NovelToon NovelToon
Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Reinkarnasi
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: dhanis rio

bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.

Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. PENGHORMATAN SANG MARQUIS

Stadion Agung Aethelgard bergetar oleh sorak-sorai yang seolah mampu menggetarkan langit. Hari ini bukan sekadar turnamen; ini adalah panggung di mana kekuatan diukur dan harga diri dipertaruhkan. Di tribun tertinggi, jajaran kursi emas telah diisi oleh orang-orang paling berpengaruh di kerajaan.

​Baros, sang Ketua Guild Ovelia, duduk dengan tenang di antara para ketua guild lainnya. Meskipun janggutnya sudah memutih, aura veteran perang yang ia miliki tetap membuat orang di sekelilingnya merasa segan. Matanya tidak berkedip menatap ke arah pintu masuk peserta.

​"Baros, aku dengar kau memberikan Segel Emasmu pada sebuah tim anonim?" tanya seorang ketua guild dari distrik utara dengan nada menyindir. "Apakah kau sudah mulai pikun atau kau benar-benar menemukan berlian di tengah lumpur Ovelia?"

​Baros hanya menyesap tehnya perlahan, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Berlian? Tidak. Yang kutemukan adalah sesuatu yang jauh lebih tajam dari itu. Kalian hanya perlu menyiapkan jantung kalian agar tidak berhenti berdetak saat melihat mereka beraksi."

...

Di lantai bawah, tim Tiga Fajar dan para Murid Bayangan sedang menunggu giliran parade. Suasana di lorong peserta sangat tegang, namun Arka tetaplah Arka. Ia duduk di atas peti kayu kosong, bersandar pada dinding marmer yang dingin, dan hampir terlelap jika saja Jiro tidak menyenggol bahunya.

"Guru, ada pengawal elit kerajaan yang mencarimu," bisik Jiro, sambil melirik dua pria berbaju zirah perak yang berdiri kaku di depan mereka.

"Kesatria Agung Arka dan rombongannya," salah satu pengawal berbicara dengan nada yang sangat sopan—sesuatu yang langka bagi pengawal elit terhadap petualang biasa. "Tuan Alaric meminta kehadiran Anda di ruang pribadinya sebelum acara pembukaan dimulai."

Valen dan Seraphina saling berpandangan. Jantung mereka berdegup kencang. Ayah mereka, sang Ksatria Peringkat SS yang legendaris, memanggil mereka ke ruang pribadi VIP?

"Haaa... merepotkan," keluh Arka sambil bangkit berdiri. "Ayo cepat selesaikan ini. Aku butuh camilan sebelum pertandingan dimulai."

Mereka berjalan melewati lorong-lorong mewah yang dijaga ketat. Setiap petualang yang mereka lalui menatap dengan penuh kecemburuan. Masuk ke ruang pribadi Alaric adalah kehormatan yang bahkan tidak bisa dibeli dengan ribuan koin emas.

...

Saat mereka tiba di depan pintu kayu mahoni besar yang dijaga oleh unit ksatria elit, sang pengawal memberikan isyarat. "Tuan Alaric sudah menunggu. Hanya rombongan ini yang diizinkan masuk."

Pintu terbuka perlahan, menampakkan ruangan luas yang menghadap langsung ke arena stadion melalui kaca sihir yang besar. Di tengah ruangan, berdiri seorang pria dengan perawakan gagah, mengenakan jubah ksatria berwarna biru tua dengan lencana Peringkat SS di dadanya. Itulah Alaric, ayah yang selama ini menjadi sosok tak tersentuh bagi Valen dan Seraphina.

Klek.

Pintu tertutup rapat, mengunci suara bising dari stadion di luar. Keheningan yang pekat menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik.

Valen dan Seraphina baru saja akan membungkuk memberi hormat kepada ayah mereka, namun langkah mereka membeku.

Alaric, pria yang dianggap sebagai ksatria terkuat di kerajaan, melangkah maju. Matanya tidak menatap anak-anaknya, melainkan terkunci pada sosok Arka yang berdiri paling depan dengan wajah bosan.

Tanpa sepatah kata pun, Alaric merendahkan tubuhnya. Ia menekuk satu lututnya hingga menyentuh ubin marmer yang dingin, menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan Arka. Sebuah penghormatan tertinggi yang hanya diberikan kepada seorang Raja atau... seorang Dewa.

"Legenda yang Terlupa... Saya, Alaric, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga karena Anda telah bersedia membimbing darah daging saya," suara Alaric berat, penuh dengan pengabdian murni.

Valen dan Seraphina hampir jatuh terduduk. Dunia mereka serasa terbalik. Ayah mereka, pria yang tidak pernah tunduk pada siapa pun, kini berlutut di kaki guru mereka yang pemalas?

