Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyerang Perguruan Macan Hitam
Setelah berpamitan dengan warga Kadipaten Jagabaya dan Raden Danurwenda, langkah kaki Jaka kini menuju ke arah pegunungan yang jauh lebih tinggi dan berawan. Tujuannya jelas, Perguruan Bangau Putih, tempat di mana Eyang Surya memintanya untuk berkumpul.
Perjalanan yang ditempuh Jaka memakan waktu beberapa hari. Namun, dengan tubuh yang kuat dan ilmu meringankan tubuh yang ia miliki, jarak itu terasa singkat baginya. Semakin tinggi ia mendaki, udara semakin dingin dan pemandangan semakin asri. Hingga akhirnya, ia tiba di sebuah lembah hijau yang luas dan tertata sangat rapi, tempat berdirinya kompleks Perguruan Bangau Putih.
Sesampainya di sana, Jaka terkejut melihat betapa ramai dan sibuknya tempat itu. Bukan hanya murid-murid perguruan yang sedang berlatih, tetapi di sana juga berkumpul banyak pendekar dari berbagai aliran putih yang tersebar di seluruh negeri. Mereka semua mengenakan pakaian berwarna terang, putih, krem, atau biru muda, tanda bahwa mereka adalah golongan pendekar yang menjunjung tinggi kebenaran dan kedamaian.
"Ah, Jaka! Kau akhirnya datang juga," sapa Eyang Surya yang sedang berdiri di teras utama bersama beberapa tetua perguruan lainnya.
Jaka segera memberi hormat. "Eyang, maaf jika Jaka terlambat. Ada sedikit urusan yang harus diselesaikan di jalan."
"Tidak masalah, Nak. Kau datang tepat waktu. Lihatlah, seluruh kekuatan kebaikan kini telah berkumpul di sini," ucap Eyang Surya sambil menunjuk ke arah lapangan utama.
Di sana, terbarisan pasukan yang sangat rapi dan gagah. Mereka bukan pendekar biasa, melainkan prajurit pilihan kerajaan yang dilengkapi dengan senjata dan baju zirah yang mengkilap. Memimpin pasukan itu ada tiga sosok gagah yang sangat terkenal di seluruh dunia persilatan dan ketentaraan.
Melihat Itu Jaka tersenyum, ia mendekat pada tiga senopati yang di kenalnya
" Paman bagaimana kabar kalian?" tanya Jaka, ketiganya yang sedang berbincang dengan salah satu pendekar menengok
" Pangeran!" serentak ketiganya berseru senang melihat Pangeran mahkota ada di sana
" Ssst paman panggil jaka saja" bisik Jaka sambil merangkul ketiganya
" Maaf , kami keceplosan" Senopati Wira Geni meminta maaf karena ia yang tadi suaranya paling besar saat menyebut pangeran pada Jaka
" tak apa paman, bagaimana kabar kakek
" kakekmu baik baik saja, oh iya kemarin ada tunanganmu datang bersama kedua orang tuanya, katanya kau menolong mereka?" tanya Senopati Wira Bumi
" iya Paman kebetulan aku sedang lewat disana" sahut Jaka
" mengapa kau tidak bilang, jika kau tunangannya saat bertemu kemarin?" tanya Senopati Wira Pati
" Paman saat itu aku berpenampilan seperti ini apa dia percaya" sahut Jaka sambil tersenyum
" kau tahu, saat ia mengetahui dirimu tunangannya , ia marah, hati hati jika bertemu dengannya" goda Wira Geni
" Kan dia belum pernah bertemu dengan tunangannya paman, bagaimana dia tahu itu aku" ucap Jaka heran
" Kau lupa, pelukis istana membuatkan gambarmu dan di pajang di Balairung kerajaan bersama lukisan kedua orang tuamu" timpal Wira geni
" Waduuuh, kalau begitu aku harus menghindar jika bertemu dengannya" Jaka mengeluh karena ia lupa ada lukisan dirinya di balairung kerajaan
setelah berbincang sejenak mereka bergabung dengan para pendekar yang lain, membahas serangan yang akan mereka lakukan keesokan harinya.
Keesokan harinya, sebelum fajar menyingsing, seluruh pasukan besar itu mulai bergerak. Ribuan pendekar aliran putih dan prajurit kerajaan berjalan kompak menuju ke arah timur, menuju tempat yang menjadi markas besar musuh, Bukit Macan.
