Pamela Anderson, ketua Mafia yang di hianati oleh adik tiri dan suaminyanya, ia dibunuh dengan keji bersama anak yang dikandungnya.
Tapi anehnya, setelah jasadnya dimakamkan, ia hidup kembali dalam tubuh seorang gadis gemuk bernasib malang.
Gadis itu seperti dirinya, dihianati saudara tiri dan tunangannya. Gadis itu tewas tenggalm disungai, sebab tunangannya lebih memilih menyelamatkan selingkuhannya.
"Beristirahatlah dalam damai Song Aran, aku akan membuat mereka menyesal karena sudah membautmu menderita."
Janji Pamela Anderson setelah ia mendapatkan harta karun berupa liontin giok yang didalamnya terdapat ruang dimensi.
Cerita ini cuma karangan fiksi semata. Lokasinya bukan negara tertentu, cuma khayalan penggabungan saja.
Jika ada yang kurang pas, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
"Mana mungkin aku bisa membiarkanmu bekerja sendiri. Jika pernikahan kami membuat saudara iparku kelelahan, aku tidak akan bisa hidup dengan tenang." sarkas Xiao Jian mengangkat alisnya.
Wang Zhaoi meminta kakak iparnya untuk melakukan pekerjaan rumah hanya karena ia melihat si ibu mertua tidak menyukai Song Aran.
Selain itu, Wang Zhaoi juga ingin menguji kepribadian saudari iparnya tersebut. Jika Song Aran mudah dikendalikan, ia akan membuat wanita itu melakukan semua pekerjaan rumah di masa depan.
Xiao Jian tentu saja kesal, istrinya di suruh oleh si adik ipar membereskan bekas jamuan pernikahan mereka. Kurang ajar sekali..!
Xiao Jian berbalik, ia melangkah keluar kamar.
Wang Zhaoi mencoba mencegahnya, tapi Xiao Jian memiliki kaki panjang dengan langkah yang lebar. Meski ia berlari, tentu tak akan bisa mengejar.
Pada akhirnya, Wang Zhaoi hanya bisa melihat kakak ipar lelakinya pergi dengan ekspresi panik.
"Bibi Chen, saudari Lian, bisakah kalian membantu merapikan meja dan kursi..?" Suara Xiao Jian menggema kesegala penjuru rumah.
Wang Zhaoi makin panik saja.
"Adik ipar keduaku berkata jika pekerjaan itu amat melelahkan untuk dilakukan sendiri. Dia meminta bantuan istriku, tapi kami baru saja menikah. Jadi maaf, aku terpaksa merepotkan kalian." sambung Xiao Jian penuh sindiran.
Suara Xiao Jian menggema penuh sindirian.
Wang Zhaoi menghela napas, meringis sedih.
Beberapa saat kemudian, Xiao Jian kembali bersama dua bibi, salah satunya Chen Jin, wanita yang paling suka bergosip di desa.
Bibi Chen menyapa semua orang disekitar, lalu melihat sekeliling halaman.
"Istriku, cepat bantu merapikan rumah, jangan biarkan adik ipar keduamu yang melakukannya. Kata orang, kakak ipar tertua seperti ibu, bagaimana kau bisa memperlakukannya seperti ini..?"
Mulut berbisa Xiao Jian, terus mengeluarkan sarkasme tajam.
Xiao Jian, merebut kain lap dari tangan Wang Zhaoi, mendorongnya ke tangan Song Aran.
"Baik suamiku..!" Song Aran meladeni.
"Adik Ipar Kedua, bukankah tadi kau bilang lelah..? biar aku saja yang mengerjakannya." Song Aran terkekeh dalam hati, melihat tingkah laku Xiao Jian.
Aran menatap bibi Chen, melipat bibir menahan tawa.
Bibi Chen baik dalam segala hal, kecuali sifat gemar bergosipnya yang sudah tak tertolong.
Song Aran yakin jika besok berita tentang si adik ipar yang menyuruh Aran merapikan rumah di hari pernikahannya akan tersebar ke seluruh desa.
"Tidak, tidak perlu..!" Wang Zhaoi merebut kembali kain lap di tangan Song Aran.
"Aku hanya merasa sedikit kurang sehat, tapi sekarang sudah baik-baik saja. Aku tidak akan berani merepotkan Bibi Chen dan Kakak Ipar Sun."
Wang Zhaoi gegas bergerak, merapikan rumah yang sedikit berantakan.
"Kalau begitu aku harus merepotkanmu adik Ipar Kedua. Aku juga baru di sini, jadi belum begitu mengerti aturan keluarga." ucap Song Aran menye-menye.
"Suamiku, aku belum selesai mengemas maharku. Ayo, bantu aku..!" ajak Xiao Aran manja.
"Kau belum makan, aku akan membawanya segera."
Wang Jian dengan senang hati setuju, lalu membawa makanan yang telah disiapkannya ke dalam kamar.
Pasangan pengantin baru itu pun menyantap hidangan dengan lahap bersama.
"Terima kasih..!"
Melihat makanan yang secara khusus di siapkan untuknya, Song Aran merasakan kehangatan dihatinya.