"Berdirilah, Alaric," Arka bergumam, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kau membuat suasana jadi kaku. Aku hanya melakukan ini karena kau adalah mata dan telingaku di kerajaan. Dan lagipula... anak-anakmu tidak seburuk itu."

Alaric bangkit berdiri, wajahnya yang kaku kini menampakkan sedikit senyum haru. Ia menatap Valen dan Seraphina. Pandangannya tidak lagi dingin; ada kekaguman yang nyata di sana. Sebagai petarung peringkat SS, Alaric bisa merasakan perbedaan atmosfer pada kedua anaknya. Mereka tidak lagi memancarkan aura "ksatria akademi" yang mengkilap namun rapuh. Kini, mereka memancarkan keheningan yang mematikan, aura predator yang hanya didapatkan dari latihan ekstrem.

"Valen, Seraphina... kalian terlihat luar biasa," ucap Alaric pelan. Matanya kemudian tertuju pada Pedang Safir di pinggang Valen dan Tombak Perak milik Seraphina. "Senjata-senjata itu... Guru kalian telah memberikan sesuatu yang bahkan tidak bisa diberikan oleh seluruh gudang senjata kerajaan."

...

"Dengarkan aku baik-baik," Alaric kembali ke wibawa ksatria-nya, namun tetap dengan nada hormat di depan Arka. "Hari ini, seluruh dunia akan melihat kalian. Raja, para bangsawan, dan musuh-musuh kita sedang memperhatikan. Jangan biarkan satu gerakan pun terbuang sia-sia. Tunjukkan pada mereka hasil dari bimbingan sang Legenda."

Arka berjalan menuju meja yang penuh dengan buah-buahan mewah dan mengambil sebutir anggur. "Jangan terlalu banyak bicara, Alaric. Mereka di sini untuk bertarung, bukan untuk mendengarkan pidato politikmu. Jiro, Kael, Elara... kalian sudah siap?"

Tiga Fajar maju selangkah. Jiro menepuk hulu Greatsword Obsidian-nya yang terbungkus kain. Elara menggenggam Staf Kayu Giok dengan mantap.

"Kami sudah tidak sabar untuk menghancurkan beberapa zirah mewah, Guru," Jiro menyeringai.

Alaric menatap senjata-senjata milik Tiga Fajar. Meskipun aura aslinya ditekan oleh mantra Arka, insting SS Alaric berteriak bahwa benda-benda itu adalah artefak Era Kehancuran yang seharusnya sudah musnah. Ia menyadari satu hal 'jika tim ini bertarung dengan serius, turnamen ini bukan lagi sebuah kompetisi, melainkan sebuah eksekusi.'

...

Beberapa saat kemudian, trompet kerajaan bergema. Parade dimulai. Tim Tiga Fajar berjalan keluar dari lorong gelap menuju terangnya sinar matahari di tengah arena.

Di tribun VIP, Baros berdiri dan bertepuk tangan pelan. Ia melihat Arka yang berjalan di depan, tetap dengan gaya malasnya, tangan di saku jubahnya, mengabaikan ribuan mata yang menatapnya dengan skeptis.

"Itu mereka," gumam Baros kepada ketua guild di sampingnya. "Tim yang akan mengubah sejarah turnamen ini."

Pembawa acara mengumumkan dengan suara yang diperkuat sihir: "Dan inilah tim terakhir yang lolos melalui jalur rekomendasi Segel Emas... Tim TIGA FAJAR!"

Sorakan penonton terdengar ragu-ragu. Dibandingkan dengan tim ksatria kerajaan yang memakai zirah emas berkilauan, tim Arka tampak terlalu sederhana. Namun, di tribun utama, Alaric menatap dari kejauhan dengan tangan terkepal erat. Ia bangga, namun juga ngeri. Ia tahu bahwa mulai hari ini, dunia tidak akan pernah sama lagi.

Arka mendongak, menatap ke arah tribun Alaric dan Baros, lalu memberikan anggukan kecil yang nyaris tak terlihat.

"Baiklah murid-murid," bisik Arka, suaranya terdengar jernih di telinga kelima muridnya meski di tengah kebisingan. "Ingat aturannya: Jangan berisik, jangan pamer berlebihan, dan selesaikan dengan santai permalukan kesatria sombong itu, saatnya TIGA FAJAR BERSINAR."

Jiro mencabut sedikit pedang Obsidian-nya, menciptakan suara gesekan logam yang rendah namun mematikan. "Dimengerti, Guru."

Turnamen resmi dibuka, dan bayangan besar mulai menyelimuti Ibu Kota Aethelgard.

1
dhanis rio
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!