NovelToon NovelToon
Buku Harian Keyla

Buku Harian Keyla

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi Wanita
Popularitas:822
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Terbawa Mimpi

​"Di mimpiku, kau tersenyum. Sebuah lengkungan bibir yang tak pernah kutemukan di dunia nyata, menghiasi wajahmu yang terbebas dari segala beban. Tanganmu yang hangat menggenggam tanganku, menarikku berlari menembus padang rumput yang bermandikan cahaya matahari. Namun saat aku bangun, aku menangis sejadi-jadinya, karena aku sadar... kebahagiaan bersamamu hanyalah ilusi yang diciptakan oleh keputusasaanku sendiri." (Buku Harian Keyla, Halaman 90)

​Cahaya putih benderang menyilaukan mataku. Angin sejuk berembus, membawa aroma bunga chamomile dan rumput basah. Aku berdiri di tengah sebuah taman yang sangat luas, di bawah langit biru yang tak ternoda oleh awan mendung sekecil apa pun.

​Dan di hadapanku, berdirilah ia. Rendi.

​Laki-laki itu tidak mengenakan kemeja seragamnya yang kusam dan menguning. Ia memakai kaus putih bersih yang pas di tubuh tegapnya. Wajahnya tidak lagi memucat atau dipenuhi oleh gurat-gurat kelelahan ekstrem. Lingkar hitam di bawah matanya telah lenyap, digantikan oleh binar kehidupan yang begitu terang.

​"Keyla," panggilnya. Suaranya tidak serak. Suaranya bariton yang mengalun lembut, penuh dengan kasih sayang.

​Ia mengulurkan tangannya kepadaku. Tangan yang kasar dan kapalan itu kini terasa begitu hangat dan mengundang. Aku menyambut uluran tangannya tanpa ragu. Saat jemari kami bertaut, Rendi menarikku ke dalam pelukannya. Aku bisa mencium aroma sabun mandinya yang segar, merasakan detak jantungnya yang berirama tenang di balik dadanya.

​Lalu, hal yang paling mustahil itu terjadi. Rendi tersenyum.

​Ia menunduk menatapku, dan sebuah senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya mengembang sempurna. Lesung pipi samar yang tak pernah kuketahui keberadaannya muncul di sudut bibirnya. Ia tertawa lepas, sebuah tawa bahagia yang menggetarkan dadanya dan menularkan kehangatan yang luar biasa ke seluruh nadiku.

​"Terima kasih sudah bertahan bersamaku, Keyla," bisiknya di telingaku.

​Aku memejamkan mata, memeluknya semakin erat, tak ingin momen ini berakhir. Hatiku membuncah oleh kebahagiaan yang meluap-luap. Tuhan, jika ini adalah takdirku, aku rela menukar sisa usiaku hanya untuk hidup di detik ini selamanya.

​Kring! Kring! Kring!

​Suara alarm dari ponsel di nakasku berbunyi nyaring, membelah gendang telingaku dengan brutal.

​Aku tersentak. Mataku terbuka lebar. Cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai kamarku terasa menyilaukan dan menyakitkan. Langit-langit kamarku yang berwarna putih polos menatapku dengan kebisuan yang dingin.

​Tanganku meraba sisi tempat tidur. Kosong. Bantal di sebelahku dingin. Hawa sejuk dari taman chamomile itu menguap seketika, digantikan oleh suhu udara AC kamarku yang membekukan tulang.

​Aku bangkit perlahan, duduk di tepi ranjang. Napasku terengah-engah.

​Kenyataan menghantamku dengan kekuatan penuh bagai truk bertonase besar. Pelukan itu tidak ada. Senyuman itu tidak nyata. Tawa lepas yang menggetarkan dada itu hanyalah produk halusinasi dari otakku yang sudah terlalu lelah menerima penolakan. Di dunia nyata, beberapa hari yang lalu, Rendi baru saja mengusirku, membentakku, dan menatapku dengan penuh kebencian di dalam ruang kelas. Ia menganggapku sebagai salah satu dari mereka yang menghinanya.

​Sebuah isakan lolos dari tenggorokanku. Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Air mata kembali mengalir deras, membasahi sela-sela jariku. Dadaku sesak, sangat sesak hingga aku merasa kesulitan menarik oksigen.

