Istri yang Tak Dianggap
Sinopsis
Azkia gadis berlesung pipi, gadis penyuka warna abu-abu itu tidak bisa menolak, saat lelaki yang dipanggilnya ayah itu menjodohkannya dengan anak sahabatnya.
Lelaki bernama Herman mendatanginya dua hari sebelum pernikahannya digelar, dia meminta kepada Azkia, agar membatalkan perjodohan ini, Azkia yang ingin berbakti pada ayahnya, dan tidak ingin membuat malu keluarganya, tentu saja menolak keinginan Herman, Herman sangat kecewa dengan penolakan itu, dia pun akhirnya menikah dengan wanita yang sama sekali tidak dicintainya.
Anjeli gadis cantik, pacar Herman sekaligus sahabat Azkia, dia mendatangi Azkia, Anjeli sangat marah padanya, karena menganggapnya telah menjadi pengkhianat, di saat Anjeli menampar dan memakinya, Herman yang sudah sah menjadi suaminya, malah memaki dan menyalahkannya. Azkia hanya diam tertunduk atas tuduhan-tuduhan yang dihujatkan padanya. Anjeli bahkan mengacamnya, tidak akan membiarkannya hidup bahagia.
Bagaimana kehidupan Azkia selanjutnya
Ayo, kepoi di sini
Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darmaiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anjeli Ke Rumah Sakit
"Rasa sakit yang kurasakan selama ini, kau anggap hanya suatu kebohongan, kau tak tahu bagaimana aku bertahan hidup, karena hanya ingin menemuimu."
By Rajuk Rindu
💝💝💝💝
Sudah tiga hari Anjeli uring-uringan, dia menghubungi Herman, akan tetapi Herman terus mengabaikan panggilannya. Hari ini dia tidak bisa bersabar lagi atas perlakuan ketidak adilan Herman padanya.
"Aku harus menemui Herman." gumam Anjeli meraih kunci mobil di atas nakas, kemudian mengambil tas tangannya, dia bergegas ke luar, masuk mobil dan meluncur meninggalkan jalan paus.
Tidak butuh waktu lama Anjeli pun sampai kekediaman Herman, dia memarkir mobilnya di luar pagar, kemudian turun dari mobil, mendorong pintu pagar dan masuk.
Tok... Tok... Tok.
"Herman! Herman! buka pintunya!" teriak Anjeli dari luar. Tidak ada sahutan. Anjeli mengintip dari jendela, tapi tidak bisa melihat apa-apa karena dihalangi gorden.
Dor... Dor... Dor
Kali ini Anjeli menggedor kuat daun pintu rumah Herman dengan penuh emosi.
"Herman! Herman!" Anjeli terus saja memanggil nama Herman.
Pintu terkuak, seorang gadis berdiri di depan pintu menatap heran pada tamunya. Anjeli pun menatap tajam pada gadis yang berada dihadapannya.
"Siapa gadis ini?" tanyanya dalam hati. Ah ... dia tak perduli dengan gadis ini.
"Minggir!" ujar Anjeli mendorong tubuh Wati, agar dia bisa masuk. Wati kaget, dia hanya menatap wanita yang tak tahu sopan itu.
"Herman! keluar kau!" Anjeli berteriak sekuat tenaganya.
"Arta! Arta! ini ibu nak!" ujar Anjeli lagi.
Wati yang mendengar teriakkan Anjeli, merasa terheran- heran.
"Ibu? apa maksud wanita ini?." Wati bertanya-tanya dalam hati. Apa wanita ini stres hingga mengaku-ngaku kalau Arta itu anaknya, Wati hanya geleng kepala merasa kasihan.
Anjeli masuk dan mengeledah semua ruangan, bahkan semua kamar sampai ke kamar kerja Herman. Sementara Wati mengikuti ke mana Anjeli dari belakang, dia khawatir kalau wanita itu akan membuat kekacauan di rumah majikannya.
"Mana Herman?" tanya Anjeli begitu semua kamar diperiksanya, tetapi tidak menemukan Herman.
"Ke mana Herman dan Azkia menyembunyikan anakku?" tanya Anjeli lagi seraya mencengkram dagu Wati. Dia terlihat marah, terbias dari wajahnya yang menahan emosi.
"Maaf nyonya, saya tidak tahu." jawab wati gugup, dia tak menyangka, akan mendapat perlakuan seperti itu, dari wanita yang tak dikenalnya. Dan dia juga tak berniat memberitahu, di mana Herman dan Arta berada. Karena dari penampilannya, wanita ini pasti ingin berbuat jahat pada majikannya.
"Siapa anak nyonya?" Wati memberanikan diri bertanya pada wanita itu.
"Arta, mereka! Herman dan Azkia telah merampasnya dariku."
"Katakan di mana Artaku." Anjeli semakin kencang mencengkram dagu Wati, hingga Wati meringis kesakitan.
"Saya tidak kenal dengan Arta." ujar Wati berbohong.
"Jangan pernah bohongi aku, jika kau ingin selamat." Anjeli mendekatkan wajahnya menatap Wati tajam, berdiri bulu kudung Wati melihat sinar kebencian di mata wanita itu.
"Lepas nyonya!" Wati menarik tangan Anjeli, dia berusaha membebaskan diri dari wanita itu. Kemudian mendorong tubuh Anjeli hingga terhuyung. Dan dia berhasil menjauh.
