Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.
Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.
Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.
Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Tamu di Balik Bayangan
Suara tawa itu halus, hampir seperti gesekan sutra di atas lantai kayu, tapi cukup untuk membuat bulu kuduk Aruna meremang. Ia segera menyembunyikan remasan kertas di telapak tangannya. Kepalanya masih berdenyut karena burnout mental setelah menggunakan poin karma tadi, tapi insting bertahannya sebagai editor yang terbiasa menghadapi naskah thriller langsung aktif.
"Siapa di sana?" tantang Aruna. Ia mencoba berdiri tegak, meski kakinya terasa seperti jeli akibat body degradation.
Dari balik tirai jendela yang melambai tertiup angin malam, seorang pria melangkah keluar. Ia tidak mengenakan baju zirah seperti Arvand, melainkan jubah biru tua yang tampak sangat mahal. Wajahnya tersembunyi di balik bayangan, tapi matanya berkilat cerdas dan penuh strategi.
"Seorang editor naskah biasanya lebih teliti dalam menyembunyikan emosinya, Aruna," ucap pria itu santai.
Aruna membeku. Nama aslinya disebut di dunia yang seharusnya tidak mengenal siapa dia. "Pangeran Kaelan?" bisik Aruna, menebak berdasarkan ciri-ciri dari ingatan samar tubuh Ratri tentang sosok misterius kerajaan.
Pria itu tersenyum tipis, melangkah masuk ke lingkaran cahaya lampu minyak. "Ternyata ingatan tubuh ini masih berguna untukmu. Tapi kepribadianmu... benar-benar berbeda. Lady Ratri yang asli akan langsung melempar vas padaku, bukan menatapku dengan penuh perhitungan seperti itu."
"Apa maumu?" Aruna mengatur napasnya, mencoba menekan rasa panik. "Bagaimana kamu bisa tahu?"
Kaelan berjalan mendekati meja kecil, menyentuh botol racun yang tadi ditinggalkan Arvand dengan ujung jarinya. "Dunia ini punya banyak rahasia, Aruna. Dan aku adalah kolektor rahasia terbaik di kerajaan ini." Ia menatap Aruna dalam-dalam. "Aku tidak peduli siapa kau sebenarnya. Yang aku pedulikan adalah hasil dari perubahanmu. Kamu baru saja menghancurkan rencana Selina dalam satu malam. Itu... menarik."
"Jika kamu tidak punya niat buruk, pergilah. Aku sedang lelah," usir Aruna ketus.
"Lelah? Tentu saja. Menggunakan kekuatan yang bukan milikmu itu ada harganya," Kaelan melirik layar transparan yang sebenarnya tidak bisa ia lihat, tapi ia seolah bisa merasakan energi di sekitar Aruna. "Berhati-hatilah. Arvand mungkin terlihat kaku, tapi dia tidak bodoh. Dan musuhmu bukan hanya Selina yang sekarang mendekam di sel."
Tanpa menunggu jawaban, Kaelan melompat keluar jendela secepat kilat, menghilang di kegelapan malam yang masih basah. Aruna jatuh terduduk di pinggiran tempat tidur. Tubuhnya benar-benar mencapai batas. Bau amis darah dari muntahan Arel tadi masih tercium, bercampur dengan aroma cendana yang mulai dibawa angin malam.
Keesokan paginya, suasana rumah besar itu terasa sangat berbeda. Para pelayan yang biasanya berbisik-bisik ketakutan kini bekerja dengan keheningan yang mencekam. Mira, pelayan pribadi Ratri, masuk ke kamar dengan nampan berisi bubur dan teh herbal. Tangannya gemetar saat meletakkan nampan itu.
"Madam... ini sarapan Anda," cicit Mira sambil menunduk dalam.
Aruna menatap Mira. Melalui Mata Empati, ia melihat warna aura Mira yang berubah dari kuning ketakutan menjadi sedikit abu-abu karena bingung.
"Mira, jangan takut. Aku tidak akan memukulmu," kata Aruna pelan sambil menyuap bubur yang terasa hambar di lidahnya.
Mira mendongak sejenak, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Madam. Tuan muda Arel... dia sudah di ruang belajar bersama Master Daryan."
Aruna mengangguk. Ia tahu ia harus segera menemui Arel. Ia tidak bisa membiarkan trauma anak itu membeku begitu saja. Dengan susah payah, Aruna bangkit dan meminta Mira membantunya berpakaian. Kali ini, ia memilih gaun yang lebih sederhana, tidak terlalu banyak hiasan yang memberatkan tubuhnya yang sedang degradasi.
Saat berjalan menuju ruang belajar, Aruna melewati koridor utama. Di sana, ia melihat Arvand sedang berbicara dengan beberapa perwira perang. Suaminya itu menoleh sejenak. Tatapannya masih dingin, tapi tidak ada lagi niat membunuh yang meluap seperti semalam. Aruna hanya memberikan anggukan kecil tanpa bicara dan terus berjalan.
Di ruang belajar, Master Daryan, pria tua dengan jenggot putih yang bijak, sedang mengawasi Arel menulis kaligrafi. Arel tampak sangat fokus, namun buku-buku jarinya yang memutih menunjukkan betapa kerasnya ia menekan kuas itu.
"Madam Ratri," Master Daryan menyapa dengan sopan namun waspada.
"Master, aku ingin berbicara dengan Arel sebentar," ujar Aruna.