​Mimpi itu terlalu indah. Terlalu sempurna. Dan justru karena kesempurnaannya itulah, terbangun menjadi sebuah siksaan yang berkali-kali lipat lebih menyakitkan. Mimpi itu seolah mengejekku, menunjukkan padaku sebuah surga yang tak akan pernah bisa kumasuki di dunia nyata.

​"Pagi ini aku mengutuk matahari yang membangunkanku. Aku membenci kenyataan bahwa aku harus membuka mata dan menghadapi dunia di mana kau menatapku sebagai musuh. Jika mati berarti aku bisa terjebak selamanya dalam mimpiku bersamamu, maka biarkan aku tak pernah bangun lagi." (Buku Harian Keyla, Halaman 91)

​Aku menyeret tubuhku ke kamar mandi. Pantulan wajahku di cermin sungguh menyedihkan. Mataku bengkak parah, kulitku pucat, dan bibirku pecah-pecah karena dehidrasi akibat terlalu banyak menangis sejak pertengkaran hebat yang melibatkan Indra waktu itu. Aku mencuci wajahku dengan air dingin berkali-kali, memoleskan sedikit bedak dan lip balm, namun aura kekosongan di mataku sama sekali tak bisa ditutupi.

​Saat aku turun untuk sarapan, Mama langsung mengerutkan kening melihat keadaanku.

​"Keyla, Sayang, kamu sakit? Muka kamu pucat banget, mata kamu bengkak begitu," tegur Mama cemas, meletakkan gelas susuku di atas meja makan. "Kalau sakit, nggak usah masuk sekolah dulu ya? Mama buatin surat izin."

​Aku menggeleng lemah, memaksakan seulas senyum kaku. "Nggak apa-apa, Ma. Cuma kurang tidur aja. Semalam Keyla begadang ngerjain tugas sejarah, terus ketiduran sambil baca buku, makanya matanya agak bengkak."

​"Kamu ini, jangan terlalu diforsir belajarnya. Nilai kamu udah bagus kok," Mama mengusap rambutku dengan lembut.

​Kasih sayang Mama justru membuatku ingin kembali menangis. Andai Mama tahu, bukan buku sejarah yang membuatku terjaga semalaman, melainkan sebuah peperangan batin yang menghancurkan hatiku dari dalam. Aku mempercepat sarapanku agar terhindar dari pertanyaan lebih lanjut, lalu bergegas masuk ke dalam mobil Pak Anton.

​Sepanjang perjalanan menuju sekolah, aku menatap kosong ke luar jendela. Ingatan tentang mimpi itu terus berputar-putar di kepalaku, menumpuk rasa rindu yang sangat menyiksa. Rindu pada seseorang yang bahkan tak pernah kumiliki.

​Tiba di kelas XII-IPA 1, suasananya masih belum terlalu ramai. Saat aku masuk, pandanganku otomatis tertuju ke sudut belakang.

​Rendi sudah ada di sana.

​Ia duduk di kursinya, dengan posisi yang sama persis seperti hari-hari sebelumnya. Kepalanya bertumpu pada lengan kiri yang dilipat di atas meja, sementara tangan kanannya memegang sebuah pulpen usang, mencoret-coret pinggiran kertas bekas. Kemejanya terlihat lebih rapi hari ini, namun auranya tetap gelap dan mengintimidasi.

​Langkahku terhenti sejenak di ambang pintu. Jantungku berdetak dengan ritme yang menyakitkan. Aku ingin menyapanya. Aku ingin menghampirinya dan bertanya apakah ia sudah makan. Namun larangannya menggema kembali di telingaku. Anggap saja saya mati di matamu, seperti kamu mati di mata saya.

​Aku menelan ludah yang terasa seperti serpihan kaca. Dengan pandangan menunduk, aku berjalan menuju mejaku yang berada tepat di depannya.

​Saat aku menarik kursi, suara gesekan kaki kursiku beradu dengan lantai keramik. Rendi menghentikan coretannya. Aku menahan napas, menanti apakah ia akan menatapku atau beranjak pergi karena muak dengan kehadiranku. Namun ia hanya diam. Ia mengabaikanku seutuhnya. Keberadaanku di depannya tak lebih penting dari debu yang menempel di ujung sepatunya.

