Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.
Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Hujan turun tanpa peringatan, langit yang sejak sore tampak mendung akhirnya melepaskan seluruh beban yang ditahannya. Rintik kecil berubah menjadi deras dalam hitungan menit, membasahi jalanan, trotoar, dan segala yang ada di bawahnya.
Di tengah hujan itu, Cameron berdiri tanpa payung ataupun jas hujan. Matanya menyapu jalanan yang mulai lengang, mencari sosok yang mungkin saja berteduh di halte bis ataupun kedai-kedai toko yang mulai tutup.
Ia melangkah cepat, hampir berlari, menelusuri setiap sudut yang menurutnya mungkin untuk dikunjungi Giana. Sepatunya menginjak genangan air tanpa peduli, jas mahal yang ia kenakan kini telah basah kuyup dan menempel pada tubuhnya. Namun ia tidak berhenti sebelum bisa menemukan Giana dan juga Cayden.
“Astaga, ke mana kau pergi Giana? Ke mana kau pergi membawa Cayden?” gumam Cameron hampir putus asa. Entah sudah berapa lama ia mencari, yang jelas kini malam telah semakin larut.
Ia menghentikan seseorang di pinggir jalan. “Permisi, apa Anda melihat seorang wanita setinggi ini dengan bayi di gendongannya?” tanyanya cepat, kemudian menunjukkan foto Giana dan Cayden yang pernah ia potret diam-diam.
Orang itu menggeleng cepat, berkata tak pernah melihat Giana di manapun.
Cameron menghela napas lelah, tidak ingin membuang waktu, Ia melangkah lagi, menghampiri orang lain, lalu orang berikutnya, dan berikutnya lagi. Namun jawabannya selalu sama. Tidak ada yang melihat Giana.
Hujan semakin deras. Air mengalir dari rambutnya, turun ke wajahnya, bercampur dengan napas yang mulai tidak teratur. Namun Cameron tetap bergerak, seolah tubuhnya tidak mengenal lelah dan pikirannya menolak untuk berhenti.
Di belakangnya, Abraham mengikuti dengan langkah tergesa, membawa payung yang sama sekali tidak digunakan oleh atasannya.
“Tuan, tolong berhenti sejenak!” panggilnya cukup keras, mencoba menyamai langkah Cameron. “Hujannya semakin deras. Anda bisa sakit jika tidak berhenti sekarang.”
Namun Cameron tidak mempedulikan Abraham. Ia terus berjalan, lalu langkahnya tiba-tiba berbelok ke arah trotoar lain, matanya kembali menyisir setiap sudut, setiap bayangan, dan juga setiap kemungkinan.
“Giana!” teriaknya. “Giana! Kau di mana?!”
Namun, suaranya tenggelam di antara derasnya hujan. Hanya suara air yang terus jatuh tanpa henti.
Cameron mengusap wajahnya dengan kasar, tetapi itu tidak banyak membantu. Air terus mengalir, membuat penglihatannya sedikit kabur. Ia berhenti sejenak di depan sebuah halte yang kosong, menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap menemukan sesuatu.
Namun tidak ada siapa pun, kecuali Abraham dan beberapa orangnya yang turut turun ke jalan, membantunya.
Dadanya terasa semakin berat, dan pandangannya mulai kabur. Tubuhnya mulai menggigil di bawah derasnya hujan.
Abraham akhirnya berdiri tepat di sampingnya, napasnya sedikit terengah.
“Tuan, kita tidak bisa seperti ini terus,” katanya dengan nada lebih tegas. “Anda sudah basah kuyup. Ini tidak baik untuk kesehatan Anda.”
Cameron masih menatap ke depan, kosong. “Aku harus menemukan mereka,” ucapnya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh hujan.
“Kita akan menemukan mereka,” balas Abraham cepat. “Tapi bukan dengan cara seperti ini. Anda hanya akan menyiksa diri Anda sendiri, Tuan.”
Cameron menggeleng. “Tidak bisa, Bram! ia pasti sendirian, apalagi dia tidak punya apa-apa. Dan Cayden … bagaimana nasib keponakanku nanti? Aku harus segera menemukan mereka.”
Kalimat itu terdengar lebih seperti pengakuan daripada sekadar pernyataan, dan untuk pertama kalinya, rasa bersalah itu terdengar jelas.
Abraham terdiam sejenak, lalu menarik napas dalam. “Tuan, dengarkan saya. Biarkan saya yang mengurus pencarian ini. Saya akan mengerahkan semua orang yang kita punya. Kami akan mencari ke setiap sudut kota jika perlu.”
Cameron akhirnya menoleh. Tatapannya lelah, tetapi masih menyimpan tekad. Ia akan dihantui rasa bersalah jika tidak segera menemukan Giana dan terutama Cayden.
“Anda harus pulang sekarang,” lanjut Abraham. “Beristirahatlah. Jika Anda jatuh sakit, Anda tidak akan bisa melakukan apa pun.”
Hujan masih turun tanpa henti. Cameron berdiri diam beberapa detik, seolah sedang berperang dengan dirinya sendiri, antara tetap mencari atau menyerah untuk sementara.
Tangannya lalu mengepal pelan. Rahangnya mengeras.
Namun akhirnya, ia menutup mata sejenak dan menghela napas panjang.
“Temukan mereka bagaimana pun caranya,” katanya rendah, memberi perintah.
Abraham mengangguk tegas. “Saya akan lakukan yang terbaik, Tuan. Kita pasti bisa menemukan mereka.”
Cameron tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya berdiri di sana beberapa saat sebelum akhirnya berbalik perlahan. Langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya, bukan karena hujan, melainkan karena sesuatu yang kini mulai ia sadari, bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
“Maafkan pamanmu ini, Cayden. Aku gagal menjagamu,” lirihnya pada dirinya sendiri.
Di bawah hujan yang tak kunjung reda, Cameron berjalan kembali, meninggalkan jalanan yang basah, tetapi tidak meninggalkan rasa gelisah yang terus mengikutinya.
Sementara di suatu tempat, Giana baru saja menidurkan Cayden. Beruntung ia masih ingat nomor telepon ibu panti yang dulu menjaganya, jika tidak, Giana benar-benar tidak tahu lagi harus melangkah ke mana.
“Terima kasih, Bu. Jika bukan karenamu, aku benar-benar tidak tahu lagi harus pergi ke mana bersama dengan bayiku,” katanya lirih pada Nina, penjaga panti.
Nina mengangguk lalu tersenyum hangat, tangannya yang mulai keriput menepuk-nepuk bahu Giana lembut. “Beristirahatlah dan tenangkan dirimu selama yang kau mau. Panti ini selalu menerima kembali kehadiranmu,” katanya. Suaranya yang lembut mampu menenangkan pikiran Giana yang kalut.
Giana lantas mengangguk, lalu berbaring di sisi Cayden sambil memeluknya. “Untuk sementara, kita akan tinggal di sini, Sayang. Sampai aku bisa menghubungi Tuan Cameron dan menyerahkanmu kembali,” gumamnya.
Di luar, hujan turun semakin deras dan Giana penasaran akan apa yang tengah dilakukan Cameron. Apakah pria itu langsung mencarinya dan Cayden saat tahu ia diusir dari rumah? Atau ia tetap biasa saja?
“Beruntung ada orang baik yang mau meminjamkan ponselnya kepadaku. Jika tidak, kita berdua mungkin masih di luar sana, kehujanan dan kedinginan.” Giana berbalik menatap langit-langit kamar ibu panti yang kini ditempatinya.