Nama adalah hal yang sakral di dunia Haochun, Nama adalah berkah Dewa, nama adalah kekuatan. Manusia tanpa nama bukanlah siapa-siapa, semua manusia yang tak bernama hanyalah orang-orang buangan dan kriminal.
Karena hak pada Berkah dan Nama mereka dicabut.
Mereka akan dipanggil dengan sebutan apapun yang orang inginkan. Meskipun mereka bisa membuat nama sendiri, tetap saja itu tak memiliki makna apapun.
Nama lahir adalah kehormatan mutlak di dunia ini. Dan inilah kisah tentang anak Klan Bangsawan kelas satu. Dia memiliki Inti Spritual yang sangat buruk. Saking buruknya, bahkan tidak seorang pun sebelum dia di dunia Kultivasi yang memiliki Inti spritual seperti itu.
Sehingga dia dianggap sebagai aib keluarga. Berkah namanya miliknya dicabut layaknya hukuman bagi
penjahat keji.
Dimulailah kisah anak buangan yang membawa nasib baik dan buruk bersamaan.
Berjuang tanpa kekuatan Berkah Nama seperti yang dimiliki orang lain. Huang Kai yang berganti nama menjadi Feng Yan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Leluhur Sekte
"Kakak Yan, kenapa tidak mengabari dulu kalau akan kemari?"
"Adik Yu Ri ternyata sudah disini, aku minta maaf karena datang tanpa memberi kabar"
"Ehem, Bocah kau belum menjawab pertanyaanku" Tetua Hai menggelengkan kepala karena anak muda yang dia ajak bicara malah menghiraukannya.
"Eh, maaf tetua Hai dan master sekte, benar namaku Feng Yan" ia kembali memberikan salam hormat pada dua orang tua disana.
"Bocah, bukankah teknik pukulan mu tadi milik keluarga Huang? Dari mana kau mempelajarinya?"
kali ini master sekte yang memberikan pertanyaan.
Feng Yan kembali meletakkan pedang
Balok di punggungnya. " master sekte pasti juga sudah tahu kalau teknik naga bukan murni milik mereka. Tentu saja saya juga bisa melatihnya". Pemuda itu menjawab dan menatap Ya Fei yang sedang mendekat.
"Sebaiknya kita tidak bicara di sini, mari kita ke tempat yang lebih tepat" Master sekte dan tetua Hai membawa Feng Yan dan Ya Fei ke arah salah satu pendopo yang ada disana.
Baru saja berjalan beberapa langkah, Feng Yan dikejutkan oleh sebuah resonansi dari gelombang yang berdenyut dari sebuah gerbang atau bisa disebut juga gapura.
Tapi anehnya gapura dengan empat tiang itu berada tepat di tengah-tengah pelataran.
Dug,, dug dug..
Merasakan resonansi dari gerbang kosong itu Feng Yan berjalan ke arah sana. " Adik Feng, apa yang kau lakukan" Ya Fei mencoba menegur pemuda itu. Namun sepertinya Feng Yan tidak mendengar apapun.
Tetua dan master sekte saling pandang melihat tingkah aneh pemuda itu.
"Kakak Yan, kau akan kemana? Guru meminta kita ikut dengannya". Yuan Yu Ri mendekati pemuda yang juga tidak merespon ucapannya.
Sementara itu di sebuah goa di puncak gunung, seorang pria tua yang usianya mungkin sudah ratusan tahun. Ia sedang bersemedi dan terbangun karena juga merasakan getaran dari resonansi di gerbang yang Feng Yan lihat.
"Hmm, sudah datang kah? Bukankah ini terlalu cepat dari perkiraan?" pria itu segera keluar dari goa tempat ia melakukan pelatihan tertutup. Mata orang tua itu menatap jauh ke cincin besar pertama area murid luar berlatih.
"Anak muda, apa yang kau lakukan?" master sekte kali ini yang menegur si pemuda yang terus menatap gerbang yang sebenarnya adalah pintu dimensi khusus untuk pelatihan murid yang akan naik ke ranah Raja. Setelah itu mereka akan dianggap lulus dari pelatihan.
