SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.
Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.
Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?
Since: 10-04-2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Alam Barzakh
Asap hitam yang keluar dari sela-sela kabel Ruang Komputer tadi ternyata bukan sekadar polusi digital. Di dalam gudang tua Sektor 5, Arga menyaksikan sendiri bagaimana asap itu merayap di lantai seperti makhluk hidup.
Warnanya bukan hitam pekat biasa, melainkan hitam yang memiliki kilatan kode-kode aneh yang terus mengalir. Inilah entitas yang disebut Lintang sebagai Virus dari Alam Barzakh.
"Virus ini tidak hanya menghapus data, Arga," bisik Lintang sambil merapatkan tubuhnya ke dinding, menjauh dari asap yang mulai menyentuh kaki-kaki kardus.
"Dia adalah penghancur realitas. Barzakh adalah pembatas antara dunia nyata dan dunia roh. Dengan melepaskannya ke dalam sistem sekolah, kau telah mencampurkan dua frekuensi yang seharusnya tidak pernah bertemu."
Arga menatap tangannya. Tato hitam di lengannya kini berdenyut kencang, seolah-olah merespons kehadiran virus tersebut.
Rasa panas yang membakar kini berubah menjadi rasa dingin yang menusuk tulang. Setiap kali asap Barzakh mendekat, tato di tubuh Arga bersinar biru redup, menciptakan area perlindungan kecil di sekitar mereka.
"Kenapa dia tidak menyerangku?" tanya Arga heran.
"Karena kau pembawanya," jawab Lintang. "Kau adalah Inang yang memberikan jalan bagi virus ini untuk masuk ke dimensi fisik. Tapi jangan salah, Arga. Dia tidak memihakmu. Dia hanya menunggu waktu sampai kekuatanmu habis, lalu dia akan menelanmu juga."
Tiba-tiba, suara derit logam yang sangat keras terdengar dari balik pintu gudang. Sesuatu yang besar sedang bergerak di lorong cahaya biru.
Arga memberanikan diri untuk mengintip melalui celah pintu. Matanya membelalak melihat apa yang terjadi di luar.
Dinding-dinding lorong yang tadinya bersih dan penuh teknologi, kini mulai berkulit. Lapisan semen dan kabel terkelupas, digantikan oleh material yang menyerupai daging hitam yang berdenyut.
Virus Barzakh sedang mengubah struktur bangunan sekolah menjadi organisme biologis-gaib yang mengerikan.
Beberapa petugas Unit Pembersihan Putih yang tertinggal di lorong berteriak histeris saat tubuh mereka dililit oleh kabel-kabel hitam yang keluar dari dinding.
Dalam hitungan detik, tubuh mereka tidak lagi berwujud manusia, mereka meleleh dan menyatu dengan dinding lorong, menjadi bagian dari arsitektur baru yang diciptakan oleh virus itu.
"Sistem ini sedang melakukan pembersihan total. Semua yang terhubung dengan administrasi sedang dihapus," kata Arga dengan suara bergetar.
"Termasuk kita, Arga! Jika kita tidak segera bergerak!" Lintang menarik tangan Raka yang masih tampak bingung.
"Raka masih terhubung dengan sistem karena implan di dadanya. Jika virus ini menemukannya, Raka akan dianggap sebagai 'data korup' dan dihapus!"
Mendengar hal itu, Arga segera berdiri. Rasa lelahnya hilang seketika digantikan oleh insting untuk melindungi kakaknya.
"Ke mana kita harus pergi? Lorong di depan sudah tertutup daging hitam itu."
"Hanya ada satu jalan," Lintang menunjuk ke arah lantai gudang. Di bawah tumpukan kain kusam, terdapat sebuah palka besi tua yang terkunci rapat.
"Ini adalah saluran pembuangan energi Indigo. Jalur ini akan membawa kita langsung ke bawah lorong cahaya biru. Kita harus masuk ke pusat frekuensi sebelum virus ini menutup semua akses."
Arga menghantam gembok palka itu dengan kekuatan Indigo-nya.
BRAK!
Besi tebal itu hancur seketika. Sebuah lubang gelap dengan tangga logam yang sudah berkarat terbentang di bawah mereka.
Mereka turun satu per satu. Di dalam saluran itu, suasananya sangat mencekam. Arga bisa mendengar suara bisikan ribuan jiwa yang seolah-olah terjepit di antara dinding saluran.
Ini adalah sisa-sisa energi dari para siswa yang gagal dalam eksperimen bertahun-tahun lalu. Mereka tidak benar-benar mati, tapi juga tidak hidup.
"Jangan dengarkan suara mereka," Lintang mengingatkan. "Mereka akan mencoba menarik kesadaranmu agar kau tinggal bersama mereka di kegelapan ini."
Arga terus melangkah paling depan, menggunakan pendaran biru dari tato di lengannya sebagai senter. Namun, semakin jauh mereka berjalan, virus Barzakh mulai merembes masuk melalui celah-celah pipa.
Cairan hitam kental menetes dari langit-langit, mengeluarkan bau busuk yang menyerupai bau bangkai yang tercampur dengan bahan kimia.
Tiba-tiba, sesosok makhluk muncul dari kegelapan di depan mereka. Wujudnya menyerupai manekin anatomi dari Lab Kimia, namun seluruh tubuhnya kini dilapisi oleh serat-serat hitam Barzakh. Matanya kosong, hanya memancarkan cahaya merah statis.
"Itu adalah Sentinel sistem yang sudah terinfeksi," bisik Lintang, ia menghunus potongan belatinya.
Makhluk itu bergerak sangat cepat, lebih cepat dari manusia mana pun. Ia menerjang Arga dengan cakar-cakarnya yang panjang.
