NovelToon NovelToon
Untuk Kehidupan Kedua Kami

Untuk Kehidupan Kedua Kami

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Isekai / Fantasi / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: sila

Kalista, seorang food blogger dengan ribuan penggemar dimana mana.
setiap konten yang di upload nya di media sosial akan selalu mendapat jutaan views.
tentu saja hobinya yang paling jelas adalah makan.

Aruna, putri dari seorang paruh baya pemilik restoran terkenal, dia bekerja ditempat ibunya sebagai latihan karena setelah lulus SMA dia akan meneruskan usaha ibunya itu.
salah satu kebiasaan nya adalah melakukan beatbox.

Luna, anak dari seorang petani, didesa nya orang tuanya adalah yang paling kaya.
mereka punya banyak tanah yang dijadikan kebun buah dan sayur, padi dan juga dijadikan tempat ternak hewan yang salah satunya adalah sapi dan kambing.
Luna sendiri punya satu sapi kesayangan yang dia berikan nama blackmoo, sapi nya hitam dan selalu lapar hingga terus berisik.

secara tidak terduga ketiga gadis itu mati dan berpindah ke masa lalu dijaman kuno, abad pertengahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

Caily segera turun dengan terburu-buru, ia bahkan hampir tergelincir karenanya.

Ia segera memerintahkan kuda-kuda itu untuk bersembunyi sedangkan dirinya sendiri langsung bersembunyi dibalik semak-semak hanya untuk mengawasi sosok itu.

Namun hampir setengah jam Caily bersembunyi, sosok itu tidak lewat sama sekali, padahal jelas-jelas jalanan yang dia ambil tetap lurus tanpa ada jalan bercabang lainnya.

"Kau mencariku?"

Caily terperanjat karena terkejut mendengar suara berat seseorang disampingnya, tepat ditelinganya.

Matanya membelalak saat melihat sesosok berjubah hitam itu berada tepat dibelakangnya.

"Kau!" Teriaknya segera keluar dari semak-semak.

Sosok itu memandang lurus pada setiap gerakannya, ia bangkit dan ikut keluar dari semak-semak.

"Sejak kapan kau disana?" Tanya Caily dengan waspada.

Yang ditanya malah mengangkat bahunya.

"Kau siapa?" Tanya Caily sekali lagi.

Tapi sosok itu bahkan tidak bergerak sedikitpun untuk memberikan jawabannya.

Caily semakin waspada, gadis itu mundur menjaga jarak darinya.

Tapi sosok itu malah mendekatinya dan menatap lurus pada wajahnya.

"Kenapa kau bisa masuk ke gunung ini?" Tanya Caily lagi, berharap kali ini dia mendapatkan jawabannya.

"Aku bisa pergi kemana saja semauku, ada masalah dengan itu?" Balas sosok itu dengan santai tapi terdengar menyebalkan bagi Caily.

Caily merasa semakin waspada dengannya, dia mundur dan diam-diam memberikan perintah pada semua kudanya agar segera naik gunung dan pulang.

Namun sosok itu tampaknya menyadari tentang itu, dia mendengus dan tersenyum tipis dibalik jubah hitamnya.

"Kekuatan yang bagus, ya?" Komentarnya dengan senyum tipis.

Caily menatapnya dengan tajam, takut jika dia akan menargetkan kuda-kudanya.

Tapi sekali lagi, sosok itu tahu apa yang dia pikirkan.

"Aku bisa mengambil semua kuda-kuda itu jika aku mau." Bisiknya dengan tatapan mengejek.

Caily tersentak, ia berpikir apakah orang itu bisa membaca pikirannya?

"Ekspresi wajahmu sangat mudah ditebak." Ucap sosok itu sambil menjitak kening Caily.

Gadis itu terperanjat kaget dan seketika mundur.

"Ya, kita punya psikolog disini." Ia memutar bola matanya dan bergumam pelan.

Sosok itu mendekat. "Apa itu?"

Caily mendengus pelan, ia berbalik dan melangkah pergi guna menyusul semua kuda-kudanya.

Tetapi sosok itu malah berjalan dibelakangnya dan mengikuti setiap langkah kakinya.

Caily menjadi semakin jengkel padanya.

"Aku pulang!" Teriaknya dengan keras saat sampai didepan pintu rumah gurunya.

Sosok itu hanya tersenyum tipis melihat tingkah lakunya.

Pintu terbuka dan pemilik rumah itu pun keluar menyambut kedatangannya.

"Bagaimana latihannya?" Tanyanya dengan santai seperti biasa.

"Lancar/baik!" Secara serentak dua orang itu menjawab.

Alis Caily menukik tajam, dia menatap sosok disampingnya dengan kening berkerut.

"Kau siapa, sih? ngikut mulu!" Katanya dengan nada naik satu oktaf.

Sosok itu menaikkan satu alisnya dibalik topengnya, ia menunduk dan menatap wajah Caily dengan heran.

"Ada yang salah?" Tanyanya dengan santai seolah tidak merasakannya kemarahan dari gadis itu.

"Tentus saja! guru hanya berbicara padaku, dia tidak bertanya padamu, seharusnya kau diam." Balas Caily dengan cepat.

"Nah, kau tanyakan saja pada gurumu." Sahut sosok itu dengan santai sambil menunjuk sang guru yang masih berdiri didepan pintu dengan dagunya.

Caily menoleh pada gurunya seolah menuntut jawaban yang memuaskan.

