Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.
Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
...«----------------🍀{LINDA}🍀----------------»...
Udara di apartemen nomor 404 mendadak berubah menjadi sedingin es, meski AC di ruang tamu sudah aku matikan sejak pagi. Indra penciuman ku menangkap sebuah aroma yang sangat aku kenal, bukan aroma melati seperti milik ku, melainkan aroma cendana tua yang pekat dan berwibawa, bercampur dengan bau tanah hutan yang basah. Jantung ku berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena aku tahu persis siapa yang sedang berdiri di balik pintu kayu jati kami.
“Bibi Sari,” Keluh ku, sementara ekor ku yang sembilan mencuat keluar secara otomatis, bulunya berdiri tegak karena insting waspada. “Kenapa dia ada di sini? Klan seharusnya tidak tahu lokasi ku seakurat ini. Dan yang lebih penting, kenapa dia datang sekarang, saat hormon ku sedang tidak stabil dan Elkan sedang hobi menendang-nendang sihir?”
Bel pintu berbunyi. Suaranya terdengar seperti lonceng kematian yang sopan.
Dimas, yang baru saja selesai merapikan "sarang bantal" kami, berjalan menuju pintu dengan wajah polos tanpa dosa. "Mungkin itu kurir paket yang membawa pelindung dada yang aku pesan," gumamnya.
"Dimas, jangan!" teriak ku, tapi terlambat.
Pintu terbuka, dan di sana berdirilah seorang wanita paruh baya yang tampak sangat elegan. Ia mengenakan kebaya modern berwarna marun, rambutnya disanggul rapi tanpa cela, dan kacamata berbingkai emas bertengger di hidungnya yang bangir. Bagi mata manusia seperti Dimas, dia hanyalah seorang wanita ningrat yang tersesat. Tapi bagi ku, dia adalah Rubah Ekor Sembilan senior yang sudah hidup selama empat abad dan memiliki lidah setajam silet.
"Jadi... ini sarang kecil yang kau banggakan, Linda?" suara Bibi Sari mengalun dingin, matanya yang tajam langsung memindai setiap sudut ruangan, berhenti sejenak pada tumpukan bantal di lantai.
Dimas terpa ku. Ia menatap ku, lalu menatap wanita itu. "Eh... selamat siang? Maaf, Ibu mencari siapa?"
"Dimas, ini Bibi Sari," kata ku dengan suara yang dipaksakan tenang. Aku mendekat dan segera menarik ekor ku kembali ke bawah daster, meski ujungnya masih berkedut gelisah. "Dia... bibi ku dari desa."
Dimas langsung berubah mode menjadi 'Menantu Teladan'. Ia membungkuk hormat, wajahnya dipenuhi senyum ramah yang biasanya ia gunakan untuk melunakkan klien logistik yang marah. "Ah! Bibi Sari! Maafkan saya, Ibu Linda tidak bilang kalau Bibi akan berkunjung. Silakan masuk, Bi. Mari, duduk di... eh, di kursi yang ini saja, jangan di tumpukan bantal itu."
Bibi Sari melangkah masuk dengan anggun, membiarkan aroma cendananya mendominasi ruangan. Ia duduk di kursi kayu jati yang baru dibeli Dimas, jarinya yang lentik mengetuk-ngetuk sandaran tangan seolah sedang mengecek kualitas kayu.
"Jadi, ini pria manusianya?" Bibi Sari menatap Dimas dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Tampan juga untuk ukuran makhluk yang umurnya tidak sampai seratus tahun. Tapi, Linda, kenapa selera mu begitu... praktis? Dia terlihat seperti pria yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan kertas daripada dengan pedang."
“Mulainya,” Keluh ku, aku mengepalkan tangan di balik daster. “Dia mulai menyindir. Dia selalu menganggap manusia adalah ras yang membosankan. Jika dia tahu Dimas baru saja memasang CCTV untuk melindungi ku, dia pasti akan tertawa sampai ekornya rontok.”
"Saya Dimas, Bi. Saya bekerja di bidang logistik," Dimas memperkenalkan diri dengan sopan, mengabaikan sindiran tentang 'pedang' itu. "Bibi mau minum apa? Teh? Kopi? Atau mungkin... jus buah segar?"
"Teh hijau tanpa gula. Dan pastikan airnya berasal dari pegunungan, bukan dari keran Jakarta yang berbau kaporit itu," jawab Bibi Sari ketus.
Dimas mengangguk patuh dan bergegas ke dapur. Begitu dia menghilang, Bibi Sari langsung menatap perut ku. Matanya berkilat hijau sejenak.