Daryan melirik Arel, lalu memberikan ruang bagi mereka berdua. Arel tidak mendongak sedikit pun. Suasana ruangan itu dipenuhi aroma tinta hitam yang tajam.
"Arel, aku membawakan ini," Aruna meletakkan sebuah kantong kecil berisi manisan buah di atas meja.
Arel meletakkan kuasnya. Suara tak dari kuas yang menghantam kayu terdengar sangat keras di ruangan yang sunyi itu. "Aku tidak butuh suap. Jika kau ingin aku memaafkanmu, itu tidak akan terjadi."
"Aku tidak meminta maafmu sekarang," jawab Aruna tenang, ia duduk di kursi kayu di depan Arel. "Aku hanya ingin memberikan apa yang seharusnya menjadi hakmu. Keamanan di rumah ini."
Arel akhirnya menatap Aruna. "Keamanan? Kau adalah ancaman terbesarnya selama ini!."
"Dulu, mungkin iya. Tapi lihatlah punggungmu yang sekarang sudah diobati," Aruna menunjuk lembut ke arah pundak Arel. "Aku tahu Selina yang membuat racun, tapi akulah yang membiarkan dia mendekatimu. Itu adalah kesalahan besarku."
Arel terdiam. Matanya mulai bergetar. Amarahnya masih ada, tapi rasa lelah karena harus selalu waspada mulai mengintip keluar. Tiba-tiba, telinga Aruna menangkap suara gesekan sesuatu yang berat dari arah taman belakang yang terhubung dengan ruang belajar.
Srak! Srak!
Itu bukan suara angin. Itu suara langkah kaki yang diseret, namun sangat berat. Detail sensorik tajam dari sistem memberikan peringatan mendadak.
Sistem Peringatan: Ancaman Fisik mendekat. Target: Arel.
Tipe Ancaman: Visceral Fight akan segera terjadi.
Belum sempat Aruna berdiri, jendela besar di belakang Arel hancur berkeping-keping. Seorang pria bertopeng hitam dengan pedang pendek melompat masuk, langsung mengarahkan serangannya ke leher Arel.
"Arel, merunduk!" teriak Aruna.
Tanpa pikir panjang, Aruna menerjang ke arah Arel. Tubuhnya yang lemah dipaksa bergerak melampaui batas. Pedang si pembunuh menyerempet lengan Aruna, merobek kain gaunnya dan menggores kulitnya hingga darah segar menyembur keluar, membasahi lantai kayu.
"Argh!" Aruna mengerang saat tulang lengannya terasa retak akibat benturan dengan meja. Bau besi darah seketika memenuhi ruangan.
Arel jatuh tersungkur di bawah meja, matanya terbelalak melihat Aruna yang kini berada di depannya, menghalangi si pembunuh dengan tubuhnya sendiri.
Si pembunuh tidak berhenti. Ia mengangkat pedangnya lagi untuk serangan kedua. Aruna melihat gerakan itu melambat di matanya... mungkin ini efek dari Sistem Karma, tapi ia tidak punya senjata. Ia meraih botol tinta berat di atas meja dan melemparkannya tepat ke arah wajah si pembunuh.
Prang!
Tinta hitam meledak di wajah si pembunuh, membuatnya buta sesaat. Di saat yang sama, pintu ruang belajar terbanting terbuka. Arvand masuk dengan pedang yang sudah terhunus sepenuhnya. Hanya dalam satu gerakan cepat dan brutal, Arvand menebas lengan si pembunuh hingga terdengar suara tulang patah yang mengerikan.
Si pembunuh menjerit kesakitan sebelum akhirnya pingsan karena syok. Arvand tidak melihat ke arah musuh yang sudah lumpuh itu. Ia menatap Aruna yang duduk di lantai dengan lengan yang terus mengeluarkan darah.
Arel merangkak keluar dari bawah meja. Ia menatap darah Aruna yang menetes ke lantai, lalu menatap wajah Aruna yang pucat pasi menahan sakit.
"Kenapa... kenapa kau melakukannya lagi?" suara Arel bergetar hebat, kali ini bukan karena marah, tapi karena bingung yang luar biasa.
Aruna mencoba tersenyum, meski penglihatannya mulai menggelap karena kehilangan darah. "Sudah kubilang... aku tidak akan membiarkanmu terluka."
Namun, sebelum Arvand bisa mendekat untuk memeriksa luka istrinya, Master Daryan berteriak dari arah pintu. "Jenderal! Ada lebih banyak dari mereka di luar! Mereka membakar gudang makanan!"
Aruna merasakan tubuhnya diangkat oleh tangan yang kuat... Arvand. Di tengah kekacauan, asap mulai masuk ke dalam ruangan, membawa bau mesiu yang menyengat. Aruna mencengkeram jubah Arvand, mencoba mengatakan sesuatu.
"Arvand... jaga Arel... ini belum selesai..." bisik Aruna sebelum akhirnya matanya tertutup rapat.
Tepat sebelum kesadarannya hilang, Aruna mendengar suara sistem yang berdentang berkali-kali.
Misi Berhasil: Melindungi pewaris keluarga dari serangan langsung.
Hadiah: +50 Karma.
Status Arel: Kepercayaan mulai tumbuh (15%).
Apakah serangan ini hanya pengalihan untuk rencana yang lebih besar dari Lady Selina yang berada di penjara, ataukah ada pengkhianat lain di dalam pasukan Jenderal Arvand? Dan mampukah Aruna bertahan dari luka dan racun yang kini bekerja bersamaan di dalam tubuhnya?
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.
Terima kasih.