Feng Yan masih saja lena dan seperti terhipnotis oleh sesuatu yang berada di gerbang yang berdiri di tengah pelataran
Sekte. Anehnya disana hanya dia sendiri yang merasakan resonansi dari gerbang tersebut, kecuali seorang leluhur yang sudah berada di ranah Pertapa.
Sama seperti Pemadatan Pondasi menjadi ranah penghubung sebelum memasuki tahapan menengah. Tahap Raja, Kaisar dan Leluhur.
Ranah pertapa akan menjadi hambatan bagi seorang pendekar saat akan naik ke tahapan puncak kultivasi. Yaitu ranah Langit, dan Surgawi hingga mencapai Ranah Dewa dan berpindah ke alam Nirwana, Alam para Dewa.
Tiap-tiap ranah pembatas ini biasanya jauh lebih sulit dan lebih lama untuk ditembus seorang pendekar.
"Hahaha"
Suara tawa menggelegar di angkasa, mengagetkan semua orang di yang berada di sekte Bintang Abadi.
"Leluhur!" ucap master sekte dan tetua Hai Lu Bai. Dua orang itu segera berlutut
Diikuti oleh para murid termasuk Yuan Yu Ri.
Feng Yan dan Ya Fei hanya berdiri menatap ke angkasa, menengok siapa gerangan yang tertawa dengan suara yang bisa membuat nyali bergetar.
"Celaka, apa yang sudah kau lakukan, kau sepertinya sudah membuat leluhur sekte murka" pucat pasi wajah Ya Fei yang biasanya sangat ceria.
Mendengar ucapan wanita itu Feng Yan menyipitkan mata terus menatap leluhur di yang mengawang di angkasa.
"Bocah, apa kau kira kau sudah layak?"
suara dari leluhur sangat berat dan terdengar mengintimidasi.
"Siapa yang leluhur maksud? Siapa yang dia ajak bicara?" kening semua orang berkerut saat mendengar perkataan dari leluhur.
Namun mereka masih tidak berani untuk bergerak.
"Leluhur, apa anda tidak pernah meminum pil awet muda?" balas pemuda yang ditanya dengan santai.
Ucapan dari pemuda itu berhasil membuat telinga orang-orang di dekatnya seperti disambar petir.
"Adik Feng! Apa yang kau katakan?" Ya Fei setengah menjerit mendengar perkataan yang keluar dari mulut Feng Yan.
"LANCANG!!!" bentak master sekte pada pemuda yang sudah berlaku tidak sopan.
"Kakak Yan, kumohon minta maaf lah pada leluhur" hampir menangis Yuan Yu Ri menatap Feng Yan. Ia tahu persis pemuda itu tidak takut pada apapun, tapi ia juga tidak menyangka kalau ia bisa senekat ini.
"Junior ini punya pil awet muda untuk leluhur" Feng Yan mengeluarkan sebuah kotak berisi pil dari cincinnya.
"Bocah, kau sudah keterlaluan" bergetar tubuh tetua Hai melihat bocah yang ia anggap tidak tahu sopan santun terhadap leluhur sekte yang mereka hormati.
"Leluhur Chiang, bocah ini bukan murid sekte, izinkan aku menghukumnya untukmu" Hai Lu Bai memberi hormat pada leluhur yang
Ternyata Chiang Tanru.
"Hahaha"
"Bocah, aku akui keberanianmu. Aku ingin lihat apakah kekuatanmu juga sebesar nyalimu?!"
Baru saja pria tua itu berbicara ia sudah lenyap dari pandangan orang-orang. Sedetik kemudian pria tua itu sudah berada di hadapan Feng Yan menjulurkan tangan kanannya ke arah leher pemuda tersebut.
"Celaka! Cepat sekali" Feng Yan langsung bergerak mundur kebelakang dengan cepat. Namun gerakannya seperti sebuah kesia-siaan. Jarak dengan tangan tua itu tidak berkurang sedikitpun.
"Adik Feng! Minta maaf lah pada leluhur!" Ya Fei berusaha membujuk pemuda yang jelas akan mati ditangan leluhur Chiang jika ia tidak memohon ampunan.
"Kakak Yaaaan!!! leluhur tolong ampuni kakak Yan" kali ini Yuan Yu Ri bersujud untuk meminta ampunan pada leluhur.
