Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror Baru yang Membuat Resah
Fajar menyingsing di atas langit pedesaan Jawa Barat dengan warna keunguan yang muram. Embun pagi yang biasanya membawa kesejukan kini terasa dingin menusuk tulang, membawa firasat buruk yang sejak semalam telah mengusik kedamaian jiwa Bu Imroh. Wanita tua itu baru saja menyelesaikan zikir ba'da subuh saat ia melangkah ke teras depan rumah kayunya untuk menyapu guguran daun mangga.
Di atas undakan semen teras, matanya yang mulai lamur menangkap sebuah kotak kayu kecil berwarna hitam pekat. Kotak itu diletakkan tepat di tengah keset kaki, seolah sengaja ditaruh agar langsung terlihat oleh penghuni rumah.
Jantung Bu Imroh berdegup kencang. Dengan tangan gemetar, ia membungkuk dan meraih kotak tersebut. Penutupnya tidak dikunci. Begitu ia membukanya, sebuah jeritan tertahan lolos dari bibir Bu Imroh. Ia menjatuhkan sapu lidinya ke tanah.
Di dalam kotak itu tergelatak sebuah jepit rambut berbentuk bunga kamboja berwarna merah muda yang sudah agak kusam. Itu adalah jepit rambut kesayangan Salsabila, putrinya yang telah tiada.
Di bawah jepit rambut itu, terdapat selembar kertas yang dilipat kecil. Bu Imroh membukanya dengan air mata yang mulai menderas membasahi pipinya yang keriput. Tulisan tangan di dalamnya besar-besar, tajam, dan penuh dengan goresan kemarahan yang meluap-luap:
"Ibu Mertuaku yang tercinta... Apakah kamu merindukan Salsa? Aku mengembalikan kepingan kecil dari dirinya untukmu. Kamu dan doa-doamu yang sok suci itu telah membusukkan hariku di penjara selama satu tahun. Tapi lihatlah, jeruji besi tak bisa mengunci takdir. Bersiaplah, karena sebentar lagi kamu akan menyusul putrimu ke liang lahat. Kematianmu akan menjadi hadiah pernikahan terindah untuk Devina."
Bu Imroh jatuh terduduk di lantai teras. Dadanya sesak luar biasa, seolah ada batu besar yang menghimpitnya. Isak tangisnya pecah membelah kesunyian pagi pedesaan. Teror itu kembali. Hantu dari masa lalu telah lepas dari kerangkengnya dan kini sedang mengintai di balik rimbunnya pepohonan di sekitar rumahnya.
****
Di saat yang sama, di sebuah apartemen mewah yang dijaga ketat di Jakarta, Devina Maharani sedang mencoba menenangkan diri. Sejak kabar kaburnya Aris dari Lapas Nusakambangan merebak tiga hari lalu, hidupnya kembali berubah menjadi penjara sukarela. Pintu-pintu dikunci rapat, dan dua pengawal bersenjata dari tim keamanan Gavin berdiri tegak di depan pintu unitnya selama 24 jam.
Bel pintu apartemen berbunyi pendek. Devina tersentak dari lamunannya di meja makan.
"Ada paket untuk Chef Devina, Nona. Sudah kami periksa melalui mesin pemindai sinar-X di lobi, tidak ada bahan peledak atau logam berbahaya," lapor salah seorang pengawal dari balik pintu interkom.
Devina menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai gemetar di tangannya. Ia membuka pintu sedikit dan menerima sebuah kotak kado berukuran sedang yang dibungkus kertas krep berwarna merah menyala—warna yang sangat disukai Aris untuk melambangkan gairah dan darah.
Dengan langkah ragu, Devina membawa kotak itu ke ruang tengah dan meletakkannya di atas meja kaca. Begitu ia membuka pita hitam yang mengikatnya dan mengangkat penutup kotak, bau amis yang samar langsung menyeruak memenuhi rongga hidungnya.
Di dalam kotak itu terdapat sepasang sepatu koki kulit milik Devina yang sempat hilang di stasiun televisi saat insiden kebakaran genset beberapa waktu lalu. Namun, sepatu itu kini tidak lagi bersih. Seluruh permukaannya telah dilumuri cairan merah kental yang berbau anyir darah hewan, dan di bagian dalamnya diselipkan sebuah replika janin bayi yang terbuat dari lilin, hancur tercabik-cabik.
Di dasar kotak, sebuah pesan singkat ditulis dengan spidol merah darah:
"Calon Pengantin yang cantik... Gaun putihmu tidak akan lengkap tanpa bercak merah ini. Setiap langkahmu menuju pelaminan bersama Gavin adalah langkah menuju kehancuran keluarga yang kamu sayangi. Aku sedang melihatmu, Devina. Selalu melihatmu."
Devina membekap mulutnya, menahan mual yang tiba-tiba bergejolak di ulu hatinya. Air matanya tumpah ruah. Teror psikologis ini jauh lebih menyiksa daripada ancaman fisik. Aris tidak sedang mencoba membunuhnya sekarang; ia sedang mencoba membunuh jiwa Devina secara perlahan, menguliti ketenangannya sampai tidak ada lagi yang tersisa selain ketakutan yang melumpuhkan.
