NovelToon NovelToon
Zee Dan Kamera Tua

Zee Dan Kamera Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Mengubah Takdir
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: _SyahLaaila

Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.

Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.

Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.

Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27.

Pagi itu datang dengan tenang. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah tirai apartemen, jatuh lembut di lantai kamar.

Zee sudah terbangun lebih awal, duduk di tepi tempat tidur sambil menatap layar ponselnya.

Lia berdiri tak jauh darinya, diam namun tetap siaga.

Tiba-tiba....

Ding!

Sebuah notifikasi muncul dari AetherShop, tapi bukan seperti biasanya.

Layar ponsel Zee berkedip pelan, lalu muncul pesan dengan tanda prioritas tinggi.

*Peringatan di Area Khusus

*Terdeteksi anomali di samping Zee Plaza Mall

*Objek tidak teridentifikasi telah muncul di sisi timur bangunan

*A3 dan A4 sedang melakukan pengamatan

*Status: Tidak dikenal.

Alis Zee sedikit berkerut. "Anomali?" gumamnya pelan.

Dia segera membuka sambungan langsung. Dalam sekejap, tampilan visual dari A4 muncul di layar.

Gambar itu menunjukkan sisi luar gedung empat lantai, yang kini telah Dia berikan nama Zee Plaza Mall.

Dan di sanalah sesuatu itu berada. Muncul sebuah pintu, namun... bukan pintu biasa. Bentuknya tegak, tinggi sekitar dua meter, berdiri sendiri tanpa dinding.

Permukaannya transparan, seperti kaca, dan di dalamnya tampak beriak seperti air yang tenang.

Tidak ada pegangan, dan tidak ada engsel. Hanya berdiri... seolah memang sudah ada sejak awal.

"A3, A4, laporkan." ucap Zee tegas.

Suara A4 terdengar lebih dulu, datar dan stabil.

"Objek muncul 12 menit yang lalu tanpa tanda-tanda kedatangan fisik. Tidak terdeteksi energi berbahaya, namun struktur material tidak dapat dianalisis."

Disusul suara A3, sedikit lebih hangat.

"Kami sudah mencoba mendekat, namun terdapat semacam batas tak kasat mata. Tidak ada respons saat disentuh menggunakan alat."

Zee terdiam sejenak, dan matanya tak lepas dari layar.

"Ada perubahan lain di sekitar?"

"Negatif," jawab A4 cepat. "Lingkungan tetap stabil, hanya objek ini yang mengalami kemunculan tiba-tiba."

Lia yang berdiri di samping Zee akhirnya bersuara.

"Berdasarkan pola kejadian sebelumnya, kemungkinan besar objek tersebut terhubung dengan sistem AetherShop atau entitas eksternal yang memiliki akses setara."

Zee menarik napas perlahan, pikirannya mulai menyusun kemungkinan demi kemungkinan.

Sistem AetherShop, sumur tua, dan kamera analog... Semua hal yang Dia miliki sekarang tidak pernah benar-benar normal.

Dan kini, sesuatu yang baru muncul. Seperti waktu pintu transparan muncul di sumur tua.

"A3, A4, jangan dulu lakukan kontak langsung. Pasang perimeter pengawas. Laporan setiap perubahan sekecil apa pun."

"Perintah diterima," jawab keduanya bersamaan.

Zee mematikan layar, seketika ruangan kembali hening.

Namun kali ini, keheningan itu terasa berbeda. Lebih berat dan lebih dalam.

Lia menatapnya sejenak. "Apakah Nona akan menuju lokasi?"

Zee berdiri perlahan, matanya menatap ke depan dengan pandangan tajam. "Tentu saja."

Dia tidak mungkin mengabaikan sesuatu seperti itu. Tanpa menunda, Zee melangkah menuju titik teleportasi di dalam kamar apartemennya.

Sling!

Dalam sekejap, tubuhnya menghilang. Beberapa detik kemudian... Dia dan Lia telah berdiri di depan gedung Zee Plaza Mall.

Angin berhembus pelan, membawa suasana yang terasa asing.

Zee melangkah perlahan menuju sisi timur bangunan. A3 dan A4 sudah menunggunya di sana.

Dan di depan mereka pintu transparan itu berdiri, dengan diam dan tenang.

Namun memancarkan aura yang sulit dijelaskan. Zee menghentikan langkahnya beberapa meter dari sana.

Matanya menyipit, mencoba memahami permukaan pintu itu beriak pelan, seperti air yang disentuh angin.

Dan untuk sesaat... Dia merasa pintu itu sedang menatap balik padanya.

"Aneh..." gumamnya.

