Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Melepaskan Sang Pahlawan
19 Juni 2025. Pukul 19.05 WIB.
Kamar Hotel Majapahit, Surabaya.
Alina sedang mondar-mandir di kamar hotelnya yang mewah, nyaris gila karena khawatir. Dia baru saja kembali dari perpustakaan dan tidak menemukan berita lanjutan tentang penangkapan Sarsinah. Itu bisa berarti dua hal: Sarsinah lolos, atau Sarsinah ditangkap diam-diam.
Tiba-tiba, notifikasi email di ponselnya berbunyi.
Bukan email. Tapi sebuah aplikasi scan yang dia hubungkan dengan kamera CCTV tersembunyi yang dia pasang di Ruang Konservasi Museum Jakarta (dia memantau mesin tik itu dari jauh lewat HP).
Di layar HP-nya, dia melihat tuas mesin tik di museum bergerak sendiri!
Alina memperbesar gambar (zoom). Dia membaca ketikan yang muncul di kertas.
> Kami selamat.
>
Alina menjatuhkan dirinya ke kasur empuk hotel. Dia menangis lega sampai sesenggukan.
"Terima kasih, Tuhan..."
Alina segera membuka fitur Text-to-Speech di aplikasi kontrolnya (dia sudah memodifikasi mesin tik di museum dengan solenoida kecil di bawah meja agar dia bisa mengetik jarak jauh lewat HP—teknologi masa depan!).
> Arya! Syukurlah!
> Aku nyaris mati jantungan di sini.
> Maafkan aku... aku mencoba membohongi Sarsinah supaya dia tidak pergi, tapi dia malah ngamuk.
>
Di Surabaya tahun 1931, Arya membaca balasan itu sambil tersenyum geli.
> Saya tahu. Dia cerita soal 'Malaikat Penjaga'.
> Kau berbakat jadi penulis fiksi, Alina.
> Tapi sekarang masalahnya rumit. Sarsinah tidak mau pulang. Dia mau tinggal di sini bersamaku.
> Kalau dia tinggal, penyamaranku bahaya. Dua orang lebih mencolok daripada satu.
> Dan... sejarah hidupnya akan berubah total.
>
Alina membaca itu di layar HP-nya.
> Jangan biarkan dia tinggal, Arya!
> Sejarah mencatat dia 'hilang' di tahun 1931 karena dia menyusulmu.
> Tapi kalau dia tidak kembali ke Batavia... dia tidak akan bertemu jodoh aslinya.
> Kau harus membujuknya. Kau harus mematahkan hatinya (lagi), atau memberinya pengertian.
>
Arya menoleh ke belakang. Sarsinah sedang menatap punggungnya dengan curiga.
"Mas ngomong sama siapa sih? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Sarsinah cemburu. "Sama perempuan itu ya? Yang di masa depan?"
Arya kaget. "Kamu tahu?"
"Saya baca di pita tinta bekas Mas," kata Sarsinah tajam. "Mas nulis puisi buat 'Nona di Masa Depan'. Jadi selama ini... saingan saya bukan pejuang kemerdekaan... tapi hantu?"
Arya menghela napas. Dia tidak bisa menyembunyikannya lagi.
"Dia bukan hantu, Nah. Dia... dia adalah alasan kenapa aku masih hidup. Dia yang memberitahuku cara selamat di Ancol."
Sarsinah terdiam. Matanya berkaca-kaca.
"Jadi dia penyelamat Mas?"
"Iya."
"Dia cantik?"
Arya menatap mesin tik itu.
"Aku nggak pernah lihat wajahnya. Tapi hatinya... ya, dia cantik."
Sarsinah menunduk. Dia tahu dia kalah. Dia bisa melawan manusia, tapi dia tidak bisa melawan seseorang yang memegang nyawa kekasihnya.
"Mas..." suara Sarsinah lirih. "Kalau saya pulang... Mas bakal aman?"
Arya berbalik, menatap Sarsinah lembut.
"Kalau kamu pulang, aku aman. Dan kamu aman. Dan... suatu hari nanti, kamu akan ketemu orang yang mencintaimu lebih dari aku mencintaimu, Nah."
Sarsinah menghapus air matanya. Dia wanita Jawa yang tegar. Dia tahu kapan harus mundur.
"Baik. Saya pulang besok."
Sarsinah berdiri, berjalan mendekati mesin tik.
"Boleh saya ngomong sama dia sebentar?"
Arya ragu, tapi dia mengangguk. Dia menggeser kursi.
Sarsinah duduk. Dia mengetik dengan jari telunjuknya.
> H e i , N o n a M a s a D e p a n .
> I n i S a r s i n a h .
> T o l o n g j a g a M a s A r y a y a .
> D i a k e r a s k e p a l a . S u k a l u p a m a k a n .
> D a n . . . t e r i m a k a s i h s u d a h b i k i n d i a s e l a m a t .
> S a y a t i t i p d i a s a m a k a m u .
