Bukankah menikah adalah sebuah ladang ibadah ? Lalu kenapa ibadah yang seharusnya mendapatkan pahala justru bak di neraka ? Semua berawal dari kesalah pahaman yang tidak berdasar hingga berubah menjadi sebuah tragedi yang hampir menenggelamkan rumah tangga yang bahkan pondasinya saja masih sangat rapuh.
Mampukah mereka bertahan ataukah malah karam di hantam ombak besar?
Kisah kembar Azzam dan Azima , di mana seharusnya cinta itu sudah berlabuh di dermaga tapi harus terlunta dan terapung di tengah lautan luas menunggu datangnya pertolongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 : A dan Ayyazh
Azima menggamit tangan Ayyazh masuk ke dalam restoran . Terlihat serasi dan romantis bagi siapa saja yang melihat mereka. Sayang, tidak ada yang tau selain Khal, bagaimana perjuangan Ayyazh untuk membuat Azima bergelayut di lengan nya.
Azima dalam mode garang. Tingkah Ayyazh yang selama ini seakan tidak peduli padanya menjadi tolak ukur sikap pembangkang nya kali ini. Meski pada akhirnya , Azima masih berbaik hati dan mau membantu Ayyazh berakting layaknya pasangan muda yang romantis dan bahagia.
Begitu masuk, yang pertama kali di cari Azima adalah, A.
A melambai kala melihat Azima menatap ke arahnya.
" Mmm, Yazh. "
Ayyazh menatap Azima.
" Boleh aku ke sana? " Pinta Azima.
" Ayo. "
( Ayo, katanya . Hei aku minta ijin, bukan mengajak ! ) Azima mendongkol dalam hati.
Ia sebenarnya ingin pergi sendiri, menikmati momen berdua dengan A. Bahkan perlahan Azima melepas genggaman nya di lengan Ayyazh. Nyatanya , Ayyazh meraih kembali tangan Azima , menaruh di tempat semula dan itu sungguh di luar perkiraan nya .
" Ha...kamu mau ikut? " Azima terperangah.
" Iya, kenapa ?"
Azima tersenyum aneh. " Tidak, tidak apa apa ."
Azima melangkah mendekati A . Begitu melihat wajah saudara nya, kekesalan Azima menguar beralih dengan senyuman yang sangat manis.
Azima memeluk A. " Aku sangat merindukan mu, mas. "
A tersenyum samar namun tetap membalas pelukan Azima . " Kau sadar dengan kelakukan mu ini? " Bisik nya di telinga Azima.
Azima mengernyit ." Loh, memangnya kenapa ? Bukankah ini hal yang biasa ? Oo_ jadi setelah menikah , kau sudah jijik memeluk ku?" Kesal nya mengikuti suara A yang pelan dan nyaris tidak terdengar .
" Memangnya kau seekor kecoa ! Aku hanya risih dengan tatapan suami mu. Lepas ! " A berucap masih setengah berbisik .
Azima melepas pelukan nya.
Ayyazh memutar bola mata nya jengah dengan sikap manja Azima pada A. Interaksi manis antara dua saudara itu menjadi tontonan puluhan pasang mata yang hadir . Ada yang berbisik dengan raut penuh pertanyaan dengan hubungan keduanya. Pasalnya , A terkenal sebagai pria yang takut pada wanita.
" Abi dan umi tidak bisa datang karena sedang sibuk." Ujar A mengurai kecanggungan .
" Lalu Asya? Mana Asya , mas ? " Netra Azima mencari ke sana dan kemari.
" Oh..itu. Dia bilang jadwal operasi nya full untuk bulan ini, jadi aku belum membawa nya."
Azima mengernyit. " Bukan kamu kan yang melarang nya? "
A kelabakan. " Tentu saja, bukan . " Ia membuang muka agar netra nya tidak bersitatap dengan Azima dan membuat kebohongan nya terbongkar.
Setelah berangkat ke Dubai, Azima memang belum pernah menghubungi Annasya maupun A . Selain berat hati jikalau Annasya sedang berdua dengan A, ia juga tidak mau menganggu aktivitas Annasya yang super sibuk .
Melihat ada Ayyazh di belakang Azima, A pun menghampiri. Itu juga sebagai salah satu metode cemerlang agar A terhindar dari pertanyaan Azima tentang Annasya .
" Terima kasih karena sudah meluangkan waktu dan memenuhi undangan ku. " Ujarnya menjabat tangan Ayyazh.
" Tidak usah sungkan, kita ini keluarga ." Ayyazh balas menjabat tangan A, terlihat sangat bersahabat memang, tapi tidak dengan raut dingin dan kaku nya.
Mereka mulai berbincang, dari yang terasa grogi lama kelamaan jadi lumayan santai.
Netra Ayyazh memindai seluruh ruangan , dan sebuah pertanyaan di lontarkan Ayyazh untuk A. " Aku sudah mengunjungi restoran mu di beberapa negara, dan ku rasa, ini yang desain nya paling unik. " Ayyazh sedikit memuji.
" Mm...kami bekerja sama dengan salah seorang designer handal. "
" Aku menyukai desain nya. Boleh kamu perkenalkan dia pada ku? Kebetulan, aku berencana membangun villa di Spain. "
" Boleh saja, namun mungkin untuk sementara waktu ini, kamu hanya akan bertemu dengan asisten nya. "
" Loh, kenapa bisa begitu?"
