Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Syarat dari mawar merah
Sore itu, ruang keluarga kediaman Bramasta dipenuhi oleh aroma teh Earl Grey yang menenangkan dan kehangatan dari perapian dekoratif yang menyala redup.
Cahaya matahari senja menyusup masuk melalui jendela besar, menyapu lantai marmer dengan warna keemasan yang cantik. Di atas sofa velvet yang mewah, suasana tampak begitu normal, sebuah potret keluarga ideal yang sedang menikmati waktu senggang.
Namun, bagi Aluna, setiap detik yang berlalu terasa seperti berjalan di atas hamparan duri yang ditutupi sutra.
Clara duduk dengan keanggunan yang tak tercela di hadapan Nyonya Widya. Sesekali ia melempar senyum profesional namun tetap terasa hangat, sebuah taktik yang terbukti sangat ampuh untuk meluluhkan hati wanita tua itu.
Di tangan Clara, sebuah map kulit berisi laporan audit menjadi alasan keberadaannya di sana, namun semua orang tahu ada agenda lain yang sedang berdenyut di ruangan itu.
"Kau tahu, Clara," ujar Nyonya Widya sambil menepuk pelan punggung tangan Clara, matanya berbinar penuh kekaguman. "Kau cerdas, mandiri, dan sangat tenang. Bram ini orangnya keras kepala, dia butuh pendamping yang bisa mengimbangi energinya, selama ini ia terlalu fokus pada Aluna yang sedang senang-senangnya bermanja-manja."
Aluna, yang masih bersandar di lutut Tuan Adiguna, merasakan jantungnya berdenyut nyeri. Sindiran halus neneknya terasa seperti tamparan telak.
Namun, alih-alih menunjukkan wajah muram atau tersedak seperti saat makan siang tadi, Aluna menarik napas panjang. Ia memutuskan untuk mengganti strateginya. Ia tidak akan lagi menjadi korban yang pasif.
Aluna mendongak, menatap neneknya dengan senyum yang sangat manis—senyum yang begitu cerah hingga hampir terlihat suci, namun menyimpan duri yang mematikan di dalamnya.
"Nenek benar," timpal Aluna, suaranya terdengar sangat riang dan jernih, memecah keheningan yang sempat canggung.
"Daddy sudah diusia yang matang untuk segera menikah. Kasihan kalau Daddy sendirian terus mengurus Aluna yang nakal dan merepotkan ini. Rumah ini butuh nyonya rumah yang baru."
Bram yang sedang menyesap kopinya berhenti seketika. Cangkir porselen itu tertahan di depan bibirnya. Ia menyipitkan mata, menatap Aluna dengan tatapan meneliti. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang sangat berbahaya di balik nada bicara "putri kecilnya" itu.
"Tapi, Nek... Daddy itu orangnya sangat, sangat pemilih," lanjut Aluna sambil memainkan ujung jari kakeknya dengan manja, seolah-olah ia sedang membicarakan hal yang remeh.
"Standar Daddy itu setinggi langit. Jadi, menurut Aluna, calon istri Daddy nanti haruslah wanita yang benar-benar sempurna. Tidak boleh ada cacat sedikit pun."
Aluna menjeda kalimatnya sebentar, memberikan efek dramatis yang pas. Ia kemudian menoleh ke arah Bram, menatap tepat ke manik mata pria itu dengan binar menantang yang berani.
"Calon istri Daddy harus sesuai dengan standar keluarga Bramasta yang terhormat, dan tentu saja... harus melewati persetujuan Aluna terlebih dahulu. Karena bagaimanapun, Aluna yang paling mengenal Daddy luar dan dalam. Iya kan, Daddy? Daddy tidak akan menikah dengan wanita yang tidak Aluna sukai, kan?"
Suasana ruang tamu mendadak hening selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Clara tetap mempertahankan senyumnya, namun jemarinya yang memegang cangkir teh tampak sedikit menegang.
Nyonya Widya tertawa kecil, menganggap itu hanyalah wujud protektif seorang anak asuh yang takut kehilangan kasih sayang.
"Tentu saja, Sayang!" seru Nyonya Widya sambil tertawa. "Siapa pun yang akan mendampingi Daddy-mu, dia harus bisa memenangkan hatimu juga. Itu syarat yang adil."
Tuan Adiguna mengangguk tegas, tampak bangga melihat Aluna yang seolah-olah sudah "merestui" masa depan Bram.
"Bagus kalau kau berpikiran dewasa, Aluna. Itu artinya kau peduli pada kebahagiaan Bram. Tapi jangan terlalu ketat menyeleksinya, nanti Daddy-mu tidak laku-laku sampai tua."
Aluna hanya terkekeh pelan, namun tatapannya tetap terkunci pada mata elang Bram yang kini berkilat penuh amarah yang tersembunyi.
"Aluna hanya ingin yang terbaik untuk Daddy, Kek. Aluna ingin Daddy mendapatkan wanita yang benar-benar 'pantas'."
Bram mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia merasa baru saja dijebak ke dalam sebuah "penjara" baru yang dibangun oleh Aluna dengan sangat rapi di depan orang tuanya sendiri.