>
Di hotel Surabaya 2025, Alina membaca pesan itu dengan air mata berlinang.
> Saya janji, Sarsinah.
> Saya akan menjaganya sampai akhir waktu.
> Hati-hati di jalan pulang. Bahagialah.
>
Sarsinah tersenyum getir. Dia berdiri dari kursi itu.
"Sudah, Mas. Saya mau tidur. Besok antar saya ke stasiun pagi-pagi."
Malam itu, di kamar sempit di Surabaya, tiga hati berdamai dengan takdir masing-masing. Sarsinah melepaskan. Arya bertahan. Dan Alina menjaga.
Namun, kedamaian itu tidak akan lama.
Di kantor PID Batavia, Van Heutz baru saja menerima laporan telegraf dari Surabaya.
"Laporan agen lapangan: Seorang wanita bernama Sarsinah ditangkap tapi dilepaskan oleh polisi korup. Dia membawa mesin tik curian. Diduga bertemu dengan seorang kuli bernama Miko."
Van Heutz tersenyum iblis.
"Miko... Miko..."
Dia mengambil pena merah, melingkari kota Surabaya di peta dindingnya.
"Si Mata Satu, siapkan tiket kapal ke Surabaya. Kita berburu tikus lagi."
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
Nyawa seolah dalam genggaman penjahat.
Damai sekejap, lepas beban berat
tapi belati dan peluru kembali mengintai.
Jika cinta butuh pengorbanan,semua telah berkorban.
Mengalah
Melepaskan
Merelakan dalam keikhlasan.
Bertahan walau hidup serasa di parit busuk.
Melindungi sekeping hati dari duka.
Menjaga dan mencoba memperpanjang kontrak hidup
mati-matian mencari jalan keluar
Pontang- panting dengan akses masa depan yang canggih
semoga kali ini bisa lolos lagi dari si mata satu
mau marah ke orang yang sedang kasmaran itu kog yo ndak tega😄.
cinta kadang membuat orang bodoh dan ahh ...sudahlah.
Sarsinah, terimakasih berkat kenekatanmu mesin itu kembali bertemu pemiliknya.
Bagaimana rasanya jika nanti kamu ikut membaca semua kata cinta Arya untuk Alina?
mungkin nanti ini jalan keluar terbaik, meski harus babak belur hatimu Sarsinah.
Lanjutkan sejarah bahwa kau bahagia dengan Sudiro, punya putra putri dan cucu.
Yakinlah kebahagiaan itu di ciptakan sarsinah ,bukan datang sendiri.
doktrin dirimu, doktrin otakmu bahwa kau akan bahagia meski awal berlayar akan banyak ombaknya
masa lalu yang tua tak mau mengalah begitu saja.
masa depan yang muda ngotot mempertahankan sesuatu yang ghoib.
Cinta memang suatu kekuatan maha dahsyat.
Beruntungnya Arya di cintai dua wanita cerdas di masanya.
Atas dasar cinta ,tindakan kecil menimbulkan kecerobohan.
kecurigaan dan rasa yang masih membara mencoba mencari jawaban.
Semoga perang rasa ini ,tidak membunuh ketiganya dalam kehampaan .
kehancuran dan terbongkarnya kedok "mati" ala Arya dan di sutradarai Alina🤣
hayooo kira2 dengan cara apa supaya alur sejarah tidak berubah drastis dan masih berjalan di rel yang benar.
kerinduan yang terasa hendak berkarat.
naluri perempuan yang kadang terkesan hebat.
Yang tercinta ,susah payah menyembunyikan identitas.
Yang mencinta kalang kabut mencari cara untuk bisa berkomunikasi.
Bertemu dengan beban yang mencuat
rindu yang terpaksa di padam kan ,demi sebuah hati yang lain.
kerumitan baru segera muncul ,apakah alina rela memberitahu sarsinah bahwa arya masih hidup??
menunggu kelanjutannya thor
hidup berjalan sesuai realita, menikah ,punya anak cucu dan bahagia di usia senja adalah impian semua makhluk hidup, termasuk Arya sekalipun mungkin tak dapat bersama .
bagaimana jadinya kalau ,si mata satu tidak membunuh dengan menembak? tapi menikam dengan belati tajam dan berkarat? terjadi tetanus justru akan efektif mencabut nyawa ...
Meski rumit tapi semangat lah mengobrak abrik takdir yang coba kalian lawan. ..
semoga takdir mau berbaik hati ,membelokkan sekian detik nasib Raden mas Arya ...
dan jalinan lintas dimensi ini ikut abadi di abad beda
rasa takut kehilangan itu wajar adanya
hari2 kosong ,tiba-tiba terisi dan ketika akan habis masa nya ,maka hati lah yang bicara
tak peduli logika diantara ada dan tiada tapi kau terasa nyata.
salah kah jika ada harapan untuk bisa bersama, walau itu mustahil
Semua memenuhi rongga dada ,hingga sesak mendera