" Aku juga tidak tau, karena setelah penanda tanganan kontrak , setiap kali ada meeting dengan perusahaan nya, yang mewakili selalu asisten pribadinya."
Ayyazh mengambil segelas minuman buah yang di sodorkan seorang pelayan. " Apa kamu tidak mencoba mencari tau apa yang terjadi ? "
" Aku sudah menyuruh asisten ku, tapi sampai saat ini belum ada kabar."
Ayyazh memindai gestur A. Tidak ada yang mencurigakan. Ia kemudian melanjutkan.
" Secara personal, apa kamu sangat akrab dengan designer itu? "
A menatap Ayyazh lekat dan tajam . " Apa seorang CEO Moez sangat tertarik dengan kehidupan pribadiku?"
" Tidak juga, aku hanya sedikit penasaran bagaimana CEO Sagara memperlakukan seorang wanita. " Ujarnya tersenyum simpul.
Kening A mengernyit. " Sejak tadi, aku tidak pernah mengatakan jika designer itu adalah wanita. "
Skak...
Ayyazh bungkam.
Pembicaraan yang di mulai dengan kecanggungan itu kembali terasa kaku dan menegangkan. Beruntung, seorang pria paruh baya datang menghampiri Ayyazh dan Azzam.
" Permisi ."
" Oh_ hai tuan Salman. " Sapa keduanya hampir bersamaan .
" Sejak tadi aku perhatikan, kalian sangat akrab. "
" Sesama pengusaha harus seperti ini, tuan Salman. " Ujar Ayyazh tidak membeberkan hubungan yang di miliki antara dirinya dan A.
Pria yang di sapa tuan Salman itu mengangguk. " Tuan Ayyazh benar. Oiya, bagaimana kabar tuan Ibrahim ?"
" Alhamdulillah, beliau sehat. Apa tuan Salman tidak bertemu dengan nya ? "
Tuan Salman menggeleng. " Apa beliau datang ? "
" Tentu saja, mungkinkah tuan Salman lupa se effort apa popa saat membahas restoran Sagara ? Ia pasti akan datang dan menikmati masakan masakan khas Sagara yang memanjakan lidah nya.
Tuan Salman tersenyum singkat. " Betul sekali, aku sampai lupa. " Lalu kemudian ia mendesah pelan. " Tapi, aku punya kabar yang kurang menyenangkan untuknya."
" Apa ada sesuatu yang terjadi ? " Ayyazh terlihat khawatir.
Tuan Salman mengangguk pelan. " Dokter yang selama ini menangani penyakit tuan Ibrahim, mengundurkan diri. "
" Kenapa bisa ? "
" Ya, dia kembali ke negara asalnya, Turki. Anaknya di diagnosa mengidap kanker otak stadium akhir. Dan setahuku, tuan Ibrahim hanya mau di periksa oleh nya. "
Ayyazh nampak berpikir. " Gawat. Jadi , apa anda sudah merekrut dokter baru untuk menggantikan dokter yang sebelum nya ? "
" Sudah, namun belum ada yang sesuai dengan keinginan Aster Hospital dan kriteria tuan Ibrahim. Saya rasa, tuan Ayyazh pasti sangat mengenal selera tuan Ibrahim. "
Ayyazh tidak pungkir. Popa nya memang orang yang rumit, masalah sepele saja akan di buat menjadi besar. Apalagi ini menyangkut nyawa. Tentu dia tidak akan main main mencari dokter yang cocok dan bisa mengobati penyakit jantung nya.
Pembicaraan tanpa titik temu itu berakhir ketika seorang pria uzur yang sejak tadi menjadi topik pembicaraan muncul.
" Serius sekali, apa yang kalian bicarakan ? " Tuan Ibrahim bergabung .
Tidak ada yang menyahut, ia pun mengalihkan netranya menatap A.
" Halo nak Azzam. Maaf popa datang terlambat. "
" Tidak masalah, popa. Yang pasti popa datang dan mendoakan kesuksesan restoran baru saya." A tersenyum tipis.
" Kalau itu sudah pasti. Lalu, apa yang kalian bicarakan ? sejak dari pintu masuk, popa perhatikan kalian serius sekali. "
" Begini tuan Ibrahim .... " Tuan Salman mulai menjelaskan duduk persoalannya.
Dan helaan nafas tuan Ibrahim terasa berat sebelum ia menatap Ayyazh.
Tuan Ibrahim kemudian memberikan solusi yang sangat bermanfaat , tentu untuk nya.
" Jadi masalahnya itu." Kata tuan Ibrahim terdengar optimis.
" Apa tuan Ibrahim punya kandidat untuk menggantikan dokter Hasad ? " Lanjut tuan Salman penasaran.
" Kenapa kau diam saja, Yazh? "
Ayyazh menoleh, dan...popa, alias tuan Ibrahim sedang menatapnya geram.
...****************...
habisnya setiap bab ko ya dikir amat, mana nunggu up sehari berasa lama banget, eh giliran udah up baru baca dh abis🙈🙈
wah parah Malah di samain sma batu, g sekalian zi sama dindingnya 🤣