Dengan membuat syarat "persetujuan Aluna", gadis itu sebenarnya sedang menyatakan perang secara halus: bahwa tidak akan pernah ada wanita yang cukup baik di matanya, dan ia akan menolak siapa pun yang mencoba mendekati Bram.
Malam harinya, setelah Clara pamit pulang dan kediaman Bramasta kembali diselimuti kesunyian yang mencekam, Bram tidak lagi bisa menahan ledakan di dadanya. Ia menunggu hingga orang tuanya benar-benar terlelap di kamar mereka.
Cklek.
Pintu kamar Aluna terbuka tanpa suara ketukan. Bram masuk dengan langkah besar, aura dominannya memenuhi ruangan yang remang-remang itu. Aluna yang sedang duduk di depan meja rias, menyisir rambut panjangnya, tidak tampak terkejut. Ia sudah tahu pria itu akan datang.
Tanpa sepatah kata pun, Bram menyambar tubuh Aluna dan menekannya ke dinding di samping lemari besar. Bunyi debuman pelan terdengar saat punggung Aluna membentur kayu jati yang keras.
"Apa maksud permainanmu tadi siang, Aluna?!" desis Bram dengan suara serak yang mematikan. Wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Aluna, napasnya yang memburu terasa panas di kulit gadis itu.
Bram tidak menunggu jawaban. Ia langsung menyambar bibir Aluna dalam ciuman yang kasar dan menuntut—sebuah ciuman yang sarat akan amarah, frustrasi, sekaligus gairah yang ia tahan sepanjang sore tadi saat melihat Aluna berpura-pura menjadi "makelar" perjodohannya.
Aluna terengah-engah saat Bram melepaskan tautan bibir mereka sejenak. Bukannya takut, Aluna justru tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan yang membuat Bram semakin gila.
"Aku hanya membantumu, Daddy," bisik Aluna parau. "Sekarang, jika Nenek mengenalkan wanita mana pun padamu—termasuk Clara—aku tinggal bilang 'aku tidak suka', dan mereka tidak bisa memaksamu tanpa terlihat jahat di mataku. Bukankah itu yang kau mau? Tetap menjadikanku satu-satunya?"
Bram mencengkeram rahang Aluna dengan satu tangan, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam kegelapan matanya. "Kau bermain api, Aluna. Kau sengaja memancing mereka untuk terus menjodohkanku hanya agar kau bisa menikmati rasa cemburumu sendiri dan mengikatku lebih kuat, hah?"
Tangan Bram yang lain mulai merayap ke pinggang Aluna, meremasnya dengan posesif di balik piyama tipisnya. "Katakan padaku... sebenarnya kau mencintaiku sebagai apa? Sebagai 'Daddy' yang melindungimu dan memberikanmu segalanya? Ataukah sebagai pria yang menyentuhmu hingga kau memohon ampun semalam?"
Aluna mematung. Pertanyaan itu selalu menjadi belati yang membelah batinnya. Ingatan tentang perlindungan masa kecil yang hangat selalu bertabrakan dengan gairah dewasa yang menghancurkan.
"Aku... aku ...," jawab Aluna lirih, matanya mulai berkaca-kaca.
"Sebagai apa, Aluna?! Jawab aku!" tuntut Bram lagi, bibirnya kini menyapu telinga Aluna, memberikan hembusan napas yang membuat seluruh tubuh gadis itu bergetar hebat.
"Ayah... atau kekasih?"
Aluna memejamkan mata rapat-rapat. Air mata pertamanya jatuh.
"Aku... aku tidak tahu, Daddy. Setiap kali aku memanggilmu Daddy, aku merasa aman. Tapi setiap kali kau menyentuhku... aku merasa aku milikmu seutuhnya sebagai wanita. Aku tidak bisa membedakannya lagi."
Bram mengerang frustrasi, sebuah suara yang terdengar seperti singa yang terluka. Ia kembali mencium Aluna, kali ini lebih lama, lebih dalam, dan penuh dengan keputusasaan. Ia ingin memaksa Aluna mengakui bahwa dia bukan lagi seorang "anak", melainkan wanita milik Bramasta seutuhnya.
Di kamar yang hanya diterangi lampu tidur yang temaram itu, Aluna menyadari bahwa syarat "persetujuan" yang ia buat tadi siang adalah rantai yang ia pasang untuk mengunci Bram agar tetap di sisinya.
Namun, tanpa ia sadari, rantai itu juga merupakan pengikat bagi dirinya sendiri—menenggelamkannya lebih dalam ke dalam hubungan yang semakin tidak memiliki batas, semakin terlarang, dan semakin merusak identitasnya.
Malam itu berakhir dengan bisikan-bisikan pemujaan di balik selimut, sementara di lantai bawah, Tuan Adiguna masih duduk di ruang kerjanya, menatap foto lama Aluna kecil dengan tatapan yang sangat gelisah, seolah instingnya mulai menangkap bahwa "syarat persetujuan" yang diucapkan Aluna tadi bukanlah sekadar candaan anak manja.
keluarga yg dibangun dengan pikiran dangkal dan bodoh..jeluarga terhormat tapi lawan satu aja..kalah..wkwkkwkw
....dewasa😌