****
Markas Besar Kepolisian Daerah Metro Jaya mendadak menjadi pusat kesibukan yang luar biasa. Tim gabungan Jatanras dan Densus dikerahkan penuh untuk memburu Aris Wicaksana. Foto wajah Aris dengan status Daftar Pencarian Orang (DPO) disebar di seluruh stasiun televisi, pelabuhan, bandara, dan stasiun kereta api di seluruh Indonesia.
Namun, Aris membuktikan dirinya sebagai buronan yang terlalu licin. Ia tidak menggunakan ponsel yang bisa dilacak sinyalnya, ia tidak menarik uang dari rekening banknya, dan ia tidak menghubungi siapa pun dari masa lalunya. Pria itu bergerak seperti hantu di antara bayang-bayang urban dan rimbunnya hutan pulau Jawa.
"Dia menggunakan taktik gerilya murni, Pak Gavin," lapor Komisaris Pratama di ruang kerjanya yang dipenuhi kepulan asap rokok. Gavin duduk di hadapannya dengan rahang mengeras dan mata yang memerah karena kurang tidur selama berhari-hari.
"Aris tahu bagaimana cara menghilangkan jejak. Dia berpindah dari satu rumah kosong ke rumah kosong lainnya di pinggiran kota. Dia tidak meninggalkan sidik jari atau jejak digital sedikit pun pada paket-paket yang dikirimkannya. Tapi kami tidak akan menyerah. Kami mempersempit ruang geraknya setiap jam."
Gavin mengepalkan tangannya di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Setiap jam yang kalian habiskan untuk mencari jejaknya adalah satu jam penuh ketakutan bagi Devina dan Bu Imroh! Aku tidak peduli bagaimana caranya, Komisaris! Tangkap iblis itu sebelum dia benar-benar menumpahkan darah lagi!"
****
Puncak dari segala teror dan ketegangan itu akhirnya meledak di sebuah sore yang temaram di desa tempat tinggal Bu Imroh. Udara pedesaan mulai mendingin seiring matahari yang menggelincir ke ufuk barat, menyisakan langit yang berwarna merah jingga seperti darah yang tumpah di angkasa.
Bu Imroh sedang berada di halaman belakang rumahnya. Meskipun diliputi ketakutan yang amat sangat sejak menerima paket jepit rambut Salsa, hidup harus terus berjalan. Ia perlu mengambil beberapa rimpang jahe dan kunyit dari kebun kecilnya untuk membuat jamu penenang saraf yang terus-menerus menegang.
Suasana sangat sunyi. Hanya ada suara gesekan daun-daun bambu yang tertiup angin sore dan derik jangkrik yang mulai bersahutan. Bu Imroh berjongkok di dekat rimbunnya tanaman mawar liar, menggali tanah dengan sekop kecilnya.
Tiba-tiba, sebuah bayangan panjang jatuh menutupi tubuh ringkihnya. Bu Imroh membeku. Ia merasakan hawa dingin yang luar biasa mendadak berembus di tengkuknya. Bau parfum yang sangat ia kenal—bau kayu cendana yang bercampur dengan anyir keringat dan tanah basah—menyengat hidungnya.
"Ternyata kamu masih suka berkebun di usia senjamu ini, Ibu Mertua..." sebuah suara berat, serak, dan penuh dengan nada mengejek terdengar tepat di belakang telinganya.
Jantung Bu Imroh seolah berhenti berdetak. Seluruh ototnya mendadak lumpuh oleh rasa takut yang murni. Dengan sangat perlahan dan gemetar, ia menoleh ke belakang.
Di sana, berdiri Aris Wicaksana.
Pria itu tampak sangat mengerikan. Tubuhnya kurus namun kawat, otot-otot lengannya menonjol di balik baju kaos hitam kumal yang dipakainya. Wajahnya yang dulu selalu tersenyum ramah kini nampak tirus dengan tulang pipi yang menonjol, janggut kasar yang tidak terawat memenuhi dagunya, dan yang paling mengerikan adalah sepasang matanya. Mata itu cekung, merah, dan memancarkan aura kegilaan yang sudah mencapai puncaknya.
Di tangan kanannya, Aris menggenggam sebilah belati panjang yang berkilat tajam tertimpa sisa cahaya matahari sore.
"Aris... Astagfirullahaladzim..." bisik Bu Imroh dengan suara yang hampir tidak keluar dari tenggorokannya. Air mata ketakutan langsung mengalir deras di pipinya yang mulai berkeriput.
"Jangan sebut nama Tuhanmu di depanku, Tua Bangka!" desis Aris. Ia melangkah maju, membuat Bu Imroh terpaksa mundur hingga punggungnya membentur batang pohon mangga. "Doa-doamu yang selalu kamu rapalkan di penjara telah membuatku menderita selama setahun penuh! Sekarang, mari kita lihat apakah tuhanmu itu bisa menghentikan ujung besi ini merobek lehermu!"