Suara dari dua gadis itu sepertinya tidak
Berguna saat ini.
Terlihat jelas kalau leluhur sekte tidak berusaha melepaskan pemuda dengan bekas luka itu.
Saat tangan leluhur akan berhasil mencengkram leher, Feng Yan mengayunkan pedang balok pada pinggang leluhur Chiang.
Wung..
Saking cepatnya balok besar itu menghasilkan suara gema dari angin tebasan.
Hahaha
Pria tua itu hanya tertawa melihat serangan si pemuda. Ia kembali menghilang dan muncul dibelakang memberikan pukulan tangan kosong.
"Celaka!" memanfaatkan kekuatan pedang yang masih berayun Feng Yan memutar badan dan menahan pukulan dari leluhur dengan pedang kayu besi.
Daar
Pemuda itu terlempar sangat jauh saat pedang dan tinju leluhur berbenturan. Entah
Berapa kali pemuda itu terhempas dan bergulingan di tanah.
Uhuk, darah kental keluar dari mulut pemuda itu. Ia mengulurkan tangannya pada pedang balok yang tadi terlepas saat ia di terbangkan.
Namun ternyata pedang balok itu sudah berada di tangan leluhur Chiang.
"Hahaha, kau memiliki senjata yang menarik. Bisa menjadikan kayu besi seberat ini sebagai senjata, berarti pelatihanmu pastilah sangat berat."
"Orang-orang hanya akan membuat senjata dari kayu besi dengan ukuran pedang normal karena bobotnya. Tapi kau bisa dengan mudah mengangkat benda ini. Tidak buruk!" leluhur sekte mengayunkan pedang balok itu seperti sebuah mainan.
Ia melemparkan kembali pedang balok itu pada pemuda yang saat ini sudah berdiri sambil memegang dada.
"Hahaha, matilah kau bocah" Huang Chun tertawa lepas saat melihat saingan cinta
Untuk memiliki Nona Yuan akan mati ditangan leluhur sekte.
Tetua Hai menatap master sekte," Master walau itu hanya pukulan biasa, tapi bukan sesuatu yang bisa ditahan oleh orang di ranah grandmaster bukan?.
"Ya, bocah ini bagaimana bisa menahan pukulan dari orang yang berada di ranah Pertapa. Apa kau tahu identitas lengkapnya"
"Muridku hanya mengatakan kalau ia seorang pendekar pengembara yang memiliki seorang kakak" jawab tetua Hai sambil menggelengkan kepala.
"Anak muda, siapa namamu?"
"FENG YAN!!"
"Bocah, jangan mempermainkanku! Katakan nama aslimu."
Feng Yan berwajah masam saat leluhur membentaknya. "Sudahku kubilang, Namaku FENG YAN!"
"Hahaha, menarik...menarik. Bocah kutakutkan kau akan mati hari ini" pria tua itu
Kembali melayang ke udara.
"Seolah-olah senior leluhur bisa melakukannya" ejek pemuda itu dengan senyum sinis.
Feng Yan menancapkan pedang balok besar, namun ia tidak menduga jika di sekitar tubuhnya muncul benang-benang energi dengan pendar cahaya berwarna putih.
"Senior leluhur, tunggulah sebentar"
pemuda itu kemudian duduk bersila si samping pedang balok.
"Bocah gila ini tidak disangka sudah menerobos ke Pemadatan Pondasi" Ya Fei tidak menyangka jika ternyata Feng Yan setingkat dengan kakaknya. Selama ini dia kira masih ditingkatan master.
Master sekte dan dan tetua saling pandang dan rasa kagum muncul di hati mereka.
"Semuda ini sudah menerobos ke Pemadatan Pondasi, bakat jenius ini sungguh gila. Kenapa kita tidak pernah mendengar nama pemuda ini sebelumnya."
"Kau semakin menarik saja bocah, tapi itu tidak akan cukup untuk menyelamatkan hidupmu." Leluhur sekte masih diam di udara mengamati anak muda jauh dibawahnya.
"Kau benar-benar mengejutkan, tak jauh seperti murid kakakku dulu". Pria tua itu bergumam di udara.