"Ayah, katakan sekali lagi bahwa ini hanya lelucon April Mop yang terlambat," suara Aletta rendah, namun penuh penekanan.
Di belakangnya, Surya Maheswari, pria yang telah membangun dinasti ini dari nol, tampak hancur. Pria itu duduk di sofa kulit dengan bahu yang merosot dalam. Laporan audit yang tersebar di atas meja menunjukkan angka-angka merah yang mengerikan. Defisit yang diciptakan oleh pengkhianatan direktur keuangan mereka telah membawa Maheswari Group ke jurang kebangkrutan dalam waktu satu malam.
"Dia satu-satunya yang memiliki likuiditas sebesar itu, Al," bisik Surya parau. "Bank sudah menutup pintu. Investor lain melarikan diri seperti tikus dari kapal yang tenggelam. Hanya Dirgantara Corp yang menawarkan bantuan."
Aletta berbalik dengan gerakan anggun namun tajam. "Dirgantara? Arkananta Dirgantara? Pria yang menghancurkan tender kita di Singapura? Pria yang selama lima tahun terakhir ini menjadi mimpi buruk bagi setiap ekspansi bisnis kita? Ayah, dia bukan penyelamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYUSUP, UNICORN, DAN NASI GORENG MAUT
Malam yang seharusnya romantis itu pecah oleh suara yang sangat tidak elegan.
Kring! Klontang!
Suara kaleng soda berisi kerikil yang jatuh menghantam lantai marmer di teras samping terdengar nyaring di tengah kesunyian. Arkan, yang masih memiliki jepit rambut unicorn berwarna pink di poni depannya, langsung menegakkan punggung. Insting predatornya aktif seketika.
Aletta tersentak bangun dari pangkuan Arkan, matanya mengerjap bingung. "Sensor kura-kuraku! Ada penyusup, Mas Arkan!"
Tanpa membuang waktu untuk melepas jepit rambut konyol itu, Arkan berdiri dengan gerakan maskulin yang sangat efisien. Ia meraih sebuah senter taktis dari laci meja kerjanya. "Tetap di sini, Aletta. Jangan keluar sampai aku bilang aman."
"Tidak mau! Itu ranjauku, aku harus melihat siapa korbannya!" seru Aletta keras kepala. Ia menyambar "Napas Naga" (semprotan cabai) dari tas kura-kuranya dan berlari membuntuti Arkan.
Mereka keluar menuju teras samping yang gelap. Di sana, di antara barisan pot kaktus milik Aletta, seorang pria berpakaian serba hitam sedang terduduk sambil memegangi kakinya yang tersangkut benang pancing transparan.
"Jangan bergerak atau aku semprot matamu sampai jadi asinan!" teriak Aletta sambil mengacungkan botol kecilnya dengan gaya agen rahasia.
Arkan menyorotkan senter kuatnya ke arah pria itu. "Siapa kau? Dan siapa yang mengirimmu?"
Pria itu mendongak, mencoba menghalangi cahaya senter. Namun, saat matanya menangkap sosok Arkan, ia tertegun. "Tuan... Tuan Arkan? Kenapa Anda... memakai tanduk unicorn?"
Arkan berdehem dingin, wajahnya tetap datar seolah-olah memakai jepit rambut pink adalah tren terbaru bagi CEO papan atas. "Itu bukan urusanmu. Jawab pertanyaanku, atau aku biarkan istriku melakukan eksperimen kimia pada wajahmu."
Pria itu gemetar. "Saya... saya hanya kurir, Tuan! Seseorang membayar saya untuk meletakkan amplop ini di bawah pot kaktus paling besar. Katanya ini untuk Nona Aletta."
Arkan mengambil amplop merah itu menggunakan sapu tangan, memastikan tidak ada sidik jari yang rusak. Setelah memastikan pria itu tidak membawa senjata, Arkan menyerahkannya pada Pak Dirman yang baru saja muncul dengan wajah mengantuk untuk diamankan ke ruang interogasi bawah tanah.
Mereka kembali ke dalam rumah. Arkan akhirnya melepas jepit-jepit rambut itu, meskipun rambut depannya kini jadi sedikit berdiri berantakan—tampilan yang anehnya membuat Aletta merasa suaminya ini sangat tampan.