Lia berdiri di sampingnya, siap siaga. "Objek ini tidak terdaftar dalam inventaris maupun sistem pembelian." katanya.

Zee mengangguk pelan. "Itu yang membuatnya menarik."

Dia melangkah satu langkah lebih dekat, udara di sekitarnya terasa berubah lebih dingin, dan sunyi.

"A3, jika terjadi sesuatu, prioritaskan pengamanan area." ucap Zee tanpa menoleh.

"Baik, Nona." jawab A3

Zee mengangkat tangannya perlahan... Hampir menyentuh permukaan transparan itu.

Namun tepat sebelum ujung jarinya menyentuh... permukaan pintu itu beriak lebih kuat.

Dan sebuah cahaya tipis mulai muncul dari dalamnya. Zee langsung menghentikan gerakannya, seketika matanya melebar sedikit.

"Pintu ini bereaksi." gumamnya pelan.

Detik berikutnya... sebuah suara samar terdengar. Bukan dari luar, melainkan... dari dalam pikirannya.

**Akses terdeteksi...

**Kunci telah ditemukan...

Zee terdiam membeku, A3 dan A4 langsung bersiaga.

Lia menatap tajam ke arah pintu itu, dan perlahan permukaan transparan itu mulai berubah.

Seolah membuka jalan menuju sesuatu yang lain, dan sesuatu yang belum pernah Zee lihat sebelumnya.

Tanpa Zee sadari, langkah kecil yang Dia ambil hari ini... Akan membuka pintu menuju dunia yang jauh lebih besar dari yang pernah Dia bayangkan.

Sementara itu, di Kota besar tempat Daniel tinggal. Suasana di salah satu gedung perkantoran tampak jauh berbeda. Tenang di permukaan, namun menyimpan gejolak di dalamnya.

Di dalam sebuah ruangan kerja yang luas dan tertata rapi, Pak Harto berdiri di belakang mejanya. Tatapannya tajam mengarah ke jendela besar, seolah sedang memikirkan sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak beberapa hari terakhir.

Tok... tok...

Suara ketukan pintu memecahkan keheningan. "Permisi, Pak," terdengar suara dari balik pintu.

"Silakan masuk," jawab Pak Harto singkat.

Pintu terbuka perlahan, seorang pria muda berpakaian rapi masuk dengan langkah hati-hati, dia sang asisten yang beberapa waktu lalu dia tugaskan.

Pak Harto langsung berbalik, dengan sorot matanya penuh tuntutan.

"Bagaimana?, sudah kamu temukan dari mana dia mendapatkan buah-buahan itu?" tanyanya tanpa basa-basi.

"Asal sumbernya sudah kami temukan, Pak. Buah-buahan itu berasal dari Kecamatan Rambutan... tepatnya dari Desa Rambutan." jawab sang asisten dengan nada hormat.

Sejenak, ruang itu kembali hening. Lalu senyum perlahan terukir di wajah Pak Harto.

"Jadi begitu..." gumamnya pelan.

Tak lama kemudian, dia tertawa kecil. Tawanya pelan, namun pasti dengan maksud yang tidak sederhana.

"Hahaha... menarik sekali."

Dia melangkah mendekati meja, jemarinya mengetuk permukaan kayu dengan ritme pelan.

"Kamu pergi sekarang ke Desa Rambutan, dan temui pemasoknya. Tawarkan harga yang lebih tinggi yang diberikan oleh Daniel." Perintahnya kemudian, dengan suara yang tegas.

"Saya yakin, mereka pasti memilih keuntungan dan harga yang lebih besar." lanjutnya.

"Siap, Pak." jawab sang asisten tanpa ragu.

Dia segera menundukkan kepala dan berbalik pergi, meninggalkan ruangan itu yang kembali sunyi.

Namun kali ini, keheningan itu dipenuhi dengan ambisi yang besar.

Pak Harto berdiri diam beberapa saat. Lalu dia kembali menatap keluar jendela, matanya menyipit penuh keyakinan.

"Wijaya... Keluarga kalian tidak akan bisa bersaing denganku." gumamnya pelan, menyebut nama Ayah Daniel.

Dia tersenyum tipis. "Sudah waktunya kalian menutup semua bisnis kalian..."

Tatapannya berubah dingin. "Karena sekarang... saatnya Harto Tarigan yang berkuasa."

Tawa kecil kembali terdengar di dalam ruangan itu... pelan, namun menggema cukup lama untuk menandai awal dari sesuatu yang tidak akan mudah dihentikan.

Kembali ke sisi timur Zee Plaza Mall, Zee masih berdiri menatap pintu transparan itu.