​Aku duduk, meletakkan tasku, dan mengeluarkan buku catatan. Aku menatap punggung Lidya dan Bella yang baru saja masuk sambil tertawa terbahak-bahak. Mereka menyapaku, dan aku membalas sapaan mereka dengan senyum yang dipaksakan hingga pipiku terasa kram.

​Siska datang beberapa saat kemudian. Ia mengambil tempat di sampingku, menatapku dengan saksama di balik kacamata tebalnya.

​"Mata kamu masih bengkak, Key," bisik Siska pelan. Ia meraih tanganku dan mengusapnya. "Kamu masih nangisin cowok nggak punya hati itu? Keyla... bangun. Kamu lagi menghancurkan dirimu sendiri."

​"Aku nggak nangis kok, Sis," dustaku pelan. "Aku cuma... capek."

​"Capek fisik bisa diobati dengan tidur. Capek hati? Cuma bisa diobati kalau kamu berhenti peduli," Siska memberikan nasihatnya yang terdengar bijak namun mematikan. Ia melirik tajam ke arah belakang. "Biarkan dia membusuk dengan egonya sendiri."

​Pelajaran pertama dimulai. Matematika peminatan. Guru kami, Pak Haris, sedang menjelaskan tentang materi limit fungsi trigonometri di papan tulis. Suara kapur yang beradu dengan papan terdengar berirama.

​Biasanya, aku adalah salah satu siswi yang paling aktif mencatat dan menjawab pertanyaan Pak Haris. Namun hari ini, pikiranku benar-benar melayang ke dimensi yang berbeda.

​Mataku memang menatap papan tulis, tapi angka-angka dan simbol sin, cos, tan itu terlihat seperti sekumpulan semut hitam yang berbaris tanpa makna. Pikiranku terus kembali pada taman chamomile di dalam mimpiku. Aku mengingat senyumnya, aku mengingat kehangatan tangannya. Bayangan itu begitu nyata, begitu adiktif, hingga perlahan aku membiarkan diriku tenggelam ke dalam lamunan yang panjang.

​Aku tak sadar sudah berapa lama aku melamun, menopang dagu dengan tatapan kosong, hingga sebuah suara lantang menyentakkanku kembali ke realita.

​"Keyla! Keyla Anindita!"

​Panggilan Pak Haris yang keras membuat bahuku melonjak kaget. Seisi kelas menoleh ke arahku.

​Aku tergagap, buru-buru berdiri dari kursiku. "I-iya, Pak?"

​Pak Haris menatapku dari balik kacamata bacanya, wajahnya terlihat tak senang. Ia mengetukkan kapurnya ke papan tulis, menunjuk sebuah persamaan limit yang panjang dan rumit. "Dari tadi Bapak perhatikan kamu melamun terus. Coba kamu maju ke depan, kerjakan soal nomor tiga ini. Jelaskan langkah-langkahnya ke teman-temanmu."

​Keringat dingin seketika mengucur di tengkukku. Aku menelan ludah. Aku melirik ke papan tulis, lalu ke buku catatanku yang ternyata masih kosong melompong. Aku sama sekali tidak memperhatikan penjelasan Pak Haris selama empat puluh menit terakhir.

​"A-anu, Pak... saya..." suaraku bergetar pelan. Kepanikan menyergap dadaku.

​"Ayo maju. Kamu kan biasanya selalu bisa mengikuti pelajaran Bapak," desak Pak Haris tegas.

​Di sebelahku, Siska menggeser bukunya sedikit ke arahku, memperlihatkan jawabannya. Lidya yang duduk di depan juga memiringkan tubuhnya, berusaha membisikkan rumus awalnya. "Pake turunan, Key... L'Hopital," bisik Lidya dengan suara sekecil mungkin.

​Tapi otakku benar-benar buntu. Rasa malu, panik, dan kelelahan mental yang bertumpuk membuatku tak bisa memproses informasi apa pun. Aku berjalan dengan langkah gontai menuju depan kelas. Aku mengambil kapur dari tangan Pak Haris yang menatapku dengan kening berkerut.