Aletta duduk di meja makan, menatap amplop merah itu dengan cemas. Arkan membukanya dengan hati-hati menggunakan pisau bedah kecil.
Isinya bukan ancaman bom. Hanya selembar foto tua yang sudah agak pudar. Di foto itu, terlihat ibu Aletta sedang duduk di sebuah taman bersama seorang pria yang wajahnya dicoret dengan tinta hitam. Di belakang foto itu tertulis: "Tanya ayahmu tentang hari di taman bunga kaktus. Kebenaran tidak pernah terkubur sesempurna yang ia kira."
Aletta merasakan tangannya dingin. "Taman bunga kaktus? Ibuku meninggal dalam kecelakaan mobil, Arkan. Kenapa foto ini seolah-olah mengisyaratkan hal lain?"
Arkan duduk di sampingnya, menggenggam tangan Aletta yang gemetar. "Kita akan cari tahu, Al. Tapi tidak malam ini. Kau sudah terlalu banyak stres hari ini. Sekarang, kau butuh makan dan istirahat."
Aletta mendongak, matanya berkaca-kaca namun tetap ada kilatan nakal di sana. "Aku lapar, tapi aku tidak mau martabak lagi. Aku mau nasi goreng... tapi kau yang buat."
Arkan menaikkan sebelah alisnya. "Aku? Memasak? Al, aku bisa membeli restoran nasi goreng beserta koki-kokinya sekarang juga."
"Itu membosankan! Aku mau merasakan nasi goreng buatan 'Mas Arkan'. Katanya kau serba bisa," tantang Aletta sambil melipat tangan di dada.
Arkan menghela napas pasrah. "Baiklah. Tapi jangan komplain jika rasanya seperti besi beton."
Dapur Dirgantara yang mewah itu mendadak menjadi panggung komedi. Arkananta Dirgantara, sang penguasa bisnis, berdiri di depan kompor induksi dengan celemek hitam yang tampak terlalu kecil untuk bahunya yang lebar. Ia memegang spatula seolah-olah itu adalah pedang perang.
Aletta duduk di atas konter dapur, mengayun-ayunkan kakinya sambil mengunyah kerupuk. "Mas Arkan, bawang merahnya dikupas dulu, jangan langsung dilempar dengan kulitnya!"
"Aku tahu, Aletta. Aku sedang melakukan teknik efisiensi," jawab Arkan sambil berusaha mengiris bawang dengan presisi seperti sedang memotong anggaran tahunan.
"Dan jangan pakai api besar! Kau mau membuat nasi goreng atau mau membakar rumah?" cerewet Aletta lagi.
"Diamlah, atau aku akan menyumpal mulutmu dengan wortel ini," ancam Arkan, meski ia sebenarnya sangat menikmati kehadiran Aletta yang cerewet di dekatnya.
Setelah tiga puluh menit penuh dengan suara dentingan wajan dan bau gosong yang tipis, Arkan menyajikan sepiring nasi goreng di depan Aletta. Penampilannya... agak mencurigakan. Warnanya sangat cokelat gelap, hampir hitam, dan ada potongan cabai yang ukurannya sebesar jari kelingking.
"Silakan dinikmati, Nyonya Dirgantara. Menu spesial malam ini: Nasi Goreng Jelaga," ucap Arkan dengan nada dewasa yang dibuat-buat.
Aletta mengambil sendok, menatap nasi itu dengan ragu. Ia menyuap sedikit.
Wajah Aletta mendadak kaku. Ia mengunyah perlahan, lalu menelannya dengan susah payah.
"Bagaimana?" tanya Arkan, sedikit cemas.
Aletta menatap Arkan dengan sangat serius. "Mas Arkan... kau tahu tidak, di dunia IT, ini namanya error 404: Taste Not Found."
Arkan mendengus, hendak mengambil piring itu. "Sudah kubilang, aku tidak bisa masak. Sini, biar kubuang."