"Dia Lysander, murid pertamaku."

Jawaban itu mendadak membuat Caily terdiam, mulutnya terbuka dan matanya membulat lucu.

Sedangkan sosok yang bernama Lysander itu akhirnya menurunkan tudung jubahnya dan melepas topengnya hingga nampaklah wajah tampan paripurna miliknya.

Caily semakin terperangah dan terpesona dengan keindahan itu.

"Kau jatuh cinta pada wajahku?" Tanya Lysander dengan nada menggoda.

Caily tersadar dan segera mendorong wajah pria itu kebelakang hingga dia mendongak.

"Terlalu percaya diri." Gumamnya dengan sinis.

Lysander tertawa, ia melangkah melewati Caily dan sang guru, masuk kedalam rumah seolah sangat akrab dengan tempat itu.

...

"Udah tiga Minggu lebih anjir, kemana si Caily?" Ujar Rosetta dengan tatapan malasnya.

Vione mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. "Entah dikasih makan apa sama guru sampek tuh bocah betah ama dia."

"Tapi gue masih gak espek kalo dia punya kekuatan kek gitu, kek apa sih anjir, keren bet!" Ujar Rosetta menggebu-gebu.

Vione mendengus keras, dia tampak bangga dengan hal itu seolah itu benar-benar prestasi besar.

"Kita ngecheat gak sih?" Gumamnya dengan alis naik turun.

Rosetta mengangguk-anggukkan kepalanya. "Hm-hm, lo punya enam elemental plus peri yang kekuatannya setara sama hewan legendaris, gue punya sistem buku ramalan plus Fenrir, mana gue bisa ngubah plot pakek poin amal lagi."

Vione menjentikkan jarinya. "And Caily punya kemampuan buat jinakin hewan apa saja, kali dia naik level, ada kemungkinan gak sih kalau dia juga bisa taklukin hewan yang udah dikontrak?" Yang terakhir dia agak ragu.

Rosetta terdiam, langkah kakinya sedikit lambat.

"Taklukin hewan yang bahkan udah dijadiin hewan kontrak? gila banget kalo dia sampek bisa ngelakuin begituan."

"iya kan! ka-"

Vione berhenti melangkah saat mendengar teriakan keras dari aula utama, begitu pula dengan Rosetta yang merasa penasaran dengan kegaduhan itu.

Saat keduanya mendekati asal suara berisik itu, mereka melihat jika itu adalah segerombolan murid perempuan yang hampir memenuhi ruang aula, mereka melihat pada satu objek.

Saat Vione mengikuti arah pandang mereka, matanya membulat dan senyumnya mengembang, itu adalah Lysander.

Lysander yang tampaknya menyadari kehadirannya pun ikut tersenyum, meskipun sangat tipis tapi cukup untuk membuat banyak perempuan itu berteriak histeris bahkan ada yang jatuh karena tidak kuat dengan efek senyumnya.

Lysander mendekati Vione, tangannya terulur mengusap pucuk rambutnya.

"Lama tidak bertemu, kamu tampak lebih baik." Gumamnya sambil menatap wajah Vione dengan senyum lembut.

Vione mengangguk sambil tertawa pelan, ia menyenggol lengannya dengan senyum menggoda.

"kau semakin tampan, apa ada sesuatu? misalnya ingin mendekati seorang gadis?" Lalu ia tertawa terbahak-bahak saat mendengar godaannya sendiri, ia merasa geli tapi merasa senang juga karena pria itu akhirnya kembali dari pelatihannya.

Lysander tampaknya tertular dengan tawa Vione, laki-laki itu tertawa pelan namun cukup untuk menambah kericuhan dilatar belakangnya.

"Ya, memang ada, tapi sepertinya dia tidak menyadari jika aku menyukainya." Katanya ikut memainkan drama.

Vione menepuk pundaknya dengan kasar sambil tertawa geli.

"Sudah jangan dramatis begitu, nanti aku bantu." Katanya dengan percaya diri.

Tetapi Lysander hanya tersenyum tipis, matanya memandang teduh pada Vione.

Disamping Vione, ada Rosetta yang memijit pelipis dengan gemas, dia sadar jika gadis yang dimaksud oleh Lysander adalah Vione itu sendiri tapi gadis itu dengan percaya dirinya sangat tidak peka.

"Oh benar, perkenalkan, dia Rosetta!" Ucap Vione dengan semangat mendorong Rosetta kedepan.

Rosetta menganggukkan kepalanya dan tersenyum dengan ramah.

"Rosetta." Katanya singkat.

Lysander pun melakukan hal yang sama. "Lysander."

"Baiklah, kita harus segera pergi, bel berbunyi sedari tadi." Ujar Vione yang diangguki oleh Lysander.

Vione melambaikan tangannya sedangkan Rosetta hanya menganggukkan kepalanya singkat.

Setelah kepergian dua gadis itu, raut wajah Lysander berubah secepat kilat, ekspresi wajahnya sangat datar dan menunjukkan aura seolah tidak ingin didekati.

Seketika gerombolan murid yang ingin mendekatinya langsung mundur, mereka masih punya perasaan takut akan kematian dan memilih tidak mengganggu murid nomor satu menara sihir.

1
Dewiendahsetiowati
kapan ketahuan belangnya si biang kerok Alisa
UMMI HABIBAH
lanjut thorrr
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah untuk salah satu MC nya
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Dia Fitri
/Good/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!