Xiao Jian menggelengkan kepala "sudah seharusnya kulakukan. Kita berdua tidak perlu terlalu bersikap sopan."
Melalui celah pintu, Aran melihat Wang Zhaoi menyapu halaman dengan gerakan kasar. Ia pun mengubah topik pembicaraan.
"Lihat ke luar, apa adik iparmu itu marah..?"
"Memang apa yang membuatnya marah..? dia cuma ingin mencari masalah." balas Xiao Jian acuh.
"Istriku, walau usiamu yang paling muda di antara para ipar perempuan, tapi kau menikah dengan putra sulung keluarga Xiao. Itu artinya kau yang tertua, jadi yang seharusnya memerintah mereka itu dirimu. Selain orang tua kita, jika ada yang berani mengganggumu, kau harus melawannya."
Xiao Jian menjeda ucapan untuk menggenggam tangan sang istri.
"Bagaimana pun, ipar perempuan tertua itu seperti seorang ibu, mereka tidak layak memerintahmu."
"Bagaimana kalau yang menggangguku itu orang tuamu..?" kata Aran, membalas genggaman.
"Kau tidak perlu menanggung amarah orang tuaku. Jika mereka memintamu melakukan pekerjaan rumah, serahkan saja padaku. Kalau aku tidak ada, beri tahu semua orang jika mereka sedang mengganggu pengantin baru"
Mendengar jawaban Xiao Jian, Aran terkekeh gemas. Hatinya menghangat. Jiak diabad modern ia dimanjakan dengan bunga dan barang-barang mewah oleh snag suami. Di sini, ia dilimpahi kasih sayang serta perhatian.
"Bagaimana kau bisa begitu baik padaku..?" Song Aran merasa suaminya ini terlalu manis.
Xiao Jian juga terkekeh pelan, berbisik di telinga sang istri "aku bisa lebih baik lagi, kau akan segera tahu."
"Is, kau ini..!" Aran mencubit gemas pinggang sang sumi.
Xiao Jian tergelak.
"Kau tidak mau makan lagi..?" tanya Xiao Jian.
Aran menggeleng "aku sudah kenyang."
Song Aran dulunya memiliki nafsu makan yang besar. Tapi setelah mengkonsumsi mata air spiritual untuk detoksifikasi, nafsu makannya kembali normal.
Tadi Aran sudah makan beberapa potong kue. Jadi makan sedikit saja, perutnya terasa penuh.
"Aku akan membereskan piring dulu, lalu mengambil air untuk mencucinya. Tunggu aku..!"
Xiao Jian segera bangkit, membereskan piring, lalu pergi ke belakang.
Song Aran tersipu, jantungnya berdegub kencang. Meski di masa lalu ia pernah melewati malam pertama, tapi di kehidupan kedua ini jelas lah tak akan sama. Terlebih ia akan melakukannya dengan orang yang berbeda.
Ketika Xiao Jian kembali, Song Aran telah mengurai rambutnya.
Surai hitam sepanjang bokong, tergerai indah bak air terjun. Membuat netra elang Xiao Jian semakin berbinar.
Lengan Xiao Jian melingkari tubuh sang istri, Aran pun membalas.
Gerakan Xiao Jian sangat lembut, seolah-olah ia takut wanita dalam pelukannya akan hancur hanya dengan sentuhan kecil. Ia dengan hati-hati mengangkat tubuh sang istri, meletakkannya di atas ranjang.
Song Aran melingkarkan tangannya ke leher sang suami.
Tidak jelas siapa yang memulai duluan, tapi bibir mereka kini telah menyesap kuat.
Mereka tak terpisahkan, cahaya bulan keperakan menyinari jendela berbingkai tanpa tirai.
Saat malam semakin larut, lilin merah itu terbakar hingga nyala terakhirnya. Berkedip lembut beberapa kali sebelum akhirnya padam, menyisakan kepulan asap yang naik perlahan.
Song Aran merasa lemas di sekujur tubuhnya. Meski pun Xiao Jian awalnya sangat berhati-hati, tapi ditengah permainan saat gairahnya terpompa membara, pria itu tak dapat menahan diri.
Xiao Jian seperti tanpa mengenal lelah, terus ingin bercinta dengan istrinya.
Song Aran merasakan kenikmatan yang tiada tara, membuatnya mengerang tanpa henti.
Jika Song Aran tidak meminum semangkuk mata air spiritual sebelum berperang, ia pasti sudah terkapar sejak permainan ronde kedua.
Setelah beberapa waktu, mereka akhirnya menghentikan permainan. Tapi Xiao Jian masih memeluk erat Song Aran sebelum akhirnya tertidur.
Song Aran juga kelelahan. Namun ketika ia hendak memejamkan mata, wanita itu merasakan perubahan di ruang dimensinya.
Kesadaran Aran tersedot masuk, tenggelam ke dalam ruang saji.
Aran panik sekaligus senang, karena ruang saji itu mengalami peningkatan.
Apa yang sedang terjadi..?
Bagaimana bisa..?
Padahal Song Aran tidak melakukan apa-apa.