NovelToon NovelToon
Possessive CEO: Sweet Obsession

Possessive CEO: Sweet Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Tania Santoso adalah gadis polos yang hidupnya sederhana—hingga ia masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan. Dunia milik Hans Lesmana.
Di mata publik, Hans dikenal sebagai “Dewa Es” Jakarta—pria dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi melawan.
Namun bagi Tania, ia adalah badai yang memenjarakannya—lembut sekaligus berbahaya, dingin namun membakar.
“Dek… tarik napas dulu,” bisiknya rendah di telinga Tania, suaranya serak menahan sesuatu yang lebih gelap.
“Kamu terlalu manis… sampai aku tidak bisa berhenti.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Saling Bertukar IG

​Tatap mata Hans Lesmana hampir tidak pernah lepas dari sosok Tania, membuat gadis itu merasa agak salah tingkah dan pipinya merona panas.

​Seiring hidangan disajikan satu per satu, Hans terus-menerus memindahkan makanan ke piring Tania. Ia memperhatikan Tania saat memakan hidangan penutup dengan gigitan-gigitan kecil. Mata gadis itu melengkung puas bak anak kucing yang baru saja mendapatkan camilan—sangat kontras dengan sikap tegang dan waspada yang ia tunjukkan beberapa saat lalu.

​Hans menyadari bahwa saat makan, pipi Tania akan sedikit menggembung dan bulu matanya yang panjang akan merunduk, memberikan kesan penurut yang tak terlukiskan.

​"Pencuci mulut di sini dibuat oleh koki lulusan Le Cordon Bleu Prancis," ujar Hans tiba-tiba, nadanya sedikit lebih lembut dibandingkan saat di mobil tadi.

​"Mm, ini benar-benar enak," sahut Tania pelan. Ia menyendok sedikit Mango Mousse, memasukkannya ke mulut, lalu menyipitkan mata dengan bahagia.

​"Kamu suka makanan manis?"

​"Iya, suka sekali." Kata-kata Tania mengalir lebih lancar begitu topik pembicaraan beralih ke hal ini.

​Percakapan selanjutnya terasa agak kaku. Hans memutar otak mencari topik bahasan, hanya untuk menyadari bahwa selain pekerjaan, ia tidak punya banyak hal untuk dibicarakan. Ia mencoba mengingat "Panduan Mengobrol Saat Kencan" yang pernah diberikan Yohan, namun kalimat-kalimat manis itu jelas tidak cocok keluar dari mulutnya.

​Setelah berpikir sejenak, ia bertanya, "Apakah kuliahmu sulit?" Pertanyaan ini terasa cukup aman dan umum.

​Tania tidak menyangka pria itu akan menanyakan hal tersebut. Ia terdiam sejenak sebelum menjawab, "Lumayan, masih bisa kuikuti kok."

​Dalam hati, Tania bertanya-tanya mengapa sosok berkuasa seperti Hans, yang sibuk dengan segudang urusan setiap hari, mau peduli pada hal sepele seperti tugas kuliah.

​"Begitu ya." Hans mengangguk, lalu ia kembali terdiam.

​"Apakah makanannya... sesuai seleramu?" Akhirnya, ia kembali memutar pembicaraan ke topik paling aman.

​"Sangat enak!" Saat menyebut tentang makanan, mata Tania kembali berbinar, dan nadanya menjadi jauh lebih ceria.

​Melihat senyum puas itu, garis rahang Hans yang kaku tampak sedikit melunak.

​Sepanjang acara makan malam, meskipun Hans lebih banyak menghabiskan waktu dengan menatap Tania makan dan hanya bertanya satu-dua hal sesekali, atmosfernya terasa lebih rileks daripada di mobil tadi. Setidaknya, Tania tidak lagi terlalu takut padanya, meski tekanan aura Hans tetap ada, mencegahnya untuk benar-benar bersantai.

​Setelah makan malam, Hans mengantar Tania pulang. Mobil melaju tenang menembus malam Kota Jakarta, cahaya lampu jalanan berkelebat masuk ke dalam kabin. Tania menatap pemandangan di luar jendela, diam-diam menghitung berapa lama lagi ia akan sampai di rumah.

​Saat mendekati kediaman Keluarganya, ia berkata lembut: "Terima kasih, Pak Hans. Makan malam hari ini sangat enak."

​Terlepas dari segalanya, ia tetap harus menjaga kesopanan. Hans menatapnya tanpa bicara, tatapannya dalam dan sulit diartikan.

​Mobil berhenti perlahan di depan gerbang rumah. Merasa seolah baru saja mendapatkan pengampunan besar, Tania segera membuka pintu mobil dan turun.

​"Sampai jumpa, Pak Hans." Setelah mengatakan itu, ia hampir berlari masuk ke dalam rumah, bahkan tidak berani menoleh ke belakang.

​Hans memperhatikan sosok Tania hingga menghilang di balik pintu sebelum perlahan menaikkan kaca mobil. Matanya yang tajam tampak semakin gelap ditelan kegelapan malam.