​Aku berdiri di depan papan tulis. Menatap persamaan limit fungsi trigonometri itu selama dua menit penuh. Tanganku yang memegang kapur bergetar hebat. Tidak ada satu pun angka yang bisa kutulis. Kepalaku terasa ringan, pandanganku mulai berkunang-kunang.

​"Bagaimana, Keyla? Bisa tidak?" tuntut Pak Haris. Suasana kelas menjadi sangat hening.

​Aku menundukkan kepalaku. Rasa panas menjalar di wajahku. "Maaf, Pak... saya nggak bisa. Saya nggak ngerti," ucapku parau, nyaris menangis di depan kelas. Ini adalah pertama kalinya aku dipermalukan karena gagal menjawab soal di pelajaran favoritku.

​Pak Haris menghela napas panjang, mengambil kembali kapur dari tanganku. "Kamu ini kenapa hari ini? Konsentrasi kamu hancur sekali. Kalau kamu terus-terusan melamun, nilai UAS kamu bisa anjlok! Kembali ke tempat dudukmu, dan perhatikan baik-baik!"

​"Baik, Pak. Maaf," cicitku, berbalik dan berjalan kembali ke mejaku dengan kepala tertunduk dalam-dalam.

​Saat aku berjalan melewati deretan meja, aku bisa merasakan tatapan teman-temanku. Beberapa berbisik-bisik. Lidya dan Bella menatapku dengan wajah penuh kekhawatiran. Siska menatapku dengan raut sedih yang sempurna.

​Namun, dari sekian banyak pasang mata yang menatapku, ada satu tatapan yang membuat dadaku serasa dihantam palu godam.

​Rendi tidak sedang menunduk. Ia sedang duduk tegak, dan matanya menatapku lurus saat aku berjalan gontai menuju kursiku.

​Aku tak sengaja bersirobok pandang dengannya selama sepersekian detik. Di matanya, tidak ada kilat kepuasan melihatku dipermalukan. Tidak ada juga raut mengejek. Yang kulihat hanyalah sebuah kedataran absolut. Ia menatapku dengan ekspresi seolah ia sedang melihat orang asing yang tak ada sangkut pautnya dengan kehidupannya.

​Ia memutus pandangan kami lebih dulu, kembali menatap papan tulis dengan acuh tak acuh.

​Sikapnya yang teramat dingin itu merobek sisa-sisa pertahananku. Ia melihatku hancur, ia melihatku kehilangan konsentrasi, tapi ia sama sekali tidak peduli. Perjanjian setengah jam untuk belajar bersama telah ia batalkan secara sepihak. Aku bukan siapa-siapa lagi baginya.

​Aku menghempaskan tubuhku di kursi, membenamkan wajahku di antara kedua lenganku di atas meja. Aku meremas ujung lenganku kuat-kuat, menahan isakan yang mendesak naik.

​"Lo kenapa sih, Key? Nggak biasanya lo blank parah kayak gitu," bisik Lidya sambil mencondongkan tubuhnya ke belakang saat Pak Haris berbalik menulis di papan.

​"Gue nggak enak badan, Lid," dustaku pelan.

​Siska yang berada di sampingku mengusap punggungku. "Ini semua gara-gara dia," bisik Siska dengan sangat pelan ke telingaku. "Kamu lihat kan? Cinta bodoh ini udah mulai ngerusak masa depan kamu, Keyla. Kamu dihukum di depan kelas, kehilangan fokus, dan bikin malu diri kamu sendiri. Sementara cowok yang jadi penyebabnya? Dia cuma diam santai di belakang tanpa rasa bersalah sedikit pun."

​Aku menggigit bibirku menahan tangis. Perkataan Siska begitu beracun, tapi di saat aku berada di titik terlemah ini, racun itu perlahan mulai menemukan celah untuk merasuk ke dalam logikaku. Apakah aku benar-benar sedang menghancurkan masa depanku sendiri demi seseorang yang membuangku ke tempat sampah?

​Sepanjang hari itu, fokusku tak pernah kembali. Di pelajaran Sejarah, aku kembali ditegur karena mencoret-coret buku tanpa arah. Di pelajaran Bahasa Inggris, aku salah membaca kalimat saat diminta guru. Prestasiku menurun drastis hanya dalam hitungan hari.