"E-eh! Jangan!" Aletta menarik piringnya kembali. Ia mulai menyuap lagi dengan semangat. "Rasanya memang aneh. Terlalu banyak kecap, bawangnya masih mentah, dan ada rasa... pahit-pahit gosong yang unik. Tapi karena ini buatanmu, aku akan menghabiskannya."
Arkan tertegun. Ia memperhatikan bagaimana Aletta dengan lahap memakan masakan gagalnya itu. Rasa hangat yang asing kembali menyusup di dadanya. Ia mendekat, mengusap kepala Aletta dengan lembut.
"Kau benar-benar keras kepala, ya? Bahkan lidahmu pun tidak mau mengaku kalah," bisik Arkan.
Aletta mendongak, mulutnya sedikit penuh nasi. "Aku bukan keras kepala. Aku hanya... menghargai usaha 'unicorn'-ku."
Mereka tertawa bersama di dapur yang remang-remang itu. Ketegangan tentang amplop merah dan ancaman penculik seolah memudar sejenak, digantikan oleh aroma nasi goreng gosong yang kini menjadi memori paling manis bagi mereka berdua.
Setelah makan, Aletta yang kekenyangan mulai menunjukkan sisi randomnya lagi. Ia mengambil dua buah jeruk dari keranjang buah, menggambar wajah manusia di kulit jeruk itu dengan spidol, lalu meletakkannya di bahu Arkan.
"Nah, sekarang kau punya ajudan baru. Namanya Jeri dan Jero. Mereka akan menjagamu saat kau tidur," ucap Aletta serius.
Arkan hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. "Al, kau tahu kau sangat ajaib?"
"Aku tahu. Dan kau sangat beruntung memilikiku," jawab Aletta mantap.
Namun, saat Aletta berjalan menuju kamar, Arkan kembali menatap amplop merah di meja. Ia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang dengan suara yang sangat rendah.
"Cari tahu siapa pria yang wajahnya dicoret di foto itu. Dan periksa kembali laporan kecelakaan Ibu Aletta sepuluh tahun lalu. Aku curiga... ada tangan lain yang bermain, dan tangan itu berada sangat dekat dengan kita."
Arkan menoleh ke arah Aletta yang sedang berusaha bicara dengan kaktusnya di depan pintu kamar. Ia berjanji dalam hati, apapun rahasia yang terungkap nanti, ia tidak akan membiarkan singa kecilnya itu terluka lagi. Meskipun ia harus mengorbankan nyawanya sendiri.
Siapa sebenarnya pria misterius dalam foto itu? Mengapa wajahnya dicoret? Dan apa hubungan kecelakaan ibu Aletta dengan persaingan bisnis masa lalu?
Jangan lewatkan bab selanjutnya: "Investigasi di Kantor Maheswari", di mana Aletta dan Arkan akan menyamar menjadi staf biasa untuk mencari dokumen rahasia di gudang arsip perusahaan Aletta sendiri.
nnti tu kapal tanker klakson ny jd gntii klaksoon motor ,,
badan gede tp klakson ny ' tiiin ,, tiin ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
pengganggu bisa gx marahan dluu ,,
jgn deket2 sama pasangan ini truus ,,
sana cari serigala dn gadis kaktus yg lain ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
makiin seruu niih ,,
gx kebayang siih seorang arkan tidur sambil meluk boneka bebek🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
lanjuuut kak ,,
makiin seruu nih tiap bab ny ,,
kasus baruu udh muncuul ,,
Selamat menikmatiii,,,👏👏👏👏
lanjuuut kak
semua masalah pasti bisa di selesaikan dg taktik ajaib Aletta,,
lanjuuut kak
gx mungkin kn Aletta punya sekte kaktus ajaib 🤭🤭🤭🤭 ,,
lanjuuut kak ,,
😁😁😁
lanjut kak ,,
tumbuhan ny emnk di setting bgtu Pak arkan ,,
😁😁😁
bsok2 bikin Tempe Amazon yx Al ,,
sxan pake sup palung Mariana biar makin joosssss ,,
🤭🤭🤣🤣🤣🤣
makiin seruuu ,,
pengkhianatan paling menyakitkan yg dtg dr org paling dekat dg qta ,,
penasaran ma kelanjutan ny yx