Permukaannya beriak pelan, memantulkan bayangan yang tidak sepenuhnya nyata. Seolah-olah, dibaliknya ada sesuatu yang sedang menunggunya dalam diam, namun hidup.

Rasa penasarannya menyelinap kuat di dalam dirinya.

Satu langkah lagi... dan mungkin Dia bisa mengetahui apa yang tersembunyi di baliknya.

Namun Zee tidak bergerak. Dia justru menarik napas panjang, lalu perlahan menurunkan tangannya.

"Belum saatnya..." gumamnya pelan.

Dia bukan tipe orang yang bertindak gegabah, apalagi terhadap sesuatu yang tidak Dia pahami.

Terlebih lagi, Dia sadar... waktu bukanlah masalah baginya. Dan pintu itu tidak akan ke mana-mana.

Masih ada hal lain yang lebih mendesak. Besok adalah hari pembukaan toko kecilnya di Desa Rambutan.

Dia harus memastikan semuanya berjalan dengan baik. Stok barang, harga, hingga kepercayaan warga. Setelah itu, Dia juga harus memikirkan satu hal penting... Yaitu seseorang yang bisa menjaga toko tersebut.

Zee berbalik, melangkah menjauh dari pintu misterius itu. A3 dan A4 tetap berjaga di posisi mereka, sementara Lia berjalan tenang di sampingnya.

[Oh iya, para pembaca sekalian, Lia itu adalah A5 ya, robot perempuan yang di beli oleh Zee.☺️]

Zee melirik sekilas ke arah Lia. Lia bukan sekedar robot, dia adalah asisten yang paling dekat dengannya saat ini... Yang akan menemaninya ke mana pun, mengatur banyak hal, termasuk memantau jalannya kerja sama dengan Daniel.

"Menggunakan Lia untuk menjaga toko... tentu akan jauh lebih mudah." batin Zee

Namun segera menggeleng kepala pelan.

Jika Lia ditempatkan di toko, pergerakannya akan terbatas. padahal, Zee membutuhkan seseorang seperti Lia di sisinya untuk urusan yang lebih besar.

Dan lagi... Dia butuh seseorang dari Desa itu sendiri. Seseorang yang jujur, dan bisa di percaya.

Langkah Zee terhenti sejenak. Bayangan wajah-wajah warga Desa Rambutan mulai terlintas di benaknya.

Semuanya sederhana, dan penuh keterbatasan... tapi juga tidak semuanya buruk.

"Kalau nanti aku bisa menemukan orang yang tepat dan jujur, maka toko itu bukan hanya tempat berjualan saja. Tapi juga awal dari perubahan." gumamnya lirih.

Zee kembali melangkah, meninggalkan area itu. Pintu transparan di belakangnya tetap berdiri diam, sunyi, dan misterius. Seolah menunggu waktu yang tepat untuk dibuka.

Dan tanpa Zee sadari... Keputusan kecilnya untuk menunda hari ini, akan membuat pertemuan berikutnya dengan pintu itu menjadi jauh lebih besar dari yang Dia bayangkan.

1
Ida Kurniasari
Doble up thorr
Yuliana Tunru
lah kok zee milih di t4 baru ya ..
Ida Kurniasari
thorr lama bgt updatenya😍 makin penasaran
SyahLaaila: maaf ya kak🙏☺️
total 1 replies
RaMna Hanyonggun Isj
Lanjutannya mana
rasyaaa
mana lanjutannya tor
Ida Kurniasari
lanjut thor😍
rasyaaa
lanjut tor👍👍👍💪💪💪
Ida Kurniasari
Doble up dong thor
rasyaaa
lanjut tor semangat 💪💪
Ida Kurniasari
lanjut thorr😍 suka sekali bikin penasaran
Narina
lanjut thor semakin penasaran 💪😍😍
arniya
kak kmn aja br update??!
SyahLaaila: maaf ya kak, jaringan internet disini ada ganguan kak🙏
total 1 replies
Ida Kurniasari
Doble up Dong thor
SyahLaaila: iya kak
total 1 replies
rasyaaa
lanjutannya mana Thor jangan lama dong
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor
Wahyuningsih
q hadir thor
SyahLaaila: terima kasih kak
total 1 replies
Ida Kurniasari
lanjut thorr😍
SyahLaaila: siap kak ☺️
total 1 replies
arniya
penasaran..... update yang sering kak
SyahLaaila: siap kak☺️
total 1 replies
Chen Nadari
seandainya ada di dunia nyata ..jadi halu Thorr🤣
SyahLaaila: hehehe🤭
total 1 replies
Ida Kurniasari
Doble up thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!