Arga menangkis dengan tangan peraknya, namun kali ini serangannya terasa berbeda. Setiap kali kulitnya bersentuhan dengan makhluk itu, Arga bisa merasakan informasi-informasi masuk ke otaknya, ingatan si makhluk saat masih menjadi manusia.
Tolong... aku ingin pulang... Ibuku menungguku...
Suara-suara itu membuat Arga ragu sejenak. Namun, si Sentinel tidak memiliki belas kasihan. Ia terus menyerang, merobek bagian bahu seragam Arga.
"Arga! Dia bukan lagi temanmu! Dia adalah virus sekarang!" teriak Lintang.
Arga menggertakkan gigi. Ia memusatkan seluruh kemarahannya pada telapak tangannya. Ia tidak hanya menggunakan energi Indigo, tapi ia memanggil balik energi Barzakh yang ada di dalam tato di lengannya. Cahaya hitam-biru meledak dari tangan Arga.
"Kembalilah ke ketiadaan!" raung Arga.
Tinjuan Arga mendarat tepat di dada si Sentinel. Seketika, tubuh makhluk itu hancur menjadi abu hitam yang terbang tertiup angin gaib di dalam saluran.
Namun, ledakan itu memicu reaksi berantai. Dinding-dinding pipa di sekitar mereka mulai retak, dan cairan hitam Barzakh mulai membanjiri saluran tersebut.
"Lari! Pipa ini akan runtuh!" Lintang mendorong Raka agar memanjat tangga darurat yang ada di ujung saluran.
Mereka memanjat secepat mungkin saat cairan hitam itu mulai naik setinggi pinggang. Arga adalah yang terakhir keluar.
Saat ia berhasil menutup kembali penutup lubang di atas, suara hantaman cairan di bawah terdengar sangat keras. Mereka selamat, untuk sementara.
Kini mereka berada di sebuah koridor yang sangat luas. Di depan mereka, sebuah pintu raksasa yang terbuat dari kristal biru bercahaya berdiri dengan megahnya. Inilah pintu menuju Cahaya Biru yang mereka lihat dari kejauhan tadi.
Namun, di depan pintu itu, asap Barzakh telah memadat menjadi sesosok figur yang sangat Arga kenal. Figur itu tidak memiliki wajah, namun postur tubuhnya sangat mirip dengan ayah Arga.
"Itu bukan ayahmu, Arga. Itu adalah manifestasi dari penyesalanmu yang paling dalam," Lintang memegang bahu Arga, mencoba menyadarkannya.
Sosok itu memegang sebuah harmonika perak yang identik dengan milik Arga. Ia mulai memainkan melodi yang sangat sedih, melodi yang pernah didengar Arga saat ia masih kecil di rumah lamanya.
Suara musik itu membuat perlindungan Indigo Arga melemah. Tato di tubuhnya mulai memudar.
"Kenapa kau meninggalkan kami, Arga?" suara sosok itu bergema di kepala Arga. "Kenapa kau membiarkan sekolah ini menghancurkan keluarga kita?"
Arga jatuh berlutut. Air mata mulai mengalir di pipinya. Inilah kekuatan Barzakh yang sebenarnya, ia menyerang jiwa melalui lubang-lubang penyesalan yang belum tertutup.
"Arga, bangun! Itu jebakan!" Lintang mencoba menarik Arga, namun tangannya terpental oleh gelombang energi dari sosok tersebut.
Raka, yang sejak tadi diam, tiba-tiba melangkah maju. Ia berdiri di depan Arga, menghalangi pandangan adiknya dari sosok palsu itu. Raka membuka telapak tangannya, menyingkapkan bekas luka eksperimen di nadinya.
"Ayah tidak akan pernah menyalahkan kita, Arga," ujar Raka dengan suara yang tenang namun berwibawa.
"Dia memberikan harmonika itu bukan untuk membuat kita sedih, tapi agar kita punya suara untuk melawan kegelapan."
Mendengar suara kakaknya, kesadaran Arga kembali. Ia melihat sosok di depannya bukan lagi sebagai ayahnya, melainkan sebagai tumpukan kode Barzakh yang mencoba menipunya.
Arga berdiri, ia merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan harmonika miliknya sendiri.
Arga meniup harmonikanya. Ia memainkan nada yang tinggi dan penuh semangat, sebuah melodi yang ia ciptakan sendiri selama petualangannya di sekolah ini. Suara harmonika Arga beradu dengan melodi sedih dari si virus.
Gelombang suara biru bertabrakan dengan gelombang hitam. Ruangan itu berguncang hebat. Perlahan tapi pasti, sosok tanpa wajah itu mulai retak dan hancur. Ia tidak bisa menahan frekuensi keberanian dan penerimaan yang dikeluarkan oleh Arga.
Saat sosok itu menghilang sepenuhnya, pintu kristal biru di depan mereka terbuka secara perlahan. Sebuah cahaya biru yang sangat murni menyinari wajah mereka. Cahaya ini tidak membawa hawa dingin, melainkan rasa tenang yang aneh.
"Kita sudah sampai di ambang gerbang. Di balik cahaya ini adalah Sisi Lain. Bersiaplah, karena di sana, kenyataan akan menjadi jauh lebih tidak masuk akal daripada di sini," ujar Lintang.
Arga mengangguk. Ia menggenggam tangan Raka erat-erat. Dengan langkah mantap, mereka bertiga melangkah masuk ke dalam cahaya biru tersebut, meninggalkan Sektor Bawah Tanah yang kini sepenuhnya telah tertelan oleh kabut hitam Barzakh.