"Energinya sangat kacau, Linda," bisiknya. "Anak campuran ini sedang menguras sihir mu. Kau terlihat kuyu. Seperti rubah yang habis kehujanan di tengah sawah."
"Aku baik-baik saja, Bi. Elkan hanya sedikit... bersemangat," balas ku ketus. "Kenapa Bibi ke sini? Genta yang menyuruh?"
"Genta itu bocah ingusan yang terlalu banyak bicara," Bibi Sari mendengus. "Aku ke sini karena insting ku bilang keponakan ku yang bodoh ini sedang mencoba melakukan persalinan ajaib di tengah hutan beton tanpa bantuan profesional. Kau pikir dokter manusia bisa menangani bayi yang bisa mengeluarkan api saat menangis?"
Dimas kembali dengan nampan berisi teh hijau (yang untungnya ia buat menggunakan air mineral kemasan mahal). "Ini tehnya, Bi. Maaf jika tidak sesuai standar pegunungan."
Bibi Sari menyesap tehnya, wajahnya menunjukkan sedikit kepuasan yang tersembunyi. "Lumayan. Setidaknya kau tahu cara menyeduh teh tanpa merusaknya." Ia kemudian meletakkan cangkirnya dan menatap Dimas dengan serius. "Dimas, kau tahu apa yang sedang dikandung istri rubah mu ini?"
Dimas duduk di samping ku, tangannya menggenggam tangan ku dengan erat, sebuah tindakan yang membuat Bibi Sari mengangkat sebelah alisnya. "Saya tahu, Bi. Kami sedang menanti Elkan. Dan saya tahu Elkan bukan bayi biasa. Dia punya kekuatan... yang terkadang membuat saya terpental ke rak buku."
Bibi Sari tertawa, sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan logam yang elegan. "Terpental? Itu baru pemanasan, Nak. Saat dia lahir nanti, gelombang energinya bisa meruntuhkan gedung apartemen ini jika tidak diredam dengan sihir kuno. Itulah sebabnya aku di sini."
Ia mencondongkan tubuh ke arah kami. "Aku bekerja sebagai dokter di sebuah desa terpencil di lereng Merapi. Tentu saja, secara resmi aku dokter umum bagi manusia, tapi secara tidak resmi, aku adalah tabib bagi kaum kita. Linda, Dimas... saat usia kehamilan masuk bulan kedelapan, aku menyarankan kalian tinggal bersama ku di desa."
"Tinggal di desa?" Dimas tampak terkejut. "Tapi pekerjaan saya di sini, Bi. Dan apartemen ini baru saja saya pasangi sistem keamanan—"
"Sistem keamanan mu itu hanya berguna untuk mengusir maling ayam, Dimas!" sela Bibi Sari dengan sindiran tajam. "Di desa ku, ada perlindungan alami. Hutan yang bisa menyesatkan mata-mata klan, dan laboratorium medis ku yang dilengkapi dengan penangkal sihir. Aku bisa membantu persalinan Linda dengan aman. Jika kalian tetap di sini, kalian hanya mengundang bencana. Klan tidak akan tinggal diam melihat kelahiran Han’yo yang memiliki potensi kekuatan besar."
“Dia benar,” Keluh ku dalam hati, rasa cemas mulai merayap kembali. “Apartemen ini terasa nyaman, tapi ini adalah sasaran empuk. Di desa Bibi Sari, setidaknya aku memiliki seseorang yang tahu cara menjahit luka sihir dan menenangkan janin campuran.”
"Tapi, Bi... bagaimana dengan Dimas?" tanya ku. "Dia tidak bisa meninggalkan dunianya begitu saja."
Bibi Sari menatap Dimas dengan pandangan yang sedikit lebih lunak, meski tetap angkuh. "Dia bisa ikut. Aku punya paviliun kecil di belakang rumah. Dia bisa membawa komputer-komputer anehnya itu ke sana. Sinyal internet di sana cukup bagus karena aku memasang pemancar sihir di atas pohon beringin."
Dimas terdiam. Aku bisa melihat otaknya sedang bekerja keras, menimbang-nimbang antara karier yang baru saja naik dan keselamatan keluarga kecil kami. Ia menatap ku, mencari jawaban di mata ku.
"Dimas," kata ku lembut, "Bibi Sari memang hobi menyindir, tapi dia adalah tabib terbaik yang dimiliki klan kita. Jika dia menawarkan bantuan, itu artinya situasi Elkan memang seserius itu."