​Lidya dan Bella semakin panik. Saat jam istirahat kedua tiba, mereka memaksaku untuk tidak pergi ke kantin, melainkan menahanku di kelas untuk bicara dari hati ke hati. Kebetulan, Rendi sudah pergi entah ke mana, meninggalkan kami berempat di kelas yang sepi.

​"Key, lo jujur sama gue. Lo masih kepikiran kejadian kemarin waktu Indra ribut sama Rendi?" tembak Lidya tanpa basa-basi. Ia menarik kursinya mendekat, menatapku dengan tajam.

​Aku menunduk, memainkan ujung jari-jariku yang gemetar. "Aku... aku cuma kecapekan aja, Lid."

​"Bohong," potong Bella tegas. "Mata lo bengkak, lo sering ngelamun, nilai lo mulai anjlok. Lo berubah seratus delapan puluh derajat, Key! Ini semua pasti gara-gara si kulkas berjalan itu kan? Dia ngomong apa lagi ke lo sampai lo jadi kayak mayat hidup gini?!"

​"Dia nggak ngomong apa-apa, Bel!" bantahku dengan suara bergetar. "Masalahnya ada di aku. Aku yang nggak bisa berhenti mikirin dia."

​Siska menghela napas panjang, merangkul pundakku. "Keyla, aku tahu melupakan cinta pertama itu susah. Apalagi kamu udah terlanjur ngerasa jadi pahlawan buat dia dengan bantuin dia ngasih uang atau makanan diam-diam." Siska sengaja menggunakan kata 'pahlawan'—kata yang persis diucapkan Rendi saat menghinaku—dan itu sukses membuat perutku kembali mual. "Tapi kamu harus pakai logikamu. Laki-laki yang tidak menghargai pemberianmu tidak akan pernah menghargai hatimu."

​"Tapi Sis, hidupnya itu susah..." aku mencoba membela, namun suaraku sudah sangat lemah.

​"Terus kalau hidupnya susah, apa itu ngasih dia hak buat nyakitin kamu? Buat ngehina ketulusan kamu?" Lidya menyahut dengan nada tinggi. "Di luar sana banyak orang miskin, Key. Tapi nggak semuanya arogan dan kasar kayak dia! Lo nggak bisa nyelamatin orang yang nggak mau diselamatin. Lo malah bakal ikut tenggelam!"

​Kata-kata Lidya memukulku dengan telak. Aku tak punya argumen lagi untuk membantah. Semua orang memojokkanku dengan kebenaran yang tak bisa kuterima. Aku menangis dalam diam, merasa menjadi manusia paling bodoh sedunia.

​"Mereka memintaku untuk melupakanmu, seolah melupakanmu semudah menghapus tulisan pensil di atas kertas. Mereka tidak tahu bahwa kau telah diukir di dalam tulang rusukku dengan belati. Menghapusmu berarti aku harus menghancurkan diriku sendiri." (Buku Harian Keyla, Halaman 95)

​Perdebatan kami terhenti saat sosok tegap muncul di ambang pintu kelas.

​Indra.

​Laki-laki itu berdiri dengan raut wajah yang penuh penyesalan. Ia melihatku menangis di kelilingi sahabat-sahabatku. Ia berjalan masuk dengan langkah pelan dan ragu.

​"Hai, guys," sapa Indra pelan pada Lidya, Bella, dan Siska. Ia lalu menatapku. "Key... aku boleh ngomong berdua sama kamu sebentar?"

​Lidya dan Bella langsung mengangguk mengerti. Mereka menarik Siska keluar kelas, memberikan kami ruang privasi.

​Aku mengusap air mataku dengan punggung tangan, menatap Indra dengan sisa-sisa tenaga. "Ada apa, Ndra?"

​Indra menarik kursi di hadapanku dan duduk. Wajahnya yang biasanya selalu cerah kini memancarkan rasa bersalah yang sangat mendalam. Ia menatapku dengan mata yang redup.