Bukit itu tampak angker dan menyeramkan, dikelilingi kabut tebal dan tebing-tebing curam. Hanya ada satu jalan sempit yang bisa dilalui untuk mencapai puncak di mana benteng Perguruan Macan Hitam berdiri kokoh.
"Pasukan berhenti!" teriak Wira Bumi.
gruuudug
Gruuuduk
Belum sempat mereka melangkah lebih jauh, tiba-tiba dari atas tebing terdengar suara gemuruh. batu batu bulat besar di jatuhkan dari atas
Wusss!
Wusss!
Wusss!
Bersamaan dengan itu , Hujan anak panah datang bertubi-tubi
"Awas! Lindungi diri!" seru para pendekar.
Traaak
Traaaak
Suara benturan panah pada perisai dan senjata terdengar nyaring. Beberapa prajurit terluka, namun pertahanan mereka tetap kokoh. Namun, jalan sempit itu membuat mereka sulit untuk maju karena serangan dari atas sangat mematikan.
"Kita tidak bisa terus menerus bertahan seperti ini! Kita harus memancing mereka keluar atau memutus serangan dari atas!" teriak Wira Geni mulai geram.
Melihat situasi yang semakin pelik, Jaka segera mengambil keputusan. Ia menengadahkan wajah ke langit dan bersiul panjang.
Kwaaaaaak!
Dari balik awan, sebuah bayangan besar turun dengan cepat. Elang Hitam setianya datang menjemput.
"Maaf, para Senopati dan Eyang. Izinkan saya membuka jalan dari udara!" seru Jaka.
Dengan lompatan tinggi, Jaka mendarat di punggung Elang Hitam. Burung raksasa itu mengepakkan sayapnya kuat-kuat, terbang menembus kabut menuju ketinggian, lalu menukik tajam ke arah para penembak yang bersembunyi di balik bebatuan.
"Hiaaaaat!"
" Mati kalian!" teriak Jaka.
wuuush
Dari atas, Jaka menyerang dengan ilmu pedangnya. Cahaya pedang Elang Hitam menyambar-nyambar, memotong tali-temali pengikat batu, dan melukai tangan para pemanah musuh.
Sreeet!
Blarr!
Aaaaargh
Serangan dari atas tiba-tiba terhenti total karena kacau balau diserang oleh Jaka yang menyerang dari atas bersama Elang Hitamnya
"Serbuuuu! Jalannya sudah terbuka!" teriak Senopati Wira Pati.
Melihat serangan musuh melemah, seluruh pasukan pendekar putih dan prajurit kerajaan langsung menyerbu naik. Mereka berlari kencang menaiki tangga batu menuju puncak bukit.
hiaaat
Traaaang
traaak
Suara gemeretak senjata, teriakan perang, dan desingan angin terdengar di mana-mana. Pendekar-pendekar aliran Macan Hitam yang keluar untuk melawan ternyata memang memiliki ilmu yang tinggi, namun mereka kalah jumlah dan semangat.
Pasukan Pendekar aliran puth dan Prajurit yang dipimpin oleh tiga Senopati dan para tetua perguruan mampu mendesak mereka terus mundur hingga ke halaman utama benteng.
Di sana, dua sosok berdiri menunggu kedatangan para penyerangnya
Sosok pertama adalah Adiyana, pemimpin Perguruan Macan Hitam. Tubuhnya tinggi besar, jenggotnya memutih namun matanya tajam dan kejam. Di sebelahnya berdiri seorang pria bertubuh atletis dengan wajah bengis dan tatapan membunuh, dia adalah Lingga, orang yang bertanggung jawab atas kematian orang tua Jaka. Di samping Lingga berdiri seorang wanita cantik namun berwajah dingin, Retno, istri Lingga sekaligus putri Adiyana.
"Eyang Surya " geram Adiyana melihat kedatangan musuh bebuyutannya.
"Adiyana! Menyerahlah atau habisi nyawamu!" tantang Eyang Surya sambil mengangkat tongkat kayunya yang sudah bercahaya.
"Ha ha ha! Kalian pikir bisa mengalahkanku dengan jumlah sebanyak ini? Mari kita lihat siapa yang bertahan hidup hari ini!" teriak Adiyana.
Hiaaaat
Wusss!
Adiyana langsung melesat menuju Eyang Surya. Dua pendekar tua dengan kekuatan setingkat langit itu pun bertarung.
Bugh!
Blaaar!
Wuuut!
Hantaman tenaga dalam mereka membuat tanah bergetar dan bebatuan terlempar. Pertarungan mereka sangat sengit, seimbang, dan sulit diprediksi.