Dimas menghela napas panjang. Ia menoleh kembali ke arah Bibi Sari. "Bi, saya sangat menghargai tawaran itu. Tapi saya harus memastikan Linda nyaman. Dan saya harus tahu... apakah di sana aman dari Genta?"
Bibi Sari tersenyum miring, sebuah seringai predator yang sangat mirip dengan ku. "Bocah Genta itu tidak akan berani menginjakkan kaki di kebun kunyit ku. Terakhir kali dia mencoba mencuri mangga di sana, aku mengubahnya menjadi kodok selama tiga hari. Dia tahu siapa yang berkuasa di lereng itu."
Suasana mendadak menjadi lebih santai. Sisi komedi muncul saat Bibi Sari mulai mengkritik dekorasi apartemen kami lagi.
"Dan Dimas," tambahnya sambil menunjuk bantal-bantal di lantai, "jika kalian pindah ke rumah ku, jangan bawa tumpukan sampah empuk ini. Rubah itu butuh sarang yang alami, bukan pameran toko furnitur. Kau membuat keponakan ku jadi manja."
"Tapi Bi, Linda yang meminta ini—"
"Tentu saja dia meminta! Dia sedang hamil! Tugas mu adalah memberinya apa yang dia butuhkan, bukan apa yang dia inginkan. Beri dia daging kijang segar, bukan martabak manis berminyak itu," Bibi Sari mendengus.
Dimas hanya bisa mengangguk-angguk pasrah, keringat dingin bercucuran di dahinya. "Baik, Bi. Daging kijang. Saya akan... eh, coba cari di toko daging impor."
“Kasihan Dimas,” Keluh ku sambil menahan tawa. “Dia baru saja belajar menghadapi satu rubah posesif, sekarang dia harus menghadapi rubah tua yang dominan. Selamat datang di keluarga besar siluman, suami ku tersayang. Hari ini akan menjadi ujian kesabaran yang luar biasa bagi mu.”
Setelah menghabiskan tehnya, Bibi Sari berdiri. Ia berjalan menuju pintu, namun sebelum keluar, ia berhenti di depan Dimas. Ia meletakkan tangannya di bahu Dimas, sebuah tindakan yang sangat jarang dilakukan siluman murni kepada manusia.
"Kau punya nyali, Manusia," bisiknya. "Tidak banyak pria yang berani memeluk badai seperti Linda. Jaga dia baik-baik sampai waktunya tiba. Dan pikirkan tawaran ku. Merapi jauh lebih tenang daripada Jakarta yang berisik ini."
Dengan satu kedipan mata, Bibi Sari menghilang dari ambang pintu, meninggalkan aroma cendana yang kuat dan suasana yang mendadak terasa lebih lapang.
Dimas terduduk lemas di sofa, langsung membenamkan wajahnya di tumpukan bantal. "Linda... bibi mu itu... dia lebih menakutkan dari bos besar ku di kantor."
Aku merangkak mendekat, melilitkan ekor ku di pinggangnya untuk menghibur. "Itu baru permulaan, Dimas. Dia sebenarnya menyukai mu. Kalau dia tidak suka, kau sudah berubah menjadi pot kaktus di pojok ruangan sejak tadi."
"Menyukai ku?" Dimas mendongak dengan wajah tidak percaya. "Dia menghina teh ku, dekorasi ku, dan pekerjaan ku!"
"Itu cara rubah senior menunjukkan perhatian," aku mengecup pipinya. "Jadi... bagaimana? Lereng Merapi? Bersama rubah tua yang hobi menyindir dan persalinan sihir?"
Dimas terdiam sejenak, menatap perut ku yang baru saja mendapatkan tendangan kecil lagi dari Elkan. "Demi kalian berdua... aku akan pergi ke manapun. Bahkan jika aku harus menghadapi seribu rubah tua seperti dia."
Aku tersenyum, merasakan haru yang membuncah. Di tengah komedi situasi yang melelahkan ini, aku tahu Dimas adalah jangkar yang paling kuat. Kami mungkin akan segera meninggalkan kenyamanan apartemen nomor 404 menuju petualangan baru di pedesaan, tapi selama Dimas ada untuk disindir oleh bibi ku, aku tahu semuanya akan baik-baik saja.
“Elkan,” Keluh terakhir ku malam itu saat kami mulai berkemas secara mental, “sepertinya kau akan lahir di tempat yang sangat berisik oleh ocehan bibi buyut mu. Tapi setidaknya, kau akan lahir dalam pelukan keluarga yang akan melindungi mu dari dunia.”
100000/10
would recommend
semangat terus up nyaaa👍👍👍😍😍