​"Key... aku mau minta maaf," ucap Indra pelan, suaranya sedikit bergetar. "Soal kejadian beberapa hari yang lalu. Waktu aku emosi dan ngelabrak Rendi di depan kamu. Aku sadar... aku salah. Aku udah kelewatan."

​Aku terdiam, membiarkan ia melanjutkan.

​"Siska ngasih tau aku kalau kamu marah banget sama aku karena kejadian itu. Dia bilang aku udah ngerusak semuanya," lanjut Indra, matanya menyiratkan keputusasaan. "Waktu itu aku kebawa emosi. Aku nggak tahan lihat kamu nangis dibentak sama dia. Di mataku, kamu itu terlalu berharga untuk diperlakukan sekasar itu. Tapi aku nggak sadar kalau cara aku ngebela kamu justru malah... nyakitin hati kamu, dan mungkin juga menghina harga dirinya secara berlebihan."

​Mendengar pengakuan Indra, dadaku terasa sedikit lega, namun kekosongan di hatiku tak juga terisi. Indra menyadari kesalahannya. Indra meminta maaf dengan jantan. Indra adalah definisi dari laki-laki yang baik.

​Namun... Rendi tidak akan pernah kembali. Maaf dari Indra tidak akan bisa memperbaiki amplop biru yang remuk di tempat sampah, dan tidak akan bisa menarik kembali kata-kata penolakan Rendi.

​"Aku udah maafin kamu, Ndra," jawabku pelan, suaraku terdengar hampa tanpa emosi. "Kejadiannya udah berlalu. Kamu nggak perlu ngerasa bersalah terus."

​Indra menatapku dengan kening berkerut. Matanya mencari-cari kehangatan yang biasanya selalu ada saat kami mengobrol, namun ia tak menemukannya. "Kamu beneran udah maafin aku? Tapi kenapa mata kamu sembab, Key? Kenapa kamu jadi murung begini? Apa dia masih ganggu kamu?"

​Aku menggeleng pelan. "Enggak, Ndra. Dia udah nggak pernah ganggu aku. Kami... kami udah nggak saling kenal."

​Aku mengucapkan kalimat terakhir itu dengan susah payah, rasanya seperti menelan racun duri.

​Indra menghela napas lega, namun kelegaan itu tak bertahan lama. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya terulur ingin menggenggam tanganku yang berada di atas meja, namun ia menahan dirinya.

​"Key," panggil Indra lembut, sangat tulus. "Izinin aku nebus kesalahanku ya? Izinin aku balikin senyum kamu yang hilang. Aku janji, aku nggak akan pernah bikin kamu nangis. Aku bakal jaga kamu."

​Tawaran yang sempurna. Seseorang menawariku rumah yang hangat saat aku sedang mati kedinginan di tengah badai. Logika menjerit menyuruhku menerima uluran tangannya, menyuruhku membalas perasaannya agar hidupku kembali normal.

​Tapi hatiku... hatiku adalah hamparan abu yang tak bisa lagi disulut oleh api lain.

​Aku menatap mata Indra. Di sana ada kehangatan yang jujur. Tapi yang kubutuhkan bukanlah kehangatan. Yang kubutuhkan adalah tatapan kelam yang menyimpan ribuan rahasia kelam itu. Aku menyadari betapa kejamnya perasaanku ini. Aku telah menghancurkan hati laki-laki yang tulus padaku, demi laki-laki yang menolak keberadaanku.

​"Ndra..." suaraku bergetar pelan. Aku menarik sedikit tanganku mundur, menolak gesturnya dengan sangat halus. "Kamu cowok yang baik banget. Kamu pantas dapat perempuan yang bisa ngasih seluruh hatinya tanpa syarat."

​Aku menelan ludah, menatapnya dengan penuh rasa bersalah. "Tapi hatiku... hatiku lagi nggak bisa dikasih ke siapa-siapa, Ndra. Semuanya udah habis. Kosong. Aku minta maaf. Jangan tunggu aku. Jangan habiskan waktu berhargamu buat orang yang nggak bisa ngehargain perasaanmu."

​Penolakanku mengudara dengan kejam di ruang kelas yang sepi itu.