​Kembali ke ruang kerjanya di rumah, Hans ingin memperpendek jarak antara dirinya dan Tania agar gadis itu tidak merasa terlalu asing dengannya. Sambil menyandarkan punggung pada kursi kulit yang lebar, jemarinya mengetuk meja secara tidak sadar. "Terlalu sedikit komunikasi? Masih asing?" gumamnya pada diri sendiri. Jika ia menginvasi hidup gadis itu sepenuhnya dan membuatnya terbiasa dengan kehadirannya, bagaimana hasilnya?

​Ia membuka kunci ponselnya dan membuka aplikasi IG; nama yang ia dapatkan dari Asisten Lian sudah terukir jelas dalam ingatannya.

​Ketik, cari.

​Halaman profil muncul, dan sebuah foto langsung menarik perhatiannya, membuat jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.

​Itu Tania.

​Ia menyentuh layar untuk memperbesar gambar tersebut. Latar belakangnya adalah taman Keluarga Santoso yang asri. Matahari sore memberikan cahaya lembut pada profil wajah Tania yang putih bersih saat ia sedikit memiringkan kepala, tersenyum ke arah kamera dengan mata melengkung manis. Senyum itu murni dan cerah, bak seberkas cahaya yang menembus mendung abadi di lubuk hati Hans.

​Jakunnya naik-turun, dan jemarinya tak terkendali menekan tombol 'Simpan'.

​Nama profilnya: Gadis Manis.

​Sudut bibir Hans terangkat membentuk lengkungan tipis yang nyaris tak terlihat; namanya benar-benar cocok dengannya—manis dan cantik.

​Ujung jarinya kemudian mengetuk tombol "Tambahkan Teman".

​Kenapa menunggu terasa begitu lama?

​Ia meletakkan ponsel di sudut meja dan mengambil laporan analisis finansial, mencoba menenangkan diri. Lima menit berlalu, dan ia tidak berhasil mencerna satu kata pun dari laporan itu. Ia melirik ponsel dengan kesal; layarnya masih gelap.

​Apakah ponselnya dalam mode senyap? Ia memeriksanya; mode dering aktif, volume maksimal.

​Ia meletakkan kembali ponsel itu dan mencoba lanjut membaca. Lima menit lagi berlalu. Ia merasa ponselnya terlalu jauh—bagaimana jika bergetar dan ia tidak merasakannya? Jadi, ia menggeser ponsel itu tepat di samping tangannya.

​Lima menit berikutnya, layar masih menunjukkan antarmuka permintaan pertemanan terkirim.

​Kenapa belum diterima juga? Apakah ponselnya rusak? Atau aplikasinya error?

​Hans Lesmana benar-benar kehilangan kesabarannya. Laporan finansial di tangannya terasa seperti bara panas; setiap kata membuatnya gelisah. Dengan suara brak!, ia menutup laporan itu, melemparkannya ke meja, dan beranjak menuju kamar tidur.

​Ia akan mandi untuk mendinginkan kepala.

​Ia masuk ke kamar mandi dan menutup pintu. Namun, baru saja melepas kemejanya, ia tiba-tiba berbalik dan menyambar ponsel dari meja rias. Ia melangkah kembali ke kamar mandi dan meletakkan ponsel itu di area yang kering di atas wastafel, memastikan ia bisa melihat layarnya dalam sekali lirik.

​Sembari air panas mengguyur tubuhnya, sesekali ia mengusap rambutnya yang basah untuk melirik ponsel. Lima belas menit kemudian, ia selesai mandi. Tetesan air masih jatuh dari ujung rambutnya. Handuk terlilit longgar di pinggangnya, memperlihatkan otot perut yang tegas.

​Ia melangkah ke wastafel dan menyambar ponsel—tidak ada pesan baru. Alis Hans bertaut rapat, dan aura di sekitarnya mendingin drastis. Ia berjalan keluar sambil mengeringkan rambut, amarah tanpa nama di hatinya terbakar semakin hebat.

​Sementara itu di lantai bawah, Tania sempat menonton TV bersama Mamanya sebentar dan mengobrol tentang hal-hal menarik di kampus. Melihat hari sudah semakin larut, ia menguap kecil, mengucapkan selamat malam pada Mamanya, dan naik ke kamar.

​Ia mandi terlebih dahulu untuk membasuh rasa lelah. Setelah keluar, ia memakai masker wajah dan meringkuk di tempat tidur sambil memegang ponsel, berniat mengecek media sosial sebelum tidur.

​Begitu membuka IG, ia melihat titik merah kecil pada bagian "Permintaan Baru". Ia menyentuhnya dengan santai. Di daftar permintaan, sebuah nama menarik perhatiannya—Hans Lesmana.

​Melihat tiga kata itu, jemari Tania yang memegang ponsel sekaligus hatinya bergetar sedikit. Ada rasa terkejut yang tak terduga, bercampur dengan sedikit... kegembiraan?

​Foto profil pria itu adalah pemandangan malam markas besar Grup Lesmana; gedung pencakar langit yang tampak dingin dan megah di kegelapan malam. Sama seperti orangnya—dingin dan sombong, pikir Tania.

​Dia benar-benar berinisiatif menambahkannya di IG?

​Bayangan mata tajam pria itu dan aura kuatnya yang tak tertahankan melintas di benak Tania. Meskipun mereka belum banyak berinteraksi, pria ini telah meninggalkan kesan yang sangat dalam.

​Tanpa banyak ragu, Tania menyentuh layar dan memilih "Terima".

1
Mxxx
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!