanti jika urusannya selesai.
Setelah membayar uang muka, Nan Wei Keluar dari Toko, lalu menuju pasar ternak untuk membeli kuda.
Semasa hidupnya di dunia nyata, Nan Wei sangat suka berkuda. Jadi bisa dibilang, dia sudah memiliki pengalaman untuk memilih kuda yang kuat dan sehat.
Banyak penjual yang mencoba menipunya dengan kuda mereka yang tampak kuat diluar, tapi kondisi tubuh bagian dalamnya sangat buruk.
Dan Nan Wei memilih kuda hitam yang sangat besar dan tinggi. Pemiliknya, tidak merekomendasikan, karena kuda itu sangat sulit dijinakkan dan harganya sangat mahal, kuda itu hanya cocok digunakan di medan perang.
Tapi pemilik kuda langsung tercengang melihat kuda hitam itu jadi penurut. Biasanya, jika ada orang asing yang mendekat dia langsung gelisah sambil mendengus.
"Kuda itu terlihat sangat menyukaimu!"
"Kalau begitu sebutkan harga pasnya!" pinta Nan Wei sambil mengusap kepala kuda itu dengan pelan.
Harga kuda tentu berbeda-beda, tergantung kualitas, mulai dari kesahatan dan berat badannya, yang paling murah, mulai dari 10 tael perak sampai 30 tael.
"Nyonya! Saya tidak ambil untung sedikitpun, 17 tael saja, kalau mau dengan gerobaknya, cukup bayar 20 tael!"
"Hmm baik! Tapi kalian harus mengantar ke rumahku di Desa Wusu!" pinta Nan Wei. Karena dia belum pernah membawa kereta kuda.
"Bukan masalah! Kami langsung mengantarnya jika surat jual belinya sudah diterima!" jelasnya.
"Nanti saja, aku akan menjemput anak-anakku terlebih dahulu. Sekalian ikut naik, dan mengantar kami pulang!"
"Oh baiklah, itu bukan masalah!"
Nan Wei mengeluarkan kantong uangnya untuk membayar uang muka terlebih dahulu. Tapi seseorang tiba-tiba datang dan langsung menyela.
"Saya ingin kuda ini..!" katanya dengan arogan.
"Nyonya! Kuda ini sudah terjual, Silahkan lihat-lihat di kandang, kami masih ada beberapa ekor lagi!" kata si pemilik dengan canggung.
"Jika belum dibayar, dan belum menerima surat jual belinya, maka belum bisa dikatakan terjual!" sahutnya membela.
"Tapi...!"
"Tidak ada tapi-tapian! Saya bayar 30 tael perak!" katanya dengan angkuh sambil menatap Nan Wei.
Pemilik terdiam, dia memang sedikit tergoda dengan harga itu. Tapi dia juga tidak bisa beralih begitu saja, kecuali jika Nan Wei setuju.
"Nyonya! Jika Anda ingin kuda ini, silahkan tanyakan pada Nyonya Xia. Karena beliau yang ingin membelinya terlebih dahulu!" katanya sambil menunduk.
"Jika Nyonya menginginkan kudanya, silahkan beli kepada saya seharga 30 tael!" pinta Nan Wei sambil tersenyum menyeringai.
"Lancang! Beraninya kau menaikkan harga pada Nyonyaku!" seorang pelayan membentak dengan nada tinggi.
Dia maju kepadan untuk menampar Nan Wei, tapi gerakannya yang lambat membuat Nan Wei menamparnya terlebih dahulu.
PLAAAAKKK...
"Cihh, jauhkan tangan kotormu itu dari wajahku!" kata Nan Wei dengan dingin.
Tindakan Nan Wei membuat semua orang tertegun. Mereka tak menyangka Nan Wei begitu tegas, tanpa ada rasa takut.
"Kau..Kau.. Menamparku!" pelayan juga sangat syok, baru kali ini ada yang berani melawannya.
"Jika aku tidak menamparmu! Maka wajahku terkena tangan kotormu.! Kau, atas dasar apa kau ingin menamparku?" tanya Nan Wei dengan tatapan tajam.
"Karena kau berani menjual mahal kudanya pada Nyonyaku!" katanya dengan membela diri.
"Oh, bukan kah Nyonyamu sendiri yang ingin membayar 30 tael? Banyak orang yang mendengarnya!" kata Nan Wei sambil tersenyum mengejek.
Orang-orang yang ada di sekitar langsung maju untuk menjadi saksi. Mereka mendengar dengan jelas, bagaimana majikannya menaikan harga dengan angkuh.
"Aku mendengarnya!"
"Ya. Aku juga baru masuk mendengarnya dengan jelas!"
"Hmm kau dengarkan? Jadi aku tidak salah karena menamparmu sebagai pembelaan diri. Jika kau tidak puas, kau bisa pergi melapor kantor pengadilan!"
"Itu, ini.. ini cuman hal sepele, kenapa harus melapor ke pengadilan?" tanya dengan panik.
Majikannya menatap Nan Wei dengan marah, berani-beraninya orang Desa mempermalukannya di depan umum.
"Oh kalau begitu, silahkan beli kudanya 30 tael perak, tidak kurang sedikitpun!"
Nyonya itu memberi kode pada pelayannya untuk segera membayarnya. Padahal dia datang hanya untuk menacari gara-gara dengan Nan Wei.
Tapi malah dirinya yang dipermalukan. Dia sudah mencari tahu siapa Nan Wei, wanita Desa yang baru berbisnis beberapa hari.
Itu semua juga permintaan putrinya, Wang Mei. Karena gara-gara Nan Wei, keluarganya diblokir, tidak bisa lagi belanja di toko Bai Ming, bahkan masuk Restoran juga ditolak.
"Nyonya! Kudanya tidak mau bergerak!"
"Dasar BODOH..!"
.
.
.