Dreeet... Dreeet, Baru saja Wati melangkah ingin masuk ke rumah, tiba-tiba ponsel Wati bergetar, Wati merogoh saku celana jeansnya, ada panggilan masuk dari Herman.
"Jawab telponnya." kata Anjeli seraya merampas ponsel di tangan Wati dan menspeker supaya dia bisa mendengarkan percakapan Herman.
"Hallo Wati, kamu sudah di mana?" tanya Herman dari sambungan telpon.
"Iya pak, ini saya mau turun." ujar wati, tut... Anjeli mematikan sambungan telpon.
"Sini ponsel saya nyonya." kata Wati berusaha merampas kembali ponselnya, tapi anjeli lebih gesit, hingga usaha Wati sia-sia. Anjeli memasukkan ponsel Wati ke dalam tas tangannya.
"Bawa saya menemui Herman, baru ponsel ini saya berikan." ancam Anjeli.
Wati tidak bisa berbuat apa-apa, jika dia tidak menuruti kemauan wanita itu, pasti ponsel kesayangannya tidak akan kembali, Wati masuk ke dalam rumah, mengambil tas berisi baju ganti Arta, kemudian dia keluar dan mengunci pintu.
Anjeli menarik tangannya, agar Wati masuk ke dalam mobil, wati pun masuk dan duduk di samping Anjeli.
"Sebenarnya siapa sich wanita ini." batin Anjeli. Andai ponselnya tidak di tahan wanita itu, pasti Wati sudah menghubungi Herman dan memberitahukan, kalau ada wanita aneh yang ingin menemuinya.
Anjeli menghidupkan mobil, setelah bertanya pada Wati di mana keberadaan Herman, dia melaju menuju rumah sakit Aripin Ahmad dengan kecepatan tinggi.
"Dasar wanita gila." batin Wati, saat melihat Anjeli ngebut di jalanan.
Tiga puluh menit mobil yang dikendarai Anjeli sampai ke rumah sakit.
"Cepatan turun." perintah Anjeli tak sabaran.
Wati turun dan bergegas berjalan menyusuri trotoar rumah sakit, terus ke ruang rawat inap, membuat Anjeli harus berlari kecil mengiringinya.
"Anjeli!" Herman kaget begitu melihat Anjeli berjalan dibelakang Wati. Kemudian Herman menarik tangan Wati dengan paksa.
"Kenapa kamu membawa wanita ini?." bisik Herman bertanya pada Wati.
"Dia memaksa ikut pak." jawab Wati juga berbisik.
"Herman! mana anakku?" tanya Anjeli seraya menarik lengan Herman yang dari tadi mengacuhkannya.
"Kau ingin ketemu anakmu?" tanya Herman seraya menarik geram lengan Anjeli.
"Jika kau ingin anakmu baik-baik saja, jangan pernah kata apa pun yang membuatnya stres."
"Jika kau macam-macam, aku akan membawa Arta pergi jauh dan kau tidak akan pernah lagi bisa menemuinya." ancam Herman seraya menudingkan tujuknya ke arah Anjeli.
Anjeli menatap Herman menukik tajam, kenapa Herman sekarang begitu membencinya, pada hal ini bukan salahnya. Dulu dia pergi meninggalkan Arta, bukan keinginannya. Pasti Azkia yang telah mempengaruhi Herman, hingga dia berubah seperti ini.
"Aku harus segera menyingkirkan Azkia." batin Anjeli.
Anjeli menarik napas panjang, kemudian membuang kesembarang arah, sebenarnya dia ingin meluahkan kekecewaannya pada Herman, dia bela-belain kembali ke Riau, ingan rujuk kembali dengan Herman agar impian dekat dengan anaknya tercapai, namun kenyataannya Herman malah sudah berubah dan mengabaikannya. Rasa kecewa dan sakit hati, kini berlapis-lapis bertahta di jiwanya, akan kah membara menjadi dendam yang tak berkesudahan.
"Baik lah, aku turuti kata-katamu, izinkan aku menemui anakku." ujar Anjeli.
"Anakku! bukan anakmu!" ucap Herman pedas, bagai pisau menghunjam ke relung hati Anjeli yang paling dalam.
Anjeli menatap tajam kearah Herman, dia tidak menyangka Herman akan bicara seperti itu, mata Anjeli berkaca-kaca, tanpa dipinta kristal-kristal itu mengalir di kedua pipinya.
"Kenapa kau jahat padaku, hiks... hiks... hiks." Anjeli terisak sembari memukul-mukul bahu Herman histeris.
"Anjeli! Anjeli!" Herman memegang kedua bahu Anjeli dan mengoncang-goncangnya. Seketika tubuh Anjeli melorot dan jatuh kelantai.
"Anjeli! bangun!" Herman menepuk-nepuk pipi Anjeli. Namun tak ada respon, Herman panik, beberapa perawat yang lalu lalang, melihat kejadian itu, segera menolong Anjeli.
****
Jangan lupa like, koment dan Votenya ya sahabat Readers
Terima kasih🙏🙏🙏
udah gak dianggap suami, di rendahkan, di maki2, di sakiti, dikasari, di beri madu, jagain anak madu lagi...sempurna ketololan mu sbg wanita