​Indra terdiam kaku. Senyum penuh harap di wajahnya perlahan luntur. Matanya yang tajam menatapku dengan luka yang tak tertutupi. Ia mengerti. Laki-laki cerdas ini tahu persis apa arti di balik kata-kataku. Aku tidak sedang menutup pintu untuk semua laki-laki; aku hanya menutupnya untuk dirinya, karena ruang di hatiku masih dijajah oleh 'hantu' yang bahkan tak ingin menetap di sana.

​Indra menoleh pelan ke arah belakang kelas. Menatap meja kayu kosong di sudut barisan, tempat Rendi biasa duduk.

​Sebuah senyum miris dan getir tercetak di bibir Indra. Kapten futsal yang dipuja seluruh sekolah, laki-laki mapan yang memiliki segalanya, harus menelan kekalahan telak. Ia tidak kalah dari laki-laki yang lebih tampan atau lebih kaya. Ia kalah dari seorang laki-laki miskin, pendiam, dan kasar, yang bahkan tak pernah mendeklarasikan perang, namun berhasil memenangkan seluruh isi hati gadis yang ia cintai.

​"Aku ngerti, Key," bisik Indra parau. Ia berdiri dari kursinya. Ia tidak marah, namun kepedihannya terlihat sangat jelas. "Kamu benar, perasaan memang nggak bisa dipaksa. Tapi aku nggak akan nyerah untuk jadi pelindungmu, setidaknya dari jauh. Kalau kamu butuh bantuan apa pun, jangan ragu cari aku."

​Tanpa menunggu balasanku, Indra berbalik dan melangkah keluar dari kelas XII-IPA 1.

​Aku kembali menundukkan wajahku di atas lipatan lengan. Tangisku luruh tanpa suara.

​Aku telah mengusir matahari yang tulus demi mengejar bulan yang membeku. Aku telah mengecewakan sahabat-sahabatku, mematahkan hati Indra, dan menghancurkan nilai akademisku sendiri. Semua kewarasan dan logikaku telah terbakar habis oleh cinta yang membabi buta ini.

​"Hari ini, aku menolak sebuah rumah demi tetap berdiri di tengah badai. Mereka menyebutku gila. Mungkin mereka benar. Karena hanya orang gila yang mau tertidur dalam tangis setiap malam, hanya agar bisa bertemu denganmu yang tersenyum di dalam mimpi." (Buku Harian Keyla, Halaman 98)

1
Yuni Uni
bagus banget ceritanya kak ,,,,,,kayak zaman sma zamanku dulu
semangat ya kak
partini
benar an ini dah berakhir Thor
so happy next cerita mereka dah dewasa
partini
ko waktu buat indra ,buat kamu sendiri dong tata hatimu dulu kubur semua kenangan itu dalam" berjalan kedapan dengan nanggung urusan asmara nanti menyusul lah,, siapapun orangnya pasti terbaik buat kamu kalau jodoh sama Indra bagus sama Rendy nanti jug bagus,,cintai dirimu sendiri dulu
partini
sekarang kamu bisa bilang Kya gitu NDRA mencintai orng yg hatinya udah mati kusus untuk dia itu melelahkan sekali loh,,pikir dulu lah sebelum bertindak
partini: hati Kay udah ga bisa ke lain hati udah mentok ke satu orang jadi yg lain lewat
total 2 replies
partini
tapi kalau di pikir" Kayla sangat menggangu sih Thor
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik
partini
mereka bertemu lagi setelah beberapa tahun Thor ,i hope mereka bertemu udah pada kerja Rendi jug udah sukses biar saling bersaing ga Jomblang kaya sekarang
Pengamat Senja: iya kasian banget Keyla /Frown/
total 3 replies
partini
biarkan Rendi sendiri aja lah ,jangan di ganggu dulu mungkin lebih baik kamu pergi jauh dari pada Rendi makin stres
partini
orang sederhana yg apa ini mananya susah di Jabar kan si Rendi ini orangnya ,belagu iya, egois iya ,sok kuat iya padahall butuh seseorang untuk berbagi kesedihan
Nacill Chan
semangatt kakkk 😉
partini
kadang menurut kita baik belum tentu itu baik untuk mereka
partini
lanjut
Pengamat Senja: jangan lupa follow ya kak 🙏
total 1 replies
Pengamat Senja
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!